Menikah Dengan Kaka Sahabat

Menikah Dengan Kaka Sahabat
part 17


__ADS_3

Setelah lima hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Dyandra diperbolehkan pulang oleh dokter. Keadaannya berangsur-angsur membaik pun juga berkat Arya yang telaten merawatnya. Dia bahkan tidak mau bekerja dan menyuruh karyawannya selama dua minggu untuk bekerja dari rumah saja, tetapi jika mau berangkat ke kantor tetap diperbolehkan.


Arya menggendong tubuh Dyandra berjalan menuju ke apartemen mereka. Meskipun sudah dinyatakan sembuh, Arya masih saja posesif dengan keadaan istrinya itu. Dia tidak memperbolehkan Dyandra berjalan sendiri terlebih dahulu. Dia takut jika sakitnya bisa kambuh kapan saja. Bukannya apa-apa, tetapi dia tidak tahan melihat Dyandra menangis kesakitan sepanjang hari.


"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Arya berlutut di depan Dyandra.


"Aku mau bubur kacang hijau, boleh?" jawab Dyandra ragu-ragu.


"Ok. Kamu duduk anteng di sini saja. Saya akan membeli kacang hijau dulu."


"Mau ikut," rengek Dyandra.


Karena Arya ragu meninggalkan Dyandra sendiri dan tidak mau jika istrinya itu kelelahan, dia pun memilih untuk membeli kacang hijau secara online. Tak perlu menunggu waktu lama, kacang hijau pesanannya pun datang dan dia langsung mengeksekusinya.


***


"Nanti kamu ikut saya, ya," ujar Arya yang mengikat rambut Dyandra.


Dyandra menoleh dengan tatapan bertanya-tanya. "Ke mana?"


Arya mengecup singkat kening Dyandra. "Ke suatu tempat."


Dyandra hanya mengangguk mematuhi saja. Lagi pula dirinya sudah seminggu ini tidak keluar mencari udara segar karena Arya sangat protektif terhadap dirinya. Suaminya itu tidak membiarkan sang istri melakukan apa pun sebelum dia yakin bahwa sang istri memang sudah benar-benar sembuh.


Dyandra menonton film aksi dengan ditemani buah-buahan yang memang dibeli Arya dalam jumlah yang banyak. Sementara Arya, dia sibuk mengerjakan proyeknya dan sudah fokus ke laptopnya.


Sesekali Dyandra menyuapi Arya dengan buah karena melihat ekspresi suaminya yang sangat tegang itu. Tangan kirinya dia gunakan untuk mengetik, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk mengecek berkas-berkas. Namun, sesekali dia menoleh ke Dyandra untuk memastikan keadaannya.


Arya mengambil minuman di kulkas sembari menjawab panggilan dari temannya.


"Ke mana aja lo?" tanya Leon, salah satu teman dekat Arya.


"Apartemen," jawab Arya singkat sembari meminun jus kemasan.


Saat asyik mengobrol, Arya tidak terlalu menyadari kehadiran Dyandra yang berada di sampingnya. Baru saat di balik kanan, dia langsung meletakkan gelasnya dan menggendong Dyandra yang tengah mengambil minuman.


"Ya ampun, Sayang! Ngapain kamu di sini? Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ke saya!" omel Arya yang langsung mendudukkan Dyandra di sofa. Dia lalu mengambil minuman yang belum jadi diambil oleh istrinya tadi.


"Mas, aku capek duduk dan rebahan mulu. Lagian aku udah sembuh, kok. Tenang saja," timpal Dyandra beranjak dari tempat duduk, memutar badannya menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Woi! Lo ngapain berduaan sama cewek di apartemen?!" pekik Leon yang mendengar pembicaraan mereka.


"Lo gak apa-apain tuh cewek, 'kan, Ya?!" Kali ini yang bersuara adalah Haris, usianya lebih tua dari Arya.


Dyandra menatap Arya dengan isyarat bertanya siapa mereka. Namun, Arya hanya diam saja dan langsung mematikan panggilannya sepihak.

__ADS_1


***


"Woi! Siapa cewek yang sama lo tadi? Cantik gak? Anak mana? Janda atau gadis? Mau lihat fotonya gue!" Berondong Leon kepada Arya yang kini duduk di depan mereka.


Arya keluar sebentar untuk menjemput Dyandra yang masih asyik melihat ikan di kolam depan rumah yang dijadikan markas oleh Arya dan teman-temannya.


"Dyandra," jawab Arya menjawab pertanyaan Leon tadi.


Harus menyipitkan matanya. Mengingat-ingat sesuatu. "Lah bukannya Dyandra itu temen adik lo, ya?!"


Leon yang melihat hal tersebut pun sontak menggebrak meja dengan keras. Membuat Dyandra terlonjak kaget dan melangkah mundur ke belakang Arya dengan menggenggam erat lengan suaminya itu. Ekspresi yang ditunjukkan Leon ditafsirkan Dyandra sebagai ketidaksetujuannya.


Arya menoleh ke Dyandra dan memberikan isyarat bahwa untuk tenang saja.


"Banjir! Nih orang jomlo bertahun-tahun, sekalinya dapet, temen adik sendiri digaet," umpat Haris mengusap dadanya.


Tentu saja mereka terkejut akan hal itu. Mereka tahu bahwa Arya bukanlah tipe laki-laki yang mudah tertarik dengan perempuan. Dan sekarang dia ke markas sambil membawa ceweknya, siapa yang tidak terkejut coba? Mana ceweknya teman adiknya sendiri.


Sementara Leon, dia melihat Dyandra dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Pantes lo luluh. Cantik juga ternyata."


"Ya cantiklah, ya kali ganteng," sarkas Dyandra.


Leon melongo tak percaya, sedangkan Arya dan Haris tertawa puas.


"Bro, cewek lo sarkas juga." Leon hendak menyentuh bahu Dyandra. Namun, sebelum hal itu terjadi, Arya sudah memasang badan dan mencengkeram kuat tangan Leon.


"Iye iye. Posesif amat lo," timpal Leon yang masih melirik Dyandra. "Oh ya, kenalian gue Leon. Panggil Mas Leon aja."


Leon langsung mendapat bogeman dari Arya. Haris yang melihat itu langsung tertawa terbahak-bahak sampai-sampai perutnya sakit.


"Udah, Mas, tenang." Dyandra mendorong tubuh Arya menjauh dari Leon.


"Awas aja lo goda istri gue, nyawa lo jadi taruhannya," ancam Arya lagi dan tidak main-main.


"Hah?! Istri?!" tanya Leon dan Haris sangat terkejut.


"Eh ada Neng Dyandra." Suara Erlan terdengar memasuki pintu bersama seorang laki-laki lain, yaitu Dilon.


"Pasutri baru makin lengket aja," goda Dilon.


"Lo tau mereka udah nikah?" tanya Leon dan Haris mendekati Dilon.


"Taulah. Gue aja jadi saksi nikahnya," jawab Dilon enteng sembari menyerahkan sebungkus plastik cukup besar kepada Dyandra.


Dyandra hanya melihat hal tersebut.

__ADS_1


"Hadiah pernikahan kalian dari gue. Maaf, baru sempet ngasih," lanjut Dilon supaya tidak terjadi salah paham.


"Wah wah wah. Ini gimana ceritanya lo tiba-tiba nikah, heh?!" teriak Leon frustrasi. Matanya menatap Dyandra. "Lo gak diapa-apain Arya, 'kan? Maksud gue, lo gak hamil duluan, 'kan?" tanyanya karena tiba-tiba saja terpikirkan saat Arya marah-marah kepada Dyandra saat di telepon tadi.


"Eh mulutnya itu, lho," cibir Dyandra.


"Lo gak dipaksa Arya, 'kan? Alias lo nikah sama dia karena keinginan lo sendiri tanpa adanya paksaan?" Kali ini Haris yang mengkhawatirkan Dyandra. Entah kenapa mereka malah tidak mempercayai temannya sendiri.


"Atau kalian dijodohkan orang tua kalian? Atau malah terjadi 'kecelakaan' di antara kalian berdua sebelumnya?" Erlan turut memanas-manasi suasana.


Dyandra pusing dengan pertanyaan mereka. Dia menatap Arya dengan tatapan supaya dia membungkam mulut mereka semua. Namun, Arya memberikan isyarat supaya Dyandra yang menjawab sendiri karena jika dirinya yang menjawab, mereka tidak akan percaya.


"Gak ada paksaan sama sekali, gak ada 'kecelakaan' sama sekali, gak ada perjodohan sama sekali, dan gue gak hamil duluan," jawab Dyandra yang masih setia menggandeng tangan Arya.


Mereka bertiga bernapas lega mendengar hal tersebut. Namun, Leon sepertinya tidak percaya sama sekali.


"Lo beneran gak hamil duluan? Terus kenapa tadi Arya marah-marahin lo hanya perkara lo jalan ngambil minuman sendiri dan Arya nyuruh lo untuk duduk dan rebahan aja? Kalau lo gak hamil, terus kenapa?" tanya Leon yang mana mendapat persetujuan dari Haris.


"Itu karena gue baru keluar dari rumah sakit lusa kemarin. Meskipun dokter udah nyatain gue sembuh, tapi dia tetap over protektif," timpal Dyandra santai karena itulah yang sebenarnya.


"Terus kenapa kalian nikah gak ngundang kami?" Haris mempertanyakan hal tersebut.


"Semua terjadi begitu aja. Waktu itu gue udah ngajak kalian mau ikut gue atau gak, tapi yang mau ikut cuma Dilon. Dia yang gue ajak nemenin lamaran dan siapa yang menyangka kalau Papa Hendra meminta supaya kami menikah saat itu juga? Dan ya begitulah. Kami nikah secara agama, lalu baru mengurus pernikahan secara hukum," jawab Arya yang tengah mendudukkan Dyandra di kursi supaya tidak lelah berdiri.


"Resepsi?" tanya Erlan.


"Hanya diadakan untuk saudara terdekat."


"Wah, kalau gini, kalian harus traktir kita." Leon tidak mau ketinggalan acara makan-makan yang biasa ada di acara pernikahan.


Dilon menoyor kepala Leon dan berkata, "Lo aja kagak nyumbang, masih minta jamuan makan. Gak tau malu lo, ya?"


Leon menoleh menatap Haris. "Mari beli hadiah untuk pernikahan mereka." Dia langsung menarik tangan Haris pergi.


"Maafin tingkah mereka, ya, Adik Ipar. Maklum, agak konslet otaknya," ujar Dilon yang hanya ditanggapi senyuman oleh Dyandra.


Dyandra tidak menyangka Arya yang menurutnya tidak banyak bicara, susah didekati, dan tidak banyak ikut campur, memiliki teman-teman yang berbanding terbalik dengan kepribadiannya itu. Mungkin karena itulah Dyandra paham kenapa Arya bisa sabar menghadapi tingkahnya yang masih seperti bocah.


"Kenapa? Ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Arya yang tahu dirinya diperhatikan oleh Dyandra meskipun tatapannya fokus ke papan catur.


"Iya, ada yang salah sama wajah Mas. Salahnya wajah Mas terlalu ganteng." Mendengar perkataan Dyandra, Arya tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Arya menarik pinggang Dyandra untuk mendekat dan berbisik, "Untung kita bukan di apart. Kalau tidak, kamu sudah habis sama saya."


Dyandra susah payah menelan salivanya. Dirinya tahu apa maksud perkataan Arya tersebut.

__ADS_1


"Arya, siapa wanita ini?" Tiba-tiba suara perempuan terdengar yang membuat semua mata menatap ke arahnya.


"Indry?" Dyandra langsung menatap Arya setelah suaminya menyebutkan nama tersebut.


__ADS_2