
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Bruuuk...
Mendengar kata MariMar meski tanpa AW, tentu membuat ShaQueena langsung memeluk Darren dengan cara menubruk pria tampan yang sedang kebingungan tersebut.
"Gak boleh, masa Mbul dapet bekas pelukan si MariMar!" protesnya tak senang sambil merengut dan itu semakin membuat para sepupu jahilnya senang menggoda.
"Eh.. eh.. eh, apa apaan ini Nona muda!" Skala dan ArXy tentu langsung menarik ShaQueena dari pelukan Darren meski sedikit sulit karna gadis tersebut meronta tak ingin di lepaskan.
"Sumpah Demi apapun kalian tuh NGESELIN!" teriak Frustasi ShaQueena sambil berusaha memukul para sepupunya namun tak berhasil.
Ada rasa gemas, lucu dan kasihan dalam hati Darren tapi ia tahu semua ini di lakukan karna begitu sayang denag ShaQueena. Sebagai anak tunggal dan cucu tunggal tentu tak aneh jika itu di lakukan padanya.
"Kak Darren pulang sana," usirnya lagi dengan sangat terpaksa dari pada harus melihat sang pujaan hati di giring ke kandang MariMar.
"Oooeeek!" Heaven yang menyebalkan langsung pura pura mual mendengar ucapan dari sepupu dekatnya karna keduanya turunan langsung Biantara.
Gelak tawa dari para calon penguasa dunia bisnis itu memang sangat menjengkelkan hingga saat mereka berempat sedang asik melempar candaan, Darren pun perlahan melipir menuju mobilnya dan..
Wwuuuush....
"Woy, mau kemana?" teriak geng kompor meleduk bersamaan saat sadar mendengar suara mobil yang berjalan.
Hal yang sama pun di lakukan ShaQueena yang lari juga masuk ke dalam kamarnya.
"Sha, udah pulang, Sayang?" tanya Mama Senja di ruang tengah. Niat hati ingin langsung masuk kamar harus di urungkan.
"Iya, Mah."
"Pulang sendiri atau di antar Darren?" tanya Papa Pangeran yang terlihat santai tak seperti Daddy Andra yang terus uring uringan saat di ledek sang istri.
__ADS_1
"Sama Darren, tapi dia gak mampir. Udah kabur."
"Kabur??" tanya kedua orang tua ShaQueena bingung bahkan mereka saling pandang.
ShaQueena dengan nada kesal menceritakan apa yang di lakukan geng kompor meleduk barusan pada Darren dan dirinya, tapi tentu tak secara detail karna tak mungkin juga ia sampai mengatakan apa yang terjadi di dalam mobil saat Heaven, ArXy, Rain dan Skala menggebrak mobil sang pujaan hati.
"Ya sudah, mereka memang begitu kan? lalu, bagaimana dengan Darren? kapan dia akan melamar mu, Sha?" tanya Papa Pangeran.
"Enggak tahu, lagian kenapa harus ada lamaran sih? kawin langsung memang gak bisa?" tanya balik si anak tunggal yang kadang kelakuannya sering tak masuk akal.
"Semua ada prosesnya, Sayang. Kami harus bertemu dengan orang tuanya lebih dulu," sambung Mama Senja yang membuat ShaQueena langsung menelan salivanya kuat kuat.
Ia belum paham betul dengan calon mertuanya yang tadi bertemu saja begitu ketus terhadapnya. Jangankan jadi Minul sang pembantu jadi jadian karna jadi ShaQueena RanJa BiantaRahardian Bramasta saja ia masih di Dzhalomi.
"Tapi gak mau kaya gitu gitu, Mah. Pokonya tau tau SAH!"
Takut rasanya jika bertemu lagi dengan si Mak Lampir yang tak ada manis manisnya, belum lagi ia sadar betul jika sikap Darren seolah ada yang di sembunyikan, dari sikap pria itu jelas sekali jika ia tak nyaman saat mengobrol bertiga barusan di Apartemen.
"Jangan gitu, Sayang. Darren tuh bukan mau nikahin anak kucing loh, kamu itu punya keluarga dan orang tua," timpal Mama Senja memberi pengertian.
Mungkin, ini semua salah mereka yang terlalu memanjakan ShaQueena, ia selalu mendapat apapun dengan sangat mudah dan cepat. Jadi, menikah pun ia pikir bisa dengan seenaknya tanpa ada tahapan demi tahapan yang harus di laksanakan. Sebagai anak dan cucu tunggal, tentu pernikahannya harus di ketahui oleh semua orang jangan sampai ada salah paham mengingat ShaQueena juga masih seorang mahasiswa.
.
.
Cek lek
Darren yang baru sampai ke Apartemen miliknya lansung masuk, ia menarik napas berat saat melihat sang Mama yang ternyata benar-benar sedang menunggunya.
"Mah--," panggil Darren pelan namun sambil berjalan menuju wanita paruh baya yang langsung menoleh saat mendengar suara.
__ADS_1
"Sudah nganter ShaQueenanya?" tanya Mama tanpa basa basi, bahkan ia melanjutkan acara nonton TVnya seperti tak berminat menunggu jawaban.
"Sudah, Mah. Lusa kita ke kediaman Bramasta ya, Darren akan lamar ShaQueena secepatnya."
"Kenapa harus dia sih? kan kamu tahu jika Mama menginginkanmu memilih Bella. Dia jauh lebih baik dari gadis manja itu," cetus Mama yang kesal sendiri.
"Aku yang akan menikah, Mah. Aku yang tahu mana yang terbaik untukku. Darren minta doa dan restu Mama ya, tolong jangan di persulit dengan adanya Bella," mohon Darren dengan sangat.
"Terserah padamu, pokonya Bella itu menantu idaman untuk Mama."
Darren menghela napas berat, bukan tak tahu atau pura pura tak tahu jika dua wanita itu kian hari kian dekat. Bahkan, Mama sering menghabiskan waktu bersama dengan cara shoping atau sekeder makan siang.
"ShaQueena baik, Mah. Kalian juga bisa dekat. Pelan pelan tak apa menerimanya," mohon Dareen lagi yang kali ini tak mendapat jawaban. Mama memfokuskan kedua matanya ke layar TV sambil menggerutu tak jelas dan itu semakin membuat Darren serba salah. Ia harap, tak ada satupun dari dua wanita itu yang akan ada pilih nantinya, bukan karna serakah hanya saja Mama dan ShaQueena punya peran masing masing dalam hidupnya.
"Ya sudah, kan katamu kamu yang akan menikah. Belum apa apa sudah tak butuh Mama. SurgaMu itu ada di telapak kaki Mama, Darren!" dengan sangat emosi wanita itu sampai melempae Remote di tangannya.
"Darren tahu itu, Doa Mama bisa menembus langit tapi itupun jika istriku nanti Ridha, Mah."
"Alasan! jika dia wanita baik tak mungkin menjadi kan mu anak pembangkang seperti ini, jika ingin menikah dengannya terserah, tapi ia cukup menjadi istrimu, jangan harap akan jadi menantu Mama!" tegasnya yang benar-benar kesal hingga langsung bangun dari duduk lalu pergi begitu saja.
Pertengkarannya malam ini tentu membuat Darren tak tenang. Ia tahu betul sifat Mama yang sulit di taklukan. Buktinya, ia hanya pura-pura setuju saat di rumah, namun saat di Apartemen justru dengan leluasa melontarkan protesnya.
"Seumur hidup itu lama, Mah. Aku hanya ingin bahagia dengan seseorang yang aku cintai."
Helaan napas Darren begitu sangat terasa, ia meraih ponselnya untuk di nyalakan, kini di depan matanya sudah terpampang jelas foto ShaQueena yang memang terlihat sangat cantik.
.
.
.
__ADS_1
Nul---, Minuul.. aku kangen!