
"Bang, maaf, ya, Bang," ujar Dyandra. Dia menoleh ke Arya dan langsung menarik handuk yang melingkar di leher laki-laki itu supaya wajah Arya menjadi lebih dekat, sembari berjinjit karena Arya lebih tinggi darinya. Dan ya. Satu kecupan mendarat halus di pipi kiri Arya.
Setelah melakukan aksinya itu, Dyandra melarikan diri hendak ke kamar. Namun, sialnya tangan kekar Arya berhasil meraih tangannya dan langsung menariknya. Sehingga membuat tubuh Dyandra langsung menabrak dada bidang Arya.
Kedua tangan Dyandra menyentuh dada Arya yang tidak tertutupi satu helai pun kain. Jantungnya semakin berdetak tak karuan. Rasanya dia ingin tenggelam saat itu karena dirinya takut perbuatannya tadi membuat Arya marah.
Namun, yang terjadi malah Arya langsung mencivm bib1r Dyandra. Peristiwa tersebut terjadi sangat cepat. Arya tidak membiarkan Dyandra sadar. Sementara Dyandra, dia hanya terdiam kaku masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Dyandra tidak bisa memberontak sama sekali. Tangan kanan Arya melingkar di pinggang Dyandra dan mengangkat tubuh perempuan itu. Sementara tangan kirinya menahan kepala Dyandra supaya tidak bergerak. Civman Arya yang semula lembut, lama kelamaan menjadi lvmatan yang penuh nafsu.
Tangan kanannya bahkan tidak tinggal diam saja. Tangan itu merangsak masuk di baju Dyandra, menyusuri bagian belakang Dyandra dan berhenti di pinggang lagi sembari mengelusnya dengan lembut.
Arya menggigit b1bir Dyandra supaya dia membuka mulutnya. Namun, Dyandra yang sedari tadi berusaha melepaskan diri, dia menginjak kaki Arya dengan keras sehingga tautan b1bir Arya dengan Dyandra terlepas. Saat itu, kaki Dyandra sebenarnya tidak sengaja menyenggol kejantanan milik Arya di balik celananya.
"Bang!" Dyandra refleks menampar Arya. Matanya sudah berkaca-kaca. Raut wajahnya menampilkan ekspresi kecewa, takut, dan marah. Dia pun langsung berlari menaiki anak tangga dan masuk ke kamar Kania.
Arya tersadar dari ketidakwarasannya. Dirinya tidak sadar bisa seliar itu. Lampu hijau yang diberikan Dyandra saat dia mengecup pipinya, membuat dirinya lepas kontrol.
Dyandra mengunci kamar Kania dan dia langsung masuk ke kamar mandi. Dia membasuhi wajahnya sebanyak mungkin sembari menangis karena dirinya benar-benar syok dengan kejadian tadi.
Dia pun langsung memposisikan tidur di sebelah Kania yang sudah tertidur lelap. Namun, seberapa kali dirinya memejamkan mata, bayangan peristiwa yang terjadi di dapur tadi menghantui dirinya. Rasanya dirinya ingin langsung pergi dari rumah tersebut.
"Dyandra bodoh!" maki Dyandra kepada dirinya. "Harusnya lo gak mencium pipi Bang Arya tadi. Mana juga refleks nampar dia, padahal yang salah dari awal itu gue."
"Mau ditaruh di mana muka gue nanti? Gue gak bakal berani nampakin diri di depan Bang Arya lagi," beo Dyandra dengan perasaan tak karuan.
***
Jam menunjukkan pukul 3 dini hari, tetapi Dyandra tidak bisa tidur sama sekali. Sudah berbagai hal dicoba supaya bisa tertidur, tetapi nihil. Perasaannya gelisah dan tidak karuan. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Alhasil, perempuan itu menyambar tas yang berada di meja dan langsung keluar dari kamar. Daripada di sana lama-lama, lebih baik dirinya pulang saja ke kost-annya. Setidaknya di kost-annya nanti dirinya tidak akan bertemu dengan Arya.
Dia berjalan dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan supaya tidak membuat kegaduhan. Dirinya takut dan was-was jika tiba-tiba saja bertemu dengan Arya seperti semalam. Dirinya tidak ingin hal semalam terulang kembali.
"Dyandra, kamu mau ke mana?" tanya seseorang yang sangat tidak asing di telingan Dyandra.
Namun, kali ini Dyandra tidak menoleh sama sekali. Dia mempercepat langkahnya menuju anak tangga. Rasa gugup menyelimuti dirinya ketika Arya memanggil-manggil namanya untuk berhenti.
Langkah kakinya semakin cepat menuruni anak tangga. Mencoba menulikan telinganya. Berharap bisa secepatnya keluar dari rumah tersebut dan Arya berhenti mengejar dirinya yang sudah ketakutan menghadapi laki-laki tersebut.
Saat hendak membuka kunci pintu rumah dan menarik salah satu pintunya, pintu tersebut didorong oleh tangan Arya yang sudah berada di belakang Dyandra untuk menghentikan perempuan tersebut.
Dyandra terengah-engah, tetapi mencoba menetralkan napasnya. Jantungnya semakin berdetak kencang saat lehernya bisa merasakan embusan napas Arya yang memburu. Ada getaran aneh dan membuat merinding ketika hal tersebut terjadi terulang kali.
Dyandra memilih untuk tetap pada posisinya tanpa mau membalik badan. "Bang, saya harus pulang."
"Kenapa buru-buru, hmm?" respon Arya membuat Dyandra semakin menyiut nyalinya untuk berhadapan dengannya.
"Saya minta maaf atas kejadian semalam. Saya sudah kelewat batas sama kamu," ujar Arya yang merasa bersalah.
"Tidak, tidak. Itu bukan salah Abang. Itu murni kesalahan saya. Saya minta maaf karena menampar Abang," timpal Dyandra dengan nada bergetar.
Baik Arya maupun Dyandra, mereka terdiam satu sama lain. Perempuan itu hendak pergi, tetapi tangan Arya masih menahan pintunya.
"Saya tahu kamu sengaja melakukannya, Dyandra." Itu sudah pasti karena sebelum melakukannya, Dyandra malah meminta maaf. Pertanyaannya, mengapa Dyandra melakukan hal tersebut?
Dyandra mengepalkan tangannya erat-erat. Dirinya tidak bisa kabur dari sana. Benar-benar malu. Itulah yang dirasakannya. Melakukan hal seperti itu saja langsung ketahuan kalau disengaja. Namun, dirinya tidak ada maksud yang lainnya.
"Maaf, Bang. Dyandra tahu Dyandra salah karena telah menggoda Abang," ujar Dyandra.
__ADS_1
"Dyandra, yang ngomong sama kamu itu saya! Bukan pintunya!" tegas Arya.
Dyandra tetap terpaku di tempatnya. Dirinya lebih memilih dimarahi Arya daripada harus membalikkan badan dan berhadapan dengan laki-laki itu.
"Jadi kamu memang sengaja menggoda saya? Ya ampun, Dyandra. Kamu tahu apakan akib---"
"Iya, Bang, Dyandra tahu. Stop membahas hal itu." Dyandra sudah kesal dengan dipepet seperti itu sehingga dia refleks membalikkan tubuhnya.
Dyandra memalingkan wajahnya ketika tidak sengaja menatap mata Arya dan menaikkan nada bicara tadi. Namun, bagi Arya itu tidak masalah.
Arya memajukan diri satu langkah. Dengan cepat Dyandra berjalan menyerong supaya tubuhnya tidak menabrak pintu. Meskipun begitu, Arya tetap terus mendekati Dyandra dan Dyandra terus mundur menjauh.
Perempuan itu terus mundur untuk menjaga jarak dengan Arya. Berada dekat-dekat dengan laki-laki itu membuat jantungnya tidak aman. Sorot mata yang dia lihat pun juga membuat dia bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki itu.
Hingga pada akhirnya tubuh Dyandra menabrak sebuah meja yang membuatnya hampir terjatuh jika saja Arya tidak cepat tanggap melingkarkan tangannya di pinggang cewek itu untuk menjaga kestabilannya. Alhasil Arya harus memajukan badannya untuk meraih tubuh Dyandra.
Kini, jarak antara mereka berdua hanya beberapa centi saja. Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Baik jantung Arya maupun Dyandra, berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Dyandra merasakan ada sesuatu di tubuh bagian bawahnya karena tubuh Arya bagian bawah sudah menghimpit tubuh bagian bawahnya. Hanya tubuh bagian atas mereka saja yang masih menyisakan jarak.
Demi apa pun, dalam hati Dyandra mengumpat. Arya itu adalah laki-laki yang masih sangat normal. Dirinya kini yang mendapatkan masalah akan keraguan sahabatnya itu karena dirinya sudah mendapatkan buktinya dengan nyata.
"Bang ...." Arya tidak menghiraukan perkataan Dyandra dan malah mengangkat tubuhnya sehingga membuat tubuhnya sejajar.
Tangan kanan Arya menahan kepala Dyandra membuat perempuan itu tidak bisa berpikir positif lagi. Dirinya takut kejadian semalam terulang kembali. Dia semakin merasa bersalah. Ketakutannya semakin besar. Kakinya tidak bisa digerakan meskipun dirinnya ingin lari. Ditambah lagi tatapan Arya semakin dalam menyorot dirinya.
Kedua tangan Dyandra menahan dada Arya ketika laki-laki itu mendekatkan wajahnya dan memiringkan kepalanya. Jarak di antara mereka semakin menipis, Dyandra memejamkan matanya ketika b1bir Arya hampir menempel di bib1rnya.
"Arya! Dyandra! Apa yang kalian berdua lakukan?!"
__ADS_1
***