Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 5


__ADS_3

"Bukan itu maksud saya, Dyandra. Menurutmu, apakah saya normal atau tidak? Atau ... kamu ingin bukti dengan cara lain?"


Dyandra memutar kedua bola matanya malas dan membatin, 'Apa maksudnya mengatakan bukti dengan cara lain? Kenapa firasatku lagi-lagi tidak enak.'


Mata Dyandra menatap Arya dengan serius. Tidak ada ekspresi di wajahnya sama sekali. "Tidak, saya tidak memerlukannya! Abang berikan bukti saja kepada calon istri Abang nanti saja. Dan saya tidak mau terlibat lebih jauh lagi. Saya hanya membantu Kania untuk memastikan apakah Abang normal atau tidak. Saya sudah mendapatkan jawabannya bahwa Abang masih sangat-sangat normal. Jadi, itu sudah cukup bagi saya karena saya sendiri tidak tertarik akan hal itu."


Arya mengagumi ketegasan dan keterusterangan Dyandra. Dari sekian banyak perempuan yang ada, Dyandra sangat menarik di matanya.


"Abang sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan Abang. Sekarang, giliran saya yang bertanya dan Abang yang menjawab," ujar Dyandra dengan nada dingin.


Arya mencondongkan tubuhnya, siap menerima runtutan pertanyaan dari Dyandra.


"Kenapa Abang mencium Dyandra?" tanya Dyandra dengan tatapan tajam tertuju di manik mata Arya. "Abang bahkan sampai hampir lepas kontrol. Apa Abang tidak memikirkan bagaimana perasaanku jika waktu itu Abang benar-benar lepas kendali?"


Deg!


Pertanyaan Dyandra membuat dada Arya sesak. Dia benar-benar tidak berpikir sampai ke arah sana. Dia tidak sengaja membuat Dyandra menangis saat itu.


"Oke, jika saja memang waktu itu benar-benar kebablasan, Dyandra tahu pasti Abang akan bertanggung jawab kepadaku, tapi ... apakah semudah itu, Bang? Sesuatu yang selalu Dyandra jaga sampai sekarang untuk suami Dyandra nanti, dirusak begitu saja ... dan dengan mudahnya bilang akan tanggung jawab. Dyandra juga punya harga diri, Bang. Laki-laki yang mencintai perempuannya, dia pasti akan menjaganya, bukan malah merusaknya."


"Maaf, Dyandra," lirih Arya yang benar-benar merasa bersalah. Tanpa dia sadari, perbuatannya sudah menyakiti perempuan di hadapannya itu.


"Bang, Dyandra tidak butuh maaf Abang. Dyandra butuh jawaban Abang! Kenapa Abang melakukan hal itu?"


"Menurutmu? Kenapa saya menciummu?"


"Bang, stop it! Abang itu seorang laki-laki! Jangan belibet seperti seorang perempuan! Kita sedang tidak bermain teka-teki!"


Arya terkekeh melihat ekspresi kesal Dyandra. Menurutnya, saat ini Dyandra terlihat sangat menggemaskan.


"Bang, bisa serius tidak?!"

__ADS_1


"Bisa. Mau diseriusin sekarang? Ayo, kita ke KUA sekarang dan nikah secara agama maupun hukum."


"Om Divta! Tante Stella! Tolong ini anaknya! Capek banget dah! Gak adik, gak kakak, sama aja," keluh Dyandra yang berhasil membuat Arya tertawa pelan.


"Kamu lucu, ya." Ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Arya. Bukannya membuat Dyandra senang, malah perempuan itu bergidik ngeri.


"Bang Arya! Dyandra serius tanyanya!" rajuk Dyandra sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Saya juga serius."


Dyandra menatap wajah Arya yang kini tampak lebih serius dari sebelumnya. Namun, perempuan tersebut memilih untuk diam saja karena di kepalanya ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi jawaban Arya.


"Ya sudah," pasrah Dyandra, karena dirinya sudah terlalu menghabiskan banyak energi pagi itu.


Arya menaikkan alisnya sebelah kala mendengar tanggapan enteng dari Dyandra. Ya sudah, katanya? Arya bertanya-tanya apakah Dyandra benar-benar ingin mengetahui jawabannya atau tidak.


Suasana hening terjadi sekitar lima menitan. Jika perempuan sudah berkata 'Ya sudah' berarti dia sudah tidak mau berdebat lagi dan telah lelah. Saat itu mood Dyandra buruk, kata tersebut terasa seperti perasaan kecewa terhadap Arya dan pasrah saja. Dirinya menganggap pembicaraan itu sudah selesai.


Dyandra mengangkat bahunya tidak peduli.


Arya tidak akan membiarkan Dyandra mengabaikan dirinya begitu saja seperti itu. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati perempuan tersebut. Namun, Dyandra juga langsung menghindar supaya dirinya tidak terlalu dekat dengan laki-laki itu.


Dalam hatinya Arya mengumpat karena membuat Dyandra menjaga jarak dengan dirinya. Perempuan itu masih takut berada dekat-dekat dengan dirinya.


"Dyandra ... saya suka sama kamu."


Dyandra menyipitkan matanya. "Masih sekadar suka, 'kan?"


Respon Dyandra berada di luar dugaan Arya. Perempuan tersebut tidak terkejut, tetapi malah memberikan jawaban menyindir seperti itu. Lagi pula, jika Dyandra tidak percaya, maka itu adalah yang sangat wajar. Siapa juga yang akan percaya jika kalimat itu terlontar dari seseorang yang sebelumnya tak pernah sedikit pun menunjukkan tanda-tanda tertarik? Namun, Arya juga tak berbohong, ia hanya menyangkal rasa yang selama ini mengganggu hatinya, tetapi kali ini Arya tak akan lagi menyangkalnya. Terlebih, keadaan sekarang mendukungnya untuk mendapatkan Dyandra, kenapa tidak dimanfaatkan saja? Kesempatan tidak akan datang 2 kali.


"Apa maksudmu?" tanya Arya mencari sebuah penjelasan.

__ADS_1


"Setidaknya ada lima tahapan perasaan. Pertama tertarik, kedua kagum, ketiga suka, keempat sayang, dan yang paling tertinggi adalah cinta. Abang bilang kalau Abang suka sama Dyandra, 'kan? Itu berarti Abang ingin Dyandra jadi milik Abang. Seringkali rasa suka itu sifatnya egois karena secara tidak sadar, Abang menuntut Dyandra untuk tetap berlaku seperti yang telah Abang lakukan sebelumnya. Melakukan hal-hal yang membuat Dyandra suka pada Abang. Yang peling penting, seberapa dalam Abang mengenal Dyandra?"


Jawaban yang diberikan Dyandra menusuk hati Arya. Dirinya merasa seperti tidak bisa menggapai Dyandra meskipun dia ada di depannya.


"Lalu apa bedanya dengan sayang dan cinta?" tanya Arya.


"Jika Abang berusaha supaya kita berdua bisa bersatu, saling memiliki selamanya. Sebisa mungkin Abang akan menjadi yang terbaik untuk Dyandra dan berharap Dyandra juga akan menjadi yang terbaik untuk Abang. Secara tidak langsung, ada tuntutan walau kesannya lebih halus dan rapi ... itulah yang namanya sayang."


"Sementara cinta? Dia adalah takhta tertinggi sebuah perasaan. Cinta adalah pengorbanan. Dan definisi cinta ... tergantung sudut pandang orang. Satu hal yang pasti! Cinta tidak bisa datang sekejap, tapi harus dipupuk."


Dyandra membalikkan badannya dan tepat saat itu Arya sudah berada di belakangnya. Perempuan tersebut tidak sadar ketika didekati oleh Arya. Alhasil, dirinya tidak dapat menghindar lagi karena Arya mengunci tubuhnya.


Arya menatap dalam manik mata Dyandra. Membuat jantung perempuan itu berdetak tak karuan. Tangannya refleks menutup mulutnya karena dirinya masih sedikit trauma akan perbuatan Arya.


"Bang, Abang serius suka sama Dyandra?" tanya Dyandra yang masih menutup mulutnya.


"Saya tidak pernah main-main jika menyangkut perasaan, Dyandra." Entah mengapa jawaban Arya membuat Dyandra tidak berani bertanya lebih jauh lagi.


Dyandra menatap mata Arya, mencoba mencari kebohongan di sana. Namun, dirinya hanya menemukan kebenarannya. Jujur saja, dirinya tidak tahu harus memberikan tanggapan seperti apa. Semua itu terlalu mendadak dan tiba-tiba. Sungguh kejutan yang tidak terduga di hari itu.


Mendapat keterdiaman Dyandra yang cukup lama, membuat Arya inisiatif meraih tangan Dyandra yang masih setia menutup mulutnya. Selain itu, ada satu hal yang mengganjal perasaannya sejak kemarin.


Arya mengangkat tangan kiri Dyandra. Mengusap lembut jari manisnya yang bertengger sebuah cincin emas di sana. Sudah sejak dari kemarin Arya melihat Dyandra mengenakan cincin tersebut. Dia berpikir mungkin karena cincin itulah yang membuat Dyandra memberikan reaksi seperti kemarin.


"Jadi ... kamu sudah mempunyai calon suami," ujar Arya karena merasa dirinya didahului oleh orang lain. "Jadi ... sudah tidak ada kesempatan untuk mewujudkan kesalahpamahan Mama dan Papa menjadi nyata."


"Mewujudkan kesalahpamahan Om dan Tante menjadi nyata? Apa maksud Abang?" tanya Dyandra tidak paham.


"Saya tadinya hendak melamar kamu, Dyandra. Namun ...."


***

__ADS_1


Yah, Arya kedahuluan orang lain dong


__ADS_2