
Setelah keluar dari gedung asrama, aku menelepon Hanz.
"Hei bisa kau jemput aku?" tanyaku.
"Kau dimana?" tanya Hanz.
"Asrama perempuan" jawabku.
"Hah? kenapa kau ada disana? sebentar aku akan kesana menjemputmu" balas Hanz. Lalu aku menutup teleponnya.
Beberapa menit kemudian Hanz datang dengan mengendarai motor.
"Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Hanz sambil memberikan helm padaku.
"Eh? apa itu yang ada di pipimu, aneh sekali" ucap Hanz.
"Aku mengantar Lily" jawabku, lalu aku naik ke motor itu. Hanz menjalankan motor.
"Kenapa kau mengantar Lily? lagipula asrama perempuan dengan kampus itu dekat" ujar Hanz. Aku tidak menjawab.
"Hohohoho, apa terjadi sesuatu?" tanya Hanz.
"Ck, diam lah" ucapku kesal, ah wajahku terasa panas. Ah benar, Lily memasangkan plester di wajahku. Kenapa wajahku jadi semakin panas?
"Baiklah, tapi kau mau kemana? apa menginap di rumahku lagi?" tanya Hanz. Sejak aku bertengkar lagi dengan si pak tua aku jadi malas untuk pergi kerumah itu, jadi aku selalu menginap di rumah Hanz, rumahnya ada di daerah ini.
"Ya, kurasa begitu" jawabku.
"Baiklah"
...
...
...
Sesampainya dirumah Hanz, kami langsung masuk kedalam dan aku langsung berbaring di sofa.
"Ah aku baru menyadarinya, bajumu beda dengan yang kau pakai tadi pagi" ujar Hanz. Benar juga, ini baju Lily.
"Ini milik Lily" jawabku.
"HAH?" Hanz membelalakkan mata.
"Tadi keran airnya rusak, aku mencoba memperbaikinya, dan bajuku jadi basah" jelas ku. Lalu raut wajahnya yang tadi terlihat sedikit bersemangat langsung berubah seperti kecewa, apa-apaan.
"Eh tapi Raven, kenapa kau malah bertemu Lily, padahal aku sudah bilang untuk menjauhinya dulu" ucap Hanz.
"Ingin saja" balas ku sambil memainkan handphone.
"Hah? kalau begitu darimana kau mendapatkan plester aneh itu?" tanya Hanz kembali.
__ADS_1
"Ah ini?" Aku menyentuh plester itu sambil melihat pantulan cermin di dinding yang memperlihatkan plester dengan gambar 2 ekor anak ayam.
"Ini dari Lily" jawabku dan dibalas oleh Hanz dengan raut wajah yang seolah jijik.
"Iuh, kenapa kau tersenyum seperti itu? menjijikkan" tanya Hanz sambil sedikit menjauh. Sialan.
"Ck" aku berdecak kesal lalu berjalan kearah ranjang diseberang ranjang Hanz yang memang disediakan untuk ku, aku membalikkan badan membelakangi Hanz.
"Hei hei, aku hanya bercanda. Jadi...apa kau menyukai Lily?" tanya Hanz dari seberang sana.
"Jangan bicara omong kosong, aku mau tidur" ucap ku, lalu aku menyelimuti seluruh tubuhku.
"Cih, tidak seru" keluh Hanz.
Aku menyukai Lily? tidak mungkin.
"Inspirasi datang dari seseorang atau suatu benda yang istimewa bagi mu" -Mrs.Yu (saat mengajar di jurusan musik)
Ha? pfffft, tidak mungkin. Aku hanya mendengar musik saja.
"Saat aku memikirkan seseorang yang istimewa untukku, musik akan secara otomatis berputar di kepalaku, aku tidak tahu kenapa, tapi itu selalu terdengar indah" -Seorang musisi terkenal
Eh? Wajahku jadi panas lagi. Sudahlah ayo tidur, aku tidak yakin bisa tidur atau tidak setelah tidur seharian penuh, tapi pejamkan mata saja.
...
...
...
Disana ada tangga menuju ke atas dan pria itu berjalan menaiki tangga, begitupun diriku. Ini bukan kemauanku, tapi ini seperti aku dan pria itu adalah orang yang sama.
Tangga ini begitu panjang, sudah berapa lama kami berjalan disini? 1 hari? 3 hari? aku tidak menghitungnya. Lorongnya begitu gelap, membuatku tidak tahu apa ini siang atau malam.
Saat aku memperhatikan bayang-bayang yang gelap, aku mendengar suara kecil dari depan sana. Tubuhku berlari menghampiri arah suara tersebut. Kami sampai diujung lorong dan ada di anak tangga paling tinggi.
Pria ini membuka pintu yang ada tepat didepan kami secara perlahan, sedangkan aku melihat kebelakang. Dibawah sana begitu gelap, sangat suram.
Cahaya mulai memancar dari depan membuatku melihat kearahnya. Ternyata ini siang hari, matahari terletak diatas sana, tersenyum gembira.
Pria itu berjalan keluar, anehnya tubuhku dan pria itu seolah terpisah, sekarang aku dapat melihat wujud pria itu dengan jelas... itu aku? Tapi aku ada disini, atau aku ada disana?
"Raven, kemari" aku sontak melihat ke asal suara itu, itu Lily. Dia berjalan ke arah aku yang disana.
"Apa kau baik-baik saja? aku khawatir" hah? khawatir? kenapa dia khawatir, lagipula Raven ada disini, aku ada disini, bukan disitu!
"Eh? kau terluka lagi? kemari" ucap Lily, lalu dia mengeluarkan plester berbentuk hati dan memasangkannya diwajah pria yang seperti aku itu.
Tidak, itu harusnya untukku! Aku tidak bisa bergerak semauku, tidak bisa berlari kesana. Aku terus terjebak di pintu ini, tidak bisa keluar, padahal pintu ini tidak terkunci.
Disana mereka tertawa bersama, seperti pasangan yang bahagia. Tunggu....pasangan?
__ADS_1
Tidak! tidak boleh! aku berusaha sekuat mungkin untuk menggerakkan tubuhku yang transparan ini, BERHASIL!
Aku langsung keluar dan berlari ke arah mereka, sedikit lagi, sedikit lagi, sedikit lagi...
Mendadak semuanya pudar, aku seperti terjatuh ke dalam ruangan kosong. Suara mereka yang tertawa terus menggema di ruangan itu.
"AKH" begitu aku mendapatkan kesadaran ku kembali, aku segera melihat ke sekeliling, kamar Hanz.
Eh? kamar Hanz? apa aku baru bangun tidur?
"Aish, kenapa kau teriak di pagi buta?" protes Hanz yang terbangun akibat teriakan ku.
"Tunggu, jadi yang tadi itu hanya mimpi?" aku berusaha mengatur napas ku.
"Hei, kenapa kau sangat berkeringat? padahal AC nya menyala, apa kau sakit?" tanya Hanz khawatir.
"Tidak, kurasa aku bermimpi buruk" jawabku lega, untunglah itu hanya mimpi. Hah? untung? memangnya kenapa jika itu kenyataan? jika itu kenyataan...
"Memangnya kau memimpikan apa? kau sampai berkeringat seperti itu, kau bermimpi dikejar hantu?" tanya Hanz beranjak dari ranjangnya lalu duduk di ranjang ku. Bocah ini, kenapa bersemangat karena hal seperti ini.
Tapi ya, aku akan menceritakannya.
...
...
...
"HAHAHAHAHA, Jadi kau cemburu karena Lily berpacaran dengan orang lain? dan orang lain itu adalah dirimu sendiri? apa-apaan itu?"
"Aku tidak cemburu!" aku menyesal menceritakan itu padanya, dia malah menertawakan ku.
"Kalau tidak cemburu lalu apa? HAHAHAHA"
"Berhenti tertawa!"
"Ah, baik-baik maaf" balas Hanz sambil mengusap air matanya. Ya, dia tertawa sampai menangis, dasar.
"Tapi Raven apa kau yakin tidak menyukai Lily?" tanya Hanz.
"Tentu saja" jawabku yakin.
"Tidak, itu tidak mungkin, coba kau pikirkan lagi"
Aku yakin.
"Maksudku, jika kau memang menyukai nya aku bisa membantumu" ujar Hanz. Dia berbicara dengan sangat percaya diri seperti itu karena dia seorang playboy, entah berapa kali dia berpacaran.
"Ya, ya. Terserah" balasku dengan malas.
Tapi, apa aku benar-benar menyukai Lily?
__ADS_1