Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 11


__ADS_3

"Abang bilang suka sama Dyandra, 'kan? Kenapa Abang bisa suka sama Dyandra?" Pertanyaan itu muncul dari bibir Dyandra di sela-sela tangisnya.


"Kamu pengen tahu bagaimana saya bisa suka sama kamu?" Itu sebenarnya bukanlah pertanyaan, tetapi pernyataan. "Baik, saya akan memberitahumu."


Dyandra mendongak, lalu mengangguk.


Melihat hal itu, Arya tersenyum. Dia menghapus air mata Dyandra dan wajah perempuan itu basah karena air matanya, mengusap lembut pipi, lalu mulai menceritakan jawaban pertanyaan yang dilontarkan istrinya itu.


Waktu itu tahun ajaran baru saja dimulai. Para siswa dari tingkat TK-SMA sudah mulai masuk sekolah kembali setelah liburan panjang. Namun, itu belum berlaku bagi mahasiswa yang masih libur.


Kebetulan waktu itu Arya, yang kuliahnya tengah libur, ditugaskan oleh Stella untuk menjemput adiknya pulang sekolah. Sesampainya di sekolah, sekolah sudah sepi, tetapi dia tidak melihat adiknya di mana pun.


Alhasil, Arya turun dari motor dan masuk ke sekolah untuk mencari keberadaannya adiknya itu. Dia mencari ke satu-satu ruangan kelas sepuluh yang kurang lebih ada lima belas ruangan. Karena belum mulai pembelajaran dan masih masa orientasi, jadinya dia belum tahu di mana tempat adiknya berada.


Tidak lupa pula dia mencoba menelepon nomor adiknya. Awalnya teleponnya ditolak, setelah itu nomornya tidak aktif. Hal tersebut membuat Arya mengerutkan keningnya dan bertanya-tanya apa yang tengah terjadi pada adiknya.


Dari kejauhan, Arya mendengar suara ribut-ribut. Dia bergegas menuju ke ruangan itu. Namun, saat sampai di sana, dia melihat adiknya yang tengah ditindas oleh tiga siswi dan saat dirinya hendak membantu adiknya, ada seorang perempuan dengan rambut dikucir ekor kuda, memakai cardigan berwarna hitam, langsung merangsak masuk.


Perempuan itu langsung menarik baju perempuan yang sepertinya pimpinan pembulian dan dia langsung membelokan tangannya yang hendak menyiramkan minuman ke kepala Kania. Sehingga, minuman tersebut mengenai si pembuli.


"Siapa lo?! Berani banget ikut campur!" teriak perempuan itu.


Perempuan bercardigan hitam itu tidak menjawab pertanyaan tersebut dan langsung membantu Kania untuk berdiri. Namun, usahanya itu dihalangi oleh teman-teman si pembuli yang mana dia didorong hingga jatuh tersungkur.


Perempuan tadi langsung menangkup pipi peremluan bercadigan hitam dan tidak lupa mengambil uangnya. Sementara teman-temannya mengambil uang Kania dan membuang semua bukunya. Mereka tertawa terbahak-bahak.


"Sudah selesai? Sekarang, giliranku." Perempuan bercardigan itu langsung menggampar perempuan tadi dengan keras. Dia menarik kerah bajunya dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Lo udah ngambil uang gue dan uangnya. Apa perlu gue patahkan tangan lo itu?" ancam perempuan bercardigan hitam. "Eh, percuma aja gue ngancam lo kayak gini. Lo pasti play victim dan lo juga gak akan jera sebelum dapat balasan yang setimpal."


Perempuan itu langsung merebut tas perempuan tadi dan langsung melemparnya keluar dari jendela. Kedua teman si pembuli tidak terima begitu saja dan mereka mengancam akan menyakiti Kania.


"Berani sekali lo ngelawan kita! Lo gak tahu siapa kita, huh?!"

__ADS_1


"Tentu saja gue tau siapa kalian. Kalian adalah calon-calon siswi yang akan dihukum oleh BK."


"Kalau lo berani lapor ke BK, gue gak akan segan-segan nyakitin dia!"


Perempuan bercardigan itu menatap Kania dengan tatapan datar. "Gue bukan temen lo. Hanya kali ini gue bantu lo. Kalau lo gak bisa ngelindungin diri lo sendiri, jangan harap ada keberuntungan di selanjutnya."


Perempuan bercardigan hitam itu menahan si ketua pembuli dan menyeretnya keluar dari sana, meninggalkan mereka bertiga. Kania mengepalkan tangannya mengumpulkan kekuatan. Dia tidak mau jadi bahan bully-an lagi.


Arya tersenyum melihat keberanian adiknya melawan para pembulinya. Dia pun langsung kembali ke depan gerbang supaya tidak terlibat langsung dalam hal tersebut. Para pembuli juga sudah pergi karena mereka sudah merasa dipojokkan terlebih dahulu. Namun, naasnya mereka bertemu dengan Arya di depan gerbang. Laki-laki itu mengintimidasi mereka sehingga nyali mereka langsung ciut dan lari terbirit-birit ketakutan.


Dari tempatnya, Arya melihat adiknya mengobrol dengan perempuan tadi. Kania mengulurkan tangannya untuk mengajaknya berkenalan.


"Nama gue Kania, lo siapa? Makasih, ya, udah nolongin gue," ujar Kania.


"Gue Dyandra. Dan bukan gue yang nolongin lo, tapi diri lo sendiri," timpal perempuan tadi tersenyum lebar.


"Oh ya, apa kita boleh bertukar nomor?" Kania hendak memberikan ponselnya, tetapi dia teringat ponselnya tertinggal di kelas tadi. Alhasil, dia izin terlebih dahulu untuk mengambilnya.


Dyandra melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Dia mengambil ponselnya untuk melihat apakah dirinya sudah dijemput oleh ayahnya atau belum sembari berjalan menuju gerbang. Saat fokus dengan ponselnya, seekor kucing oyen mendekatinya yang membuatnya berteriak terkejut dan refleks melompat yang mana saat itu Arya langsung menangkap tubuhnya supaya tidak terjatuh. Sehingga Arya menggendong Dyandra ala bridal style.


Dalam hati, Arya tertawa melihat tingkah lucu Dyandra. Dia tidak menyangka perempuan yang bersikap keren dan terlihat garang melawan pembuli tadi, takut kepada seekor kucing. Untuk pertama kalinya, Arya dan Dyandra bertemu saat itu.


Selesai mendengar cerita Arya, Dyandra langsung menutup wajahnya. Dia merasa malu akan hal tersebut. Namun, jika pada saat itu tidak ada kucing yang mendekatinya, dia pasti akan melewatkan Arya yang berada di sana karena dia fokus pada ponselnya.


"Kenapa kamu menutupi wajahmu seperti itu?" tanya Arya menggoda istrinya. "Kamu masih ingat, 'kan, apa yang kamu katakan setelah itu? Kamu bertanya apakah saya orang yang berada di depan kafe Destine Welcom yang memakai kemeja putih, celana cokelat yang ditampar mbak-mbak?"


Sebelumnya Dyandra pernah bertemu Arya sekilas saat Dyandra tengah bersepeda di sore hari mengenakan atasan, bawahan, dan topi berwarna cokelat, melewati Kafe Destine Welcome yang mana Arya mengenakan kemeja putih dan celana cokelat, tengah bersandar di tembok kafe. Lalu, datanglah seorang wanita yang langsung menampar Arya hanya dikarenakan Arya mirip dengan mantannya.


"Mas, tapi itu, 'kan, cerita pertemuan pertama kita, gak mungkin Mas langsung suka sama Dyandra," tutur Dyandra yang masih sedikit bingung.


Arya mencubit hidung Dyandra gemas. "Saya jatuh cinta pada senyumanmu saat kamu berbicara dengan Kania waktu itu. Namun, saya terus menepis perasaan itu. Hingga akhirnya saya sadar bahwa saya memiliki perasaan kepadamu."


Dyandra tercengang mendengar fakta tersebut. Dirinya tidak menyangka bahwa Arya sudah menyukainya sejak lama dan dirinya juga tidak pernah sadar akan hal tersebut karena memang jika bertemu Arya sebelumnya, Dyandra menghindarinya dan jarang mengobrol.

__ADS_1


"Pada akhirnya karena permintaan Kania, kamu mencium saya waktu itu. Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tidak mundur lagi," lanjut Arya yang mengecup kening Dyandra singkat.


"Sejak kamu masuk ke kehidupan Kania, kamu juga mulai masuk ke kehidupan saya. Namun, pada saat itu saya harus berkuliah keluar kota, kesempatan untuk bertemu denganmu sangatlah kecil, tapi saya bersumpah bahwa kamu selalu muncul dalam benak saya dan dengan bodohnya saya menampik perasaan itu. Semakin saya mencoba melupakanmu, semakin besar perasaan saya kepadamu. Dan saya menyadari bahwa perasaan saya telah jatuh kepada dirimu. Sejak awal bertemu sampai sekarang, saya selalu merasakan perasaan yang aneh jika bertemu denganmu. Saya tidak bisa menahan diri."


Dyandra tidak tahu harus memberikan respon apa kepada Arya. Yang ada dia malah memeluk Arya kembali. Mencari kenyamanan dan kehangatan di sana. Memeluk laki-laki itu seperti menjadi hal yang candu untuknya.


"Kenapa?" tanya Arya memastikan Dyandra tidak menangis lagi.


"Tidak kenapa-napa. Nyaman aja meluk Mas kayak gini," jawab Dyandra jujur sembari memejamkan mata.


Arya tekekeh mendengar jawaban Dyandra. "Apa kamu akan tidur dengan posisi seperti ini? Tidak kasihan kepada saya besok pagi yang pegel-pegel dan kena encok, hmmm?"


Dyandra mendengus kesal. "Iya, iya. Maap."


Dia langsung berjalan menuju kasur karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Meskipun besok weekend, tetapi tetap saja matanya sudah mengangtuk karena sudah jam tidurnya.


Saat Dyandra hendak memejamkan mata, dia melihat Arya yang duduk di sampingnya malah berkutik dengan laptop dan tangan kirinya membawa sebuah buku. Hal tersebut dimanfaatkan Dyandra untuk menyelinap dan meletakkan kepalanya di dada Arya dan memeluknya.


Bukannya marah karena diganggu, Arya malah tersenyum dengan tingkah laku istrinya itu. Dia mengangkat tangan kirinya lumayan tinggi supaya tidak menggannggu kenyamanan sang istri. Tangan kanannya digunakan untuk meletakkan laptopnya di nakas meja sebelum akhirnya digunakan untuk menarik selimut guna menyelimuti tubuh istrinya supaya tidak kedinginan.


Buku yang dia pegang di tangan kiri, kini berpindah di tangan kanan. Tangan kirinya dia gunakan untuk mengelus punggung dan kepala Dyandra--seperti tengah menidurkan perempuan itu. Namun, hal tersebut membuatnya sulit fokus karena perhatiannnya tertuju kepada Dyandra.


Sekitar pukul 1 dini hari, Dyandra terbangun dan dia melihat Arya yang masih sama dengan posisi sebelumnya, yakni berkutik dengan laptop. Kali ini bukunya dia letakkan di nakas. Karena takut mengganggu pekerjaan suaminya, Dyandra hendak berpindah posisi, tetapi tangan Arya mencegahnya sehingga membuatnya tertidur kembali seperti posisi semula.


"Maaf, saya membuatmu terbangun," ujar Arya tetap fokus ke laptopnya. "Lanjutkan tidurmu saja."


Dyandra mendongak, menatap Arya yang tampak serius. "Jangan begadang, Mas. Lanjutkan besok pagi saja. Sekarang sudah jam satu dini hari."


Arya tak kuasa menolak perkataan Dyandra. Dia segera mematikan laptopnya dan membaringkan tubuhnya untuk bersiap-siap tidur. Sebelum tidur, dia menarik tubuh Dyandra mendekat ke arahnya. Mengecup semua wajanya Dyandra sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir Dyandra.


Tanpa sengaja Dyandra membalas ciuman Arya yang membuat laki-laki itu langsung mengangkat tubuhnya sehingga tubuh Dyandra berada di atas tubuh Arya dengan posisi bibir mereka masih tertaut satu sama lain. Dyandra memukul dada Arya sehingga membuat laki-laki itu melepaskan ciumannya.


"Aku udah ngantuk," rengek Dyandra.

__ADS_1


Arya terkekeh dan menjawab, "Tidurlah." Dia memeluk tubuh Dyandra yang masih berada di atasnya.


__ADS_2