Menjadi Inspirasimu

Menjadi Inspirasimu
Wajah merah merona


__ADS_3

"Ya, selamat pagi" balasku pada Tania sambil memperhatikan Lily, Lily sedikit melambaikan tangan padaku dan aku membalasnya. Ah, dia mengikat rambutnya, cantik.


Setelah membalas lambaian nya, Lily malah pergi begitu saja, kenapa dia tidak mendatangi ku terlebih dahulu? Perilakunya membuatku bertanya-tanya, apa aku melakukan kesalahan?


"Hai Tania, Oh! Raven, apa yang kau lakukan disini?" tanya seorang wanita yang menghampiri kami. Aku tidak mengacuhkannya, mengetahui itu teman Lily menjawabnya. Ck, apa aku melakukan kesalahan pada Lily? kenapa dia tidak mengacuhkan ku? aku memeriksa handphone, dan aku memutuskan untuk pergi ke kampus.


"Begini Nala, Raven punya urusan disini" jawab teman Lily.


"Ah begitukah, haha. Tadinya kupikir kau mau menjemput Tania" ujar wanita itu yang membuatku langsung teringat sesuatu.


Dia kenal dengan Lily, berteman dengan Lily, teman sekamar Lily, pernah memposting foto lama Lily. Itu berarti dia dekat dan tau banyak hal tentang Lily kan? Aku bisa memintanya memberitahu ku banyak hal tentang Lily, ini hebat! kenapa aku tidak memikirkan nya lebih awal?


"Jadi namamu Tania?" tanyaku pada teman sekamar Lily.


"Ya? Oh ya, aku Tania...kau tidak tahu?" jawabnya. Baiklah, namanya benar Tania. Akan kuingat sebagai teman sekamar Lily.


"Kau tidak tau Tania? oh aku tau, kau pasti hanya bergurau saja kan, haha" ujar wanita disampingnya.


Aku tidak peduli, aku akan pergi menyusul Lily ke kampus.


"Ah begitukah, apa aku mengganggu kalian?" tanya wanita itu. Ya, kau sangat berisik.


"Kalau begitu pergilah kalian berdua, aku akan berpura-pura tidak tau kalau Raven menjemputmu" lanjut wanita itu sambil terkekeh. Ha? orang yang mau ku jemput baru saja pergi, siapa yang dia maksud? Wanita aneh.


Hmmmmmm, ah benar. Jika aku mendekati Tania sekarang, mungkin nanti aku bisa memintanya untuk mendekatkan ku dengan Lily, aku sangat jenius! Kau lihat itu Hanz? aku bisa melakukan ini tanpa bantuan mu.


"Ah apa yang kau maksud? Raven tidak datang untuk menjemput ku-" balas Tania.


"Ayo naik" potongku, dibalas dengan tatapannya yang ragu.


"Lihat itu, ayo naik" ujar wanita itu.


...


...


...


Baiklah, sekarang kami dalam perjalanan menuju kampus. Kampus hanya berjarak beberapa ratus meter dari asrama perempuan, kami akan tiba sebentar lagi. Jadi....apa yang harus kukatakan padanya?


'Cepat beritahu aku tentang Lily' ah tidak-tidak, image ku sudah buruk, jika seperti itu akan terlihat lebih buruk, dia teman Lily jadi harus ku perlakukan sebaik mungkin. Apa itu berarti aku harus bertanya pelan-pelan? ck, jika begitu apa boleh buat. Tidak masalah.


...


...

__ADS_1


...


Sesampainya di tempat parkiran aku langsung memarkirkan motor kesayangan Hanz ini dan berjalan masuk kedalam kampus.


"Raven tunggu, terimakasih sudah memberikan ku tumpangan" ucap Tania sambil sedikit menundukkan kepalanya. Benar juga, tadi aku membawa Tania, aku lupa.


"Ya, tidak masalah" balasku lalu aku berjalan menuju kampus dengan handphone di tangan.


'drrrrt drrrrrrrt'


Hanz menelepon ku, lalu aku langsung mengangkatnya.


"Ada apa?" tanyaku.


"Dimana kau?" tanya Hanz padaku.


"Di kampus" jawabku.


"Lalu bagaimana dengan Lily? kenapa kau tidak menjemput nya?" tanya Hanz. Bagaimana dia tau?


"Tadi dia pergi begitu saja, jadi aku tidak bersamanya" jawabku.


"Tapi apa kau tau? tadi aku berpapasan dengannya, suasana hatinya seperti buruk" balas Hanz.


"Eh tidak, bukan aku. Tapi itu kau! aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku yakin itu karena mu" balas Hanz. Karena ku?


...


...


...


Kembali ke waktu sekarang, aku dan Lily bermain piano bersama. Tapi suara apa ini? daritadi aku seperti mendengar suara orang sedang memalu paku.


Apa ada bangunan yang sedang diperbaiki? atau mungkin dekorasi? kenapa aku malah memikirkan hal tak penting disaat seperti ini?


Meski Lily sudah mengatakan bahwa dia cukup pandai bermain piano, tapi aku tidak menyangka dia sebagus ini. Dia bisa mengikuti ku dengan baik, ini membuatku terheran-heran. Kenapa dia tidak masuk jurusan musik saja? padahal dengan masuk jurusan musik, aku tidak perlu pergi jauh-jauh ke gedung jurusan teater untuk bertemu dengannya. Aku juga tidak perlu membuat alasan untuk berbicara dengannya.


Aku bisa berbicara semauku, kami bisa berbincang selama yang kita mau. Bermain musik bersama, berlatih bersama. Kami bisa menghabiskan waktu bersama selama apapun. Setelah menjadi teman yang sangat dekat, kami bisa menjadi lebih dekat lagi.


Lalu lebih dekat...lebih dekat...dan lebih dekat...


Huh? apa yang kupikirkan?


Lagu yang kami mainkan hampir mendekati akhir saat aku melihat kembali ke depan, aku baru sadar daritadi aku memegang tangan Lily dan mengarahkannya. Aku langsung melepas pegangan ku, kuharap dia tidak marah atau merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Kami menyelesaikan lagu itu dengan baik. Hanz bertepuk tangan, Lily bangkit dari duduknya, begitupun aku.


"Itu bagus Raven, kau menulisnya dengan baik. Dan aku terkejut kau bisa memainkan piano sebagus itu Lily" ujar Hanz dengan bersemangat. Aku tidak tahu kenapa, tapi sekarang ini ekspresi wajahnya sedikit menyebalkan.


"Terimakasih, itu...itu karena Raven mengarahkan ku, haha" balas Lily dengan sedikit tertawa, apa ini perasaan ku saja atau suaranya seperti bergetar?


Aku menghadap Lily untuk berbicara dengan nya, tapi aku menarik kembali kata-kata yang baru saja akan ku ucapkan. Aku menutup mulut saking terkejutnya melihat Lily saat ini.


"Aku..aku harus pergi ke toilet, permisi" ucap Lily, lalu pergi keluar dari ruangan ini.


"Hmmm? jadi bagaimana, apa kau- wow wow wow, apa-apaan dengan wajah tersipu itu Raven?" ucap Hanz dengan nada mengejek.


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Kau mungkin tidak tahu, tapi wajahmu sekarang benar-benar seperti tomat" balas Hanz. Tomat?!! Maksudnya wajahku memerah? tapi kenapa? Ah....apa...


"Hei hei hei, kenapa wajahmu semakin memerah seperti itu? wahhh ini luar biasa, jika Lion ada disini, dia pasti sudah muntah karena jijik, aku bahkan sekarang ini jijik melihatmu" ucap Hanz. Kurang ajar!!


Tapi aku tidak bisa menyangkalnya. Aku bisa merasakan wajahku yang begitu panas, uhhh...ini sedikit memalukan.


...


...


...


Aku berjalan menyusuri koridor menuju toilet. Ah apa-apaan itu tadi? Raven memegang tanganku, maksudku itu bukan pertama kalinya, tapi kenapa...


"Wah, wajahnya sangat merah?"


"Apa dia baik-baik saja?"


"Mungkin itu karena dia meminum ginseng merah"


Hah? apa wajahku semerah itu sampai terlihat seperti aku sudah meminum ginseng merah? Aku mempercepat jalanku, dan langsung masuk kedalam toilet wanita.


Disana, aku melihat di kaca, wajahku sangat merah. Aku tidak bercanda ini sangat merah!!


Aku dengan cepat membilas wajahku dengan air, berharap warna merah ini menghilang. Aku mengambil tisu untuk mengeringkan wajahku yang basah.


Melihat pantulan di kaca, sebuah pertanyaan terbesit dalam pikiranku. Apa Raven melihatnya?


Jika Raven melihatnya, itu akan sangat memalukan...SANGAT MEMALUKAN.


Melihat kembali pantulan kaca yang memperlihatkan wajahku yang kembali memerah. Uh.... ini menyebalkan.

__ADS_1


__ADS_2