
"HEI, APA YANG KALIAN LAKUKAN?"
Tiba-tiba ada teriakan seseorang dari belakang kami, aku langsung berbalik untuk melihat siapa orang yang berteriak pada kami. Begitu aku berbalik dari siluetnya saja aku bisa mengenali siapa itu.
"Raven?" ucap ku sambil berdiri lalu berjalan ke arahnya. Akhirnya dia sampai, tapi kenapa dia berteriak?
Aku berjalan ke arah nya, begitu wajahnya terkena sinar bulan aku dapat melihatnya dengan jelas. Dia terlihat kesal!
Aku mundur satu langkah karena terkejut, apa aku membuatnya kesal? tapi apa? aku tidak melakukan apapun.
Raven hanya dia ditempat menatap tajam pada Ray. Lalu Ray berdiri dan berjalan ke arahnya.
"Apa ada masalah? kenapa kau terlihat kesal?" tanya Ray.
"KAU!" bentak Raven sambil menarik kerah Ray. Aku melangkah mundur.
"Ada apa Raven?" tanya Ray kembali.
Setelah itu Ray mendekatkan wajahnya ke telinga Raven dan membisikkan sesuatu, tapi aku tidak bisa mendengarnya. Begitu selesai berbicara, Raven melepas kerah Ray, lalu menghadap ke arah ku. Dia mendekat.
"Umm Raven?" Dia tiba-tiba menarik pergelangan tanganku.
"Eh? Ray" aku berbalik untuk melihat Ray. Dia hanya diam tapi sebelum kami meninggalkan balkon, sekilas aku melihat raut wajahnya berubah menjadi kesal. Apa aku salah lihat?
Raven membawaku ke ruang latihan pribadi milik nya, dia melepas genggaman tangannya dari ku dan hanya berdiri diam.
"Raven? apa kau baik-baik saja?" tanyaku.
"Ahh, maaf aku tidak sengaja menarik mu, maaf juga tadi sudah berteriak, maaf aku sering membentakmu, maaf kemarin malam aku pergi begitu saja, maafkan aku, kau bisa pulang saja" jawab Raven sambil menundukkan kepala.
ANEH!! Tidak, mendengarnya meminta maaf saja terasa aneh, dan dia meminta maaf berulang kali? apa dia Raven yang ku kenal?
Aku meletakkan kedua tanganku ke pundaknya dan memaksanya untuk melihatku.
"EH? KENAPA KAU MENANGIS?" tanyaku terkejut. Kenapa Raven tiba-tiba menangis?
"Bukan apa-apa, kau pulang saja" ujar Raven lalu membelakangi ku.
"Eh tidak, tidak bisa begitu. Apa yang membuatmu menangis? apa karena aku? apa aku membuat kesalahan?" tanyaku, aku kembali membuatnya menghadapku.
Raven tidak menjawab, dia menghapus air matanya menggunakan lengan bajunya dengan kasar. Membuat pipinya terkena kancing aksesoris di lengan, sehingga membuat goresan kecil di wajahnya.
"Oh, tidak" aku langsung mencari sesuatu dari tas ku. Dan menemukannya, sebuah plester kecil...dengan gambar dua ekor anak ayam berwarna kuning. Aku menyodorkan plester itu pada Raven.
"Hah? apa ini?" tanya Raven kebingungan. Lalu aku membuka plester itu.
"Ini namanya plester" ucapku sambil memasangkan plester itu di pipi Raven yang terkena goresan.
"Pfffft"
"Eh, kau tertawa?" tanyaku kebingungan.
"Terakhir kali kau memberikan ku plester dengan gambar bebek, dan sekarang ayam? kenapa kau punya plester dengan gambar aneh ini? haha" ucap Raven tertawa. Wah, ini pertama kalinya aku melihat dia tertawa sejak pertama mengenalnya.
__ADS_1
"Oh ekhem, ngomong-ngomong ini sudah larut malam, mau ku antar pulang?" tanya Raven tiba-tiba.
"Lalu bagaimana dengan lagunya?" tanyaku.
"Tidak masalah, kita bisa lakukan besok" balas Raven, suasana hatinya terlihat baik.
"Sudah kubilang tidak perlu mengantarku, asramanya tidak jauh dari kampus" ujar ku. Kami dalam perjalanan menuju asrama dengan berjalan kaki, lagipula jarak antara asrama dan kampus kurang dari 500 meter.
"Tidak masalah" balas Raven dengan memalingkan muka.
"Baiklah sudah sampai" ucapku, kami sudah sampai didepan pintu gedung asrama.
Sebelum aku meminta Raven tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Lily! tolong aku, keran airnya bocor la-" itu Tania, dia berlari ke arah ku begitu melihatku.
"Eh? Raven? Ah tidak tidak! keran airnya bocor lagi! bisa kau hubungi petugasnya?" tanya Tania padaku.
"Ya aku masih punya, sebentar..." sebelum aku menelepon, Raven angkat bicara.
"Mau ku perbaiki? aku cukup ahli" tawar Raven yang langsung disetujui oleh Tania.
Sekarang kami sedang berada di lift menuju lantai 3, tempat dimana kamarku dan Tania berada.
"pssst, kenapa kau tidak memberitahuku kalau Raven datang?" bisik Tania padaku.
"Ini terjadi tiba-tiba" jawabku.
"Tapi aku masih menggunakan baju tidur, dan aku belum berdandan" bisik Tania dengan raut wajah memelas.
"Tidak masalah, kau tetap cantik" balasku, dan langsung dibalas dengan senyuman olehnya.
Sesampainya di depan kamar Tania langsung membuka pintunya, dan kami langsung ke kamar mandi.
"Astaga Tania! kenapa kau tidak mematikan airnya dulu!!" ucapku panik dengan kamar mandi dibanjiri air setinggi mata kaki.
"Maaf, aku terlalu panik jadi langsung keluar mencari mu" jawab Tania.
Aku berusaha mematikan keran airnya tapi airnya keluar dengan sangat kencang sehingga sulit untuk mematikan kerannya.
"Biar aku saja" ucap Raven lalu aku dan Tania keluar dari kamar mandi.
"Tania kenapa kau berdandan?" tanyaku pada Tania yang sedang asyik berdandan didepan cermin.
"Aku harus tampil cantik didepan Raven" balas Tania.
"Jadi apa kau sudah tahu apa yang disukai Raven?" tanya Tania. Aduh, aku lupa dengan permintaannya.
"Yahhh kurasa...musik?" jawabku.
"Lily yang benar saja, semua orang juga tahu itu" balasnya kesal.
"Fiuhhh, apa kalian punya baju longgar untukku?" tanya Raven yang mendadak datang ke dapur dengan atasan yang basah.
__ADS_1
"Wahhhhh" yaampun Tania.
"Aku punya, sebentar ku bawakan, kau letakkan saja baju mu disana" jawabku sambil menunjuk keranjang baju kotor disamping mesin cuci.
Aku meninggalkan mereka berdua. Aku membuka lemari, dan mengambil baju dengan asal. Lalu kembali ke dapur.
Begitu aku sampai aku begitu terkejut melihat apa yang ada di depanku sampai aku menjatuhkan baju yang kubawa.
"Oh, Lily!" ucap Tania lalu berdiri dari posisi yang awalnya berada diatas Raven, disusul Raven yang juga berdiri.
"Jangan salah paham, aku-" kata Tania.
"Dia terpeleset" potong Raven yang telanjang dada, lalu Raven mengambil baju yang ku jatuhkan tadi.
Apa yang barusan kulihat? yaampun.
"Tania, kau sengaja kan?" tanyaku, Tania itu orang yang ambisius, jadi aku yakin dia akan melakukan apapun untuk mendekati Raven.
"Ummm kau benar" balas Tania, tentu saja.
"Tapi tapi tapi, tadi itu sangat membuatku berdebar-debar, rasanya aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya lalu dia itu-" Tania terus mengoceh.
"Apa kau tidak punya baju lain? yang sedikit normal" tanya Raven datang tiba-tiba. Dia memakai kaos bergambar lumba-lumba. Aku asal mengambil, jadi aku tidak tahu.
"Tidak ada, pakai itu!" balasku kesal, entahlah, tapi aku merasa sedikit kesal.
"Cih kalau begitu aku akan pergi" ucap Raven.
"Tunggu-tunggu" ucap Tania menghampiri dengan sebotol minuman ditangannya.
"Ini untukmu, kudengar kau suka kopi" ucap Tania sambil menyodorkan botol itu pada Raven.
"Ya, aku suka" balas Raven disambut senyuman oleh Tania.
"Tapi sekarang aku tidak menginginkannya" lanjut Raven yang membuat Tania sedikit murung.
"Baiklah, aku akan pergi" ucap Raven lalu pergi.
"Jadi...."
"Tidak apa-apa, aku tetap menyukai nya, lihat saja aku akan merebut hatinya" potong Tania. Aku menghela napas.
"Kau memang pantang menyerah ya" ujarku.
"Tentu saja, jadi mohon bantuannya Lily" balas Tania.
Benar, aku harus membantu Tania mendekati Raven. Tapi kenapa aku merasa sedikit kesal dengan ini?
APA AKU CEMBURU? ah tidak, tidak mungkin. Aku saja tidak menyukai Raven. Mungkin aku merasa seperti ini karena kelelahan. Baiklah, susah waktunya tidur.
Aku bersiap-siap untuk tidur.
'Ah, ngomong-ngomong tadi Raven sangat manis saat tertawa'
__ADS_1
Aku langsung menampar diriku, astaga apa yang kupikirkan. Padahal temanku menyukai Raven, yaampun. Berhentilah memikirkan hal seperti itu. Sekarang tidur!