Menikahi Pembantu TAJIR

Menikahi Pembantu TAJIR
MPT #05


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rasa kaget tentu wajar di rasakan oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut, baru saja Pangeran meminta Darren untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya, pria tersebut nyatanya malah mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dengan sebuah cincin di dalamnya.


Ya, malam itu Darren memang berniat melamar pembantunya, tak ada alasan untuk ia bertahan terlalu lama dalam hubungan majikan dan pembantu selagi rasa nyaman itu terus ia rasakan. Si Minul benar-benar mengubah hidupnya jauh lebih berwarna dan bebas menjadi diri sendiri, perasaan yang tak pernah di rasakan oleh pria tersebut selama dekat dengan gadis mana pun termasuk dengan ShaQueena yang jauh di atasnya dari segi apapun.


"ShaQueena, bukan Minul," kata Mama Senja yang langsung melayangkan protes.


Darren yang baru sadar pun tersenyum malu, ia mengusap sendiri tengkuknya karna saking gerogi berhadapan dengan tiga keluarga konglomerat sekaligus.


"Jadi, kamu maunya sama ShaQueena atau si Tompel?" tanya PapAy yang langsung di cubit pinggangnya oleh Mimih Cahaya.


"Hem, saya jatuh cinta dengan Minul, Tuan."


ShaQueena tersenyum kecil, ia tahu hal itu sejak dulu sampai rasanya ia kesal dengan dirinya sendiri. Cantik, kaya raya dan pintar nyatanya tak membuat apapun bisa di raih dengan mudah. Dan, tak semua orang juga butuh atau suka dengan kesempurnaan yang di miliki oleh seorang ShaQueena RanJa BiantaRahardian Bramasta.


"Jadi, sama ShaQueena gak mau?" tanya papa Pangeran lagi. Jangan harap ia akan melepas putrinya lari andai Darren menolak sosok ShaQueena.


"Mau juga, Tuan," jawab Darren.


"Jiah, si tikus pengen semuanya, gak ada si Minul si Mbul pun jadi, ckck," ledek PapAy. Mulutnya bisa losdol selagi tak ada sang pawang yaitu MiMoy Jan Hujan deres yang takut petir.


ShaQueena yang tak berani mendongak kan wajahnya terus menunduk saking malunya. Ia benar benar tak menyangka misinya menjadi pembantu jadi jadian berhasil meski tetap ada campur tangan para tuan besar di dalamnya.


"Bisa tolong tinggalkan kami berdua?" pinta Darren, begitu banyak yang ingin ia bicarakan dengan ShaQueena sebelum semua benar-benar terjadi.


"Belom Sah udah minta berdua," gerutu Daddy Andra yang sebenarnya tak Terima karna bagaimana pun ia yang menjaga cucu perempuan nya itu dengan sangat baik.

__ADS_1


"Sebentar saja, Tuan."


"Hem, baiklah. Kalian memang butuh waktu bicara berdua saja tanpa kami. Kami paham jika semua ini terlalu mendadaka untuk kalian," ucap pipih Langit si paling pengertian kesayangan pawang Gajah.


Satu persatu para Tuan besar beserta pasangannya kecuali si buaya cengeng keluar dari ruang rawat inap sang nona muda hingga di kamar tersebut hanya ada Darren dan ShaQueena saja.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf, kak," ucap ShaQueena yang sambil memainkan jari jari tangannya di atas pengkuan.


Sedangkan Darren sudah duduk di tepi ranjang menunggu gadis aneh bin ajaibnya tersebut berani mendongakkan wajah agar tatapan mereka bisa bertemu.


"Kamu kenapa bisa senekat ini, Sha?" tanya Darren, ia memanggil dengan naman ShaSha karna pertanyaan tersebut menang untuk ShaQueena.


"Karna-- karna aku mencintaimu. Kamu menghindariku tanpa alasan yang saat itu membuat ku bingung. Sedangkan untuk bertanya dan menemuimu aku sangat malu," jawabnya yang mulai jujur.


Sedikit demi sedikit semua akan jelas, tinggal bagaimana mereka mau atau tidak menerima alasan dari masing-masing yang merasa benar sendiri.


"Tapi bukankah sudah ku katakan padamu. Jika, ShaQueena terlalu tinggi untuk ku gapai."


"Sha, jangan cemburu pada si Minul, Ok," kekeh Darren.


Selagi gadis itu mendongak, Darren tentu tak menyia-nyiakan apa yang ada di depannya saat ini. Tangannya mengusap pipi ShaQueena dengan lembut untuk pertama kalinya. Ia raba si tompel hitam yang ada di pipi lalu terkekeh kecil.


"Jangan tertawa," decak sang nona muda sambil menepis tangan Darren.


"Kamu itu cantik luar biasa, Sha. Kenapa punya pikiran membuat tompel sebesar ini sih?" tanya Darren masih dengan kekehan kecil.


"Aku cantik? tapi buktinya kamu tak suka, malah suka dan niat melamar pembantumu itu!" sindir ShaQueena, padahal yang di bicarakan juga dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku suka Sha, aku sempat jatuh cinta padamu. Tapi, setelah aku sadar aku buru buru menepikan rasa itu, aku minta maaf," jawab Darren penuh sesal.


"Alasan, aku bahkan benci diriku sendiri yang lahir dari keluarga berada karna--," timpal ShaQueena, bibirnya di tahan oleh jari Darren seakan itu adalah pertanda jika ia tak boleh meneruskan ucapannya barusan.


"Jangan bicara seperti itu lagi, disini aku yang salah karna terlalu egois. Meninggalkanmu begitu saja karna merasa aku tak pantas untukmu, Sha. Kamu tak berhak merutuk takdirmu sendiri, Ok," mohon Darren, andai saja saat itu ia jauh lebih berani mengambil resiko tentu mereka tak akan se salah paham ini. Darren memang kalah sebelum berperang dan ia mengakui serta menyesali hal tersebut.


"Aku menerimamu entah itu menjadi ShaQueena atau pun Minul. Kalian sama-sama punya daya tarik sendiri bagiku."


"Tidak, kamu itu mencintai Minul bukan ShaQueena!" tegasnya yang malah menangis.


Sedih rasanya kalah oleh sendiri, saat itu ia memang selalu tampil sesempurna mungkin demi menarik hati Darren. ShaQueena bergaya feminim karna takut Darren tak suka dengan gadis manja. Perkiraan perkiraan itulah yang membuat ShaQueena tak jadi dirinya sendiri. Hubungannya memang tampak kaku padahal sudah melakukan semua yang mendekati sempurna.


"Sha, aku tahu. Kalian tak ada bedanya. Jadilah Minul dalam sosok ShaQueena, jadi dirimu sendiri ya," pesan Darren yang langsung menghapus air mata di pipi ShaQueena.


Di peluknya gadis itu serta di ciumi pucuk kepalanya berkali kali, tak ada yang menyangka jika kisah mereka akan serumit dan seunik ini demi bersatu menuju halal.


"Tompelmu tidak luntur, Sha. Padahal terkena air mata," tanya Darren dengan polosnya dan itu membuat ShaQueena berdecak kesal.


"Waterproof ini, mahal banget soalnya ada upah sawannya!" cetus ShaQueena yang ingat lagi dengan si perias yang pingsan karna melihat perubahan wajahnya dari MashaAllah ke Astagfirullah.


"Tapi tetap cantik, aku suka. Tompelmu itu bikin hati aku cenat cenut dan ngerasa ada yang hilang kalau gak lihat," goda Darren, meski terdengar menjijikkan tapi itulah yang ia rasakan.


Cinta bukan perkara buta tapi juga harus tampil apa adanya, karna masih banyak orang di luaran sana yang bisa menerima kita dengan segala sifat, kelebihan serta kekurangan yang ada. Tak perlu memaksa ingin terlihat sempurna karna kita kita hidup untuk saling melengkapi.


.


.

__ADS_1


.


"Jadi, aku harus tompelan terus nih?"


__ADS_2