
"Ngomong-ngomong apa yang kalian bicarakan?" tanya Raven dengan wajah penasaran.
"Bukan hal penting, ah benar juga, apa yang ingin kau katakan tadi Lion?" tanya menatap kembali Lion.
"Ah tidak, itu..... itu bukan apa-apa" jawab Lion.
"Oh ya Lily, kenapa kau bolos?" tanya Ray.
"Aku dikeluarkan dari kelas Mr.John karena berisik" jawabku kecut.
"Haha, kau seharusnya tidak boleh berisik, jadi dikeluarkan lagi kan" ucap Ray tertawa kencang. Anak ini kurang ajar sekali. Tapi apa yang dia maksud 'lagi'?
"Hmm kalau begitu aku harus pergi, kelasku akan dimulai. Sampai jumpa" ucap Lion lalu pergi begitu saja. Ini perasaan ku saja atau dia terlihat tidak nyaman?
"Ngomong-ngomong Lily, apa kau senggang Sabtu besok?" tanya Ray meletakkan tangan nya di kepalaku.
"Ya aku senggang, kenapa?"
"Apa kau mau berkencan denganku?" sontak aku melompat mundur karena terkejut.
"Apa maksudmu?!"
"Aku hanya bercanda, aku mendapat tiket gratis, kau mau menonton bersama?"
"Sabtu depan aku tidak ada kelas jadi sepertinya bisa" jawabku. Ray tersenyum lalu mengelus rambutku.
"Hentikan itu, rambutku jadi berantakan" ucap ku kesal sambil menepis tangannya.
"Baiklah, jangan lupa ya, hari sabtu" ujar Ray bersemangat.
"Iya iya"
...
...
...
Hari sudah sore dan aku kembali berlatih untuk pertunjukan.
"Maaf sebelumnya aku tidak ikut latihan" ujarku.
"Tidak masalah Lily, lagipula kau sedang sakit. Dan kita punya Lia, dia yang menggantikan peranmu saat sakit" jelas Hanna.
"Sungguh? wah Lia kau keren" ujar ku.
"Hehe, terimakasih"
"Padahal akting mu bagus Lia, tapi kenapa malah masuk tim properti?" tanya Hanna pada Lia. Membuatku bertanya-tanya hal yang sama.
"Aku suka ini, sudahlah. Kalian cepat naik ke panggung" ucap Lia.
...
__ADS_1
...
...
Hari sudah malam, dan kami sudah selesai beres-beres lalu bersiap-siap pulang.
"Lily, aku duluan ya" ucap Hanna lalu pergi. Lia dan yang lain juga sudah pulang jadi aku yang tersisa disini. Sekarang aku penasaran, kenapa selalu aku yang pulang terakhir? Tapi yahhh aku tidak masalah dengan itu.
Aku mematikan lampu dan mengunci pintu, lalu berjalan menyusuri koridor yang gelap. Harusnya mereka memperbaiki lampu koridor.
Seperti biasa, meski sudah malam masih banyak mahasiswa di kampus. Mereka memiliki kelas malam, atau mungkin juga hanya ingin menghabiskan waktu disini. Aku melewati segerombolan wanita dan sedikit pendengar pembicaraan mereka.
"Hey, apa kau sudah dengar rumor itu?"
"Rumor apa yang kau maksud?"
"Tania dan Raven berpacaran"
"Itukan sudah ada dari dulu"
Benar, rumor palsu seperti itu sudah ada dari dulu. Harusnya rumor itu menghilang, kenapa masih ada orang yang mempercayai itu?
"Tidak, coba kau lihat postingan terbaru dari Naya"
"Wah gila, ini Raven kan? dia pergi ke club dengan Tania"
"Benar, Raven juga sepertinya sadar, akhirnya kapal yang kudukung berlayar juga"
"Mereka berpacaran, sangat serasi"
Apa demamku belum sembuh? aku merasa sesak.
...
...
...
Sesampainya di asrama aku langsung berlari ke kamar, tapi yang kutemukan hanya kamar yang kosong. Aku menyalakan handphone ku dan membuka insta milik Naya, dan benar saja. Postingan terakhirnya adalah foto Tania yang sedang ada di club, dengan Raven merangkulnya.
Ini postingan 2 jam yang lalu, apa mereka masih disana? aku mencoba menelepon Raven berkali-kali, tapi tidak diangkat. Aku juga mencoba menelpon Tania, dan sama saja.
Aku mengirim pesan pada Raven.
"Raven, kau dimana? apa kau baik-baik saja? hari ini kau tidak masuk, jadi aku mencari-
/Hapus/
"Raven, kenapa kau bersama Tania? apa kalian-
/Hapus/
/Hapus/
__ADS_1
/Hapus/
"Raven, kenapa kau tidak masuk ke kampus?"
/Kirim/
...
...
...
Aku hanya mondar-mandir menunggu respon dari mereka berdua, setidaknya Tania. Tania pasti akan menghubungi ku, dia juga pasti akan menceritakan tentang ini padaku.
Kulihat jam dinding, tak terasa sudah 2 jam aku menunggu. Aku tidak bisa tidur, aku tidak tenang. Aku merasa sangat gelisah.
Suara bell tiba-tiba berbunyi pertanda ada seseorang dibalik pintu, aku membuka pintu dan menemukan Naya yang sedang menggendong Tania yang tidak sadar.
"Hey, cepat bawa dia kedalam" ucap Naya.
Aku langsung membawa Tania ke kasur. Bau alkohol sangat menyengat. Aku langsung menutup pintu tanpa menggubris Naya yang masih ada disitu.
Aku menyelimuti Tania dan menatapnya lekat. Lalu aku kembali ke kasur ku dan menyembunyikan diri dengan selimut. Aku sudah berusaha membangunkan nya tapi dia malah mengigau dan terus menyebut nama Raven.
Jadi sepertinya aku harus menunggu penjelasan darinya besok pagi, ya besok. Tidak masalah, kau harus percaya pada temanmu.
Dan lagipula....
Memangnya kenapa kalau Raven dan Tania berpacaran? Tania sudah menyukai Raven dari dulu, jadi itu hal yang bagus kan?
Benar kan?
Ya, aku menyukai Raven, lalu kenapa? Aku dan Tania sudah jelas lebih baik Tania. Tidak bahkan memalukan untuk membandingkan diriku dengan Tania.
Tania itu sempurna, selalu membuatku kagum. Wanita sepertiku saja bisa sangat kagum padanya, apalagi pria kan?
Raven juga pasti.... pasti begitu kan?
Lagipula semua orang setuju kalau mereka serasi, puluhan, tidak ratusan, atau bahkan ribuan kali aku mendengarnya.
Dan aku?
"Tunggu, bukankah ada rumor Raven sedang mencari wanita?"
"Apakah wanita itu?"
"Eyy, tidak mungkin."
"Kau benar, dia tidak menarik."
Ya, itu aku.
Tidur menghadap langit-langit kamar membuatku pusing, aku pun mengganti posisi tidurku menjadi tiarap. Ini menenangkan. Aku bisa menyembunyikannya dengan sempurna.
__ADS_1
Tidak nyaman, ini sesak, terlalu basah, dan asin. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan. Tapi tak apa, ini lebih baik.
Ck, kalau begini sepertinya besok aku harus mengganti sarung bantal dan mencuci selimut.