
Aku sedang berjalan menyusuri koridor bersama Tania, aku ada urusan di gedung jurusan teater, dan Tania akan pergi ke kelasnya.
Tapi ada yang aneh, sejak masuk kampus entah kenapa banyak yang memperhatikan kami. Aku berusaha berpikir positif, mungkin karena hari ini Tania mengikat rambutnya. Jadi mungkin orang-orang mengagumi kecantikannya.
'BRUK'
Terdengar suara dari belakang, aku langsung berbalik. Disana ada Raven, dia sepertinya menabrak seseorang.
Wanita yang berada tidak jauh darinya mau membantunya berdiri, tapi malah dibalas dengan bentakan dari Raven.
"MINGGIR!" ucap Raven sambil berdiri lalu membersihkan debu-debu di celananya.
"Lily, disana ada teman-teman ku, aku duluan ya. sampai nanti" ucap Tania sambil menunjuk ke arah teman-temannya.
"Baiklah, sampai nanti" balasku.
...
...
...
Aku melanjutkan langkah ku, melewati koridor menuju gedung jurusan teater. Tapi aku merasa sedikit tidak nyaman sepanjang perjalanan, rasanya seperti ada yang terus mengikuti ku, tapi setiap kali aku membalikkan badan, tidak ada yang mengikuti ku.
'Srekk'
Aku langsung berbalik melihat arah suara itu. Aku melihat sepatu dibalik tembok, seolah ada seseorang yang bersembunyi dibelakang tembok itu.
Aku langsung berlari secepat mungkin dan menemukan jalan kecil disamping gedung lalu segera bersembunyi di sana. Aku duduk dan menutup mulut agar napasku kembali normal.
Apa dia sudah pergi?
Aku mengintip dari balik tembok dan menemukan koridor yang kosong, tidak ada siapa-siapa. Sepertinya orang itu sudah pergi, tapi siapa itu?
Mengetahui sudah tidak ada yang mengikuti ku, aku langsung lanjut berlari ke gedung jurusan teater. Sesampainya di gedung jurusan teater aku langsung menghela napas lega.
"Ada apa denganmu? kenapa kau sangat berkeringat?" tanya Hanna yang sedang duduk santai sambil meminum kopi.
"Entahlah, tadi aku merasa seperti ada yang mengikuti ku" jawabku sambil mengelap keringat dengan tisu.
"Maksudmu stalker?" tanya kembali Hanna dengan ekspresi wajah yang sangat datar.
"Aku juga tidak tahu!" jawabku kesal.
"Hanna, apa yang kau lakukan sampai membuat tokoh utama kita kesal seperti ini?" tanya Lia dengan ekspresi konyol.
"Ck, kalian ini...." keluhku dengan respon mereka yang seolah tidak percaya.
"Haha, maaf maaf" ucap Hanna.
"Lily kemari, aku dan anggota bagian properti lain sudah membuat pilihan untuk properti yang akan dipakai, bagaimana kalau kita diskusikan setelah latihan nanti?" ucap Lia sambil memperlihatkan layar laptopnya.
"Hmm baiklah" balasku setuju.
...
...
...
Seusai kelas berakhir, aku dan Lia memutuskan untuk makan siang bersama, kami pergi ke kantin. Dalam perjalanan kami b
bertemu dengan Raven yang sedang membaringkan diri di kursi.
"Hei, ingin ikut makan bersama?" tanya Lia. Lia dan Raven memang tidak berteman, tapi Lia adalah orang yang cepat akrab dengan orang lain. Sedangkan Raven,,,,kurasa dia lebih tertutup, mungkin dia akan menolak ajakan Lia.
__ADS_1
"Yahhh terserahlah" jawab Raven sambil berdiri lalu berjalan mendahului kami.
"CEPAT!!" ucap Raven menyuruh kami mengikutinya.
Baiklah, mungkin dia tidak begitu tertutup? Ah benar, mulai sekarang aku harus membantunya menulis, jadi aku harus mendekatkan diri kepada Raven.
Begitu sampai di kantin kami langsung mengambil makanan. Semua meja penuh, untungnya ada 1 meja yang kosong. Kami berjalan ke arah meja itu lalu duduk di kursi dengan Lia disamping ku dan Raven di depanku.
Sebelum memakan sandwich yang kubeli, aku mendengar orang-orang di sekeliling ku berbisik-bisik. Aku baru sadar kalau meja yang kami tempati berada di tengah, dan ditambah dengan kehadiran Raven itu membuat kami menjadi pusat perhatian.
"Hei, itu Raven kan? ini pertama kalinya aku melihat dia di kantin."
"Siapa wanita yang bersamanya?"
"Yang satunya itu teman Tania, yang lainnya aku tidak tahu."
"Tunggu, bukankah ada rumor Raven sedang mencari wanita?"
"Apakah diantara kedua wanita itu?"
"Eyy, tidak mungkin."
"Kau benar, mereka tidak menarik."
Perkataan mereka itu benar tapi sedikit sakit juga mendengarnya.
Aku baru memakan setengah dari sandwich ku saat melihat Tania dan teman-temannya berjalan kemari. Apa ada sesuatu yang ingin dia bicarakan padaku? tapi kami jarang memiliki percakapan di kampus.
"Permisi, apa kami boleh duduk disini?" tanya Naya pada Raven yang sedang merakit ulang sandwich miliknya. Tidak menerima respon apa-apa dari Raven, Tania pun berbicara.
"Umm, meja lain penuh jadi-"
"Sudahlah, duduk saja!" potong Lia.
...
...
...
Aku telah menghabiskan sandwich ku, dan Lia, dia... sedang memakan sandwich nya yang kelima. Dan Raven masih sibuk merakit ulang sandwich nya.
Ngomong-ngomong sejak Tania duduk disini orang-orang mulai berhenti bergosip, baguslah.
"Raven, apa yang daritadi kau lakukan?" tanya Rosy, teman Tania yang duduk tepat disamping Raven. Raven tidak menjawab.
"Hei, Raven apa kau tidak menyukai sandwich nya?" tanya Naya.
Lagi-lagi Raven tidak menjawab, entah dia tidak mendengar atau sengaja untuk berpura-pura tuli.
"Ck, apa-apaan dia ini?" ucap Rosy kesal.
Raven tiba-tiba melempar sepotong sandwich yang masih baru ke piring ku.
"Untukmu" ujar Raven.
"Tapi aku sudah-"
"Kenapa kau memberikan itu untuknya? lalu apa yang akan kau makan?" potong Rosy.
Raven mengabaikannya lagi lalu dengan santai memakan sandwich yang sudah dia rakit ulang tadi.
...
...
__ADS_1
...
Malam hari, kami telah selesai latihan dan berdiskusi masalah properti. Aku sedang membereskan barang-barang ku.
"Lily, mau pulang bersama?" tanya Hanna.
"Tidak, aku ada urusan dengan Raven" jawabku.
Aku dan Hanna berjalan ke ruang utama, panggung. Disana tidak ada Raven.
"Eh? Dimana Raven?"
"Kurasa dia sudah pergi dari sore tadi" jawab Hanna.
"Eh? begitukah? kalau begitu kita pergi bersama saja" ujarku.
...
...
...
Sesampainya di asrama aku masuk kamar dan mencium wangi sedap dari dapur.
"Tania, kau sedang memasak?" tanyaku menghampiri Tania.
"Aku memasak ayam pedas manis" jawab Tania.
Jarang sekali Tania memasak, biasanya kami selalu membeli makanan untuk makan malam. Apa ada hal baik hari ini? Setelah menghidangkan makanan di meja makan, kami mulai menyantapnya.
"Ini enak" ucapku.
"Umm terimakasih" jawab Tania.
Aneh, kenapa Tania diam saja? Apa ada masalah?
"Tania, apa ada masalah?" tanyaku.
"Tidak, itu...hmmm"
"Lily, apa kau dan Raven berpacaran?" tanya Tania. Mendengar pertanyaan dadakan itu membuatku tersedak.
"BERPACARAN? Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" jawabku.
"Ah benar, apa karena di kantin tadi siang?" tanyaku.
"Itu tidak benar, Mrs.Yu memintaku untuk membantu Raven dalam proses pembuatan lagu miliknya, jadi tidak ada hubungan seperti itu" lanjutku. Mendengar itu wajah Tania langsung berseri-seri.
"Benarkah?" tanya Tania memastikan kebenaran.
"Tentu saja" jawabku sambil mengangguk dengan cepat.
"Kalau begitu...apa kau bisa mendekatkan ku dengan Raven?" tanya Tania malu-malu.
"Ah tidak, maksudku, bisakah kau memberitahuku hal-hal yang disukai Raven...atau kriteria wanita idamannya" lanjut Tania.
Hah? Apa itu? Tunggu, maksudnya? eh? TANIA MENYUKAI RAVEN? Jadi selama ini Tania menyukai Raven?
"Lily, Lily?"
"Eh? ah iya, tentu saja aku akan membantumu" jawabku setuju.
"Benarkah? Terimakasih" sahut Tania senang lalu memelukku.
Yahh kurasa tidak apa, tidak akan ada masalah kan?
__ADS_1