
Demamku sudah turun dan tubuhku terasa lebih baik, jadi hari ini aku pergi ke kampus dengan Tania. Aku berjalan menyusuri koridor bersama Tania, lalu berpisah. Aku melanjutkan langkah ku dan pergi ke kelas pertama, kelas Mr.John.
Masuk kedalam ruangan, kulihat Lia yang melambaikan tangan ke arahku di kursi paling atas, aku pun menghampirinya.
"Bagaimana keadaan mu? apa kau demam nya sudah turun?" tanya Lia. Aku duduk di kursi sebelahnya.
"Ya, jauh lebih baik" balasku. Tidak lama kemudian Mr.John datang dan kelas pun dimulai.
Ditengah pelajaran aku diam-diam membuka handphone ku dan melihat isi pesan dariku kemarin, Raven sudah membacanya. Maksudku, dia hanya membacanya. Perasaan ku sedikit tidak nyaman, apa dia marah?
Kalau dipikir-pikir malam itu...
"Hey, wajahmu merah, kau yakin sudah sembuh?" ucap Lia berbisik kepadaku. Aku membalasnya dengan menggelengkan kepala lalu menunduk dan memegang wajahku untuk menyembunyikan nya.
Sesaat tadi aku mengingat kejadian malam itu, Raven menggendongku. Ah, aku jadi malu.
Ngomong-ngomong sejak pagi aku tidak melihat Raven dimana pun, kemana anak itu? padahal biasanya dia akan mengikuti ku kemanapun aku pergi. Yahhhh meski aku sedikit bersyukur, karena jika dia tiba-tiba muncul dihadapan ku, mungkin aku akan pingsan tidak kuat menahan malu.
Tapi dia sepertinya masih marah karena pakaiannya itu, hari ini aku akan meminta maaf.
"Hey, kau benar-benar sudah sembuh? daritadi kau tidak fokus" ucap Lia berbisik. Aku hanya menatapnya malu.
"Apa yang kau pikirkan? mungkinkah..."
"Kau memikirkan Raven ya?" lanjutnya dengan tersenyum mengejek. Aku sedikit memukul tangannya.
"Aw, itu sakit. Tapi tebakanku benar kan?" ucap Lia.
"Hey, hentikan itu" balasku kesal. Dia pun mengubah ekspresi nya dari sangat menyebalkan menjadi sedikit menyebalkan.
"Tapi ngomong-ngomong, kemarin apa yang dilakukan Raven?" tanyaku berbisik pada Lia.
Lia memasang raut wajah yang sedikit aneh dan mulai berbicara.
"Apa kau gila? memangnya aku itu kau selalu menempel dengannya?" balas Lia dengan nada sedikit tinggi.
"Bukan aku yang menempel dengannya, tapi dia yang selalu mengikuti kemanapun aku pergi, dan kau juga tau itu kan?" balasku.
"Baiklah baiklah nona manis, aku tidak tahu apa yang Raven lakukan. Aku bahkan tidak bertemu dengannya" jelas Lia. Benar juga, kita bertiga memang sering berpapasan, tapi kan Raven dan Lia tidak dekat satu sama lain.
"Hmmm baiklah" balasku cemberut.
"Yaampun, putri Lily, apa anda sedih karena tidak bisa bertemu pangeran?"
"Hey, berhenti mengejekku" ucapku kesal.
"HEY, KALIAN BERDUA!!! BERANINYA MEMBUAT KERIBUTAN DI KELASKU"
__ADS_1
"KELUAR!!"
Teriak Mr.John lalu menendang kami berdua keluar dari kelasnya, aku lupa kalau Mr.John punya pendengaran yang tajam. Habislah aku, padahal kelas Mr.John cukup penting. Nilaiku akan hancur...
"Harusnya kau tidak berteriak tadi" ucap Lia menuduhku.
"Salahmu terus mengejekku" balasku.
"Tuan putri, apa maksud anda? padahal saya sangat menyayangi tuan putri" ucap Lia. Dia masih saja mengejek dan bermain sandiwara, baiklah.
"Dasar pelayan tidak berguna, enyah dari hadapanku!"
"Hey, aku bukan pelayan!!" ucap Lia kesal.
"Ah, sudahlah hentikan bersandiwara. Aku ada urusan, sampai jumpa nanti" lanjut Lia masih dengan wajah kesal lalu pergi. Haha, lucu sekali.
...
...
...
Baiklah, kelas kedua masih lama, jadi aku akan menemui Raven untuk meminta maaf. Aku mengambil handphone dan mengirim pesan pada Raven, tapi dia tidak online dan tidak membaca pesan dariku. Jadi aku memutuskan untuk menemui nya di gedung jurusan musik.
Sampai di gedung jurusan musik, aku masuk kedalam gedung dan menemukan tidak ada seorang pun disini. Aku hendak pergi, namun seseorang memanggilku.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Mrs.Yu.
"Oh tidak apa-apa, aku hanya mencari Raven. Tapi tidak ada siapa-siapa disini" jawabku.
"Semuanya pergi ke bagian aula, tapi Raven tidak ada disana, sepertinya dia bolos kelas lagi. Dia memang sering bolos dan datang ke kampus hanya untuk bermain-main, untungnya dia anak jenius, jadi kampus tidak mengeluarkan nya" jelas Mrs.Yu.
"Oh begitu, haha ya dia memang jenius. Baiklah, kalau begitu aku-"
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan lagunya?" tanya Mrs.Yu.
"Kami hampir menyelesaikan nya" jawabku.
"Baguslah, terimakasih karena mau membantu Raven. Dia yang biasanya kasar bahkan sampai berbicara lembut saat memintaku untuk menggantinya memintamu membantu membuat lagu itu" jelas Mrs.Yu. Tunggu, apa maksudnya? Dariawal Raven yang meminta?
"Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Mrs.Yu lalu pergi meninggalkan ku begitu saja.
Jika kupikir lagi? kenapa aku sampai harus membantu Raven membuat lagu? Yahhh meski aku biasanya hanya diam dan dia sendiri yang membuat, tapi apa alasan dibaliknya?
Sekarang aku baru mengingat itu, jika tidak salah. Hari dimana aku ditendang Mr.John dari kelas, itu juga hari yang sama saat aku bertemu pertama kali dengan Raven kan? tapi.....
Kenapa aku tiba-tiba jadi inspirasi nya?
__ADS_1
Ah berhenti memikirkan itu, aku harus mencari Raven untuk meminta maaf tentang kejadian kemarin malam.
Aku keluar dari gedung jurusan musik dan berjalan beberapa meter dan sampai didepan ruang latihan pribadi milik Raven. Aku mencoba membuka pintunya, tapi terkunci.
Mungkin Raven ada di balkon gedung jurusan sastra, jadi aku memutuskan untuk pergi kesana.
...
...
...
Aku sampai di gedung jurusan sastra, lalu menaiki anak tangga satu persatu dan berhenti sekejap begitu melihat seseorang yang ku kenal. Itu Lia, jadi dia punya urusan di gedung jurusan sastra? dia sepertinya berbicara dengan seseorang, tapi aku tidak bisa melihat lawan bicaranya.
Tubuh orang itu terhalangi pintu yang terbuka, jadi tidak terlihat. Aku hendak menyapa Lia, tapi ku urungkan niat itu dan lanjut menaiki tangga.
Sesampainya di balkon aku tidak menemukan seorang pun, Raven tidak ada disini, dimana dia?
Aku menghela napas, lalu mendengarkan suara langkah kaki mendekat.
"Oh, hai Lily. Apa yang kau lakukan disini? apa kau bolos juga?" itu Lion, dia menghampiriku.
"Hai juga" ucapku membalas sapaannya.
"Jadi apa yang kau lakukan disini? mencari Raven?" tanya Lion.
"Benar" jawabku.
"Aku curiga, mungkinkah kalian sudah pacaran?"
"Tidak tidak!! kenapa kau berpikir seperti itu"
"Haha, maaf maaf. Tapi kalian serasi, ekhem aku hanya bercanda. Untuk pertanyaan mu tadi, aku tidak tau dimana Raven"
Ck, Lion bahkan tidak tau. Apa mungkin Raven tertular dan sekarang dia sakit?
"Oh benar juga, ada hal lain yang membuat ku tertarik" ucap Lion.
"Apa itu?" tanyaku.
"Apa mungkin kau tau alasan kenapa Raven dan Ray berke-"
"Hey, apa yang sedang kalian bicarakan?" ku lihat arah suara itu, benar dugaan ku. Itu Ray, dia berjalan kearah sini.
"Lily, kau sudah sembuh?" tanya Ray mengusap rambutku.
"Ya, aku sembuh"
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu" ucap Ray tersenyum.