
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
{ Mamacih ya emak-emak kesayangan Minul udah mau jawab 😂 Emang yang waras harus ngalah pokoknya... Yuk, di lanjut }
** Happy Reading **
Perjalanan yang cukup singkat karna melalui jalur udara membuat semuanya cepat sampai juga di ibu kota. Di Bandara, tiga tuan besar pulang kerumah masing-masing. PapAy kerumah utama, Pipih Langit dan Mimih Cahaya ke kediaman Biantara sedang sisanya ke kediaman Bramasta termasuk Darren yang di minta mampir oleh ShaQueena.
Ia yang awalnya ragu karna masih malu malu meong akhirnya setuju juga.
"Tapi aku gak janji bisa lama ya, Sha," kata Darren padahal hatinya jelas masih terMinul Minul.
"Iyalah, kalau mau lama halalin dulu nih si Mbul," timpal Daddy Andra, padahal telinganya sudah berkali-kali di jewer oleh Mommy Viana tapi nada bicara pria baya itu masih saja ketus.
Kenapa?
Karna sang Tuan besar Bramasta belum siap tersaingi oleh Darren yang kini menjadi pusat perhatian cucu kesayangannya. Ia cemburu karna senyum manis si Mbul tertuju pada pria lain yang jelas baru di kenal gadis itu beberapa bulan yang lalu.
"Kalau udah halal si Mbul justru mau di bawa loh sama Darren," bisik Mommy Viana, ia akan jadi wanita paling senang saat suaminya merajuk di hari pernikahan cucu mereka.
"OH NO!" tolak Daddy Andra yang langsung memeluk ShaQueena, ia yang bingung karna tak mendengar apa yang di ucapkan sang Nyonya besar pun hanya bisa mengernyitkan dahi.
"Daddy kenapa sih?!" omel gadis cantik itu yang kesal karna tak sejengkal pun pria baya itu jauh darinya.
"Hehe, gak apa-apa, yuk pulang."
Mommy yang cekikikan sendiri di tatap tajam oleh suaminya, andai saja si JENDOLAN masih aktif bermain main, akan ia pastikan jika wanita yang pernah di perkosanya secara halal tersebut akan tak bisa bangun keesokan harinya, tapi apalah daya, senjata itu kini hanya pajangan sebab tak lagi bisa melambai.
__ADS_1
Dengan menggunakan dua mobil, Darren ikut dengan Mama Senja dan Papa Pangeran, ada beberapa yang dua pria itu obrolkan secara santai demi memecah keheningan selama perjalanan pulang.
Dan, setibanya di rumah mewah Bramasta, para orang tua masuk ke dalam kamar masing-masing termasuk Daddy Andra yang pasrah saat di jewer lagi telinganya.
Kini, hanya tinggal ShaQueena dan Darren di ruang tamu yang menurut pria itu terlalu megah.
"Kamu mau pulang kemana, Kak?" tanya ShaQueena, di awal perkenalan mereka, ia memang memanggil pria tersebut dengan sebutan Kakak karna jarak usia yang lumayan jauh di antara keduanya, dan Darren sepertinya tak keberatan akan hal tersebut.
"Ke Apartemen, mau ikut, hem?" tanya balik pria itu dengan sedikit menggoda meski jauh dalam hatinya ia sangat ingin ShaQueena ikut.
"Tidak untuk sekarang, mungkin lusa karna beberapa barangku masih ada di kamar," jawab ShaQueena karna saat pergi ia memang tak membawa apapun kecuali ponsel yang di sembunyikan di perutnya.
"Barang apa? tompelmu yang menggemaskan itu, iya?"
Darren tertawa saat melihat ShaQueena merengut kesal dengan memanyunkan bibirnya yang merah muda alami.
"Andai saja kamu seperti ini sejak awal kita kenal, aku tak akan mundur, Sha," ucap Darren yang langsung meraih tubuh ShaQueena untuk masuk kedalam pelukannya.
"Aku pikir, kamu akan Elfeel jika tahu aku pecicilan, Kak. Maka itu aku selalu berusaha tampil terbaik saat bertemu denganmu meski kadang aku tak nyaman," jawab ShaQueena yang penuh dengan sesal.
"Jangan lagi ya, aku suka kamu apa adanya. Aku ingin bahagia bersamamu, menghabiskan waktu ku dengan melihat tingkah menggemaskanmu, Sha," pinta Darren.
Pekerjaan yang setiap hari menguras otak dan energi entu membuat Darren jadi cepat lelah dan bosan, sedangkan kedatangan sosok pembantu seperti si Minul memberinya warna lain di sisa hari yang sudah ia habiskan di kantor. Ada senyum yang kadang tanpa sadar terulas di bibirnya saat melihat atau mengingat kejadian demi kejadian yang di lakukan si gadis aneh bin ajaib tersebut saat di Apartemen. Tak salah jika Darren langsung jatuh hati karna menganggap si Minul bisa melengkapi hidupnya.
"Kamu ingin aku seperti ini? lalu bagaimana dengan Mamamu?" tanya ShaQueena.
Semenyebalkan apapun Wanita paruh baya tersebut, ShaQueena tetap ingin mengucapkan banyak terima kasih karna sudah melahirkan anak yang begitu tampan rupawan dengan belahan dagu yang membuatnya jatuh jungkir balik mencintai Darren, belum lagi perhatian dan rasa perdulinya yang membuat ShaQueena yakin untuk memberikan seluruh hatinya.
__ADS_1
"Biar aku yang bicara dengan mama, kamu jangan khawatir ya," jawab Darren yang semakin mengerat kan pelukannya serta sudah berani mencium pucuk kepala gadis itu.
#Bahaya
#KasihTauGakYaaaa
"Mama bukannya tetap memaksamu untuk bersama Bella? aku takut, Kak," ujar ShaQueena lirih, bohong jika ia tak khwatir tak mendapat restu mengingat bagaimana mereka dulu yang sering berdebat.
"Mama hanya memperkenalkan, masalah siapa yang di pilih untuk ku nikahi, tentu itu urusan ku dan kami sudah sepakat untuk hal tersebut sejak awal," jelas Darren secara jujur dan terbuka, ia berjanji untuk tidak ada lagi yang di tutupi.
"Baiklah, aku percaya. Semoga mamamu bisa memaafkan aku ya."
"Gadis nakal, dan beruntungnya aku di perjuangkan olehmu." ShaQueena yang langsung mendongak membuat tatapan mereka kian dekat hingga hembusan napas keduanya menyapu wajah masing masing yang hampir tak berjarak.
"Kamu pantas ku perjuangkan, pria tampan seperti mu sayang sekali jika hanya di tunggu di depan rumah. Aku tak akan mencintaimu dalam diam melainkan secara ugal ugalan," kekeh ShaQueena yang membalas rayuan Darren.
Senyum terulas di sudut pasangan yang sebenarnya tak bisa di katakan sedang berpacaran. Sebab mereka akan cepat menuju halal.
"Boleh aku minta sesuatu darimu?"
"Apa? kamu mau apa lagi?" tanya ShaQueena.
.
.
.
__ADS_1
Boleh ya aku tetap memanggilmu, Nul---Minuuuul