Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 16


__ADS_3

Arya sedikit bernapas lega setelah Dyandra tertidur dengan pulas. Sebelumnya, istrinya itu merasakan perutnya sangat-sangat sakit, bahkan dia sampai menangis saking sakitnya. Dia tidak tega melihat istrinya sekarang menderita. Air matanya tidak sengaja luruh begitu saja. Tangannya dia gunakan untuk menggenggam tangan Dyandra.


"Mas nangis?" tanya Dyandra yang belum sepenuhnya sadar.


"Gak, kok. Mas gak nangis," jawab Arya yang langsung berdiri di samping Dyandra. "Masih terasa sangat sakit?"


Dyandra mengangguk patah-patah. Memang masih terasa sakit, tetapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.


Tepat saat itu, Stella datang bersama dengan Divta dengan raut wajah panik ketika mendapatkan kabar jika Dyandra masuk rumah sakit.


Stella langsung menjewer telinga Arya dan berkata sembari berkacak pinggang, "Astaga Arya! Kamu itu baru menikah beberapa hari dan kamu udah buat istrimu masuk rumah sakit?! Jangan bilang kamu melakukan kekerasan alias KDRT ke Dyandra! Atau jangan-jangan kamu gak ngasih makan anak orang?! Awas saja kamu! Mama pasti akan kasih kamu pelajaran!"


Arya meringis kesakitan karena jeweran Stella tidak tanggung-tanggung. Sementara Divta, dia hanya menahan tawa melihat penderitaan putranya itu.


"Ma, ini bukan salah Mas Arya. Selama ini Mas Arya sangat baik ke Dyandra," ujar Dyandra dengan nada lemah.


Stella melirik tajam ke Arya dan mendorongnya menjauh dari Dyandra. "Nak, kamu gak perlu belain dia. Jika dia macem-macem sama kamu, kasih tau Mama, oke? Mama pasti akan menghukum dia."


Dyandra tertawa pelan mendengar pembelaan Stella.


"Bukan begitu, Besan. Pasti Dyandra ini yang salah. Dia pasti membuat masalah untuk Arya," ujar Dian yang baru saja datang dan langsung menghampiri Arya.


Dyandra hanya mengangguk membenarkan. "Ya, Dyandra yang salah."


"Hust, gak boleh ngomong gitu. Sudah jelas Arya yang salah karena dia gak bisa jagain kamu. Jika dia bisa jagain dan merawamu, kamu gak akan sampai kayak gini," bela Stella.


"Sudah, sudah," lerai Hendra.


"Gak ada yang salah. Semua udah takdirnya," ujar Divta menengahi.


***


Pagi harinya, Arya mencari sarapan. Ketika hendak kembali ke ruangan di mana Dyandra di rawat, dia tidak sengaja berpapasan dengan seorang perempuan yang sangat tidak asing baginya.

__ADS_1


Perempuan tersebut melewatinya begitu saja. Namun, Arya langsung membalikkan badannya ketika perempuan itu sudah berada agak jauh dari posisinya. Dada Arya merasakan sesak saat itu juga. Bukan sesak karena kekurangan napas, melainkan sesak karena sakit hati.


"Arya! Ngapain kamu bengong di sana?!" Stella langsung menjewer telinga Arya dan menggeretnya masuk ke ruangan.


Perempuan tadi membalikkan badannya dan melihat Arya yang dijewer dan diseret masuk ke sebuah ruangan. "Arya?" ujar perempuan tersebut.


Di ruangan, Arya melihat Dyandra yang tengah disuapi oleh Dian. Namun, setiap kali satu suapan, Dyandra langsung merasa mual dan memuntahkan kembali makanannya. Perutnya juga bertambah sakit ketika muntah-muntah.


Dengan sigap Arya langsung membantu Dyandra. Dia memberikan bubur bayi kepada Dyandra dan perempuan itu tidak muntah-muntah lagi. Setelah selesai makan, dia diberikan obat supaya sakitnya berangsur membaik.


Kedua orang tua mereka saling memandang dan tersenyum satu sama lain. Mereka menyaksikan sendiri betapa perhatian dan telatennya Arya merawat Dyandra. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit sembari membawa makanan yang dibeli Arya tadi. Tidak lupa pula menyisakan bagian Arya.


Tangan Arya bergerak mengelus perut Dyandra, berharap supaya bisa menyurangi rasa sakitnya. Perempuan itu menyuruh Arya duduk di sebelahnya dan dituruti oleh Arya. Dia langsung menyandarkan kepalanya di pundak Arya sembari memejamkan mata.


"Sepertinya putri kami menikah dengan laki-laki yang tepat," ujar Dian meneteskan air mata terharu melihat sikap Arya.


"Tidak. Putra kami yang menikah dengan perempuan yang tepat. Dia tidak pernah seperhatian itu kepada adiknya sendiri dan kepada Mamanya. Dia bukan tipe orang yang mau menunjukkan perasaannya, tetapi kepada Dyandra, sikapnya begitu berbeda," timpal Stella.


"Dengan begini, kita sebagai orang tua bisa tenang."


"Gak usah kepedean deh lo! Gue ke sini bukan ngikutin lo! Gue mau njenguk adik sepupu gue," balas Axel tak kalah sewot.


"Lho, Nak Axel? Kamu di sini?" Dian terkejut melihat keberadaan Axel, anak dari kakaknya.


"Iya, Tante. Axel mau menjenguk Dyandra, boleh?"


"Gak boleh!" jawab Kania dengan cepat. "Bukannya cepet sembuh, nanti kalau Dyandra ngeliat lo, sakitnya tambah parah."


"Eh! Itu mulutnya dijaga, ya!"


Stella dan Dian saling memandang satu sama lain dan tersenyum entah apa maksudnya.


"Ra! Gimana keadaan lo?" pekik Kania yang langsung menghambur ke pelukan Dyandra.

__ADS_1


Dyandra terbatuk-batuk karena pelukan Kania terlalu menekan tubuhnya. "Kalau lo gak lepasin pelukan lo sekarang, gue bisa kehilangan nyawa gue."


Axel langsung menarik tubuh Kania menjauh dari Dyandra secara paksa. "Lo gak usah dekat-dekat adik gue."


Kania melepaskan dirinya dari cengkeraman Axel. "Idih! Dyandra itu sahabat gue, ya! Lo gak berhak ngelarang-ngelarang kek gitu!"


Axel tidak menanggapi ucapan Dyandra dan langsung memberikan buket bunga mawar kepada adik sepupunya itu. Dia langsung menyentil dahi Dyandra dan memarahinya.


"Kan, kambuh lagi! Udah dibilangin berapa kali supaya gak telat makan, masih aja mbandel! Lihat! Ini akibatnya! Cuma makan aja susah amat." Axel sok tahu penyebab Dyandra masuk ke rumah sakit.


"Idih gak ngaca," sindir Kania yang mana dirinya saksi kemarin kebandelan Axel.


Terjadi pertengkaran kecil di antara mereka berdua. Dia yang melihat hal tersebut pun sakit kepala. Dia memijit pelipisnya karena tidak tahan dengan mereka berdua. Bukannya cepat sembuh, kedatangan mereka justru bisa membuat keadaannya semakin memburuk.


"Sudah cukup! Keluar dari ruangan! Gue pengen istirahat!" bentak Dyandra yang sudah tidak bisa bersabar lagi.


Kania dan Axel pun terdiam dan mereka menuruti perkataan Dyandra karena melihat kondisi Dyandra yang justru semakin memburuk semenjak kedatangannya.


Setelah kepergian mereka, Dyandra merasakan kesulitan bernapas. Tangannya refleks memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak. Namun, saat itu dia mendengar suara pintu toilet terbuka sehingga dia langsung bersikap biasa saja.


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Arya melihat Dyandra gelagapan.


Dyandra tersenyum kikuk. "Dyandra baik-baik saja, Mas. Dyandra capek, mau istirahat."


"Tidurlah. Mereka berdua tadi pasti membuatmu tidak nyaman."


Dyandra mencoba untuk tidur, tetapi meskipun sudah memejamkan mata, dirinya tetap tidak bisa tidur. Ditambah lagi, sakit di perut dan dadanya masih belum juga sembuh, membuatnya harus kuat menahannya. Sampai-sampai air matanya meluncur begitu saja saking sakitnya.


Melihat gelagat aneh dari sang istri, Arya pun menggenggam tangannya dengan erat. Dyandra membalas genggaman tangannya dengan sangat erat sembari mengerang kesakitan. Wajahnya kini dipenuhi cucuran keringat dingin.


"Mas, sakit banget. Dyandra gak kuat," ujar Dyandra menangis sembari memegang tangan Arya dengan sangat kuat dan juga menggunakan tangan satunya untuk menekan perutnya.


"Saya panggilkan dokter dulu. Kamu harus bertahan, Sayang." Arya memencet tombol yang ada di sana. Tidak selang lama, dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Dyandra. Hingga pada akhirnya, Dyandra dibius supaya perempuan itu tidak merasakan sakit dan tertidur pulas.

__ADS_1


Arya menggenggam tangan Dyandra dan mengelus rambutnya. "Maafin Mas, Dyandra. Mas tidak bisa menjagamu dengan baik. Tolong bertahanlah. Mas mohon, jangan tinggalkan Mas."


__ADS_2