Menjadi Inspirasimu

Menjadi Inspirasimu
Kembali berteman(Lily & Ray)


__ADS_3

Aku dan Lia berjalan melewati koridor. Kami sedang membicarakan tentang penampilan kami.


"Ngomong-ngomong Lily, aku lupa menanyakan ini padamu, tapi kenapa akhir-akhir ini Raven selalu berada di dekatmu? celetuk Lia.


"Oh itu, kau ingat Mrs.Yu datang saat kita rapat. Dia memintaku untuk membantu Raven dalam menulis lagu" jawabku.


"Eh? kenapa tiba-tiba seperti itu?" ucap Lia menaikkan alis.


"Aku juga tidak tahu, sampai sekarang pun lagunya tidak ada kemajuan" jelas ku. Kalau diingat-ingat kemarin malam aku tidak melihat Raven, apa dia sudah menyelesaikan lagunya sehingga aku tidak perlu membantu?


Aku tenggelam dalam pikiranku.


'Brukk'


Aku tidak sengaja menabrak seseorang, itu...Ray.


"Maafkan aku, apa kau baik-baik sa-" sebelum menyelesaikan kalimatku Ray pergi begitu saja.


"Apa-apaan itu?" ucap Lia mendengus kesal.


"Sudahlah, tidak apa-apa" ujar ku.


"Ck, kau ini dasar-" ucap Lia kesal.


"Oh, kelasku sudah mulai, aku pergi duluan ya Lily" ucap Lia lalu berlari pergi.


"Ya, sampai nanti" jawabku.


...


...


...


Aku memutuskan untuk menemui Raven di gedung jurusan musik. Sesampainya disana aku masuk kedalam bangunan dan tidak menemukan Raven, lalu aku pergi ke ruang latihan pribadi milik Raven.


Tapi aku tidak bisa membuka pintu, pintunya terkunci. Itu berarti Raven tidak ada disini. Kalau begitu dimana dia? Tadinya aku ingin mengirim pesan padanya, tapi masalahnya aku tidak punya kontak Raven.


Ah benar, tempat tongkrongannya itu di gedung jurusan sastra, selain itu aku sering melihatnya disana, mungkin saja sekarang dia ada disana.


Aku langsung pergi ke gedung jurusan sastra. Sesampainya disana aku berusaha untuk mencari Raven dari pintu, dan bukannya menemukan Raven aku malah menemukan Ray, dan dia berjalan kearah ku.


Apa dia akan menyapaku? dia masih ingat kita pernah berteman kan?


"Permisi..." ucap seorang mahasiswa melewati ku.


Ah benar, aku berdiri di samping pintu, mungkin dia hanya ingin keluar. Gawat, kalau kami berpapasan lagi mungkin suasana antara kami akan semakin canggung! Aku dengan cepat keluar dari bangunan sebelum Ray keluar.


Begitu keluar bangunan aku melihat tangga gedung jurusan sastra. Balkon! Aku segera menaiki anak tangga satu persatu.


Bagaimana bisa aku lupa? Pertama kali aku bertemu Raven adalah disini. Aku membuka pintu balkon berharap pria bernama Raven itu ada disana, udara sejuk dingin menerpa wajahku, tapi begitu aku memperhatikan sekeliling lagi-lagi aku tidak menemukan Raven, disini hanya ada teman-temannya, Lion dan Hanz.


Mereka tidak menyadari kehadiran ku karena sedang asik mengobrol, oh! mereka duduk di kursi hidrolik bulat. Jadi orang aneh yang membawa kursi itu ke kampus adakah mereka?


Raven dimana? Aku menghela napas karena kecewa, aku berhenti sebelum membalikkan badan untuk pergi. Ha, inilah kenapa nilai ku tak pernah diatas rata-rata, bagaimana bisa begitu bodoh seperti ini?

__ADS_1


Lion dan Hanz itu teman Raven, Benar, orang aneh yang membawa kursi hidrolik bulat disana adalah teman Raven. Tidak lupakan tentang kursi hidrolik bulat. Yang paling penting adalah mereka teman Raven.


Kenapa aku tidak menanyakan pada mereka saja? Aku hendak berjalan ke arah mereka tapi.... bagaimana jika mereka tidak mengacuhkan ku? ah tidak mungkin, aku yakin mereka orang baik.


Aku berjalan satu langkah kedepan.


"Oh hai" sapa Lion kepadaku yang membuatku meloncat terkejut.


"Apa kau punya urusan dengan kami? daritadi kulihat kau terus berdiri didepan pintu" ucap Hanz yang ada disamping Lion. Jadi mereka sadar dengan kehadiran ku?


Aku menghampiri mereka lalu bertanya...


"Umm apa kalian melihat Raven? aku ada urusan dengannya" tanyaku, dan dibalas dengan mereka yang saling melihat satu sama lain dengan wajah bingung.


"Ah, kau ingin menyatakan cinta pada Raven ya?" ujar Lion.


"Eh? Bukan, bukan itu" ucapku membantah tuduhannya.


"Apa kau wanita yang membantu Raven menulis lagu? ah siapa namanya? Li..Lily?" ucap Hanz.


"Benar, aku Lily" sahutku.


"Oh, kalau begitu salam kenal, aku Hanz dan ini Lion" ucap Hanz berdiri dari kursi.


"Ah iya, salam kenal" balasku dengan sedikit menundukkan kepala.


"Ngomong-ngomong kau mencari Raven ya? aku tidak tahu, hari ini aku belum melihat penampakannya" ucap Lion sambil tersenyum.


"Aku juga tidak tahu, ah tapi jika begitu penting, aku akan memberikan kontaknya padamu" tawar Hanz.


"Ha? pfffft, asal kau tahu, Raven tidak akan marah, lagipula kau wanita pertama yang-" ujar Lion sebelum Hanz menyumpal mulut Lion dengan kain baju.


"Tidak masalah, lagipula kau membutuhkan nya" ujar Hanz sambil memperlihatkan nomor Raven padaku. Aku langsung menyimpannya di handphone ku.


"Terimakasih, kalau begitu aku pergi dulu" ucapku lalu pergi.


"Wahh, jadi itu wanita yang Raven cari, dia memang berkelap-kelip" ucap Lion. Aku? berkelap-kelip? apa maksudnya? apa itu suatu pujian?


Aku menuruni tangga sambil mengirim pesan pada kontak Raven yang kudapat barusan.


"Apa ini Raven?"


...


...


...


Malam hari, setelah latihan aku mendapat pesan dari Raven, dia meminta untuk bertemu denganku di balkon gedung jurusan sastra untuk membahas tentang lagu, dan aku menyetujuinya.


Aku membereskan barang-barang ku lalu pergi ke gedung jurusan sastra, membuka pintu balkon, disini tidak dipasangi lampu. Tapi begitu terang, sinar bintang juga sangat indah.


Aku melihat ke sekeliling dan tidak menemukan Raven, tapi aku melihat seseorang sedang duduk dilantai dan sedang melihat langit menggunakan teropong bintang. Sebelumnya aku tidak berpikir tentang pemilik teropong bintang itu, ternyata itu Ray.


Saat masih SMA, Ray memang sering membicarakan tentang planet, bintang, Tata Surya. Dia sangat tertarik dengan itu.

__ADS_1


Hmm sepertinya aku harus menunggu Raven, jadi aku akan tunggu dilantai satu saja.


"Siapa itu?" tanya Ray mendadak. Dia berdiri dan berjalan ke arah ku.


"Ah, apa kau Lily?"


Hah? dia masih mengingatku? Aku tersenyum, senang mengetahui dia masih mengingatku.


"Iya aku Lily" balasku sambil menganggukkan kepala dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ray sambil membalas senyumku.


"Oh, Raven meminta ku untuk bertemu disini" jawabku


"Raven?"


"Umm, kalau begitu kau bisa menunggu bersama ku, kemari" ujar Ray sambil menggenggam tanganku membawaku ketempat dia duduk tadi. Ray melepas jaketnya dan meletakkan itu dilantai.


"Eh tidak perlu" ucapku, tapi Ray membawaku untuk duduk diatas jaketnya. Dasar, dia memang selalu seperti ini.


"Akan ku tunjukkan rasi bintang yang kulihat tadi" ucap Ray lalu mengarahkan teropong bintangnya.


Jujur saja, sedikit aneh melihatnya tiba-tiba menjadi akrab lagi denganku setelah tidak mengacuhkan ku selama 1 tahun ini. Aku penasaran kenapa sebelumnya dia berperilaku seolah tidak mengenalku, tapi melihatnya bersemangat seperti ini, kurasa aku akan meminta penjelasannya lain kali saja.


"Lihatlah" ujar Ray.


Aku menggunakan teropong bintang, bintang-bintangnya begitu cantik.


"Cantik kan? tapi mungkin kau tidak melihat bentuknya, aku akan menunjukkan nya padamu" ucap Ray lalu membuka laptopnya.


"Lihat ini"



"Oh jadi bentuknya seperti ini?" tanyaku.


"Benar, mau ku bacakan cerita dibaliknya?" tanya Ray bersemangat, aku tidak mungkin mengatakan tidak kan? jadi aku mengangguk setuju.


..."Nama rasi bintang ini, 'Αλίσα(Alisa), Alisa adalah rasi bintang yang paling kusukai. Bukan hanya karena bentuknya yang indah, tapi juga karena makna dari rasi bintang."...


..."'Η Αλίσα μόνη' artinya Alisa yang sendiri."...


..."Αλίσα(Alisa) adalah seorang gadis yang kehilangan banyak hal. Saat masih kecil dia kehilangan orangtuanya, beruntungnya dia masih dirawat oleh kakek dan neneknya. Beranjak remaja, dia menemukan seorang teman, kemudian dia kehilangan kakek dan neneknya. Setelah itu dia menemukan seseorang yang ia cintai, kemudian dia kehilangan temannya"...


..."Αλίσα(Alisa) takut untuk ditinggalkan orang yang dia cintai, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan orang yang dia cintai"...


..."Dia terus sendiri, menolak kehadiran orang lain, menolak untuk disayangi atau menyayangi" jelas Ray....


"Ahh...cerita dibaliknya sangat sedih" ucapku. Aku menatap Ray, aku sedih mendengarnya menyukai rasi bintang ini. Karena kemungkinan besar...


Kemungkinan besar dia menyukai rasi bintang ini karena ceritanya mirip dengan miliknya. Aku sedikit menepuk kepala Ray. Aku senang kami kembali berteman.


"HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN"


P.S: Gambar rasi bintang, nama rasi bintang, begitu juga dengan makna rasi bintang adalah karangan author, hehe.

__ADS_1


__ADS_2