
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Gimana? apa ada kabar dari Darren kapan ia akan datang kemari?" tanya Daddy Andra saat sarapan pagi dengan anak dan menantunya tapi tidak dengan cucu kesayangannya.
Dimana ShaQueena?
Dia masih bergelut dengan mimpi indahnya di balik selimut, hampir satu bulan tidur di ranjang kecil tentu ia tak akan menyia-nyiakan kenyamanan yang kini sudah kembali.
"Belum, nanti tanya ShaSha dulu," jawab Papa Pangeran.
"Si Mbul beneran mau langsung Sah?" kali ini Mommy Viana yang bertanya sebab ingin memastikan maunya si cucu tinggalnya itu.
"Iya, tapi Darren kayanya gak mau, dia mau tetap datang bersama orang tuanya."
Sama dengan ShaQueena, Darren juga seorang anak laki-laki satu-satunya jadi tak aneh jika orang tuanya ingin juga yang terbaik dalam pernikahan sang putra yang di harapkan sekali seumur hidup mereka. Tapi, entah lah semua tergantung Mak Othor mau atau tidaknya cetak undangan untuk pasukan Gajah.
"Untuk lamaran atau langsung nikah?" tanya Mama Senja, jangan sampai pernikahan sama sepertinya dulu. Datang dari rumah jadi tamu undangan tapi ujung-ujungnya naik pelaminan.
"Lamaran, Sayang. Aku belum pernah bertemu dengan Tuan Aldrich," jawab Papa Pangeran sambil berusaha mengingat ingat pernah perusahaan mereka bekerja sama atau sekedar bertemu di suatu acara.
__ADS_1
"Nanti biar ku tanya ShaSha kalau begitu, tak bisa juga semuanya mendadak. Keluarga harus lebih tahu jauh jauh hari," timpal Mama Senja yang harus ingat jika ia punya keluar besar sebesar-besarnya.
Papa Pangeran pun mengangguk, ia tersenyum sambil mencium tangan wanita halalnya. Cinta pria paruh baya itu tak pernah habis untuk Senja yang ia cintai sejak masa masa SMA.
.
.
Eeugh...
Dari pembantu jadi jadian, kini ShaQueena sudah bisa bernapas lega karna kembali menjadi nona muda Bramasta. Namun ada yang hilang dari dirinya yaitu tak bisa melihat Darren di pagi hari sebelum pria itu berangkat ke kantor. Meski harus sambil mendengar sang calon Mama mertua bernyanyi ia tetap tak keberatan asal bisa puas menikmati paras tampan pujaan hati.
Senyum terulas di ujung bibir ShaQueena, ia lalu meraih ponselnya di atas nakas guna mengecek beberapa pesan, semua ia lewatkan begitu saja kecuali satu notifikasi yang langsung membuatnya bangun dari baring.
"Hallo, Tuan Ganteng-," sapa ShaQueena saat panggilannya tersambung, andai ia tahu jika suara manjanya itu langsung membuat pria di sebrang sana kini langsung tersipu malu.
"Pagi, Nul. Sudah bangun?" tanya Darren, ia sampai menggigit bibir bawahnya agar senyumnya tak semakin lebar.
"Sudah, ini aku kan aku lagi telepon kamu, ih." rengeknya kesal.
__ADS_1
"Maaf ya, Sayang. Hari ini mau kemana? bisa kita makan siang sama sama?"
Tak berpikir 2 3 4 5 6 kali, gadis yang full 24 jam cantik itu langsung setuju dan mengiyakan. Ke-dua membuat janji di salah satu Resto yang tak jauh dari kantor Darren.
"Aku tunggu ya nanti," kata ShaQueena sebelum panggilan di akhiri.
"Iya, Sayang. Kabari aku jika akan berangkat kesana," pesan Darren yang di iyakan dengan anggukan kepala padahal jelas pria itu tak ada di di depannya.
.
.
.
"Tapi, kamu maunya aku jadi Minul atau Mbul?"
Hayooo.. siapa yang nanyain bapak MariMar terus?
__ADS_1
Udah launching ya, tapi di sebelah karna agak sedikit berbau bau kehareudangan 🤣..
Di tunggu Absennya