
Aku berjalan menuju gedung jurusan teater untuk rapat dengan anggota jurusan teater yang lain mengenai penampilan kami. Kemarin aku meminta izin Mr.Han, ketua jurusan teater untuk mengizinkan kami mendaftar dalam pertunjukan di balai kota nanti, dan dia menyetujuinya. Aku sangat senang dengan hal itu.
Aku berjalan melewati koridor dan mendengar orang lain berbincang-bincang.
"Kau tau, kemarin Raven sangat aneh"
"Maksudmu?"
"Kemarin saat mengikuti kelas malam di jurusan musik, Raven tiba-tiba datang dan meminta Mrs.Yu untuk mencarikan seseorang untuknya."
"Seseorang?"
"Iya, aku tidak begitu mendengarnya. Tapi aku yakin dia bilang seorang wanita."
"WANITA? TIDAK MUNGKIN!"
"Sungguh, aku tidak berbohong."
Aku sedikit menghela napas, bukankah ini terlalu pagi untuk menggosipkan orang lain? Tapi mendengar percakapan mereka, sepertinya Raven membuat masalah lagi?
Ah tidak, terlalu awal untuk menuduhnya. Aku bahkan tidak memperhatikan percakapan mereka, hehe.
"Selamat pagi Lily!" ucap Lia yang langsung merangkul ku. Seperti biasa, meski masih pagi tapi dia sudah bersemangat sekali.
"Ya, selamat pagi juga" jawabku membalas sapaannya.
"Ngomong-ngomong Lily, cerita apa yang akan kita tampilkan?" tanya Lia.
"Aku sudah membuat beberapa cerita, kita akan memilihnya bersama anggota lain di rapat nanti" jawabku.
"Oh baiklah, aku tidak sabar. Tapi aku harap kita memilih cerita dengan properti yang cukup menonjol, agar tim kami dianggap melakukan kerja yang bagus" balas Lia.
Ya, Lia adalah anggota jurusan teater, dia masuk kedalam bagian artistik, dan mengurus properti, sedangkan aku bagian Penulisan lakon, Penelitian Seni, dan Penyutradaraan. Tapi terkadang aku ikut memerankan tokoh sampingan atau benda.
...
...
__ADS_1
...
Sesampainya kami di gedung jurusan teater, kami langsung memulai rapat bersama dengan anggota yang lain, seusai memilih cerita kami mulai berdiskusi siapa yang akan memerankan siapa.
"Apa hanya aku yang berpikir Lily cocok untuk memerankan tokoh utama?" celetuk Hanna, salah satu anggota bagian penyutradaraan.
"Aku juga berpikir seperti itu, penggambaran karakter nya sangat persis seperti Lily" jawab yang lain.
"Eh? Apa memang begitu?" tanyaku tidak yakin dengan ucapan mereka. Aku yang membuat cerita ini, mungkinkah aku tidak sengaja menggambarkan tokoh utama seperti ku?
"Ya, benar." jawab anggota lain setuju.
"Tapi Lily tidak pernah memerankan tokoh utama, bahkan hanya memerankan tokoh sampingan" ujar Lia. Dia benar, selama ini aku hanya menulis cerita, menulis dialog, dan beberapa kali memerankan tokoh sampingan.
"Bagaimana kalau kalian melakukan voting?" Sahut Mr.Han yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan diikuti oleh Mrs.Yu dan Raven. Anggota lain setuju dengan masukan Mr.Han.
"Mr.Han, Mrs.Yu, apa yang membawa kalian kemari?" tanyaku menghampiri mereka.
"Untuk sekarang lanjutkan rapat mu, kami akan menunggu di ruanganku" jawab Mr.Han lalu pergi keluar diikuti Mrs.Yu sedangkan Raven hanya diam sambil melihat-lihat ruangan.
"Baiklah, jadi bagaimana dengan hasil votingnya?" tanya Raven mendadak. Tanpa menunggu jawaban, Raven langsung mengambil kertas hasil voting yang ku pegang.
"Oh, kau terpilih jadi tokoh utama? Baguslah, sekarang rapatnya selesai kan?" tanya Raven. Aku berusaha menahan amarahku atas perilakunya yang tidak sopan. Anggota lain pasti merasa tidak nyaman.
Aku menutup rapat dan memperbolehkan para anggota untuk pergi ke kelas mereka, begitu juga Lia. Setelah itu aku mendatangi Mr.Han dan Mrs.Yu.
Tanpa basa-basi Mrs.Yu langsung menjelaskan tujuannya.
"Begini nak Lily, Raven harus membuat sebuah lagu, dan bisakah nak Lily membantunya?" jelas Mrs.Yu.
"Membantu?" tanyaku.
"Benar, kami membutuhkan nak Lily sebagai inspirasi untuk membuat lagunya, dia akan mengikuti suatu pertunjukan jadi mohon bantuannya nak Lily" jelasnya dengan lembut.
"Hah? Inspirasi? Maafkan aku, tapi bukankah itu permintaan yang aneh? Maaf, seperti nya aku tidak bisa" ucapku menolak. Mulai sekarang aku akan disibukkan dengan persiapan penampilan kami, aku tidak bisa bermain-main seperti ini.
"Begini Lily, aku mohon. Kau pasti bisa, aku akan memberimu nilai sempurna jika kau menyetujuinya" bujuk Mr.Han. NILAI SEMPURNA? APA-APAAN ITU!
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menyetujuinya" jawabku. Dengan begini aku akan mendapat nilai sempurna- maksudku, Mr.Han bahkan sampai membujukku, jadi tentu saja aku harus menyetujuinya.
Dan disana Raven, orang yang menjadi perbincangan malah hanya duduk di sofa sambil memainkan handphone nya. Dasar.
...
...
...
Hari sudah sore, dan kami sedang berlatih membaca dialog. Dan diujung sana ada Raven yang duduk di sofa terus menatap ku dengan tatapan tajam.
Padahal aku sudah memintanya untuk pergi, tapi dia memaksa untuk tetap disini, entah apa tujuannya. Yah, aku akan berusaha mengabaikannya dan fokus dengan kertas-kertas ini.
"Lily, untuk bagian ini kurasa akan lebih bagus dibuat sedikit lebih dramatis" ujar Hanna, salah satu anggota jurusan teater.
"Oh, mari kita lihat"
...
...
...
Selang beberapa jam membaca dan menghafal dialog, kami mulai beres-beres dan pulang.
"Kerja bagus semuanya, sampai jumpa besok" ucapku.
"Lily, kami duluan ya" ucap Lia pergi bersama anggota bagian properti, mungkin mereka akan berdiskusi tentang pemilihan properti.
Baiklah, sekarang aku akan pulang ke asrama. Tapi sebelum itu kurasa aku harus melakukan hal yang lain.
Aku menghela napas dan berjalan kearah Raven.
"Raven, Raven bangun! Ini sudah malam, sudah waktunya pulang" ucapku sambil menggoyangkan tubuhnya. Entah kapan dia tertidur.
Tadinya kupikir akan membutuhkan waktu yang lama untuk membangunkan seorang Raven, ternyata dia langsung bangun. Ya baguslah, dengan begitu aku bisa langsung pergi.
__ADS_1