
Sinar matahari dari jendela mengganggu tidurku, kepalaku sangat sakit dan tubuhku terasa sangat panas. Aku berusaha untuk bangkit dari tidurku tapi tubuhku terasa sangat lelah. Aku membalikkan badanku untuk melihat jam dinding, jam 10 pagi. Melihat itu aku langsung bangkit dari tidurku dan itu membuat tubuhku sakit, rasa sakit itu membuatku tersadar. Aku ingat kalau aku sudah meminta izin untuk tidak mengambil kelas hari ini, aku kembali berbaring dengan lega.
Mungkin karena aku baru tersadar sepenuhnya, suara didapur mulai terdengar. Sepertinya Tania sedang memasak, aku akan tidur sebentar lagi, setelah itu mungkin memesan makanan.Sebelum aku kembali tenggelam dalam tidurku Tania datang membawa semangkuk bubur.
"Lily kau sudah bangun? aku memasakkan bubur untukmu, makanlah" ucap Tania meletakkan mangkuk berisi bubur diatas meja.
"Terimakasih" ucapku lemas. Aku duduk dan sedikit memijat kepala ku untuk meredakan pusing.
"Pulang nanti aku akan membelikan mu obat" ucap Tania sambil mengambil tas nya.
"Kalau begitu aku pergi ya" lanjut Tania keluar kamar. Aku berusaha untuk pergi ke kamar mandi dengan sedikit tertatih-tatih, tubuhku rasanya begitu berat. Uh, aku terlalu malas untuk berjalan sedikit lebih jauh lagi.
Aku berhenti didapur untuk membasuh muka di wastafel, mendadak aku mengingat sesuatu tidak menyenangkan yang membuatku sedikit kehilangan keseimbangan. Astaga! tadi malam aku...
Aku muntah dan itu mengotori pakaian Raven. Perasaanku jadi sedikit buruk, itu memalukan dan Raven pasti sangat jijik. Uh, aku harus segera meminta maaf padanya, aku akan mengirimkan pesan padanya. Tapi sebelum itu biarkan aku membasuh muka ku dulu.
Setelah membasuh muka aku kembali ke kamar untuk mengambil handphone ku. Aku segera mencari kontak Raven dan mengirimkan pesan padanya.
"Raven, terimakasih sudah mengantarku tadi malam dan aku sangat sangat sangat sangat meminta maaf untuk...kejadian yang tidak mengenakkan tadi malam"
Setelah ku perhatikan, Raven sedang online, kuharap dia segera membalas pesanku. Dia membaca pesan dariku, tapi kemudian kontaknya tidak lagi online. Mungkin aku harus menunggu besok untuk meminta maaf secara langsung, aku merasa sangat tidak enak, dan...malu.
...
...
...
Aku kembali ke kamarku untuk memakan bubur yang sudah Tania masak sebelum itu menjadi dingin. Sebelum aku menyuapkan sesendok bubur kedalam mulutku, aku mendengar suara ketukan pintu. Apa Tania kembali karena melupakan sesuatu?
Aku berjalan untuk membuka pintu, sebelum aku membuka pintu aku merasa ini aneh. Bukankah Tania juga punya kunci rumah? kenapa dia harus mengetuk pintu? Dia bisa langsung masuk kapan saja. Apa mungkin itu penjaga asrama? Tapi jika ada kunjungan biasanya akan pemberitahuan lewat speaker....
APA MUNGKIN ITU PENCURI?
Aku berlari ke dapur tanpa suara, untuk membawa panci. Aku berjalan kearah pintu dengan perlahan, sangat waspada.
__ADS_1
"Tunggu sebentar" Aku mengambil kunci lalu memutarnya, kubuka pintu perlahan sampai setengah badan orang diluar terlihat.
SEKARANG!!
Aku memejamkan mata lalu mengangkat panci setinggi mungkin dan ku ayunkan kedepan.
TIDAK KENA!
Aku tidak merasakan getaran apapun, sekarang selamat diri! LARI!
Aku membuka mata berniat mendorong si pencuri, lari sekencang mungkin lalu kabur lewat lift. Tapi.... sepertinya aku salah paham.
Didepan ku ada Ray yang memasang raut muka terkejut, dan disaat seperti ini otakku mulai kembali berfungsi dengan baik.
...
...
...
"Ini..umm itu begini, tidak ini..." apa yang harus kukatakan? Ayo cepat pikirkan sesuatu! sebuah alasan!
"Pfffft" ditengah kebingungan ku dia malah tertawa.
"Syukurlah kau baik-baik saja" ucap Ray sambil mengelus rambutku. Setelah kulihat lagi, dia membawa obat-obatan, darimana dia tau aku sakit?
"Jadi apa kita hanya akan berdiri disini saja?" tanya Ray sambil tersenyum.
"Ah, tidak. Masuklah" balasku.
Begitu masuk kedalam, aku mempersilahkan nya untuk duduk. Aku mengambil mangkuk bubur tadi, akan ku simpan dulu dan kumakan nanti.
"Jika kau sedang makan, makan saja. Aku hanya datang sebentar untuk menjengukmu" ucap Ray meletakkan obat-obatan yang dia bawa diatas meja.
"Lia yang memberitahu ku bahwa kau sakit, dia sepertinya sibuk jadi aku menggantikannya untuk menjengukmu. Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sakit?" tanya Ray padaku.
__ADS_1
"Aku tidak punya kontak mu" jawabku.
"Aku sudah mengganti handphone dan nomor telepon, hehe" lanjutku. Dia segera mengeluarkan handphone nya dan memberikannya padaku.
"Berikan nomormu" aku membuka kontak dan menambahkan nomor teleponku, sebelum aku kembali memberikan handphone nya, aku tidak sengaja melihat list kontak yang dia simpan.
"Apa sudah selesai?" tanya Ray. Aku segera memberikan handphone itu padanya.
Apa aku tidak salah lihat? dia menyematkan kontak lamaku. Dan aku juga melihat pesan yang dia kirimkan ke kontak itu pagi ini. Dan masih ada banyak pesan sebelum-sebelumnya. Aku mengganti kontak ku dari sejak lulus SMA, kenapa dia masih mengirim pesan ke kontak itu? apa mungkin dia tidak tau kalau aku sudah mengganti nomor telepon? Ya, kurasa begitu.
...
...
...
...
...
...
"Kurasa sekarang sudah waktunya aku pergi, kelasku akan segera mulai" ujar Ray. Astaga, aku tidak sadar kami sudah mengobrol hampir 1 jam.
"Ah baik, aku akan mengantar mu"
"Tidak perlu seperti itu" balas Ray.
"Ayolah, aku juga ingin menghirup udara segar" balasku. Ray menghela napas dan mengiyakan. Aku mengantar nya sampai pintu.
"Kalau begitu cepatlah sembuh, dan jangan lupa minum obat" ucap Ray membalikkan badan menghadap ku.
"Baiklah, dan terimakasih banyak untuk hari ini" balasku. Ray menatapku sambil tersenyum, membawa tangannya untuk mengusap pipi ku.
"Eh? apa ada sesuatu di wajahku?" tanyaku.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya memeriksa suhu tubuhmu, kalau begitu sampai jumpa Lily" jawab Ray, lalu pergi.