
Dyandra berkuliah seperti hari biasanya. Beberapa mata kuliah sudah tidak masuk kelas karena materinya sudah selesai. Hari ini dia dan Kania menghadiri kelas Bisnis dan Wirusaha di salah satu ruangan. Mereka sengaja berangkat lebih awal supaya mendapatkan kursi di barisan pojok belakang karena mereka sudah lelah menghadiri beberapa kelas sebelumnya.
"Hari ini Pak Satya datang dengan pemateri, 'kan?" tanya Dyandra memastikan sembari mengeluarkan bukunya dari tas.
"Iya. Kira-kira siapa, ya, pematerinya?" jawab Kania antusias. "Oh, ya, Ra. Gue mau tanya sesuatu," bisik Kania.
"Apa?"
Kania mendekatkan diri ke Dyandra. "Lo udah lakuin malam pertama sama abang gue belum?"
Dyandra terbatuk-batuk ketika mendengar pertanyaan tersebut. Tentu saja dia langsung refleks membelalakan mata dan menoleh ke arah Kania yang memasang ekspresi penasaran sekaligus berharap.
"Belum," jawab Dyandra apa adanya.
"Seriusan lo?!" pekik Kania yang membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang di kelas.
"Ngapain, sih, lo tanya kayak gitu?" tanya Dyandra merasa malu akan kelakuan sahabatnya itu.
"Ya, siapa tau aja gue mau jadi aunty," jawab Kania cengengesan.
"Mimpi lo ketinggian! Gue dan Mas Arya sudah sepakat akan berdua dulu. Masalah anak, ditunda dulu."
"Ah ... panggilannya sekarang 'mas' dong, bukan abang lagi. Lagi pula kalian juga belum honeymoon, 'kan?"
Tiba-tiba Satya dan seorang pemuda yang memakai kemeja putih, jas cokelat, celana panjang berwarna cokelat, dan sepatu cokelat, memasuki ruang kelas. Dyandra yang saat itu menghadap ke arah Kania yang mana dirinya otomatis melihat pemuda tersebut, sangat terkejut saat mengetahui siapa pemateri hari itu.
Kania yang melihat ekspresi Dyandra seperti itu pun juga penasaran sehingga dia menoleh ke samping kanan yang mana dirinya juga langsung terkejut tidak menyangka siapa yang dilihatnya saat itu juga. Dia bahkan sampai refleks menutup mulutnya saking terkejutnya.
"Ra!" ujar Kania menahan kehebohannya sembari mengguncang-guncang tubuh Dyandra yang masih terpaku melihat pemuda tadi.
Patah-patah Dyandra menoleh ke Kania. "Untung hari ini kita gak jadi bolos."
Kania mengangguk membenarkan. Dalam perkuliahan ada toleransi tidak masuk selama 25% dari 100%, jadi sekitar 3-4 kali tidak masuk dari 16 kali pertemuan. Tentu saja Kania merasa hal tersebut harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan dia tadi rencananya mengajak Dyandra izin. Namun, entah kenapa perasaan Dyandra mengatakan bahwa dirinya harus menghadiri kelas tersebut.
Alhasil, Kania mengalah dan menghadiri kelas tersebut. Sekarang, dirinya merasa sangat-sangat bersyukur karena tidak jadi izin alias tidak jadi tidak mengikuti perkuliahan. Jika hal itu sampai terjadi, mungkin saja dirinya dan Dyandra akan dimarahi oleh Arya. Kalau Dyandra, Kania yakin Arya sedikit mentolerirnya. Namun, jika dirinya? Pasti sudah habis dan dilaporkan ke orang tuanya.
"Selamat sore para mahasiswa dan mahasiswi. Sesuai dengan kesepakatan minggu lalu bahwa pertemuan perkuliahan hari ini akan menghadirkan seorang pemateri dari luar. Nah, ada yang sudah tahu siapa pemuda gagah, tampan, dan sukses yang berdiri di sebalah saya ini?" Satya membuka perkuliahan.
"Tahu, Pak! Nama beliau adalah Arya Layana Lakshmana!" jawab mahasiswa dan mahasiswi kompak.
"Wah, sepertinya memang sudah pada tahu siapa Nak Arya ini. Kalau begitu, tidak perlu perkenalan kembali. Kita mulai saja perkuliahan Wirusaha dan Bisnis kali ini."
__ADS_1
"Sebelumnya, saya ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Satya karena telah berkenan mengundang saya sebagai pemateri di perkuliahan Wirusaha dan Bisnis ini. Langsung saja kita mulai materinya."
Arya mulai memberikan materi yang berkaitan dengan Wirusaha dan Bisnis. Dia menjelaskan materi tersebut dengan bahasa yang lebih ke anak muda sehingga mereka tidak terlalu bosan dan tidur di kelas. Yah, meskipun tidak seperti itu, tidak ada yang mau tertidur untuk melewatkan kesempatan memandangi pemateri yang tampan itu.
Para mahasiswi lebih fokus terhadap Arya ketimbang materi yang disampaikannya. Ada beberapa yang bergosip untuk memepet Arya, ada yang ingin bisa menjadi pendamping hidupnya, ada yang ingin meminta nomornya, dan lainnya.
Kuping Dyandra terasa panas ketika mendengar hal tersebut. Kania yang mendengarnya pun merasa tidak suka karena kebanyakan dari mereka hanya tertarik dengan harta dan fisik kakaknya itu. Namun, dirinya tidak perlu khawatir karena kakaknya itu sudah menjatuhkan hatinya kepada perempuan yang tepat, yaitu Dyandra.
"Ra, pantes aja lo punya feeling harus menghadiri kelas ini, ternyata oh ternyata ... ikatan batin," bisik Kania pelan.
"Gue gak nyangka kalau dia yang jadi pemateri hari ini. Mana dia gak ngasih tau sebelumnya lagi," timpal Dyandra.
"Yang penting kita selamat hari ini."
Sorot mata Arya sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah Dyandra yang asyik mengobrol sembari bertukar catatan. Dia hendak menegurnya, tetapi dia urungkan niatnya karena dirinya juga sadar bahwa Dyandra lebih fokus ke materi ketimbang dirinya.
Hal tersebut terbukti ketika setelah satu jam penyampaian materi, Dyandra mengangkat tangannya bertanya mengenai hal-hal yang menurutnya penting untuk ditanyakan yang mana belum dipaparkan di penjelasan sebelumnya.
"Ada pertanyaan yang lain?" tanya Arya ketika selesai menjawab pertanyaan Dyandra.
"Pak, boleh daftar jadi istri Bapak tidak?!" teriak mahasiswi yang terkenal sebagai primadona kelas itu, namanya Cindy.
"Pak, boleh minta nomor teleponnya tidak?"
"Bagaimana caranya mendapatkan hati Bapak?"
"Eh, eh kalian ini tidak sopan sekali menanyakan hal pribadi seperti itu di sini!" tegur Satya.
"Mumpung ada kesempatan, Pak. Kapan lagi ada coba kesempatan seperti ini."
Arya tidak berminat menjawab pertanyaan tersebut. Dia malah terfokuskan ke Dyandra yang tengah menatap dirinya dengan tatapan datar. Dia takut jika dirinya membongkar pernikahan mereka dan akan membuat seluruh kampus gempar.
Karena jam perkuliahan selesai, Satya menutup perkuliahan dan mempersilakan mahasiswa dan mahasiswi untuk keluar dari ruangan. Namun, yang keluar hanya mahasiswanya saja karena para mahasiswinya malah mengerumuni Arya untuk melanjutkan topik pribadi tadi.
Dyandra langsung menggandeng tangan Kania untuk segera pergi dari ruangan tersebut. Dirinya tidak mau jantungnya merasa tidak aman. Ingin rasanya dia membubarkan para wanita yang mengerumuni suaminya, tetapi dirinya tidak mampu karena hal tersebut bisa membongkar segalanya.
"Lo mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Kania yang melihat wajah Dyandra yang cemberut.
"Nongki dulu lah," jawab Dyandra sembari melangkahkan kaki ke kafe yang tidak jauh dari sana. Namun, langkah kakinya terhenti ketika melihat Cindy dan beberapa teman-temannya masih mengikuti Arya.
Arya mengabaikan mereka semua dan dia tampak mencoba mengusir mereka. Namun, mereka tetap tidak memedulikannya hingga pada akhirnya Arya menggunakan nada yang sedikit tinggi untuk menegur mereka dan membiarkan dirinya pergi karena masih ada urusan yang lain.
__ADS_1
Melihat hal tersebut, Kania dan Dyandra tertawa pelan. Mereka berdua bisa melihat dengan ekspresi kekesalan di wajah Arya. Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
Ponsel Dyandra berbunyi, Arya meneleponnya, tetapi Dyandra langsung mematikan ponselnya dan cepat-cepat menarik tangan Kania pergi dari sana sebelum Arya menyadari keberadaan mereka berdua. Mereka memilih untuk membatalkan acara nongkrongnya dan langsung kembali ke rumah.
Dyandra pulang ke rumah mertuanya karena diminta untuk menemani Kania yang sendirian di rumah. Setelah sampai di rumah, Dyandra langsung membersihkan diri dan setelah itu mendudukkan tubuhnya di sofa karena sudah seharian jadwalnya sangat padat dan menguras energi karena hari itu jadwalnya sampai pukul 18.30.
"Sepertinya kita harus tidur cepat malam ini," ujar Kania yang juga merasakan capek.
"Ya. Tubuh gue udah capek, tapi Mas Arya, kok, belum pulang, ya?"
"Lo mau nungguin dia pulang? Mending lo tidur duluan sana!"
"Gak, gue bakal nungguin dia di sini. Lo kalau mau tidur ke kamar, tidur aja duluan."
Mereka berdua pada akhirnya di ruang keluarga sembari memainkan ponsel masing-masing. Saat asyik menonton film favoritnya, Dyandra merasakan ada sebuah tangan yang memijat pundaknya. Dia pun refleks meletakkan ponselnya di sampingnya dan menikmati pijatan tersebut karena dirinya tahu siapa yang memijatnya. Ya. Siapa lagi kalau bukan Arya?
Melihat hal tersebut, Kania menyeletuk, "Ish. Adek sendiri aja gak pernah dikayak gituin. Beruntung banget lo, Ra."
Dyandra hanya tersenyum, lalu mendongak menatap Arya yang juga tersenyum.
"Relax," ujar Arya yang masih memijat pundak Dyandra.
Karena kelelahan, Dyandra mulai tertidur dan tangan kiri Arya digunakan untuk menopang kepala Dyandra supaya tidak terjatuh. Dengan hati-hati Arya berjongkok di samping Dyandra, meletakkan kepala Dyandra ke dadanya, lalu menggendong tubuhnya untuk dibawa ke kamar.
"Dasar pengantin baru," cibir Kania merasa menjadi nyamuk.
Saat menidurkan Dyandra di kasur dan hendak menarik tangannya, tiba-tiba saja Dyandra membuka matanya. Dia langsung menarik dasi Arya dan mempertipis jarak di antara mereka.
"Mas mau membiarkan Dyandra tidur dalam keadaan kelaparan? Kita tadi menunggu Mas pulang cukup lama hingga kami kelaparan karena Mas bilang akan masakin makan malam. Sekarang apa ini?" omel Dyandra.
Arya tertawa pelan mendengar omelan istrinya. Dia mengecup singkat bibir istrinya itu dan berkata, "Maafkan atas kelalaian suamimu ini, Sayang. Sayang mau saya masakin apa?"
Dyandra geli mendengar Arya memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.
"Apa saja yang penting cepat matang," jawab Dyandra karena merasa kelaparan.
Arya tidak keberatan dengan permintaan istrinya itu. Dengan sigap dia menggendong Dyandra di punggungnya dan menurunkannya di ruang keluarga, sedangkan dirinya pergi ke dapur dan mulai memasak.
Kania yang melihat Dyandra tidak jadi tidur pun seketika pikirannya di penuhi tanda tanya dan juga pikiran negatif. Dirinya menduga pasti mereka melakukan suatu ritual di kamar terlebih dahulu.
Matanya melihat ke arah Arya yang tengah asyik memotong sayuran sembari menggoreng sesuatu, lalu tatapannya beralih ke arah Dyandra yang asyik tiduran di sofa sembari bermain ponsel. Dirinya tidak habis pikir dengan pasangan ini.
__ADS_1
"Serasa dunia kebalik deh. Oh Tuhan, sisakan satu laki-laki seperti Abangku untukku," gumam Kania iri dengan mereka berdua. Alhasil, Arya dan Dyandra langsung menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" ketus Kania karena seperti dirinya tidak dianggap kehadirannya di sana. "Oh ya, kenapa kalian belum lakuin malam pertama?"