Menjadi Inspirasimu

Menjadi Inspirasimu
Menjauhi Raven


__ADS_3

Hari sudah sore, aku duduk di tempat duduk penonton menonton latihan pertunjukan dari jurusan teater. Disana Lily begitu cantik, tidak, dia memang selalu cantik. Tapi entah kenapa dia lebih bersinar dari yang lain, jangan berpikir aku jahat, tapi itu memang apa yang kulihat.


Aku terus memperhatikan Lily sampai seseorang menepuk pundak ku. Aku langsung melihat orang itu.


"Wah, kau tidak tidur? biasanya kau tertidur saat menunggu Lily selesai latihan" ujar nya. Wanita ini terlihat familiar, tunggu siapa ini namanya? Aku menyipitkan mata sambil berusaha mengingat. Melihat itu dia menghela napas.


"Aku Lia, ingat itu. Dan aku adalah teman Lily, ck padahal kita bertiga pernah makan siang bersama, dasar" ucapnya kesal lalu duduk di samping ku. Ah benar, aku baru mengingatnya.


"Kau menyukai Lily kan?" Celetuk Lia yang membuatku membelalakkan mata. Darimana dia tahu? apa itu terlalu jelas?


"Darimana kau tau?" tanyaku dibalasnya dengan raut muka seperti mengejek.


"Aku hanya tau saja, lagipula Lily sahabatku, tentu saja aku tau hal-hal seperti seorang pria menyukainya, jadi bagaimanapun kau berusaha menyembunyikan nya" jawabnya dengan nada santai. Oh, jadi dia sahabat Lily? Tunggu kalau begitu aku harus...


"Salam kenal, aku..aku Raven lalu aku-"


"Apa kau bercanda? jangan bilang kau ingin berperilaku baik karena aku sahabat Lily, padahal dulu saja kau tidak pernah membalas sapaan ku, ternyata kau sebegitu sukanya pada Lily" potongnya. Tapi aku membaca di internet kalau aku harus memperlakukan teman dari orang yang kusukai dengan baik.


"Yahhh aku tidak menyalahkan mu" lanjutnya lalu melihat Lily yang sedang melatih dialognya diatas panggung. Aku ikut melihat ke arah Lily, dia sepertinya kelelahan.


"Dia tipe orang yang jika kau hanya melihatnya sekali mungkin terlihat tidak menarik, tapi jika kau berbicara dengannya atau menerima bantuan darinya, kau bisa langsung jatuh hati padanya" lanjut Lia. Aku tidak setuju dengan perkataan nya, jika melihatnya sekali dia tidak terlihat menarik? Aku langsung tertarik saat kami pertama kali bertemu!


Eh...


"Kau tau? jika aku harus mati untuknya, aku akan melakukan itu" lanjutnya. Perkataan nya barusan membuatku mengerutkan alis.


"Haha, apa aku terlalu dramatis? Yahh aku terlalu menyayangi Lily, aku akan melakukan apapun untuknya" lanjut Lia. Dia berhenti sekejap lalu mulai kembali berbicara.


"Dulu, di tahun pertama aku berada disini, kehidupan ku tidak berjalan dengan begitu baik. Aku tidak tau apa kau pernah mendengar rumor ini atau tidak, tapi dulu ada rumor tentang mahasiswa dari jurusan sastra yang merupakan mantan narapidana" lanjut Lia. Ah aku ingat, dulu Lion pernah menceritakannya padaku.


"Aku pernah mendengarnya" ucapku.


"Oh benarkah? ternyata rumor itu menyebar begitu luas, bahkan kau tau tentang rumor itu" balas Lia. Tunggu, tapi kenapa kita malah membahas itu?


"Mahasiswa itu adalah aku" ujar Lia. Hah? tunggu, apa?


"Itu adalah rumor tentang ku, aku tidak tau siapa yang membuat rumor seperti itu. Tapi karena rumor itu orang-orang menjauhiku, awalnya aku tidak terlalu peduli dijauhi seperti itu, tapi di pertengahan tahun aku mulai frustasi karena tidak memiliki teman. Dan awalnya kupikir rumor itu akan menghilang dengan sendirinya, tapi tidak!"


"Aku berusaha menghilangkan rumor-rumor itu dengan berbicara dengan orang-orang, tapi itu terlambat, rumor itu sudah menyebar bahkan senior-senior kita sampai tau."

__ADS_1


"Padahal aku sangat memimpikan kehidupan yang menyenangkan sebagai mahasiswa, tapi itu tidak menyenangkan, aku mulai putus asa akan tahun pertama ku."


"Tapi kemudian sesosok dewi muncul di hadapan ku, dia memberiku jimat lalu mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Selang beberapa hari, rumor aneh itu mulai menghilang."


"Sesosok dewi itu Lily, aku menyebutnya seperti itu karena dia datang di waktu saat aku sangat membutuhkan seseorang. Lalu semenjak itu aku berteman dengan Lily, dan tiba-tiba rumor itu menghilang entah kemana. Aku juga masuk jurusan teater karena Lily" jelas Lia.


"Ah apa aku terlalu banyak bicara? maaf, sudah lama sejak aku bisa bercerita" ucap Lia.


"Ah iya, tidak masalah" balasku. Tidak masalah selama dia orang yang dekat dengan Lily.


"Lia, bisa tolong cek ini sebentar" panggil seorang wanita dibelakang panggung.


"Baik!! Ah maaf, aku pergi dulu" ucap Lia lalu pergi. Eh? Yahhh sudahlah, tidak apa-apa. Tapi...mendengar ceritanya aku jadi penasaran, apa yang akan terjadi jika aku mengenal Lily dari tahun pertama. Apa mungkin sekarang kami sudah...


Ah, wajahku terasa panas.


...


...


...


Sudah malam hari dan sesi latihan hari ini susah selesai. Aku menunggu Lily untuk pulang bersama. Tadi aku mendapat pesan dari Hanz memintaku untuk mengantar Lily karena aku tidak menjemputnya.


"Lily, tadi kau sangat keren!" seru ku menghampiri Lily. Aku berusaha menatap matanya tapi dia terus melihat ke bawah.


"Raven, hari ini aku tidak ikut latihan denganmu dulu ya, aku ada urusan" ucap Lily. Setelah itu dia kembali berjalan keluar dari gedung. Baiklah, mungkin dia lelah, tapi kenapa dia tidak melihatku? apa...APA AKU MELAKUKAN KESALAHAN?


Aku keluar dari gedung dan mengikutinya, kami berjalan berdampingan di koridor. Padahal belum terlalu malam tapi kampus sudah benar-benar sepi, hanya ada beberapa mahasiswa disini.


Hmmmm, aku harus mengantar Lily pulang kan? tapi sepertinya aku tidak bisa, entah kenapa aku merasa suasana hatinya sedang buruk, apa aku benar-benar melakukan kesalahan? tapi apa?Dia terus diam, biasanya dia akan membuka pembicaraan, gerbang ada tidak jauh didepan sana.


Aku melihat tempat parkir untuk memeriksa apakah ada motor milik Hanz disana, dan benar ada! Kulihat kembali Lily yang cukup jauh didepan ku, setelah ku pikir-pikir...


Jika aku mengantarnya dengan motor, itu akan sangat sebentar. Akan terasa sangat singkat dibandingkan mengantarnya pulang dengan jalan kaki. Baiklah, aku memutuskan untuk berjalan dengannya sampai asrama perempuan. Tapi aku akan beralasan punya urusan disekitar asrama perempuan, agar dia tidak curiga.


Aku berjalan melewati gerbang lalu menyusul Lily yang sudah jauh didepan sana. Sekarang kami berjalan berdampingan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lily.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin... mengantarmu pulang?" jawabku. Mendengar itu dia berhenti sebentar lalu berjalan lagi, tapi sedikit lebih cepat dari sebelumnya.


"Tidak, aku hanya bercanda. Aku ada urusan di sekitar asrama perempuan" lanjutku. Kenapa dia seperti tidak suka jawaban ku? apa..ada yang salah?


Aku kembali mengejarnya, setelah kami berjalan berdampingan dia kembali mempercepat jalannya. Terus seperti itu sampai aku berhenti.


Aku berhenti mengikutinya. Dari belakang aku melihat Lily yang berjalan dengan cepat, dia seperti ketakutan.


"Hey, apa yang salah?" ucapku sedikit meninggikan suara agar terdengar olehnya. Mendengar itu dia berhenti lalu berbalik melihatku. Dia tidak lagi menundukkan kepalanya, tapi lampu jalan ada sedikit lebih jauh didepannya, jadi aku tidak bisa melihat ekspresi wajah nya.


"Kenapa kau menjauhi? Maksudku jika aku melakukan kesalahan, tolong maafkan aku" lanjutku. Apa karena di ruang latihan tadi? saat memainkan piano? oh, atau saat aku memegang tangannya? apa dia tidak suka? apa benar karena itu?


Aku melangkahkan kaki menuju Lily, dia tidak bergerak sedikitpun. Aku berlari kearahnya lalu berhenti beberapa langkah dari Lily.


"Maaf Raven, kau tidak salah apapun, maaf aku berperilaku seperti ini, aku hanya kelelahan, aku ingin segera pulang" ucap Lily. Mendengar itu aku senang karena aku tidak salah, tapi tetap saja dia aneh berperilaku seperti itu.


Setelah mengatakan itu Lily kembali membelakangi ku untuk pergi. Aku meraih tangannya. Panas, tubuhnya panas!


"Lily! Kau demam?" aku meraih tangan Lily untuk mendekat dan menggenggamnya. Meski gelap tapi dari jarak sedekat ini aku bisa melihat wajah Lily dengan jelas, wajahnya sangat merah. Kurasakan suhu tubuhnya, dan memang panas.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit" ucapku, sambil meraih handphone dari saku celana.


"Raven, tidak perlu, tidak perlu. Aku hanya harus beristirahat, tidak apa-apa" ucap Lily menolak.


"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang" balasku.


"Tidak perlu, jangan terlalu dekat nanti kau tertular" ucap Lily. Tertular? siapa peduli.


...


...


...


Kami sampai di asrama perempuan lalu aku menurunkan Lily dari gendonganku.


"Apa aku perlu mengantarmu sampai atas?" tanyaku pada Lily yang masih terhuyung-huyung.


"Tidak perlu, aku-"

__ADS_1


HOEKK


"LILY!"


__ADS_2