
Memikirkan nya saja membuatku sangat frustasi. Aku berhenti bermain piano, bangkit dari dudukku dan turun dari panggung.
"Raven, kau mau kemana?" Kata nya sambil menahan tanganku.
"Mrs.Yu, lepaskan! Jangan membuatku lebih marah lagi!!" Kataku penuh emosi.
"Tapi berjanjilah kau akan mengikuti pertunjukan itu, lagipula membuat sebuah lagu sangat mudah untukmu".
"SUDAH KUBILANG LEPASKAN!!"
Aku mendorongnya sampai dia terjatuh.
"Astaga, dia berulah lagi"
"Padahal Mrs.Yu orang yang baik"
"Temperamen nya buruk sekali"
"Dasar pembuat onar"
Ck, aku pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang penuh amarah. Aku mengirim pesan kepada teman-teman ku untuk bertemu, ingin menceritakan keluhan ku.
Aku mengirim pesan pada teman-teman ku untuk pergi ke tempat biasa kami bersantai. Mereka bilang akan segera menyusul jadi aku pergi duluan.
Aku berjalan melewati koridor, menaiki anak tangga, lalu membuka pintu. Angin menerpa wajahku, begitu menyejukkan. Begitu tenang, tapi kepalaku ini malah mengingat hal yang tidak menyenangkan tadi pagi.
Ibu dan ayahku keduanya bekerja, tapi berbeda dengan ayah yang hanya bekerja sebagai karyawan biasa, ibuku bekerja sebagai CEO perusahaan, dan si pak tua itu selalu bertengkar dengan ibuku karena masalah itu.
Tadi pagi saja dia...
"JADI KAU MELAWAN PERINTAH AYAHMU?" teriak si pak tua itu sambil menggebrak meja makan.
"T-tapi ayah...aku ingin ikut lomba" ujar adikku Nala yang masih berusia 9 tahun. Nala sangat berbakat dalam melukis, dan guru Nala menawarinya untuk mengikuti lomba, tapi si pak tua ini terus melarangnya.
"TIDAK, AKU TIDAK AKAN MENGIZINKAN MU" teriaknya membentak Nala.
"JANGAN BERTERIAK PADA ADIKKU! BERANINYA KAU!" teriakku.
__ADS_1
"Kenapa kau terus membatasi Nala? Jangan bilang kau seperti ini karena iri dengan ibu yang sukses berbeda dengan dirimu, jadi kau membatasi Nala?" lanjutku, aku tahu kata-kata ku sangat kasar, aku sengaja membuatnya sekasar itu.
"KAU-" dia pasti bingung untuk berbicara, karena tentu saja apa yang kukatakan itu benar.
"Ngomong-ngomong ibu tidak ada disini, aku yakin dia sibuk" ujarku.
"Tentu saja sibuk mengurus surat perceraian kalian" lanjutku.
"BERANINYA! AKU INI AYAHMU!!" teriaknya lalu memukulku.
"KAU TIDAK PANTAS DISEBUT AYAH!" dia berhenti, melihat kearah ku, putranya yang sudah dia pukul lalu melihat kearah Nala, putrinya yang sudah dia bentak. Disana Nala menangis. Lalu dia pergi dari ruangan ini.
"Padahal aku ingin membalas pukulannya, ck lain kali saja" pikirku.
Memikirkan kejadian tadi dan tadi pagi sedikit membuatku sakit kepala. Setelah diingat-ingat, aku harus membuat sebuah lagu untuk pertunjukan nanti. Dulu membuat lagu itu sangat mudah, tapi akhir-akhir ini aku kesulitan mencari inspirasi.
Aku berjalan kedepan lalu mengeluarkan sebatang rokok dari saku ku, kudengar rokok dapat membuat pikiran jernih. Sebelumnya aku tidak pernah merokok, yaaaa meski mendapat julukan pembuat onar bukan berarti aku merokok kan? aku ini masih sayang pada tubuhku.
Setelah kucoba ternyata rokok ini sangat...sangat...sangat menggangu. Asapnya membuat mataku perih, astaga apa aku yang salah menggunakannya atau bagaimana?
Tidak, mataku yang berharga. Perih sekali.
Tapi tiba-tiba ada seorang wanita di depanku, sontak aku terkejut dan melompat mundur.
"Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi. Wanita itu tidak menjawab dan malah sibuk menjamah tas nya.
"Hmm ini...kurasa kau memerlukan nya" ujarnya sambil menyodorkan sebuah sapu tangan kecil merah muda padaku, untuk apa?
Sebelum aku angkat bicara dia mendadak kembali menjamah tasnya, ada apa dengan wanita ini?
Setelah mendapatkan apa yang dia cari, dia menyerahkan itu padaku. Sapu tangan merah muda dan....plester luka dengan gambar bebek. Aku mulai sadar itu karena luka dibibir ku akibat ayah, tapi sapu tangan ini..?
"Ada orang yang datang, kau tidak ingin ada yang melihat mu menangis kan? Ini ambillah" kata wanita itu. Menangis? Siapa yang menangis?
"Cepat hapus, mereka akan segera datang" langit wanita itu lalu memaksa untuk menerima saputangan dan plester darinya, setelah itu dia berbalik. Sebelum berbalik sekilas aku melihat raut wajah yang sedikit asing tapi aku sedikit mengenalnya, seperti raut wajah ibuku saat aku sakit. Apa namanya itu?
"Hei, siapa namamu?" tanyaku sebelum dia benar-benar menghilang dari pandangan ku, tapi dia terus berlari mengabaikan pertanyaan ku.
__ADS_1
Jika kuingat ingat lagi lebih jelas, wanita itu...
'Deg'
"Oh hei Raven, apa kau sudah menunggu lama?" Tanya Lion. Aku langsung berlari melewati mereka bertiga tanpa menghiraukan pertanyaan mereka.
"Huh? Ada apa dengannya?"
"Ikuti sajalah"
Sesampainya di ruang latihan pribadi ku, aku langsung duduk didepan piano. Entah kenapa aku merasa mendengar lagu asing berputar di kepalaku dan aku merasa aku harus mengikuti nya. Sebelum lagu itu menghilang, aku mulai memainkan piano menyelaraskan dengan lagu yang kudengar.
"Oh, apa kau membuat lagu baru lagi?" tanya Ray.
"Shhhhh, dia sedang fokus" ucap Hanz.
Lagu yang kudengar perlahan mulai menghilang. Tidak, aku harus memainkannya sampai akhir. Meski lagu itu sudah benar-benar menghilang aku terus berusaha menemukan .... yang benar, tapi tetap saja, itu terasa salah.
"Sudah begitu saja?" ucap Lion menepuk pundak ku.
"Yang tadi itu sangat bagus" ujar Hanz.
"Tapi bukankah kau bilang tidak bisa menulis lagu lagi? Yahh baguslah jika kau sudah mendapatkan inspirasi untuk menulis lagu" ujar Ray.
"Itu dia!! Inspirasi!!" Sahutku yang membuat mereka kebingungan. Benar, inspirasi. Tapi apa? Aku tidak melihat apapun yang istimewa hari ini.
Aku mengambil sesuatu dari saku ku dan menggenggam nya kuat, apa karena saputangan ini? Tanganku yang lain menggenggam plester kecil. Atau karena plester ini? Mungkin saja, karena ini pertama kalinya aku melihat plester dengan gambar aneh. Tunggu...
Atau karena wanita itu?
Tunggu, siapa namanya tadi?
"Apa kalian kenal dengan wanita yang sebahuku, memiliki rambut coklat gelap sebahu yang berantakan, lalu memiliki mata hitam membuat siapapun yang melihatnya merasa terhisap kedalam?" tanyaku pada teman-teman ku. Bukannya menjawab pertanyaan ku mereka malah memasang tampang seperti orang bodoh.
"Ayo jawab!" Ucapku kesal.
"Bagaimana aku bisa menjawabnya? Cara kau mendeskripsikan seseorang sangat aneh!" protes Lion.
__ADS_1
"Ck, jadi kalian tidak tau?" tanyaku dibalas dengan gelengan kepala oleh mereka. Tidak apa-apa, aku bisa meminta bantuan pada Mrs.Yu untuk menemukan wanita itu.