Menikahi Pembantu TAJIR

Menikahi Pembantu TAJIR
MPT #11


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


"Gak usah, pokonya langsung SAH aja!"


Jawaban ShaQueena tentu membuat Darren tertawa karna terdengar sekali jika gadis di dekatnya tersebut tak sabar untuk di halalkan.


Tapi, Darren berusaha memberi pengertian jika ada proses yang harus di lakukan sebelum hari pernikahan mereka nanti.


"Lama ah, pokonya aku mau kamu langsung Ijab Qabul aja," ucap ShaQueena lagi yang kekeuh pada inginnya, sebab bayangan indah menjadi seorang istri sudah ada di pelupuk matanya saat ini.


Darren langsung menarik pinggang ShaQueena agar lebih dekat dengannya lalu menatap wajah cantik itu dengan lekat namun tetap menenangkan.


"Kamu pantas mendapatkannya meski aku tak bisa memberimu yang jauh lebih mewah dari yang kamu punya, Nul," kata Darren sambil tersenyum hingga dagu belahnya kian terlihat sempurna.


"Cape loh, kalau banyak orang nanti Kepalaku pusing. Kita langsung nikah aja ya," pinta ShaQueena yang berusaha memberi alasan namun ia tetap mendapat gelengan kepala dari pria tersebut.


"Terserah lah, pokonya kawin!"

__ADS_1


"Nah, kalau kamu mau Kawin, baru gampang. Tapi kalau nikah, biarkan semua sesuai prosesnya, Ok." tegas Darren lagi, ShaQueena yang tak bisa lagi membantah pun akhirnya mengangguk.


Setelah selesai membereskan semua barang, keduanya kembali ke dapur tepatnya duduk saling berhadapan di meja makan. Tempat paling favorit mereka selama hampir satu bulan ini.


"Nanti habis nikah, kita tinggal di Apartemen ku yang di Barat ya," ucap Darren.


ShaQueena yang bingung pun langsung mengernyitkan dahinya, " Maksudmu apa?, kenapa gak di sini aja?" tanya ShaQueena.


"Sayang, ini terlalu kecil, aku mau kamu jauh lebih nyaman dari ini," jelas Darren.


"Aku suka disini, aku gak mau kemana-mana dan ingin tinggal disini," jawab ShaQueena dengan posisi duduk bersandar dan tangan melipat di dada jelas sekali jika ia sedang melayangkan protes.


"Yakin mau disini aja?" tanya Darren memastikan, malu rasanya jika ia harus memberi tempat tinggal yang nyatanya jauh dari kata layak untuk seorang Nona besar Bramasta.


"Iya, kita tinggal di sini saja. Aku suka disini karna nyaman dan tak terlalu besar."


Meski masih ada rasa ragu, akhirnya Darren setuju meski seiringnya waktu ia akan tetap bicara lagi dengan ShaQueena, ia akan berusaha memberi kan yang terbaik bukan karna perkara siapa calon istrinya tapi karna itu memang kewajibannya sebagai suami kelak yang harus memenuhi nafkah lahir, bathin, sandang dan pangan.

__ADS_1


Keduanya terus mengobrol beberapa hal mulai dari yang serius sampai candaan yang bisa membuat pasangan tersebut tertawa bersama


"Jika kamu pulang, aku disini akan merasa sangat bosan dan sepi sekali tanpamu, Nul," ucap Darren yang sengaja memasang wajah sedih dan menyendihkan.


"Aku tak kemana mana, maka itu cepat nikahi aku," goda ShaQueena yang membalas dengan menaik turunkan alisnya sendiri.


"Malam lusa aku akan datang, tunggu ya, Sayang."


ShaQueena yang senang tentu langsung setuju dan mengangguk cepat. Wanita mana pun tentu akan melakukan hal yang sama seperti dirinya. Hingga, obrolan mereka berhenti saat terdengar suara bell pintu yang di berbunyi bukan hanya satu kali.


"Siapa ya?" tanya Darren yang terlihat jelas sekali raut bingungnya.


"Entah, kamu ada pesan sesuatu?" tanya balik ShaQueena yang di jawab dengan gelengan kepala. Dan untuk tahu siapa yang datang, Darren pun langsung bangun dari duduknya lalu bergegas berjalan ke arah pintu.


.


.

__ADS_1


.


Ceklek


__ADS_2