
"Indry? Ngapain lo ke sini?" ketus Dilon sembari melepas pelukannya dari Arya karena perempuan itu tiba-tiba saja datang dan memeluk Arya dari belakang. Sementara itu, Erlan menatap tidak suka kehadiran perempuan itu.
Akan tetapi, perempuan itu tidak memedulikan mereka berdua. Dia berusaha meraih tubuh Arya kembali. Namun, dengan cepat Arya menghindar dan dia melindungi Dyandra karena takut terjadi apa-apa.
Perempuan bernama Indry itu berlutut di hadapan Arya dan memohon-mohon maaf kepadanya. Dyandra yang melihat tersebut hanya memincingkan matanya kesal menyaksikan drama itu.
"Arya, gue tahu gue salah, tapi gue bener-bener cinta sama lo. Tolong kasih gue kesempatan lagi," pinta Indry dengan menangis.
"Heh! Lo tau dari mana tempat ini? Kehadiran lo itu hanya ganggu kita. Lebih baik lo pergi dari sini!" usir Dilon yang menyeret Indry keluar.
"Gak! Gue gak mau pergi sebelum Arya membuka suara!" Indry memberontak kepada Dilon dan menghampiri Arya.
Mata Indry menatap Dyandra yang curi-curi pandang dari belakang Arya. Tangan kanan laki-laki itu terentang sebagai tanda perlindungan.
"Siapa dia?" tanya Indry menunjuk Dyandra dengan tatapan tidak suka.
"Lo lihat, Indry! Dia Dyandra, istri Arya. Satu-satunya cewek yang berhasil menaklukkan hatinya dan satu-satunya cewek yang dia nikahi!" geram Erlan sembari menunjuk-nunjuk wajah Indry.
"Gak, gak mungkin! Gue gak percaya! Kalian pasti sengaja, 'kan, buat gue cemburu!" kilah Indry.
"Wah, bener-bener gila, nih, cewek!" ungkap Erlan tidak habis pikir. "Woy! Sadar diri napa! Buat apa Arya ngelakuin hal yang buat lo cemburu?! Enggak ada gunanya dia lakuin itu ke lo! Yang ada, Arya mau lo pergi jauh-jauh dari hidupnya!"
"Lo harusnya sadar kalau Arya gak akan pernah suka sama cewek tipe kayak lo!" hardik Dilon naik pitam.
Dyandra yang menyaksikan itu hanya dibuat kebingungan. Dirinya tidak tahu apa yang terjadi di sana, mengapa teman-teman Arya bersikap kasar seperti itu kepada Indry, dan apa hubungan Indry dengan suaminya. Memikirkan semua hal itu membuat kepalanya sakit.
"Diam! Kalian gak berhak ikut campur!" teriak Indry merasa disudutkan.
"Yang harusnya diam itu lo! Lo malam-malam buat keributan di rumah orang, gak malu lo datang-datang ngemis cinta?!" Kali ini Dilon benar-benar sudah tidak bisa bersabar lagi.
Seolah tidak peduli dengan cacian yang dilontarkan untuknya, Indry dengan muka temboknya masih setia memohon kepada Arya.
__ADS_1
"Aku bersumpah, Arya, aku benar-benar mencintaimu! Kamu pasti sama, 'kan? Kamu pasti selalu mencintaiku, 'kan?"
"Berhenti, Indry!" Suara itu berasal dari Leon yang baru saja kembali dari luar bersama Haris. Laki-laki itu langsung mencengkeram erat tangan Indry dan menyeret perempuan itu. "Sebaiknya lo pergi dari sini sebelum semuanya tambah runyam!"
Indry tetap memberontak sembari memperhatikan Arya yang memeluk gadisnya dengan over protektif. Matanya memerah karena tangisannya. "Kenapa kamu berubah, Arya? Dulu kamu tidak seperti ini! Dulu kamu memperlakukanku seolah aku ratu. Apa kamu masih ingat apa yang kita lakuin di hari itu?"
Deg!
Terkejut. Dyandra sontak mendongak dengan mata terbuka lebar, menuntut penjelasan.
Arya yang juga merasakan kekeruhan, balik menatap Dyandra, menggeleng panik. "Kamu harus percaya sama saya, Dyandra. Tidak ada apa-apa antara saya dengan dia."
Lalu, apa yang dibicarakan Indry itu? Perempuan itu tidak akan berkata seperti itu karena omong kosong, bukan?
Napas Dyandra tersendat, dadanya terasa sesak, seluruh tubuhnya bergetar hebat begitu membayangkan apa yang dilakukan suaminya dengan perempuan itu, menghabiskan waktu bersama dengan wanita lain. Tangannya refleks mendorong tubuh Arya menjauh perlahan.
Arya menggeleng, seolah mengatakan kalau apa yang ada di pikiran Dyandra sama sekali tidak nyata. Laki-laki itu menunduk, mendekap kembali tubuh Dyandra yang sudah menjauh darinya, mengecup sudut mata Dyandra yang sudah basah. "Tolong, Sayang, dengarkan dulu penjelasan saya."
"Itu semua semata-mata buat nenangin lo yang habis dihajar pacar lo, Dry!" sentak Arya murka. Selama ini Arya sudah menahan diri, tetapi jika Indry terus mempertipis kesabarannya dengan terus-terusan memancing emosinya, maka Arya tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi kepadanya.
"Itu berarti kamu sayang sama aku, 'kan? Kamu gak akan melakukan itu jika kamu tidak punya perasaan."
Arya tertawa hambar. Dia benar-benar sudah lelah berurusan dengan Indry. Sudah lama dia tidak berurusan dengannya dengan melarikan diri. Namun, tiba-tiba saja dia datang membuat kerusuhan yang bisa membuat hubungan dirinya dengan Dyandra merenggang.
"Lo ngerti rasa kemanusiaan gak?! Lagi pula waktu itu lo dipukuli pacar lo dan gue kebetulan ada di sana, ya kali gue diam aja!"
Indry tersentak, air matanya tambah mengalir deras. Tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan perlakukan seperti itu dari laki-laki yang amat sangat ia cintai. Detik berikutnya, perempuan itu menatap tajam sosok yang berada dalam pelukan Arya.
"Ini pasti gara-gara dia, 'kan?! Pasti gara-gara cewek sialan itu kamu nolak aku seperti ini!" Indry mengambil vas bunga yang ada di meja dan langsung berlari menuju ke arah Dyandra untuk memukulnya dengan vas tersebut sebagai pelampiasan.
Akan tetapi, untung saja Arya dengan sigap maju di depan Dyandra sehingga pukulan itu mengenai punggungnya. "Tutup mulut lo itu, Indry! Sudah cukup dramanya! Gue udah muak!" Kali ini Arya benar-benar sudah murka.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana tersentak kaget, terutama Dyandra yang baru pertama kali melihat Arya semarah itu. Napasnya sudah benar-benar kacau. Mati-matian dia menahan rasa sakitnya supaya kejadian kemarin di rumah sakit tidak terulang kembali. Alias dia tidak mau masuk ke rumah sakit lagi.
Tatapan Dyandra tertuju fokus ke Indry dengan tubuh beringsut tidak percaya dengan apa yang dia saksikan saat itu. Entah mengapa Dyandra merasa bahwa mental Indry yang kena. Dia terus-terusan memanggil Arya dan memohon-mohon untuk menerima dirinya, tidak memedulikan apa pun lagi.
Dyandra merasa sakit menyaksikan semua kejadian itu. Dia merasa tidak tega melihat keadaan Indry yang seperti itu karena bagaimanapun juga dirinya seorang perempuan yang tidak tahan melihat perempuan lain tersakiti. Namun, pikiran itu tidak bertahan lama karena sejurus kemudian Arya menggendongnya dan membawa pergi dari tempat yang sudah kacau balau itu. Laki-laki itu bahkan menekan kepala Dyandra ke dadanya seolah-olah tidak membiarkan Dyandra menangkap huru-hara lainnya.
Namun, sebelum benar-benar menaiki anak tangga, Arya berkata, "Urus dia!" Tanpa menunggu jawaban, dia langsung membawa Dyandra ke kamar lantai dua dan menjatuhkan tubuh mereka ke ranjang. Laki-laki itu memeluk Dyandra, takut kehilangan perempuannya, lalu menyusupkan wajahnya di ceruk leher perempuan itu.
Dyandra mengusap kepala Arya dan memanggilnya dengan suara lembut meskipun ada kegetaran dalam suaranya. "Mas Arya."
Arya tidak merespon apa pun sejenak sebelum dia mengerang lelah. "Maaf, kamu harus menyaksikan semua itu."
"Boleh aku tahu siapa dia?" lirih Dyandra yang ingin tahu kebenarannya.
Arya berdiam sejenak sebelum akhirnya mengakat kepala dan menyorot kedua mata Dyandra. Laki-laki itu mengusap lembut rambut Dyandra yang terlihat berantakan. "Berjanjilah pada saya bahwa apa pun yang saya ceritakan padamu, kamu harus percaya sama saya dan jangan pernah meragukan saya."
Dyandra menghela napas, lalu mengangguk sebagai jawaban.
"Namanya Indry. Bertahun-tahun yang lalu, saat itu saya tidak sengaja bertemu dengannya saat tidak sengaja melihat dia dipukuli sang pacar. Saat itu saya menolongnya dan mengatakan kalau butuh bantuan apa-apa, saya akan selalu ada untuk membantunya. Namun, sepertinya Indry salah menafsirkan perkataan saya. Dia menjadi meneror saya. Rasa simpati yang saya tunjukkan kepadanya dianggap sebagai perasaan lain. Hanya karena alasan itu, Ra, saya membantunya, menemaninya supaya mentalnya tidak hancur. Dan itu pun batas paling normal sesama manusia."
Arya menyentuh bibir Dyandra karena selama dirinya bercerita, Dyandra tidak sadar menggigit bibir bawahnya untuk menguatkan diri, menerima semua fakta yang akan diceritakan oleh Arya.
"Saya menolaknya, Ra. Kamu adalah satu-satunya wanita yang saya cintai dan satu-satunya wanita yang saya nikahi."
Dyandra menatap Arya dengan lekat, mencoba mencari tahu dari matanya apakah yang dikatakan laki-laki itu memang kebenaran atau justru sebaliknya. Sialnya, yang dia dapatkan hanyalah kejujuran. Tangannya bergerak mengelus rahang Arya dengan lembut. "Berjanjilah padaku bahwa Mas tidak akan mengkhinati Dyandra," pintanya dengan sedih. Dirinya benar-benar takut jika berita-berita tentang perselingkuhan akan menimpa dirinya.
"Saya bersumpah pada Yang Kuasa, hanya kamu satu-satunya gadis yang saya cintai dan nikahi. Jika suatu hari dengan bodohnya atau sengaja menyakitimu, Tuhan bisa melakukan apa pun kepada saya, memberikan ganjaran yang setimpal."
Mendengar perkataan seperti itu, siapa juga yang tidak terenyuh? Dyandra menyalurkan diri dan meraih belakang leher Arya, menyatukan bibirnya dengan bibir Arya meskipun hanya sesaat. Dirinya sudah sepenuhnya percaya kepada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
Tangan Arya bergerak menghapus air mata Dyandra. Setelah itu memeluk Dyandra dengan erat, menyalurkan kehangatan dan kata-kata yang tidak bisa dilisankan. Mengecup kening Dyandra cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Terima kasih, Sayang."
__ADS_1