
Arya dan Dyandra disidang oleh Stella dan Divta--orang tua Arya--yang baru saja kembali. Ekspresi mereka murka melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan kedua orang itu.
Sejak tadi Dyandra menunduk. Jari jemarinya meremas ujung bajunya. Tangannya gemetar ketakutan. Ingin rasanya menghilang dari bumi saat dirinya dengan Arya terciduk hampir ciuman oleh orang tua Arya. Namun, di sisi lain dirinya sangat bersyukur akan kehadiran mereka yang membuat Arya mengurungkan niatnya tadi.
Sementara itu, Arya tampak santai saja menghadapi kedua orang tuanya. Berbeda dengan Dyandra yang ketat ketir. Dia bahkan sempat-sempatnya tersenyum ketika memergoki Dyandra melirik dirinya.
Laki-laki itu melihat Dyandra yang terus tertunduk dengan tangan yang bergemetar. Sontak saja tangan kanannya menggenggam erat tangan kanan Dyandra untuk memberikan isyarat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Perbuatan Arya tersebut tentu saja membuat Dyandra menatap ke arahnya. Arya yang ditatap, juga sama-sama menoleh sehingga mereka saling tatap-tatapan.
"Heh! Malah tatap-tatapan! Jawab dulu pertanyaan Mama! Jelaskan maksud kalian berciuman tadi! Kalian menjalin hubungan di belakang kami?" cecar Stella dengan nada yang tegas dan tatapan mengintimidasi.
"Kamu, Arya! Mentang-mentang lagi jatuh cinta, tatapannya natap ke Dyandra mulu! Yang harus kamu tatap itu kami, bukan dia!" Stella memarahi Arya habis-habisan.
"Kenapa kalian menyembunyikan dan menutupi hubungan kalian?"
'Jatuh cinta? Menyembunyikan? Menutupi? Hubungan? Tante, Tante salah paham,' batin Dyandra dan tanpa sengaja mengeratkan genggam tangannya yang digenggam Arya.
"Kenapa kalian malah diam aja?" tanya Stella lagi.
Divta menatap tegas anak laki-laki satu-satunya itu. "Arya, kamu dan Dyandra benar-benar memiliki hubungan? Kalian pacaran?"
"Enggak, Om."
"Iya, Pa."
Arya dan Dyandra memberikan jawaban berbeda di waktu yang bersamaan.
Sontak saja Dyandra refleks menoleh saat Arya menjawab demikian. Sorot mata Arya yang tajam, membalas tatapan Dyandra tatkala mendapati Dyandra yang amat tidak setuju dengan jawabannya. Laki-laki laki itu malah menarik sebelah sudut bibirnya. Senyuman yang Dyandra artikan sebagai kesengajaan.
"Jawaban siapa yang benar? Yang satu jawab tidak dan yang satu jawab iya." Divta menatap Dyandra dan Arya bergantian.
Divta mengamati dengan cermat dua individu yang terlihat mencurigakan di depannya. Sebagai seorang ayah, nalurinya mengatakan bahwa Arya, putranya, memiliki perasaan lebih dari sekadar menganggap Dyandra sebagai teman adiknya. Namun, ketika melihat Dyandra, gadis itu ... apakah hubungan mereka hanya satu arah? Divta merasa kasihan pada Arya jika memang begitu. Setelah begitu lama tidak tertarik pada perempuan, saat akhirnya tertarik, justru malah harus menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Divta merasa ingin sekali menahan tawa atas kesialan yang menimpa anaknya itu.
"Jadi bagaimana?" Suara Stella membuyarkan aksi saling tatap Arya dan Dyandra. "Kalau kalian tidak punya hubungan? Kenapa bisa sampai ciuman? Jangan bilang itu tidak sengaja karena tidak akan ada yang percaya!"
"Benar sekali. Posisi kalian tadi terlalu intim untuk dibilang kalau itu tidak sengaja," beo Divta.
Dyandra masih tidak berani menatap kedua orang tua Arya. Dia berharap ada keajaiban yang membuat dirinya menghilang saat itu juga. Atau setidaknya waktu berhenti berputar sehingga dirinya bisa melarikan diri dari sana. Tertangkap melakukan sesuatu yang intim dengan Arya membuat dirinya merasa sangat malu.
__ADS_1
Akan tetapi, sayangnya tidak ada keajaiban saat itu. Itu adalah takdirnya. Dirinya harus menghadapi takdir tersebut daripada harus melarikan diri. Akhirnya, dia memutuskan untuk berdiri. Namun, tangannya ditahan oleh Arya.
"Lepasin!" geram Dyandra kepada Arya yang masih menahan tangannya.
"Sudah! Cukup! Mama sudah tidak tahan lagi!" Arya dan Dyandra terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja Stella menggebrak meja.
"Ma, kenapa pagi-pagi udah ribut aja." Itu suara Kania yang terbangun dari mimpi indahnya akibat mendengar keributan dan teriakan mamanya.
Kania yang tidak sengaja melihat tangan kakaknya menggenggam tangan sahabatnya, seketika membulatkan matanya sempurna. Rasa kantuknya menghilang. Dia dengan semangat menuruni anak tangga karena di bawah sana pasti ada pertunjukan yang menarik.
"Pas banget kamu ada di sini. Apa kamu tahu kalau kakakmu dan sahabatmu menjalin hubungan?" tanya Stella dengan tatapan tajam ke arah Kania.
Dalam hati Kania ingin menjawab iya. Namun, jika dirinya menjawab seperti itu, maka Dyandra pasti akan mengamuk kepadanya.
"Tidak tahu," jawab Kania menggeleng.
"Bener?" Stella menatap Kania dengan tatapan tajam mengintimidasi.
Kania mengangguk membenarkan karena dirinya juga tidak berbohong pada saat itu.
Sementara itu, Divta menahan tawanya dan membiarkan kesalahpamahan itu terus berlanjut. Dirinya sejak tadi mengamati gerak gerik Arya dan Dyandra yang saling berkomunikasi dengan bahasa isyarat mata.
Divta hanya mengangguk membenarkan.
"Kalau kamu gimana, Kania? Restuin gak mereka menjalin hubungan?" tanya Stella kepada anak bungsunya.
"Oh ... sudah jelas direstuin kalau itu, Ma. Aku nggak akan keberatan kalau Dyandra jadi kakak iparku alias jadi istrinya Bang Arya," jawab Kania dengan semangat. Saat itu juga rasanya Dyandra ingin melempar sepatu ke arah Kania.
"Iya, benar juga. Untung kamu ingetin, Kania. Mama tadi udah lupa soal abangmu yang gak nikah-nikah," beo Stella.
Kaki Dyandra sudah lemas. Dia mengembuskan napasnya dengan kasar. Dirinya sudah tidak bisa melarikan diri dari sana. Rasa was-was menjalari seluruh tubuhnya. Tatapannya teralih kepada Arya, yang mana kali ini tatapannya sangat serius.
"Bukannya gimana, ya, Mama bukannya mendesak kalian untuk secepatnya menikah, tapi melihat keintiman kalian tadi, takutnya kalian akan berbuat lebih jauh lagi alias kebablasan. Nanti, bisa-bisa orang tua Dyandra mengamuk, apalagi mereka belum mengetahui hubungan kalian," nasihat Stella yang mencemaskan Dyandra.
"Nanti aku yang akan ngomong langsung sama Om Hendra dan Tante Dyan." Arya menjawab terlebih dahulu. Ketegasannya itu membuat Divta dan Stella tersenyum lega sekaligus bangga kepada putranya. Sementara Kania, dia tersenyum bahagia. Lalu, bagaimana dengan Dyandra? Tangannya sudah dingin dan wajahnya pucat.
Arya bisa merasakan tangan Dyandra yang dingin. Dia pun menggunakan kedua telapak tangannya untuk menggenggam tangan Dyandra guna menyalurkan kehangatan kepada perempuan itu.
"Tenang saja. Tidak perlu cemas dan khawatir. Semua pasti baik-baik saja," ujar Arya dengan lembut.
__ADS_1
Dyandra tidak merespon. Dirinya membayangkan bagaimana respon kedua orang tuanya nanti. Ekspresi wajah was-was tidak bisa disembunyikannya.
Melihat hal tersebut, Divta yang peka akan situasinya pun memberikan isyarat kepada Stella dan Kania untuk pergi meninggalkan mereka berdua saja. Namun, mereka tidak benar-benar pergi karena mereka tetap saja penarasan dan menguping dari tempat lain.
Arya menepuk pundak Dyandra yang masih syok dengan peristiwa tadi. Semua itu terjadi secara tiba-tiba dan sangat cepat. Dyandra menoleh ke arah Arya dengan tatapan mencoba menolak semuanya.
"Ini semua gak bener," ujar Dyandra sembari menggeleng.
Arya mengelus lembut pipi Dyandra dan berkata, "Ayo ikut saya. Saya mau bicara hal serius yang belum selesai."
"Gak!" tolak Dyandra mentah-mentah dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
Akan tetapi, Arya justru menarik tangan Dyandra menuju ke suatu tempat yang mana tidak akan ada orang yang bisa mendengarkan percakapan mereka nanti. Tempat tersebut adalah ruangan tempat kerja Arya yang dibuat sengaja kedap suara.
Arya menutup pintunya dan tidak lupa menguncinya untuk menghindari mata-mata. Saat dia hendak mendekati Dyandra, perempuan itu memberikan isyarat supaya menjaga jarak. Mau tidak mau, Arya harus mengalah.
Dyandra duduk di kursi ujung meja sebelah barat, sedangkan Arya duduk di kursi ujung meja sebelah timur. Jarak mereka cukup jauh, jadi itu sudah cukup bagi Dyandra.
"Dyandra, masih ada beberapa pertanyaan yang belum kamu jawab," ujar Arya membuka suara.
Tatapan Dyandra dan Arya kembali bertemu satu sama lain lagi. Arya bisa melihat Dyandra yang menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan dan dilakukan beberapa kali. Setelah melihat kesiapan Dyandra, Arya baru melontarkan pertanyaan.
"Jadi kamu sengaja melakukannya? tanya Arya mengintrogasi Dyandra.
"Iya," jawab Dyandra seadanya.
Kenapa?"
"Karena Kania," jawab Dyandra sedikit ketus. Dia sangat kesal dengan sahabatnya itu.
"Untuk?"
"Membuktikan Abang masih normal atau tidak."
"Hasilnya?"
"Saya yang terkena masalah."
"Bukan itu maksud saya, Dyandra. Menurutmu, apakah saya normal atau tidak? Atau ... kamu ingin bukti dengan cara lain?"
__ADS_1
Dyandra memutar kedua bola matanya malas dan membatin, 'Apa maksudnya mengatakan bukti dengan cara lain? Kenapa firasatku lagi-lagi tidak enak.'