Menikahi Pembantu TAJIR

Menikahi Pembantu TAJIR
MPT #09


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


"Tidak, Mama tidak setuju!"


Kini, dua pasang mata pria di ruang tengah tersebut beralih pada Mama yang menjawab cukup tegas barusan atas penolakannya.


"Mah--, kenapa?" tanya Darren bingung.


"Pokonya Mama gak setuju kamu menikah dengan wanita itu, pilihan Mama tetap Bella!"


Darren yang mengernyitkan dahi semakin tak paham dengan apa yang di katakan dengan tegas oleh Mamanya.


"Mah, bukankah kita sudah sepakat jika Mama hanya mengenal kan ku dengan gadis pilihan Mama tapi pilihan akhir tetap aku yang memutuskan!" balas Darren tak mau kalah, ia mengingat kan lagi apa yang selama ini jadi janji mereka berdua.


"Mama tahu itu, tapi Mama tetap tak setuju," jawabnya sambil bangun lalu pergi begitu saja, ia tak perduli dengan panggilan suami dan anaknya yang meminta untuk kembali karna pembicaraan mereka belum selesai.

__ADS_1


Darren yang bingung mengusap wajahnya secara kasar, ada dua wanita yang tak bisa ia pilih salah satunya kini.


"Biar Papa yang nanti bicara dengan Mama mu. Kamu jangan khawatir ya," ucap Tuan Aldrich pada putranya yang menatapnya sendu.


"Iya, Pah. Terima kasih. Tapi, apa Papa setuju jika ingin menikahu ShaQueena? kurasa Papa kenal dengan keluarga Bramasta," tanya Darren, yang harapannya hanya Papa seorang saja.


Bukan langsung menjawab, Papa hanya bisa membuang napas berat, sebagai sesama seorang pengusaha siapa yang tak kenal dengan besan keluarga Biantara tersebut, malah justru seingat Papa ia pernah beberapa kali bertemu di berbagai acara meski tak pernah mengobrol secara intens.


"Papa hanya bisa memberi restu, seumur hidup itu akan telalu lama jika kamu habis kan dengan orang yang menurutmu tak tepat, tapi tak ada salahnya jika di pikir ulang niatmu sebab mereka lebih segalanya dari kita, Darren," pesan Papa yang di pahami oleh puteranya tersebut.


"Aku paham, aku juga sempat berpikiran seperti itu. Namun hatiku tak bisa mengatakan aku tak mencintai ShaQueena, Pah."


Tuan Aldrich hanya mengangguk pelan sambil tersenyum, putranya sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya sendiri.


Penolakan Mama tentu belum di cerita kan oleh Darren pada ShaQueena, bahkan sampai sarapan pagi pun keadaan tetap hening karna seperti mama masih kesal padanya.

__ADS_1


"Kamu akan tinggal disini atau kembali ke Apartemen?" tanya Papa yang memulai obrolan karna sejak tadi hanya ada suara denting sendok dan garpu di atas piring.


"Apartemen, Pah. Aku akan tetap tinggal disana seperti bisa. Kepulanganku hanya untuk meminta doa restu kalian saja," jawab Darren yang menambah kekesalan mamanya yang terdengar mengeram menahan emosi.


"Baiklah, beritahu jika saatnya tiba nanti ya," pesan Papa, tentu yang di maksud pria tersebut adalah acara lamaran resmi putranya tersebut pada keluarga Bramasta.


Darren langsung mengangguk senang meski pandangannya ke arah Mama yang merengut tanpa senyum.


Tapi, entah apa yang di bicarakan Papa sampai wanita itu justru memilih diam seribu bahasa meski dari ekspresi dan tatapan mata Mama ingin banyak melayang kan protes atau mungkin mengomel panjang kali lebar.


"Akan secepatnya, Pah, aku menghalalkan ShaQueena. Tak ada alasan untuk kami menunda niat baik tersebut," jawab Darren yang tak bertemu semalam saja rasanya sudah sangat merindu.


"Bagaimana, Mah?" satu pertanyaan pun akhirnya di layangkan Darren pada sang Mama.


Terserah...

__ADS_1


__ADS_2