Menjadi Inspirasimu

Menjadi Inspirasimu
Cemburu #2


__ADS_3

Setelah mengantar Lily sampai naik lift, aku mencari toilet dan membasahi bajuku, setidaknya sampai itu sedikit bersih. Setelah itu aku memesan taxi untuk pulang, bukan, maksudku menginap di rumah Hanz.


Sesampainya didepan rumah kulihat lampunya masih menyala, kurasa dia belum tidur. Aku masuk kedalam rumah, melepas atasanku dan langsung melemparnya ke tempat pakaian kotor. Hanz menuruni tangga.


"Kenapa kau baru pulang?" tanya Hanz.


"Aku mengantar Lily" jawabku.


"Kalau bagian itu aku tau, aku yang menyuruh mu mengantarnya. Maksudku kenapa lama sekali?" jelas Hanz.


"Kami jalan kaki"


"Oh, jalan kaki. APA? LALU BAGAIMANA DENGAN MOTORKU?"


"Masih ada di tempat parkir" jawabku mengambil air minum dari kulkas.


"Kau, ah kau yang benar saja! Bagaimana jika ada yang mencuri nya?"


"Tenang saja, aku akan membelikan mu yang baru. Hey, lemparkan handuk disebelah mu" Hanz melempar handuk disebelah nya padaku.


"Dasar orang kaya, ngomong-ngomong bau apa ini? ugh, apa kau sedang diare?" tanya Hanz dengan raut muka jijik. Hanz melihat tempat pakaian kotor dan mulai mengeluh lagi.


"Kenapa kau tidak langsung memasukan nya ke mesin cuci bodoh?" ucap Hanz sambil memasukkan bajuku kedalam mesin cuci.


"Agar kau yang melakukannya" balasku membuatnya berdecak kesal.


"Hey, tapi apa kau benar-benar diare? jika iya jangan gunakan kamar mandi yang di lantai 1 atau 2, gunakan yang di belakang rumah"


"Sialan, kau menyuruhku untuk menggunakan kamar mandi yang rusak itu?!"


"Ya" jawabnya santai membuatku berdecak kesal.


"Lagipula aku tidak diare, Lily demam dan dia tidak sengaja muntah" jelasku. Mendengar itu dia langsung menutup mulut.


"APA DIA BAIK-BAIK SAJA?" tanya Hanz seperti khawatir.


"Hanya demam, tapi kenapa kau sampai seperti itu?" tanyaku, apa-apaan dengan reaksinya yang berlebihan itu.


"Tentu saja, aku khawatir!!" perkataan nya itu membuatku mengerutkan alis.


"Apa maksudmu?" tanyaku berjalan kearahnya.

__ADS_1


"Huh? Eyy eyy, tenang jangan salah paham begitu. Aku hanya khawatir kau menyakitinya" jawabannya itu membuatku lebih bingung lagi.


"Kau tidak ingat? kau pernah menghajar seseorang hanya karena tidak sengaja menumpahkan minuman nya ke pakaian mu" ah, sekarang aku mengingatnya.


"Kalau dipikir-pikir dulu kau sangat sulit mengendalikan amarahmu, tapi sekarang angry issues mu sudah lebih baik, yaaaa sedikit. Sejak kapan itu lebih baik ya?" ujar Hanz dengan raut wajah yang sok penasaran. Aku mengabaikannya dan berjalan ke kamar mandi.


"Ah benar, itu semenjak kau mendapat inspirasi lagi kan? LILY KAN!!" aku langsung menutup pintu dengan keras.


"Pffffft, harusnya tadi aku mengambil fotonya, wajah Raven tadi sangat merah"


...


...


...


...


"Hah? Apa-apaan ini masih jam 9 pagi, mau kemana kau?" tanya Hanz yang baru bangun dari tidurnya.


"Aku akan pergi ke kampus"


...


...


Aku turun dari taxi, aku melewati gerbang kampus dan sekilas melihat tempat parkir. Baguslah motor Hanz masih ada di sana.


Aku berjalan masuk menyusuri koridor gedung utama menuju gedung jurusan musik. Tadinya kupikir tidak akan ada orang gila lain yang masuk kampus di jam sepagi ini. Tapi ternyata ada beberapa mahasiswa.


Sampai di gedung jurusan musik aku langsung masuk ruang latihan pribadi milik ku, aku berniat untuk memainkan lagi lagu yang kubuat. Tidak, maksudku yang kudengar. Tadi malam aku sempat mendengarnya, dan itu lumayan lama.


Aku mendengarnya saat menggendong Lily di punggung. Selama perjalanan menuju asrama, aku terus mendengar lagu itu, meski samar aku masih ingat seberapa indah lagu itu. Sebelum tidur aku sudah melanjutkan bait itu dan aku akan memainkannya sekarang.


Aku duduk didepan piano dan meletakkan kertas didepan. Dan aku mulai memainkan tangga nada yang tertulis di kertas itu. Persis, inilah yang kudengar.


Bagaimana cara mendeskripsikan perasaan yang sedikit menganggu ini ya? Rasanya seperti memakan sesuatu yang manis, sangat enak sampai kau tidak bisa berhenti memakannya, dan itu membuat gigimu sakit.


Apa penjelasan itu sulit dipahami? Bagaimana dengan deskripsi lain, seperti saat kau melihat sesuatu yang cantik, saking cantiknya membuatmu tidak ingin membuang waktu untuk berkedip dan terus melihatnya, itu membuat matamu sakit.


Entahlah, aku juga tidak tau cara mendeskripsikan perasaan ini.

__ADS_1


Kurasa sudah lewat beberapa menit, aku memeriksa handphone ku untuk mencari tau sudah berapa lama aku berlatih. Dan sekarang sudah jam 10. Biasanya Lily sudah ada di kampus, jadi aku pergi ke gedung jurusan teater untuk menemuinya.


Sebelum aku sampai di gedung jurusan teater, aku menerima pesan dari Lily.


"Raven, terimakasih sudah mengantarku tadi malam dan aku sangat sangat sangat sangat meminta maaf untuk...kejadian yang tidak mengenakkan tadi malam"


Dia tipe orang yang lebih suka berbicara secara langsung, jika dia mengirim pesan begini apa itu berarti dia tidak akan masuk kampus hari ini? Apa Lily masih sakit?


Kalau begitu aku akan menjenguknya. Aku berjalan melawan arah dan pergi ke tempat parkir, itu akan memakan waktu lama untuk berjalan kaki ke asrama perempuan. Ditengah perjalanan aku berhenti untuk membeli obat di apotek, tapi masalahnya, obat mana yang harus ku beli?


"Obat apa yang anda cari?"


"Obat demam"


"Apa ada gejala lain seperti batuk, dan diare jika iya anda bisa membeli obat tipe C. Jika gejala lain itu mual, anda bisa membeli tipe A, apabila ada gejala berat lain seperti-"


"Sudah hentikan, aku beli semua"


Aku hanya ingin membeli obat demam, menyusahkan saja, waktuku jadi terbuang.


...


...


...


Sesampainya di asrama perempuan, aku memarkirkan motorku dipinggir jalan. Berjalan masuk ke dalam dengan tas berisi obat ditangan ku. Kamar Lily yang di lantai 3 masih terlihat jika dari jauh sini.


Aku berjalan melewati gerbang dan kulihat pintu kamar Lily terbuka, Lily keluar dari kamar dengan..... seseorang.


Aku tidak begitu bisa melihat wajah pria itu. Mereka berbincang, tentu saja aku tidak mendengarnya. Kupikir mungkin itu seorang kenalan, atau mungkin keluarganya.


Tunggu...


Tapi apa-apaan itu? Kenapa dia memegang wajah Lily?


Ah tidak tidak, aku tidak boleh kesal. Ayolah, Lily bahkan belum menjadi pasanganku. Meski itu yang hatiku katakan, aku tetap memperhatikan mereka dari jauh.


Kurasa perbicangan mereka selesai? Lily masuk kedalam kamarnya dan pria itu pergi, aku melihat sekilas wajah pria itu saat dia berbalik.


Apa itu Ray?

__ADS_1


__ADS_2