Menjadi Inspirasimu

Menjadi Inspirasimu
Suasana hati yang buruk


__ADS_3

Sebelum hendak pergi dari sana, Raven tiba-tiba menarik tanganku.


"Hei, apa yang kau-"


"Sudah, ikut saja!!" bentaknya.


Kami melewati koridor lalu sampai di gedung jurusan musik. Ternyata dia membawaku kesini, ruang musik pribadi Raven.


Ya, tidak perlu terkejut, dengan nilai yang tinggi, prestasi yang luar biasa banyak. Tidak aneh jika dia memiliki ruang latihan pribadi kan?


Dia melepas genggamannya dan duduk didepan piano, kurasa dia ingin memainkannya. Ah benar, bukankah sekarang aku harus membantunya? Tapi bagaimana?


Dia mulai memainkan piano, aku duduk di kursi lain. Lagu yang ia mainkan sangat indah, dia memang sangat berbakat dalam hal ini. Tapi aku sudah sering mendengar permainannya, permainannya kali ini sedikit.... berbeda.


Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan keindahan ini.


Tunggu, kenapa Raven terus melihat kearah ku? Tidak, dia bahkan menatap tajam kepadaku. Apa yang salah?


Setelah beberapa saat sejak dia memainkan piano, permainannya mulai terdengar seperti melenceng, raut wajahnya entah kenapa terlihat kesal.


"Umm, Raven? Apa ada masalah?" tanyaku, lalu aku berdiri dari tempat dudukku. Hendak berjalan kepadanya.


Sebelum mendekatinya Raven tiba-tiba berdiri dan melempar buku tangga nada kearah ku yang membuat ku melompat mundur karena terkejut. Apa...apa ada yang salah?


"KENAPA AKU TIDAK INGAT?" teriak Raven sambil memukul dinding.


Kenapa dia tiba-tiba marah? apa yang membuat suasana hatinya buruk? apa aku?


Melihatnya seperti ini membuatku sedikit takut. Bagaimana jika dia melukai ku? Aku memutuskan untuk pergi dari sini. Jika memang karena aku, aku akan meminta penjelasan darinya besok saja. Karena sekarang aku takut membuat suasana hatinya semakin buruk.


Aku segera keluar dari ruang latihan pribadi Raven, berjalan melewati koridor.


Tapi Raven itu...kurasa dia bukan orang jahat. Mungkin dia hanya tidak bisa mengontrol amarahnya, seperti kemarin pagi dan juga tadi.

__ADS_1


...


...


...


Sesampainya di asrama, aku langsung masuk ke kamarku, dan tidak menemukan siapapun. Ah benar, dari yang kudengar mereka mengadakan pesta di Club dekat kampus. Anak-anak populer seperti Tania pasti ada disana.


Tunggu, apa Raven juga ada disana? Ya, tadi kami masih di kampus, tapi mungkin dia sekarang ada disana kan. Dari rumor yang kudengar, Raven dan teman-temannya sering pergi berpesta, bahkan dari rumor lain yang kudengar, Raven bisa meminum 10 botol alkohol.


Tunggu, kenapa aku malah memikirkan itu?


Aku berjalan ke meja belajar disamping ranjang ku dan mulai menyalakan komputer ku. Ada tugas yang harus ku selesaikan, untuk meningkatkan nilai, aku harus mengerjakannya lebih awal.


Selang 1 jam akhirnya pekerjaan ku selesai, rasanya sangat lelah. Aku mematikan komputer ku lalu melompat keatas kasur yang empuk, rasanya sangat lelah.


Ngomong-ngomong sekarang ini sudah tengah malam, tapi Tania belum pulang. Aku tidak boleh tertidur, aku harus menunggunya.


"Anger issues merupakan suatu masalah yang membuat seseorang menjadi mudah marah, baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri."


"Biasanya orang yang memiliki anger issues akan merasa frustasi berlebihan, mudah tersinggung, stres yang susah dikendalikan, sering merasa bersalah mendadak, serta sering mengalami perubahan suasana hati."


Benar juga, sepertinya Raven memiliki angry issues yang membuatnya memiliki image orang yang kasar.


Jadi itulah kenapa dia mudah kesal. Tapi ini tidak bagus, tadi saja dia sampai melempar buku tangga nada ke arah ku.


...


...


...


Aku memandang keluar jendela, malam ini sedikit berawan, bintang-bintang dan bulan tertutupi olehnya. Aku terpaku dengan pemandangan langit yang sangat gelap sampai mendengar ketukan pintu.

__ADS_1


Aku segera menutup jendela dan berlari ke arah pintu lalu membukanya. Itu teman-teman Tania yang tidak menyukaiku, mereka membawa Tania yang mabuk.


"Apa yang kau tunggu? Cepat bawa dia kedalam!" perintah Naya, dia yang selalu mengatakan hal buruk tentangku.


Tentu aku kesal diperintah seenaknya, tapi aku mengabaikan itu, lagipula jika aku bereaksi dia akan menjadi semakin berperilaku buruk padaku. Aku membawa Tania masuk, lalu langsung menutup pintu dengan keras.


"Hei!!" protes Naya yang ada diluar.


"Maaf, tidak sengaja" balasku. Sebenarnya aku sengaja melakukan itu karena kesal dengan perlakuannya.


Aku langsung mengunci pintu lalu membawa Tania untuk berbaring di ranjangnya, aku juga menyelimutinya. Setelah itu aku berjalan ke ranjang ku yang berada disampingnya.


Aku menyelimuti tubuhku, sebelum mematikan lampu aku mendengar Tania menyebutkan kata-kata yang tidak jelas. Setelah mabuk dia memang sering mengigau, itu sudah seperti kebiasaannya.


"Raven...hehe"


Huh? Raven? Kenapa tiba-tiba dia menyebut Raven?


"Raven...Raven..hehehe"


Dia juga tertawa, aku sedikit memikirkannya sampai mengerutkan dahi ku.


Apa mereka saling kenal? Ah tidak, tentu saja mereka kenal satu sama lain. Maksudku...apa mereka berteman? Aku tidak pernah melihat Tania bersama Raven, Tania juga tidak pernah menceritakan tentang Raven padaku.


Eh?


Lho?


Kenapa aku malah memikirkan ini?


Aku langsung mematikan lampu lalu memejamkan mata.


Hari ini aku sedikit aneh, suasana hatiku juga sedikit buruk. Mungkin aku hanya tertekan karena harus berlatih untuk penampilan kami di pertunjukan teater nanti.

__ADS_1


__ADS_2