
Aku berjalan menyusuri lorong yang lampunya mulai redup, gelap. Hari ini aku merasa sangat kosong, kenapa ya?
Tiba-tiba aku teringat dengan rumah. Aku sangat muak dengan keadaan keluargaku, pertengkaran, perkelahian, perdebatan. Semuanya sangat melelahkan meski hanya dilihat, aku lelah, dan aku sangat muak dengan itu.
Itulah kenapa aku sering berada di luar, lebih memilih menginap di rumah teman-temanku daripada di rumah mewah yang tidak terasa hidup. Tapi hari ini, aku rasa aku harus pulang, aku rindu masakan bibi. Aku juga rindu dengan Nala.
Aku tenggelam dalam pikiranku sampai tidak memperhatikan kemana aku pergi. Aku sudah berada di gedung jurusan sastra, kulihat kedalam, kosong, dan gelap. Semua orang pasti sudah pulang kan? Ngomong-ngomong apa Ray baik-baik saja? Maksudku, aku terbiasa untuk dipukuli seperti ini karena kekerasan dari ayahku, tapi Ray tidak.
Aku hendak melangkahkan kaki untuk pergi dari sana sampai kulihat seseorang yang keluar dari ruangan gelap tadi. Itu Ray.
Kulihat luka lebam dari pukulan ku sudah diobati dengan baik. Itu bagus. Ah dia berdiri diam di sana, apa dia menungguku untuk angkat bicara? Tunggu, aku memang harus meminta maaf kan?
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak melampiaskan amarahku padamu" ujar ku melihat ke bawah, aku terlalu malu untuk menatapnya langsung. Tapi kenapa dia hanya bungkam?
Aku mengangkat kepala ku untuk melihat ekspresi apa yang sedang dia buat. Itu ekspresi terkejut.
"Apa itu sakit?" melihat dia tidak berani bicara, aku mulai kembali bertanya.
"Apa kau baik-baik saja? Ray?" tanyaku.
"Ah ya, itu... aku baik-baik saja"
"Dan ini tidak terlalu sakit, aku terbiasa dengan ini, bagaimana dengan lukamu?" tanya Ray. Yahhh aku hanya membasuhnya dengan air tapi itu tidak sakit.
"Lebih baik" balasku.
"Raven, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu" tidak, melihat ekspresinya aku tau apa yang akan dia katakan, aku tau, tapi aku tidak ingin mendengarnya.
"Kau bisa memberitahuku besok saja, aku harus pergi" ucapku, setidaknya jangan hari ini. Jangan, biarkan aku beristirahat.
Aku berbalik untuk pergi dari penglihatannya, mencoba membuat suara berisik dalam pikiranku. Sangat berisik sampai aku tidak bisa mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Ray yang berdiri tidak jauh dariku.
"Aku menyukai Lily"
__ADS_1
Aku mendengarnya. Tidak, aku akan berpura-pura tidak pernah mendengar omong kosong itu.
"Aku sangat menyukainya"
Jangan berlebihan Raven, itu bukan sesuatu yang bisa membuatmu kesal.
"Aku menyukainya dari lama, bahkan sebelum mu. Dari SMA, aku... aku sangat menyukainya"
Ray itu temanmu, dan lagipula Lily tidak menganggap mu lebih kan? Kau tidak boleh marah hanya karena temanmu menyukai wanita yang kau sukai.
"Aku akan mengungkapkan perasaan ku"
RAVEN JANGAN TERLALU BERLEBIHAN, DIA TEMANMU, TIDAK MASALAH JIKA TEMANMU MENYUKAI WANITA ITU!!
TIDAK MASALAH.
Tidak masalah.
Dan mereka tampak serasi, apa Lily pernah tertawa seperti itu saat bersamaku? tidak kan? lalu apa yang ku harapkan?
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan" ucap ku pada Ray, lalu pergi.
...
...
...
Aku masuk kedalam taxi yang sudah ku pesan, melihat keluar jendela. Kulihat diseberang sana, masih banyak orang yang sibuk. Kendaraan berlalu lalang, tapi tidak terlalu berisik.
Mungkin karena musik yang diputar sopir taxi ini, musik klasik yang diketahui semua orang. Suara yang ku butuhkan hari ini. Aku memejamkan mata untuk menikmati musik itu sambil memandang keluar jendela.
Kurasa kita sudah sampai di rumah ku, sangat sebentar. Yahhhh jarak rumahku dengan kampus memang dekat, tapi ya aku lebih suka tidak dirumah. Tapi disinilah aku, merindukan rumah.
__ADS_1
Aku turun dari taxi berjalan mendekati gerbang masuk, kulihat lampu rumah tidak menyala. Aku menekan bell, meski jauh tapi ini di design untuk mengantarkan suara sampai ke ruang utama, atau dapur. Tapi setelah bermenit-menit berlalu, kenapa tidak ada yang datang membuka gerbang? apa semua orang sudah tidur? bahkan penjaga yang bertugas dimalam hari?
Aku melihat pagar, aku memutuskan untuk memanjat pagar, lagipula aku sering melakukan ini dari dulu, bukan hal yang baru. Setelah berhasil aku masuk, dan kulihat pos untuk penjaga kosong, tidak ada siapapun.
Aku berlari ke rumah yang tak terdapat satu lampu pun menyala. Aku hendak menendang pintu tapi pintu ini ternyata tidak dikunci sama sekali. Aku masuk kedalam dengan terburu-buru.
Sampai di ruang utama, benar-benar tidak ada lampu yang menyala. Tapi dengan sinar bulan yang masuk lewat jendela, aku bisa melihat jelas ruangan yang kacau ini.
Kursi dan meja berantakan, banyak botol berserakan dilantai. Hanya dari Indra penciuman ku pun aku sudah tau, si pak tua itu minum di rumah.
Dia memang selalu seperti itu, tapi kenapa hari ini seperti ini? meski seisi rumah berantakan, pasti ada pelayan yang membersihkan dan merapikan semua kekacauan. Tapi dimana mereka?
Nala!!
Aku segera menaiki tangga sampai lantai 2 dan mengecek kamar Nala. Begitu ku buka, aku tidak menemukan keberadaan Nala sama sekali. Aku cukup senang dengan itu, karena biasanya jika si pak tua itu mabuk-mabukkan, Nala akan menginap dirumah temannya.
Memikirkan itu perasaan ku mulai lega, saat kulihat kedepan, ada sesuatu yang menarik perhatian ku. Sebuah medali, dan sebuah sertifikat diatas meja, tanpa perlu bertanya aku sudah tau, Nala pasti mengikuti lomba dan menang lagi. Adikku memang hebat.
Saat aku masih memperhatikan medali milik Nala, kudengar suara dari lantai 1. Seharusnya suara dari lantai 1 tidak terdengar dari lantai 2. Tapi karena hari ini begitu sepi, semua terdengar jelas.
Suara pecahan kaca yang terdengar jelas oleh telingaku, mereka berasal dari lantai 1. Aku turun perlahan menuruni tangga, dan menuju ruang makan, tempat yang sering ku gunakan untuk bertengkar dengan si pak tua itu.
Aku melihat ke bawah, disana ada Nala yang terlihat sangat lemas tapi berusaha membersihkan pecahan-pecahan itu. Apa yang Nala lakukan di sini? dia seharusnya ada dirumah temannya.
Itu bukan sesuatu yang penting, aku segera menghampirinya, aku berusaha membantunya berdiri, tapi begitu tangan kami bersentuhan, rasa panas langsung menyengat kulitku. Tubuh Nala sekarang terasa sangat panas.
"Apa ini!! Kau demam?!" aku langsung menggendong Nala dipunggung.
"Tunggu kak, pecahannya-"
"Itu tidak penting, kau seharusnya tidak disini" aku menggendong Nala untuk membawanya ke rumah sakit.
Apa yang ayah sialan itu lakukan? mabuk dan meninggalkan putrinya yang masih 9 tahun di rumah sendirian? dan apa yang kulakukan? semuak apapun aku, seharusnya aku tidak meninggalkan adikku sendirian di rumah ini.
__ADS_1