Menjadi Inspirasimu

Menjadi Inspirasimu
Pertemuan pertama


__ADS_3

Setelah menyetujui permintaan Lia, Lia pun kembali ke kelasnya. Aku masuk kedalam gedung bagian panggung dan menemukan tidak ada siapa-siapa disini. Tentu saja, yang lain pasti sedang di kelasnya masing-masing. Aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 11, masih tersisa 1 jam untuk kelas keduaku dimulai.


Berhubung kelas selanjutnya akan diadakan di gedung utama yang dekat dengan gedung jurusan sastra, kupikir tidak masalah jika aku menunggu di gedung itu.


Saat melewati koridor aku melihat Tania yang sedang berbincang-bincang dengan temannya di taman. Aku ingin menyapa nya tapi aku takut teman-temannya mengira bahwa aku hanya mencari perhatian. Sebelum aku memalingkan muka dan lanjut berjalan tiba-tiba Tania berteriak.


"LILY" dia melambaikan tangan sambil tersenyum kearah ku.


Aku membalasnya dengan melambaikan tangan dan sedikit tersenyum. Mengetahui bahwa dia hanya menyapa, aku pun meneruskan langkah ku.


"Tania kau baik sekali, padahal tadi dia mencoba berpura-pura tidak melihatmu. Kau seharusnya tidak menghiraukan keberadaannya" kata salah satu temannya.


Aku tau teman-teman Tania tidak suka padaku, tapi aku tidak memperdulikannya. Hanya saja sekarang aku sedikit kesal karena temannya secara terang-terangan mengatakan sesuatu yang buruk tentangku, dia bahkan tidak mencoba untuk menunggu ku pergi.


"Jangan berkata seperti itu, dia teman yang baik" kata Tania membela ku.


Aku sangat senang dan berterimakasih karena dia masih membela ku, dia memang teman yang baik.


Tadinya aku ingin menghabiskan waktu di dalam gedung jurusan sastra, tapi ternyata disini ramai sekali, ada banyak orang. Mungkin mereka sedang mengerjakan sebuah proyek? Entahlah.


Setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu di balkon gedung jurusan sastra. Kuharap tidak ada siapapun disana. Aku menaiki satu persatu anak tangga, begitu sampai didepan pintu aku membukanya dengan berharap pintu ini tidak dikunci.


Terbuka.


Pintu ini tidak dikunci, aku langsung berjalan keluar dan merasakan angin dingin yang menerpaku. Rasanya sangat sejuk.


Dan yang paling penting dari semuanya adalah...tidak ada orang lain di balkon ini. Aku bisa menghabiskan waktu bersantai dengan tenang.


Setelah melihat-lihat balkon ini, aku menemukan tempat yang tepat untuk bersantai. Kupikir balkon ini berbentuk persegi panjang jika dilihat dari atas, ternyata ada persegi panjang kecil lain disamping, dan ada teleskop disini. Mungkin milik salah satu anggota jurusan sastra.


Aku membersihkan sedikit lantai untuk ku duduki. Bersandar pada tembok yang membuatku membelakangi pintu masuk. Sebenarnya ada beberapa kursi disini, tapi kursi-kursi itu seperti kursi hidrolik bulat, tidak memiliki sandaran, dan dudukannya berbentuk lingkaran, tidak begitu nyaman. Aku bingung siapa orang aneh yang membawa kursi itu untuk dipakai di kampus.

__ADS_1


Aku duduk bersandar, lalu aku memasang earphone. Memejamkan mata sambil mendengar beberapa lagu klasik. Aku seperti tokoh utama saja.


Tenang, tapi pikiranku penuh tekanan. Ketua jurusan teater memang selalu memuji pekerjaan ku, tapi aku merasa sedikit tidak enak.


Lalu tak bersilang lama, ada aroma tak sedap yang menggangu ku. Aku bangkit dari dudukku dan melihat sekeliling. Ternyata ada orang yang merokok, menganggu waktu santai ku saja.


Tunggu, setelah diperhatikan lagi sepertinya aku kenal orang itu. Postur tubuh yang tinggi dengan bahu lebar, mengenakan jaket yang menyembunyikan lengan kekarnya, Rambut cokelat yang berantakan karena angin yang menerpa.


"Yaampun, ternyata dia" pikirku menyadari siapa pria itu.


Aku memperhatikan pria itu beberapa saat, sampai menyadari...


...


...


...


Saat hendak menepuk pundaknya agar dia berbalik, dia mendadak berbalik lalu mata kami bertemu. Dia membelalakkan matanya dan sedikit mundur karena terkejut, aku juga terkejut. Bukan karena dia yang tiba-tiba berbalik, tetapi karena tebakan ku benar.


Matanya yang indah dengan warna hazel itu dibasahi oleh air mata, Raven dia... benar-benar menangis!


"Ah, apa yang kau lakukan disini??" Teriaknya.


Aku tidak menjawab karena sibuk mencari sesuatu didalam tas ku.


"Ah! Ada" sahutku sambil mengeluarkan sebuah sapu tangan kecil berwarna merah muda.


"Hmm ini...kurasa kau memerlukan nya" lanjut ku sambil menyodorkan sapu tangan itu.


Dia hanya terdiam, setelah ku amati lebih teliti, terdapat luka kecil disudut bibirnya. Siapa yang berani memukul seorang Raven?

__ADS_1


Aku mengabaikan pertanyaan yang ada di kepala ku, lalu membawa kembali tanganku untuk mencari kotak kecil didalam tas yang kubawa. Kuharap aku belum membuangnya.


Ah, untunglah aku belum membuangnya. Mengeluarkan kotak kecil dari dalam tas lalu membukanya. Terdapat sepuluh plester kecil dengan gambar hewan. Aku mengambil satu lalu memberikannya kepada Raven bersamaan dengan saputangan tadi.


Gambar bebek kuning yang lucu, dia tidak mungkin menolak ini kan?


Sekali lagi dia hanya diam tidak bergerak seperti patung. Aku sampai ragu apa dia bernapas atau tidak.


Aku bermaksud mengurungkan niatku memberikan saputangan dan plester ini, aku tidak ingin memaksanya, tapi aku berubah pikiran saat mendengar suara langkah kaki yang menaiki tangga. Raven pasti sekarang sangat malu karena ada orang tak dikenal melihatnya menangis, dia pasti akan lebih malu jika orang asing itu bertambah kan?


"Ada orang yang datang, kau tidak ingin ada yang melihat mu menangis kan? Ini ambillah" sekali lagi dia mengabaikan ku. Suara langkah kaki itu mendekat dan terdengar seperti ada lebih dari satu orang.


Aku terpaksa maju membawa tangannya untuk menerima saputangan dan plester dari ku. "Cepat hapus, mereka akan segera datang" lalu aku segera berbalik untuk pergi dari sana.


"Hei, siapa namamu?" Tanya nya. Aku sedikit terkesima dengan nada bicaranya yang jauh lebih ramah dari yang kuduga. Itu datar, sangat datar, tapi jika dibandingkan dengan teriakannya tadi, ini jauh lebih ramah.


Aku hendak berbalik untuk menjawab pertanyaannya, tapi setelah kupikir lagi itu tidak penting kan? Aku segera menutup pintu dan menuruni tangga yang memutar.


Aku berpapasan dengan beberapa orang yang membuat suara langkah kaki tadi. Ada tiga orang, Lion, Ray, Hanz. Kenapa aku mengenal mereka? Tentu saja, mereka dan Raven adalah kelompok pembuat onar yang populer di kampus ini. Tetapi tidak untuk Ray, aku mengenalnya semenjak SMA, dia anak yang baik dan kami teman yang cukup dekat. Tapi saat aku melihatnya pertama kali di kampus ini, penampilannya berubah, dia mewarnai rambutnya yang cokelat menjadi merah. Bukan hanya itu, sikapnya juga benar-benar berubah.


Aku penasaran, apa yang membuatnya tiba-tiba berubah seperti itu?


...


...


...


Hari ini sangat menyebalkan, bermain piano di panggung ini dengan ditonton oleh orang-orang bodoh ini saja sudah menyebalkan. Ditambah dengan kejadian tadi!


Beraninya Mrs.Yu mendaftarkan ku dalam pertunjukan bodoh itu tanpa meminta persetujuan dari ku! Dan bukannya membatalkan pendaftaran dia malah memintaku untuk tetap mengikuti pertunjukan ini!!

__ADS_1


__ADS_2