Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 14


__ADS_3

"Mas, bangun! Dyandra harus pergi ke kampus," ujar Dyandra membangunkan Arya yang masih tertidur pulas di atasnya.


Bukannya bangun, Arya malah mempererat pelukannya ke Dyandra. "Lima menit lagi, Sayang."


"Nanti Dyandra bisa terlambat, Sayang," bisik Dyandra sensual yang membuat Arya langsung membuka matanya.


Arya menyadari bahwa dirinya dan Dyandra masih naked. Alhasil, dia langsung menggendong Dyandra ke kamar mandi untuk melanjutkan mandi bersama dan aktivitas semalam sebelum Dyandra pergi terlebih dahulu.


Setelah beberapa menit berlalu, Arya menggendong kembali tubuh Dyandra. Kali ini tubuh mereka sudah terlilit handuk. Arya mendudukkan Dyandra di kasur dan dia berjalan mengambil pengering rambut untuk mengeringkan rambut istrinya itu dan tidak lupa pula menyisirnya. Setelah selesai, Dyandra bergantian dengan Arya, mengeringkan rambut suaminya itu.


Dyandra berjalan menuju almari dan mengambil setelan baju untuk dirinya dan Arya. Dia menyuruh Arya untuk memakai bajunya di kamar saja dan tidak boleh ikut masuk ke kamar mandi karena dirinya akan memakai baju di sana. Awalnya Arya bersikeras untuk ikut, tetapi Dyandra dengan tegas menolaknya.


"Hari ini saya pulang malam, Sayang," ujar Arya membenarkan kemejanya.


Dyandra menghampiri Arya dan memakaikan dasinya. "Pulang jam berapa?"


"Mungkin jam tujuh malam. Kenapa?"


Dyandra menggeleng. "Tidak apa."


Setelah selesai mengurus Arya, Dyandra pun bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Dia melihat di lehernya ada banyak tanda yang ditinggalkan oleh Arya. Maka dari itu, dia menggunakan make up untuk menutupinya. Dia menggunakan bedak tipis, blush on, eye shadow, dan tidak lupa memakai lipstiknya untuk menyempurnakan make up naturalnya.


Dyandra berlari kecil menuju Arya yang tengah berkutik dengan ponselnya. Dia menurunkan tangan Arya supaya suaminya itu berfokus kepada dirinya.


"Mas, bagaimana lipstik baru Dyandra ini? Cocok gak buat Dyandra? Bagus gak?" tanya Dyandra antusias.


Arya mengerutkan keningnya dan menatap Dyandra beberapa saat sebelum akhirnya dia mencium cukup lama bibir Dyandra sehingga membuat lipstik Dyandra menjadi berantakan.


"Mas Arya!" kesal Dyandra ketika melihat bibir Arya yang terdapat noda merah.


Arya terkekeh dan puas menjahili istrinya itu. Dia mengusap lembut bibir Dyandra sembari berkata, "Kamu tadi meminta pendapat saya tentang lipstiknya, bukan? Kalau tidak dicoba, bagaimana saya tahu itu bagus dan cocok untukmu, Sayang."


"Ih! Mas Arya ngeselin! Pagi-pagi udah jahilin Dyandra," rengek Dyandra seperti anak kecil sembari mengentak-entakkan kaki pergi dari hadapan Arya untuk memperbaiki riasannya.


Dyandra menuruni anak tangga dengan perasaan yang masih kesal. Arya sudah turun ke lantai bawah terlebih dahulu untuk sarapan. Mood-nya sudah hancur saat itu. Dia tidak ingin sarapan karena rasanya sudah kenyang sekali. Alhasil, dia berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara supaya Arya tidak menyuruhnya untuk sarapan.

__ADS_1


Setelah berhasil sampai di depan pintu, suara seseorang berhasil membuat Dyandra menghentikan langkahnya.


"Dyandra," panggil Arya ketika melihat Dyandra sudah mau pergi.


Dyandra tidak menjawab apa pun dan langsung membuka pintu. Dia lari sekuat tenaga menuju ke ojek online yang sudah dipesannya tadi dan menyuruh si sopir untuk segera pergi supaya Arya tidak mengejarnya.


"Dyandra tunggu! Kamu belum sarapan!" teriak Arya yang mengejar Dyandra sampai depan pintu gerbang.


"Hayo lho, Abang ngapain Dyandra sampai dia ngembek kayak gitu?" ujar Kania menakut-nakuti.


Arya tidak menanggapi perkataan Kania dan mencoba menelepon nomor Dyandra. Namun, Dyandra belum menyalakan ponselnya sama sekali setelah semalam dia isi ulang baterainya.


"Pasti Abang buat mood Dyandra hancur. Matilah gue, Bang. Mood Dyandra kalau udah hancur dari pagi, bakal sensi dan dia pasti bakal ngediemin semua orang," ujar Kania menangis tanpa air mata karena dirinya mengetahui bagaimana sifat sahabatnya itu.


Arya mengirimkan pesan permintaan maaf kepada Dyandra dan menitipkan bekal makanan kepada Kania. Setelah itu, Arya masuk ke rumah untuk mengambil kunci mobilnya dan berangkat bekerja. Sementara Kania, dia juga mengambil motornya dan bergegas menyusul Dyandra.


Sesampainya di kampus, Kania tidak menemukan Dyandra di mana pun. Bahkan teleponnya sama sekali tidak aktif. Meskipun satu kelas, hari itu dirinya dan Dyandra memiliki jadwal mata kuliah umum yang berbeda. Kania tadi sudah mengecek kelas yang akan digunakan untuk kuliah Dyandra, tetapi dia tidak berada di sana. Karena sudah jam masuk, Kania memutuskan untuk mencari Dyandra nanti.


Di sisi lain, Arya tidak tenang mengerjakan pekerjaannya. Dia masih mengkhawatirkan keadaan Dyandra. Pesan yang dia kirimkan sejak pagi tadi sampai siang ini belum juga dibalas. Boro-boro dibalas, dibaca aja tidak. Alhasil, dia pun langsung menelepon adiknya.


"Hallo, Bang. Kenapa?" tanya Kania di seberang sana.


"Gue belum ketemu dia sejak tadi, Bang. Nanti kalau udah ketemu, gue kabarin lagi. Sekarang gue lagi di kantin, mau makan dulu, laper soalnya. Bye bye." Kania langsung mematikan teleponnya secara sepihak sehingga membuat Arya berdecih.


"Punya adik gak bisa diandelin," rutuk Arya.


Kania mematikan ponselnya supaya tidak diganggu oleh Arya. Dia tadi berbohong kepada kakaknya itu karena Dyandra mengancamnya. Padahal Dyandra sedang bersama dirinya dan juga laki-laki yang waktu itu membuat Dyandra terkena pecahan botol.


"Makanya lo kalau dibilangin itu nurut! Dapat akibatnya, 'kan, lo!" omel Dyandra kepada laki-laki tersebut. "Lo tahu sendiri, 'kan, bagaimana sifat Bibi, masih aja bantah! Heran gue," lanjutnya.


"Ya mau gimana, namanya anak muda. Jiwanya masih bebas," bantah laki-laki itu.


"Axel! Lo itu udah S2! Bentar lagi lo bakal punya keluarga! Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini!" Dyandra langsung menoyor kepala Axel.


"Halah! Lo sendiri aja kek bocil! Bukti---" Dyandra langsung membungkam mulut Kania menggunakan makanan dan menatapnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Diam lo! Gue lagi marahin kakak sepupu gue!" Dyandra beralih ke Axel yang malah menikmati makanannya. Ya, Axel adalah keluarga Dyandra. Dia baru mengetahuinya setelah waktu dia pulang dan menjenguk neneknya. Terakhir ketemu mereka masih kecil sehingga waktu pertama bertemu saat itu, dia tidak mengenalinya.


"Dahlah capek gue." Dyandra memilih untuk diam saja.


"Ra," panggil Axel, tetapi tidak direspon Dyandra.


Melihat Axel yang mencoba membujuk Dyandra, Kania pun berkata, "Sebaiknya lo jangan ganggu dia dulu! Sejak pagi moodnya udah hancur. Besok atau lusa aja lo ngomong lagi ke dia."


Axel menatap sinis ke Kania. "Dih, siapa lo ngatur-ngatur?"


Kania geram dan langsung menonjok lengan Axel dengan keras hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. Sementara Dyandra, tidak mau mengambil pusing akan hal tersebut dan membiarkan mereka bertengkar.


"Kalau lo butuh pekerjaan, lo mungkin bisa pergi ke sana. Siapa tahu lo berjodoh bekerja di sana." Dyandra memberikan kartu nama bisnis kepada Axel.


Axel membulatkan matanya sempurna ketika melihat kartu nama bisnis tersebut. Pasalnya itu adalah perusahaan milik Arya. Dia pun bersusah payah menelan makanannya dan menatap Dyandra curiga.


"Dari mana lo dapat ini? Gak sembarang orang bisa dapat, lho," ujar Axel dengan menatap Dyandra serius.


"Kemarin Pak Arya datang ke kelas Wirusaha dan Bisnis, jadi dia membagikan kartu itu," jawab Dyandra berbohong. Padahal dia mengambilnya dari meja kerja Arya.


Tepat selesai menjawab itu, mata Dyandra tidak sengaja melihat Arya yang keluar dari mobil dan tampak tengah mencari sesuatu. Dia pun refleks berdiri dari tempat duduknya sehingga membuat Kania dan Axel melihatnya.


"Gue mau ke toilet dulu," ujar Dyandra yang langsung pergi dari sana sebelum dirinya bertemu dengan Arya.


Saat setelah Dyandra menghilang, Arya menghampiri Kania yang masih saja sibuk makanan sembari bertengkar dengan Axel. Mereka berdua baru berhenti bertengkar ketika Arya mendatangi mereka.


"Di mana Dyandra?" tanya Arya kepada Kania.


Kania menggeleng. "Gak tahu."


"Abang tambahin uang jajan lo."


"Ke toilet." Kania tidak bisa menolak jika uang sakunya ditambah.


Arya langsung bergegas pergi dari sana untuk menemukan keberadaan Dyandra. Kesabarannya sudah tidak banyak lagi.

__ADS_1


"Kenapa dia nyariin Dyandra?" tanya Axel kepada Kania.


"Ya mana gue tau. Lo pikir gue cenayang apa?" sewot Kania.


__ADS_2