
Aku sedang bersiap-siap dan Tania sedang berdandan. Aku sekilas melihat keluar jendela dan menemukan Raven yang sedang duduk diatas motor sambil memainkan handphone.
"Kenapa dia ada disini?"
"Siapa?" tanya Tania penasaran.
"Raven" jawabku, Tania langsung bangkit berjalan ke arahku dan melihat keluar jendela.
"Apa yang dia lakukan disini? apa mungkin untuk mengantarmu?" tanya Tania menatapku.
"Tidak, mungkin dia ada urusan lain" balasku. Tapi sepertinya memang begitu, Raven tidak memberitahu ku apapun.
"Ah begitu kah, haruskah kita menyapa nya" ucap Tania bersemangat, dia terlihat senang.
"Kurasa aku tidak, aku harus segera ke kampus, jadi aku akan mengambil jalan lewat belakang kampus" ucapku.
"Oh begitu kah? Kalian akan rapat lagi?" tanya Tania.
"Ya, begitulah" jawabku. Sebenarnya tidak, hanya saja aku merasa akan jadi pengganggu.
...
...
...
Kami keluar dari gerbang, disana Raven terlihat melambaikan tangan, sepertinya menyapa. Aku hendak membalas sapaannya sebelum Tania mendahului ku, Tania berjalan ke arah Raven membalas lambaian tangannya, dan Raven tetap menyapanya.
Apa ini? kenapa aku merasa kecewa? padahal Raven baik pada Tania, temanku. Tapi aku..
"Woah, ini pertama kalinya aku melihat Raven ramah seperti itu"
"Dia memang tidak ramah, tapi perlakuan nya sekarang itu bisa disebut ramah!"
"Ngomong-ngomong mereka terlihat seperti pasangan yang serasi bukan?"
"Tidak, Raven itu milikku"
"Tapi kau pernah bilang kau membenci orang yang kasar"
"Tidak apa-apa, Raven pengecualiannya"
Pasangan serasi ya? Aku memperhatikan Raven dan Tania, benar juga mereka terlihat serasi. Tania juga menyukai Raven, dan Raven memperlakukan Raven dengan cukup ramah, apa Raven menyukai Tania?
Ah, kenapa aku harus memikirkan itu sekarang? Sudahlah aku harus pergi.
Sebelum beranjak pergi, ku tatap Raven sekali lagi, dan tatapan kami pun tak sengaja bertemu. Aku sedikit melambaikan tangan padanya setelah itu pergi.
__ADS_1
...
...
...
Aku berjalan di trotoar saat aku berpapasan dengan salah satu teman Raven, Hanz.
"Oh? Lily, selamat pagi" sapa Hanz yang entah kenapa terlihat terkejut melihatku.
"Selamat pagi" balasku.
"Ummm itu.... apa kau tadi bertemu Raven?" tanya Hanz.
"Ya, tadi dia ke asrama perempuan, sepertinya dia punya urusan disana" jawabku.
"Eh? o-oh begitu...."
Kami berdua berjalan bersama menuju kampus dengan suasana yang sedikit canggung. Masalahnya ini kedua kali aku berbicara dengan Hanz, kemarin-kemarin aku berbicara dengannya, tapi tidak begitu canggung karena ada Lion. Dan sekarang hanya kami berdua.
Sesampainya di kampus aku berpamitan dengan Hanz. Begitu juga dia.
"Baiklah, aku juga" ucap Hanz lalu pergi.
Aku berjalan ke gedung jurusan teater lalu berpapasan dengan Lia, setelah itu Ray.
"Hmm Hai" balasku. Lalu aku melihat Lia yang memasang raut wajah penasaran. Lia pasti kebingungan kenapa Ray menyapa ku.
"Ray, ini temanku Lia dia anggota jurusan teater, dan Lia, ini Ray dia temanku, kami kenal dari SMA" jelas ku.
"Oh, salam kenal" ucap Ray.
"Wah, salam kenal juga" balas Lia.
Sebelum kami pergi ke kelas masing-masing, kami sedikit mengobrol, yahhh hal-hal ringan. Sampai sorot mata ku terarah koridor seberang sana, Raven sedang berjalan ke arah jurusan musik dan Tania dibelakang nya.
Lalu Tania memisahkan diri dan pergi bersama teman-temannya. Apa Raven dan Tania berangkat bersama? Itu bagus.
'Drrrrt'
Aku menyalakan handphone, aku menerima pesan dari Raven yang bertuliskan.
"Aku akan menulis ulang lagunya, siang nanti datang lah ke ruang latihan ku."
Dia menulis ulang? Baguslah, aku akan datang.
"Lily, kenapa kau diam saja?" tanya Ray penasaran.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, kalau begitu aku pergi duluan ke kelasku ya" ucapku lalu meninggalkan mereka.
...
...
...
Sudah siang hari dan kelasku sudah selesai, aku berjalan menuju gedung jurusan musik, apa Raven sudah ada disana? Ya, tentu saja. Aku yakin dia bolos lagi.
Padahal kami seangkatan, tapi aku sangat jarang melihat Raven di kelas dari tahun lalu sampai sekarang.
Aku melewati gedung jurusan sastra dan berpapasan dengan Hanz.
"Oh, hai Lily" sapa Hanz.
"Oh hai" balasku.
"Kau akan pergi menemui Raven kan, aku juga" ujar Hanz.
Sesampainya di ruang latihan pribadi milik Raven, aku hendak mengetuk pintu.
"Langsung masuk saja" ujar Hanz lalu membuka pintu dengan keras.
Kami masuk kedalam. Disana Raven duduk didepan meja sambil mengucek matanya. Mungkin dia terbangun karena suara pintu tadi.
"Huh? Oh Lily" seru Raven kepada ku, mengabaikan Hanz yang hendak menyapa nya.
"Ayo dengarkan setengah lagu yang ku tulis" ucap Raven lalu duduk didepan piano. Aku pun pergi duduk disebelah Hanz untuk mendengarkan permainan piano milik Hanz.
Raven memulai permainannya dengan nada yang lembut. Entah kenapa suara yang kudengar sedikit tenggelam.
Disana dia bersinar, seperti satu-satunya lilin dia goa yang gelap gulita. Apa aku buta? aku tidak tahu. Aku hanya yakin semuanya terasa berbeda. Apa itu karena musiknya? gerakan jarinya? atau ekspresi nya yang begitu menyerapi?
Aku tenggelam dalam pikiranku sampai suara tepuk tangan membuatku sadar.
"Kerja bagus Raven" seru Hanz sambil bertepuk tangan.
"Apa itu cukup bagus?" tanya Raven menatapku.
"Ya itu cukup bagus" balasku dengan sedikit terkekeh. Jujur saja, aku tidak begitu mendengar permainan pianonya, aku terlalu terpesona. Terpesona?
"Lily, apa kau bisa bermain piano" tanya Hanz mendadak.
"Oh ya, aku bisa bermain piano, memangnya kenapa?" tanyaku.
"Bagaimana jika kau memainkan lagu yang Raven mainkan? maksudku disini kita bisa menyebut kalian partner, kau tau partner yang kumaksud kan? dengan memainkan lagu yang sama mungkin saja setengah lagu yang lain tiba-tiba terdengar lagi di kepala Raven, oh apa kau belum tau itu? seperti inspirasi, saat Raven mendapatkan inspirasi dia mendengar lagu berputar didalam pikirannya, ya seperti itu. Jadi maksudku-"
__ADS_1
"Ya ya, baiklah hahaha, sudah cukup, aku akan memainkan nya" balasku memotong penjelasan panjang lebar Hanz. Aku sedikit terkejut, diantara mereka Hanz adalah yang paling tenang, ternyata tidak.