Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 20


__ADS_3

"Maya! Lo apa kabar?" Dyandra langsung menghambur ke pelukan Maya, salah satu sahabatnya.


"Gak ketemu dua bulan aja lo udah kangen aja," timpal Maya terkekeh.


"Halo Neng Cantik," sapa Leon sok cool.


Maya menatap Dyandra meminta penjelasan. "Siapa orang gila ini?"


"Kenalin, nama gue Leon. Panggil aja Mas."


"Ogah! Gue manggil Mas hanya untuk suami gue nanti," tolak Maya mentah-mentah.


Dyandra dan Kania tertawa mendengar dan menyaksikan ekspresi Leon.


"Ya udah, kalau gitu kita nikah aja, yuk."


"Gila! Baru kenal udah ngajak nikah."


"Ya daripada baru kenal udah ngajak tidur."


Seketika Leon mendapatkan tamparan dari totebag Maya. Untung saja totebag itu hanya berisi beberapa buku, bukan benda-benda lainnya.


Maya langsung pamit karena dirinya sudah membuat janji bimbingan dengan dosen pembimbingnya untuk berkonsultasi mengenai skrip yang tengah dia kerjakan.


"Aa, kalau mau nikah sama Maya, Aa tinggal datang ke rumah orang tuanya. Minta langsung ke orang tuanya. Simple aja kalau mau nikah sama Maya itu," bisik Dyandra.


Leon memberikan uang kepada Dyandra. "Thanks infonya. Eh, tapi gue gak tau alamat rumah orang tuanya."


Dyandra menuliskan alamat rumah orang tua Maya di secarik kertas, lalu memberikannya kepada Leon. Setelah itu, Leon beranjak pergi dari sana.


"Lah, lo rela sahabat lo nikah sama cowok modelan kayak Leon itu?" protes Kania.


"Ya kita lihat aja nanti," jawab Dyandra tertawa puas.


***


Arya dan Dyandra menonton film horor setelah makan malam bersama. Dyandra bersandar di dada Arya sembari memegang mangkuk besar berisi camilan ringan. Sementara tangan Arya memeluk Dyandra untuk berjaga-jaga jika perempuan itu takut.


Saat asyik menikmati waktu tersebut, tiba-tiba saja ponsel Dyandra berbunyi karena ada yang menelepon. Sontak saja dia menjawab panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Dyandra! Kampret lo!" teriak Leon dari seberang sana yang mambuat Dyandra refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.

__ADS_1


Arya menyipitkan matanya ketika mendengar suara Leon. Dia menghentikan filmnya terlebih dahulu.


"Heh! Lo ngapain telepon istri gue?! Punya urusan apa lo?! Pake teriak-teriak segala!" kesal Arya.


"Dyandra, lo ngerjain gue? Lo tau gak gue tadi senam jantung, banjir!" umpat Leon. "Gue tadi datang ke rumah orang tua Maya dan lo tau apa yang terjadi?"


"Lo gak berani berbicara sepatah kata pun di hadapan mereka, 'kan? Lo juga tau kalau orang tua Maya itu orang yang paling dihormati dan disegani orang-orang di sana, 'kan? Meskipun orang tua Maya tinggal di sana, mereka orang yang sangat-sangat berpengaruh."


"Lo jebak gue, ya?"


"Ngapain Dyandra jebak Aa? Lagian Aa juga hanya minta alamat rumah orang tua Maya tanpa tanya orang tuanya bagaimana, apa latar belakangnya, dan ***** bengek lainnya," ujar Dyandra tertawa pelan.


"Maka dari itu lo bilang mudah buat nikah sama Maya karena hanya meminta langsung ke orang tuanya, tapi sekalinya ketemu sama orang tuanya, ngeri banjir! Terintimidasi gue di sana. Mana kakaknya sinis banget ucapannya." Kali ini Dyandra tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia bisa membanyangkan bagaimana ekspresi Leon saat berada di hadapan kedua orang tua dan kakak Maya.


Dyandra mematikan panggilannya secara sepihak. Arya yang mendengar hal itu hanya geleng-geleng dan kasihan dengan nasib si Leon, sahabatnya itu.


"Kenapa lagi dia?" tanya Arya menarik tubuh Dyandra ke pelukannya.


"Jadi gini, tadi Leon ketemu sama Maya, nah dia langsung ngajak Maya nikah, tapi Maya gak mau. Nah, Dyandra kasih taulah kalau nikah sama Maya itu mudah, yakni langsung meminta Maya kepada orang tuanya langsung. Dan Leon bener-bener lakuin itu, tapi ya seperti yang Mas dengar tadi. Orang tua Maya itu seperti punya sesuatu aura yang membuat orang-orang tidak punya keberanian menghadapi mereka. Banyak laki-laki yang menyatakan perasaannya kepada Maya, tapi mereka langsung ciut nyalinya ketika disuruh untuk menghadap ke orang tua Maya," jelas Dyandra panjang lebar.


Arya tertawa mendengar penjelasan Dyandra. Lagi dan lagi Leon harus mengalami pahitnya cinta. Namun, hal tersebut juga membuat Arya sadar akan suatu hal.


"Beruntungnya saya bisa mendapatkanmu, Sayang." Arya menatap manik mata Dyandra. "Saya harap kamu bisa bahagia, aman, sentosa, dan sejahtera hidup bersama saya. Jika waktu itu saya harus melewati seperti Leon tadi, saya bersumpah akan bersungguh-sungguh berjuang mendapatkanmu."


"Bukan begitu maksud saya, Sayang."


Dyandra hanya tertawa pelan melihat ekspresi Arya yang panik dan kebingungan. Dia langsung membenamkan wajahnya di dada Arya sembari berkata, "Dyandra hanya bercanda, Mas."


"Besok kamu ada kuliah tidak?" tanya Arya sembari mengelus rambut Dyandra.


"Hmm ... tidak. Sudah mulai masuk minggu tenang yang tidak tenang," jawab Dyandra yang mengantuk.


"Mau camping?"


Dyandra sontak mendongak. "Ke mana? Sama siapa?"


"Kamu maunya ke mana? Siapa aja yang mau kamu ajak?"


"Temen-temen Mas dan temen-temenku, gimana? Jadinya, Bang Dilon, Bang Erlan, Bang Haris, Bang Leon, Maya dan Kania? Eh, atau cuma kita berdua aja?"


"Ramai-ramai aja lebih seru," jawab Arya.

__ADS_1


"Eh, tapi besok, 'kan, Bang Erlan mau nikah. Emangnya dia bisa ikut?" Dyandra baru ingat bahwa besok harus menghadiri pernikahan Erlan.


"Yang penting kita ajak dulu. Masalah dia bisa atau gak, itu masalah nanti," timpal Arya supaya rencananya tidak batal begitu saja.


Dyandra memperbaiki posisinya. "Gimana kalau kita camping di deket rumah nenekku? Di sana ada villa dan juga deket pegunungan yang cocok untuk camping. Nah, gimana kalau kita hadiahin liburan ke villa itu ke Bang Erlan?"


Arya menimbang-nimbang pendapat Dyandra. Tidak ada salahnya akan hal tersebut. Akhirnya, dia pun mengangguk setuju. Dyandra pun sontak mengabari Kania dan Maya akan rencana camping tersebut. Begitu pula Arya yang mengajak Dilon, Erlan, Haris, dan Leon. Namun, mereka berdua menarik kembali pesan mereka secara bersamaan.


"Kita lupa kalau lusa ada acara pertemuan kedua keluarga," ujar Arya dan Dyandra serempak.


Arya merebahkan tubuhnya di paha Dyandra. Dia memejamkan matanya. Sementara Dyandra, dia mengelus kepala Arya sembari membalas pesan dari Kania yang merengek dicarikan pacar. Tiba-tiba saja ide usil muncul di benak Dyandra. Dia menyarankan supaya Kania menjalin hubungan dengan Axel saja.


Tentu saja hal tersebut membuat Kania mencak-mencak. Yang ada setiap ketemu, dia dan Axel pasti selalu bertengkar satu sama lain dan jarang akur. Namun, Dyandra malah semakin menggodanya karena biasanya dari pertengkaran itu menimbulkan benih-benih cinta.


Tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi, Dyandra menghentikan aktivitas mengetik balasan pesan untuk Kania, dia bertanya-tanya siapa yang datang malam-malam begini? Hendak membangunkan Arya pun segan karena dia melihat Arya yang tertidur dengan lelap. Dia tidak mau membangunkan Arya karena Arya pasti sudah sangat lelah.


Dengan hati-hati, Dyandra meletakkan kepala Arya ke bantal. Lalu, dia berjalan mendekat ke arah pintu, tetapi sebelumnya dia mengintip untuk memastikan siapa yang datang. Ternyata itu adalah teman-teman Arya. Dyandra pun langsung membuka pintunya.


"Kenapa lama sekali buka pintunya?" gerutu Leon langsung nyelonong masuk disusul Dilon, Erlan, dan Haris.


"Eh, kalian mau ngapain ke sini?" tanya Dyandra menghadang mereka.


"Kami mau ngadain pesta pelepasan bujangnya Erlan," jawab Haris sembari mencari seseorang. "Arya mana?"


"Mas Arya udah tidur," jawab Dyandra. "Lebih baik kalian lakuin pestanya tanpa Mas Arya aja, ya."


"Lho, gak bisa gitu dong," tolak Erlan mentah-mentah.


Dyandra menyatukan kedua telapak tangannya memohon. "Dyandra mohon, biarkan Mas Arya tidur dengan tenang. Dia udah gak tidur nyenyak karena menunggu Dyandra yang dirawat di rumah sakit selama seminggu. Please, kali ini aja."


Dilon, Erlan, Haris, dan Leon saling menatap satu sama lain. Mereka tidak tega melihat Dyandra memohon seperti itu. Namun, mereka juga tidak bisa mengadakan pesta tanpa satu orang yang tidak hadir.


"Ngapain kalian ke sini?" tanya Arya menghampiri mereka.


"Gak ngapa-ngapain. Kita cuma mau mampir kasih kue ini ke kalian," jawab Erlan berbohong.


"Gak usah bohong, deh. Gue udah denger semuanya." Arya melingkarkan tangannya di pundak Dyandra.


"Jika kalian mau pesta di sini, silakan saja, tapi jangan sampai mengganggu tidurnya Dyandra," tukas Arya yang membuat mereka berempat senang. Sementara Dyandra, dia hanya melongo menatap Arya tidak percaya.


Arya hanya mengangguk sembari berkedip kepada Dyandra sebagai tanda bahwa dirinya tidak apa-apa. Namun, bagaimanapun juga Dyandra tetap merasa kurang enak hati. Akhirnya mereka berdua menemani pesta bujang Erlan selama kurang lebih satu jam. Setelah itu mereka semua teler di ruang tv.

__ADS_1


Dyandra memberikan selimut kepada mereka supaya tidak kedinginan, lalu menyusul Arya yang tiduran di sofa. Dia ikut merebahkan tubuhnya di samping Arya meskipun laki-laki itu sudah menyuruhnya untuk tidur saja di kamar. Namanya juga Dyandra, dia sangat keras kepala.


"Makasih sudah memohon demi Mas," bisik Arya saat Dyandra sudah tertidur di pelukannya.


__ADS_2