Menjadi Inspirasimu

Menjadi Inspirasimu
Menjemput Lily


__ADS_3

Selesai sarapan aku dan Hanz sedang sarapan di meja makan.


"Hei, kau tidak mau melepas plester aneh itu?" tanya Hanz.


"Tidak mau" balasku.


"Memangnya kau tidak malu?" tanya Hanz kembali. Aku membalas dengan menggelengkan kepala.


Memangnya siapa yang peduli dengan penampilan ku? mereka juga tidak menyukaiku, dari dulu memang tidak ada yang menyukaiku. Yahh tapi aku tidak peduli karena selalu sendirian.


Meski entah kenapa aku bisa berteman dengan mereka. Aku melihat Hanz sekejap lalu memalingkan muka, sebal.


"Hei apa-apaan itu?" sahut Hanz kesal.


"Aku hanya tidak habis pikir bagaimana bisa aku berakhir berteman dengan kalian yang bodoh ini" ucapku.


"Yang bodoh itu bukan aku, tapi kau" balas Hanz.


"Ha? aku?" tanyaku mengangkat sebelah alis sambil memperlihatkan pesona seorang jenius.


"Ck, sialan. Maksudku kau bodoh dalam hal seperti... percintaan" ujarnya sambil terkekeh. Aku tidak menghiraukan omong kosongnya lalu mengisi mulutku dengan makanan.


"Sekarang biar kutanya, siapa cinta pertama mu?" tanya Hanz.


"Musik" jawabku.


"Hei, yang benar saja. Maksudku seorang wanita" balasnya.


"Tidak ada" ucapku.

__ADS_1


"Eh, apa kau yakin tidak menyukai Lily?"


"SUDAH BERAPA KALI KAU MENANYAKAN HAL YANG SAMA?" ucapku kesal, daritadi! setelah aku menceritakan mimpiku dia terus menanyakan itu.


"Karena aku sangat penasaran! maksudku, temanku yang kuno ini akhirnya menyukai seseorang. Sebagai teman yang setia tentu saja aku merasa senang" balasnya dengan bersemangat. Aku segera menghabiskan makanan ku dan membawa piring ke wastafel.


"...Oh, ternyata dulu rambutnya sangat panjang" Hanz berbicara sendiri. Aku tidak sengaja melihat layar handphone nya lalu mendekat.


"Apa itu Lily?" tanyaku.


"Benar" jawabnya.


Foto itu sepertinya diambil cukup lama, dan difoto itu rambut Lily masih sangat panjang, tidak seperti sekarang yang hanya sepanjang bahu. Disitu dia mengenakan gaun putih, cantik.


"Ekhem" Hanz mematikan handphone nya.


"Hei, bagaimana kau menemukan itu? dia punya akun insta? apa namanya?" tanyaku, dan Hanz malah terkekeh.


"Tania? siapa itu? sepertinya aku pernah mendengar nama itu" tanyaku dan dibalas oleh Hanz dengan ekspresi seolah tidak percaya yang membuatku bertanya-tanya.


"Kau tidak tahu Tania? Bagaimana bisa? dia mahasiswi paling cantik, dan paling populer di angkatan kita," jelas Hanz. Oh, hanya itu. Kupikir penting.


"Aku akan berangkat sekarang" ucapku beranjak pergi.


"Tunggu, aku punya ide" ucap Hanz menghentikan ku. Kenapa sejak pagi anak ini bersemangat? pikirku heran. Padahal diantara kami berempat dia dan Ray adalah yang cukup tenang.


Ah benar, Ray...


"Ini" ucap Hanz membuyarkan lamunanku. Dia memberikan kunci motornya padaku. Apa dia memintaku untuk mengendarainya lagi? aku menaiki motornya.

__ADS_1


"Apa yang kau tunggu? ayo cepat naik" ucapku.


"Tidak, kau jemput Lily sana, Lily itu sibuk kan, jadi kau harus menambah interaksi dengannya" jawab Hanz.


"kenapa?" apa maksud si bodoh ini?


"Karena kalian adalah TEMAN" jelas Hanz. Oh, apa kami sudah sedekat itu untuk disebut teman? pipiku terasa panas, aku harus segera pergi agar Hanz tidak melihat pipiku yang merah ini.


"Baiklah" ucapku lalu menyalakan mesin dan meninggalkan Hanz.


"Ha, Raven itu memang bodoh, dia pikir dia bisa menyembunyikan perasaannya? dia harus bersyukur memiliki teman pengertian sepertiku"


...


...


...


Sesampainya di asrama perempuan, aku memarkirkan motor di tepi jalan, entah kenapa aku merasa orang-orang terus memperhatikan ku.


Akhirnya aku melihat Lily keluar dari gedung asrama dan berjalan ke arah ku, aku melambaikan tangan padanya.


Tapi wanita yang sekamar dengan Lily mendahuluinya dan membalas lambaian tanganku.


"Yaampun, apa Raven kemari untuk menjemput Tania?"


"Apa itu yang ada diwajahnya?"


"Raven yang kasar itu? bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Selamat pagi Raven" ucap wanita itu sambil melambaikan tangan padaku. Aku hendak mengabaikannya tapi mengingat dia teman Lily, jadi aku harus sedikit sopan kan?


"Ya, selamat pagi" ucapku sambil memperhatikan Lily, dia sedikit melambaikan tangan padaku dan aku membalasnya. Ah, dia mengikat rambutnya, cantik.


__ADS_2