
🍂🍂🍂🍂🍂
"WOY!!!"
Suara teriakan dan gebrakan mobil tentu membuat dua orang yang ada di dalamnya kendaraan tersebut terlonjak kaget. Dan ini kali keduanya pasangan tersebut di ganggu saat sedang ingin..
"Njirrr, apa lagi ini?!" umpat ShaQueena saat wajah tampan Darren menjauh darinya.
Dua orang yang terlonjak itu langsung keluar dan berapa terkejutnya sang Nona muda Bramasta saat melihat Geng Kompor Meleduk.
"Jreng- Jreng."
"O'o, kamu ketauan, lagi ngapain? dua duaan di dalam mobil," Skala yang bernyanyi malah di ikuti oleh Heaven, Rain da ArXy yang juga sembari berjoget memutari ShQueena juga Darren.
Kini, mereka yang benar-benar tercyduk tak bisa lagi mengelak. Apalagi kini Darren yang di apit oleh Heaven dan ArXy, dua pria yang sering kali menarik urat saat bicara.
"Ish - ish, Mbul nakal ya," kata Rain sambil menggeleng kan kepalanya, ia tak menyangka sepupunya itu akan di cium oleh pria yang belum jadi suaminya.
"Bilang aja sirik!" balas gadis itu tak mau kalah, tentu karna ingin menyembunyikan rasa kesal dan malunya.
__ADS_1
"Sirik? sorry ya, Bum mah biasa di cium Miong!" cetus Rain yang langsung mendapat cibiran.
Darren yang jauh lebih dewasa dari ke empat pria di dekatnya kini bukan tak bisa melawan, hanya saja beberapa tahun kemudian mereka akan jadi atasan Darren karna Rain, ArXy, Heaven dan Skala adalah seorang ahli waris perusahaan keluarga besar Rahardian.
"Enak ya peluk peluk si Mbul?" sindir Skala yang duduk bersandar di depan mobil Darren.
"Lebih enak kalau di peluk, Bang Darren mau gak di peluk?" tanya Heaven.
"Heh! Abang apa? enak aja panggil Abang!" protes ShaQueena tak suka, ia yang merengut kesal justru di tertawakan oleh para sepupunya.
"Maunya Abang apa? Abang baso, cilok, doger, cingcau atau Abang parkir?" kekeh ArXy.
ShaQueena yang di ledek pun langsung malu hingga kedua pipinya merah merona dan itu jelas terlihat tak perduli dalam keadaan malam sekali pun.
"Pokonya gak ada yang boleh panggil Abang!" tegas gadis cantik itu yang langsung ingin menarik tangan Darren namun di tepis dengan cepat oleh Heaven.
"Eeeeh, mau kemana coba?"
"Kalian tuh mau ngapain sih? pergi sana, pulang ke rumah masing-masing! jangan bilang mau nginep di rumah Mbul ya!" cecar ShaQueena.
__ADS_1
Namun ArXy yang mendengar hal tersebut langsung menjulur kan lidahnya tanda meledek, sedangkan Darren belum sama sekali bersuara.
Ia paham, mendekati ShaQueena bukan hanya harus mendapat restu dari orang tua tapi juga harus lolos eksekusi dari para sepupunya yang bukan hanya satu dan itu semua rasanya tak mudah.
"Hem, maaf ini mau apa ya?" tanya Darren, di apit oleh calon presiden direktur sungguh membuat ia lemas.
"Kan tadi udah berani peluk si Mbul, sekarang gantian Abang yang di peluk gimana?" tanya Heaven seolah sedang mengajukan negoisasi tapi sayangnya Darren maupun ShaQueena tak merasa senang, sebaliknya mereka merasa ada yang tak beres dengan tawaran tersebut.
"Gak usah macem-macem! Kak Darren pulang aja sana," usir ShaQueena sangat terpaksa demi keselamatan si pria tampan pujaan hatinya.
"Aduh Kakak, si adek ketemu gede ya?" ledek Rain yang kali ini membuat yang lain ikut tertawa.
"Maaf, saya di peluk siapa ya?" Tanya Darren, ia tentu penasaran kali ini.
.
.
.
__ADS_1
Noh, Si MariMar....