
Namaku Lily, tahun ini aku sudah menginjak usia 20 tahun. Tak terasa sudah satu tahun berlalu sejak aku menjadi mahasiswa dan hidup jauh dari rumah.
Hari-hari ku di kampus tidak begitu istimewa, dan tidak begitu buruk. Aku menjalani hari seperti mahasiswa biasa dengan nilai yang juga biasa-biasa saja.
"Lily, aku duluan ya, sampai jumpa"
Ini Tania, teman sekamarku. Tidak berlebihan jika kukatakan dia sangat populer di kampus kami. Bagaimana tidak? Dengan rambutnya yang panjang dan pirang, mata birunya yang begitu jernih, dan tubuhnya yang merupakan tubuh impian semua wanita. Dengan sekali pandang saja semua pria akan terpesona melihatnya. Berbeda denganku yang hanya memiliki mata hitam biasa, rambut berwarna cokelat gelap yang sulit diatur, dan tubuh yang bukan tubuh ideal. Sangat tidak menarik.
Tania melambai kepadaku sambil berjalan masuk kedalam kelasnya. Begitu cantik.
"Baiklah, sampai jumpa" jawabku sambil membalas lambaian tangannya.
Jujur saja, terkadang aku iri pada Tania. Dia begitu cantik, ramah, pintar, dan populer.
Bukan berarti aku tidak menyukainya, aku hanya iri pada kehidupannya yang terlihat menyenangkan.
Ah sudahlah, aku seharusnya berhenti berpikir seperti itu. Aku lanjut berjalan melewati koridor menuju kelas sambil melihat jam tangan.
"Astaga, aku terlambat!"
Aku berlari secepat mungkin menyusuri koridor menuju kelas, ini kelas Mr. John!!
Mr. John adalah dosen paling terkenal di kampus ini, bukan tanpa alasan. Kau akan mengerti jika ku ceritakan tentang dia yang menghukum seorang murid hanya karena menguap saat kelasnya berlangsung, atau tentang dia yang mengeluarkan seorang murid senior dari kelasnya karena terlambat kurang dari 1 menit.
Aku dengan cepat masuk kedalam kelas. Melihat bangku murid, itu Lia. Dia salah satu teman ku, kami masuk jurusan yang sama yaitu jurusan teater.
Kenapa dia membuat ekspresi wajah seperti itu? Apa yang dia katakan? Aku tidak bisa mendengarnya...
"BERANINYA KAU TERLAMBAT DI KELASKU!!"
Sontak aku melihat ke arah suara itu.
Oh tidak, Mr. John sudah ada di kelas. Wajahnya yang datar saja sudah menakutkan, apalagi raut wajah marah nya.
"Begini...Mr. John.."
Aku mencoba memberi alasan agar dibiarkan tetap mengikuti kelas.
"KELUAR!!!" bentaknya.
Rasanya seperti ditendang keluar dari kelas, dia sangat menyeramkan. Aku berjalan menjauh dari kelas dengan lesu, kelas kedua akan dimulai jam 12 siang, dan sekarang masih jam 10 pagi.
__ADS_1
Aku terus berjalan tidak tahu apa yang harus kulakukan, tenggelam dalam pikiranku sampai aku mendengar sesuatu.
"Suara piano?"
Pantas saja terdengar suara piano, ternyata aku sudah berada di gedung jurusan musik. Kurasa suara ini berasal dari panggung aula, aku sedang senggang jadi kupikir tidak masalah untuk mendengar permainan piano.
Aku membuka pintu aula perlahan, dan mengendap-endap masuk lalu duduk di kursi bagian paling tinggi dan paling belakang. Tidak ada yang menyadari kehadiran ku. Tentu saja, pandangan semua orang yang berada di ruangan ini hanya tertuju pada sosok pria dibawah sana. Suara piano indah yang terdengar sepanjang koridor itu berasal dari permainan pria dibawah sana.
Raven, mahasiswa kebanggaan jurusan musik. Atau lebih dikenal Raven si jenius yang suka membuat onar.
Aku tidak bercanda, dia benar-benar seorang jenius. Ku dengar dia selalu mendapat peringkat teratas, dia memiliki banyak prestasi dibidang akademik dan non-akademik. Yang paling menonjol adalah kemampuannya dalam bermain piano. Permainannya membuat siapapun yang mendengar terhipnotis untuk terus mendengarnya, begitu indah dan menawan.
Kenapa menawan?
Dunia memang tidak adil, bagaimana bisa ada manusia yang begitu pandai dalam bidang akademik begitu juga non-akademik, memiliki masa depan yang cerah, dan paras yang menawan.
Tapi dunia tak sepenuhnya salah, aku saja yang kurang beruntung.
Tiba-tiba Raven berhenti memainkan piano. Aku yakin masih ada bait berikutnya. Raven tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan berjalan turun keluar dari panggung, tapi ada yang menghentikannya. Itu Mrs.Yu, dosen yang paling disukai di kampus ini karena sikapnya yang begitu lembut.
Mungkin karena tempat dudukku begitu jauh dari panggung, aku jadi tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Aku hanya bisa melihat bahwa mereka sedang bertengkar. Kuharap mereka cepat berbaikan.
Baiklah, kurasa tidak ada alasan untuk tetap berada disini. Aku berdiri dan mengendap-endap keluar dari ruangan ini.
Sebelum aku benar-benar menutup pintu, aku sedikit mengintip kedalam.
"DIAM, DASAR KAU NENEK TUA!"
Raven mendorong Mrs.Yu sampai terjatuh, aku menutup mulut sangking terkejutnya.
Aku segera pergi dari tempat itu. Aku kasihan pada Mrs.Yu, pasti sulit untuknya. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan Raven karena aku tidak tahu apa yang membuatnya kesal. Aku berjalan menyusuri koridor jurusan musik sampai ada sesuatu yang menarik perhatian ku.
Aku berhenti dan berjalan kearah papan pengumuman yang tertutupi oleh begitu banyak kertas. Tapi ada secarik kertas biru kecil diantara kertas-kertas itu yang menarik perhatian ku.
Pertunjukan musik yang akan diadakan di balai kota 2 bulan lagi. Kurasa aku akan mengajak Lia dan Tania untuk menontonnya bersama, pasti menyenangkan.
Setelah memasukkan kertas itu kedalam saku celana, aku pun lanjut berjalan menuju gedung jurusan Teater. Sesampainya di jurusan teater tanganku tiba-tiba ditarik oleh seseorang.
Aku berbalik untuk melihat siapa tersangka yang menarik tanganku.
"Astaga Lia, kau mengejutkan ku saja"
__ADS_1
"Hehe, maaf" katanya sambil melepas tanganku.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya ku.
"Lihat ini, akan ada pertunjukkan drama di balai kota 2 bulan lagi." jawabnya sambil memperlihatkan secarik kertas.
"Pertunjukkan drama? Aku juga melihat berita itu, tapi bukankah seharusnya pertunjukkan musik?" tanyaku.
"Benar, tapi bukan hanya pertunjukkan musik ada pertunjukkan drama juga. Pertunjukkan ini akan ditampilkan dihari yang sama" jawabnya.
"Dan apa kau tahu? Ternyata kita bisa mendaftar dan tampil" tambahnya.
"Eh? Benarkah?"
"Benar, dan dari yang kudengar, Anne Frinzt akan menonton pertunjukkan drama itu"
"Apa?! Anne Frinzt?! Tidak mungkin!"
Anne Frinzt adalah seorang penulis naskah yang sangat terkenal. Dia menulis naskah berbagai film yang terkenal, dan dia adalah idolaku.
"Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi kurasa itu benar. Mereka sudah menentukan penampilannya kan? tapi mereka membiarkan orang lain untuk mendaftar" jelasnya.
"Kau benar"
"Jadi.... bagaimana jika kita ikut mendaftar?" tanya nya.
"Hah?!"
"Ayolah, bisa saja ini menjadi peluang besar untuk kita" jelasnya.
"Kau benar, tapi kita harus mendapat izin dari ketua jurusan teater" balasku.
"Kau bisa membujuknya, bukankah kau murid favoritnya? Ayolah kumohon Lily" ucapnya.
Membujuk? Meskipun ketua menyukai progres ku tapi meminta hal seperti ini...apa tidak apa-apa?
Aku melihat Lia, raut wajahnya terlihat sangat memohon, kurasa dia benar-benar ingin kami mengikuti pertunjukkan drama itu.
Aku menghela napas sesaat lalu membalas.
"Baiklah, aku akan mencari cara untuk membujuk ketua" balasku.
__ADS_1
"SUNGGUH?! TERIMAKASIH" katanya dengan semangat lalu memelukku.