
🍂🍂🍂🍂
ShaQueena yang keadannya semakin membaik pun di izinkan untuk pulang oleh dokter. Selama di rumah sakit keluarganya tak pernah meninggalkan gadis itu karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesai kan oleh Darren sebelum akhirnya mereka kembali ke ibu kota.
"Mau nunggu Darren, Sha?" tanya mama Senja.
"Iya, boleh kan?" tanya balik ShaQueena yang di iyakan saat melihat Papa Pangeran mengangguk.
"Baaang, pulang duluan yuk, Kakak kangen Hujan," rengek si Buaya cengeng, kepergiannya yang tanpa sang pawang memang membuat nya jadi uring uringan tak jelas.
Mimih Cahaya yang melihat itu pun hanya bisa membuang napas kasar, bukan pemandangan langka dan aneh melihat sang kakak lemas tak berdaya karena kurangnya pelukan dari istrinya.
"Tunggu Darren, Kak," sahut Pipih Langit, meski ia menantu bungsu namun ia tetap yang paling tua sebab abang angkat dari Air, Bumi dan Cahaya.
"Suruh lah dia pulang sendiri," jawab Air lagi.
Seperti bocah kebanyakan, ia yang sudah selesai dengan tugasnya yang hanya menabrak tentu ia akan langsung minta pulang tak perduli dengan yang lain lagi.
Daddy Andra pun tak keberatan jika besannya ingin pulang lebih dulu, karna ia akan tetap pulang bersama dengan ShaQueena meski harus menunggu Darren yang belum jelas kembali di jam berapa. Ia yang masih sangat rindu tentu tak akan melepas sang cucu untuk berdua lagi dengan pria keturunan Aldrich tersebut.
"Gak apa-apa, kita pulang sama-sama aja," jawab Pipih Langit yang pasti bisa menenangkan si tukang tabrak.
Dan, hampir satu jam menunggu yang di harapkan pun datang. Darren masuk setelah ia mengetuk pintu dan di persilahkan masuk. Kesopanannya memang tak di ragukan lagi dan Papa Pangeran tahu akan hal itu jauh sebelum kejadian ini.
"Maaf menunggu lama," ucap Darrren yang masih sempat sempatnya melirik ke arah ShaQueena.
Ia yang terakhir kali bertemu saat kemarin malam tentu sangat merindukan sosok gadis cantik yang kali ini tak bertompel. ShaQueena menghapusnya karna tak henti di ledek oleh PaPay.
__ADS_1
"Tak apa, kita bisa pulang sekarang," ucap Papa Pangeran.
ShaQueena yang masih duduk di ranjang pun di minta untuk duduk di kursi roda, namun gadis itu menolaknya. Ia akan berjalan saja karna merasa kondisi tubuhnya baik baik saja.
"Ya sudah, pegang tangan ku kalau begitu," kata Darren sambil mengulur kan tangannya.
Plaaak.
"Enak aja! Minggir," timpal Daddy Andra yang memukul pelan telapak tangan Darren yang tadi terulur.
Jangan harap pria itu bisa mudah mendekati ShaQueena saat ada para kesayangannya. Karna terbukti kini sang nona muda sudah di gandeng oleh Daddy nya.
"Sabar ya, Mom. Daddy tuh bucin banget sama Mbul," kekeh Mama Senja pada Ibu mertuanya.
Memang sudah jadi hukum alam, setelah ada anak tentu ada lagi cucu yang jadi kesayangan dan tempat menumpahkan segala bentuk perhatian serta kasih sayang. Jangan bayangkan jika ShaQueena nanti punya anak ya..
.
.
Di bandara, Darren menarik napas panjang saat melihat pesawat pribadi yang jelas terpampang nama Bramasta disana, ia yang sudah menganggap itu mewah tak ingin membayangkan bagaimana milik Biantara apalagi Rahardian yang tentu nya di atas dua keluarga tersebut.
"Kenapa?" tanya Papa Darren saat sadar sikap lain dari calon menantunya tersebut.
"Tidak, Tuan. Maaf, saya melamun," jawab Darren yang tersentak kaget.
"Jangan punya pikiran macam macam ya, kami tak se mengerikan yang kamu bayangkan. Cukup. cintai ShaSha dan jangan pernah lukai hatinya," pesan Papa Pangeran yang tak pernah ambil pusing dengan latar belakang Darren yang sebenarnya tak begitu memalukan
__ADS_1
"Baik, Tuan, akan saya usahakan berikan yang terbaik untuk putri Anda," jawab Darren yang terdengar begitu yakin dan itu membuat Papa Pangeran senang serta lega mendengarnya.
Mereka semua naik ke dalam pesawat dengan menduduki kursi masing-masing. Jangan harap lagi Darren akan berdekatan dengan ShaQueena selama ada Daddy Andra di sekitaran si Mbul.
"Pulang dari sini langsung bilang mama mu mau kawin ya," bisik PapAy Air yang sialnya malah duduk berdampingan dengan Darren.
Deg...
Rasanya Darren lupa satu hal, ia belum cerita apa pun pada wanita pemilik surganya akan hal ini, dua kali Mama telepon hanya menanyakan kabar putranya saja, sepertinya ia percaya pada Darren yang pergi ke luar kota tanpa sang pembantu. Terbukti Mama tak begitu gencar menghubungi Darren. Signal yang kadang jernih dan buruk membuat pembicaraan mereka pun tak selancar biasanya.
"Kenapa sih ngelamun terus? tikus di rumah pada kejang kejang loh ke banyakan ngelamun," lanjut PapAy yang tak ada jawaban dari Darren barusan.
"Iya, Tuan. Akan saya bicarakan dengan Mama sepulang dari sini."
"Kamu tinggal di Apartemen sendiri atau dengan orang tuamu?" tanya Mama Senja.
"Awalnya sendiri, tapi saat ada ShaQueena, Mama jadi tinggal bersama saya juga, Nyonya," jelas Darren, ia tak ingin menutupi apa pun karna orang orang di sekitarnya bukan orang biasa. Bisa saja itu semua bukan sekedar pertanyaan untuknya.
"Bagus, tak baik juga kalian hanya berdua," sahut Mommy Viana, si wanita paling sabar saat menghadapi suaminya yang sebulan terakhir ini sering merajuk tak jelas hanya karena perihal rindu.
"Terus, ngapain tuh si Mpel sama mamamu?" tanya PapAy, kini ia punya julukan baru untuk cucu dari adik bungsunya tersebut.
.
.
Mereka.....
__ADS_1