
Aku mencoba menenangkan diri di balkon. Namun kurasa, terpaan angin sejuk ini tidak cukup untuk menenangkan perasaan gelisah yang kurasakan.
Apa aku marah?
Kurasa begitu, hatiku terasa sangat tidak tenang. Apa ya? Aku merasa kesal, tapi aku menjadi lebih kesal karena alasannya.
Ini sangat membingungkan, aku seperti merasakan semua emosi marah, sedih, gelisah. Rasanya seperti dulu...
Apa mungkin aku kembali seperti dulu? Orang menyebalkan, tidak bisa menahan emosi, orang yang selalu dijauhi. Apa aku kembali jadi orang yang seperti itu?
Saat ku tenggelam dalam pikiranku, kudengar suara pintu yang terbuka dan suara langkah kaki yang mendekat, aku berbalik untuk melihat asal suara itu.
"Hey Raven, dimana yang lain? apa mereka sedang ada kelas?" ujar Ray dengan santai berjalan ke arahku.
Tekanan darahku mendidih, kepalaku terasa sangat berat, rasanya seperti akan pecah. Aku sangat kesal, semua emosi yang ku tahan, rasanya seperti akan meledak.
"Huh? Raven, kau sangat berkeringat, apa kau baik-baik saja?" ucap Ray tepat di depanku, tangannya bergerak kearah ku, aku langsung menepisnya.
"Eh? Kenapa kau seperti itu? Apa kau demam?" tanya Ray terkejut. Dia menyentuh keningku untuk memeriksa suhu tubuhku, dan aku segera mendorongnya sampai ia terjatuh kebelakang.
"ADA APA DENGANMU?" teriak Ray kesal lalu bangkit. Aku mendekat kearahnya, ku angkat kerah bajunya.
"Brengsek, apa kau tau apa yang sedang kau lakukan sekarang?" ujar Ray kesal. Aku mencengkeram erat kerahnya.
"Raven, apa kau kesal? Ha, aku penasaran, kenapa kau sangat sering memukul orang lain? apa kau hanya ingin bertingkah seperti preman?"
Ray mendorongku dan melepaskan diri dari cengkraman tangan ku. Dia menarik ku kembali lalu memukulku tepat di ulu hati. Aku menarik tangannya lalu mengangkatnya ke punggung dan ku lemparkan ke lantai.
Dia mengunci pergelangan kaki kanan ku dengan kedua kakinya dan mendorong kebelakang sampai aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Dia langsung bangkit menaiki tubuhku dan memukul wajahku.
Aku membalikkan posisi kami, dan sebelum aku memukulnya..
"RAVEN, HENTIKAN!!" ucap seseorang yang berlari kearah kami dan langsung memisahkan kami berdua, lalu membantu Ray untuk berdiri. Itu Lion.
"Kenapa kalian berkelahi?" tanya Lion.
"Huh? apa yang terjadi? Hey, kenapa kalian berdua terluka?" tanya Hanz yang baru datang dan berlari kearah kami berdua.
"Apa kalian berkelahi?" tanya Hanz lagi. Aku pergi dari sana meninggalkan mereka bertiga.
"Eh, tunggu Raven!!"
"Lion, aku akan coba menenangkannya dulu, kau bawa Ray ke UKK(Unit Kesehatan Kampus)"
"Baik"
...
__ADS_1
...
...
Sudah setengah jam berlalu sejak aku masuk ke ruangan ini, ruangan yang harusnya ku gunakan untuk berlatih. Aku berbaring di sofa menghadap ke dinding, ku dengar pintu terbuka. Tanpa melihat pun aku tau, itu Hanz.
Hanz menutup pintu perlahan, melihat ruangan yang kacau ini. Kursi tergeletak dan tak tersusun rapi, kertas tangga nada yang berserakan di lantai, dan beberapa figur kecil yang harusnya ada diatas meja tapi malah ada dilantai.
Hanz menghela napas, mengambil kursi yang tergeletak dia meletakkan kursi itu di dekatku.
"Apa kau baik-baik saja?" ujar Hanz membuka percakapan. Aku bangkit dan duduk menghadapnya.
"Bagaimana menurutmu?" ucapku menurunkan tangan yang sedari tadi ku letakkan diatas kepalaku untuk menutupi wajahku yang sekarang terlihat kacau. Dia membelalakkan mata dan detik kemudian tertawa.
"Apa-apaan, kau terlihat sangat kacau"
"Sialan, lempar kotak tisu itu" Hanz melemparkan kotak tisu diatas meja padaku. Inilah kenapa daritadi aku enggan menunjukkan wajahku, reaksinya ini memang sangat luar biasa menyebalkan nya. Aku mengelap pipiku yang basah karena air mata dan keringat.
"Minum ini" ucap Hanz melemparkan sebotol minuman. Aku meminumnya.
Suasana hening sesaat.
"Hei, apa aku teman yang buruk?"
"Huh?"
"Apa menurutmu aku teman yang buruk?"
"Aku tidak bisa menahan amarahku, dan aku selalu melampiaskannya pada kalian. Tadi saja aku memukul Ray hanya karena cemburu, sangat memalukan"
"Jika kau bertanya tentang menahan amarah, menurutku kau memang sulit untuk mengontrol emosi mu, dan terkadang melukai orang-orang terdekatmu. Tapi itu bukan berarti kau teman yang buruk, kau hanya perlu bantuan, dan aku disini ingin membantumu"
"Pertama, biarkan aku mendengar alasan kau marah pada Ray" lanjut Hanz. Aku pun menceritakannya pada Hanz.
...
...
...
"GILA, SI BRENGSEK ITU KENAPA MENDATANGI LILY? PADAHAL DIA TAU KALAU KAU MENYUKAI LILY" sial, dia terlalu berisik.
"Tunggu, apa mungkin mereka berteman?" tanya Ray.
"Hmm ya, Lily bilang mereka teman dari SMA" jawabku.
"Oh, tapi kenapa Ray tidak memberitahu kita?" tanya Hanz lagi.
__ADS_1
"Entahlah" balasku malas.
Drrrrt drrrrrt
"Huh? apa itu alarm? kau ada kelas?" tanyaku pada Raven yang memeriksa handphone nya.
"Yahhh kurasa begitu, tapi tidak masalah. Aku teman yang baik, aku rela bolos kelas untuk menemani temanku" ujar Ray. Tak berselang lama, Ray melompat dari kursinya.
"Maaf Raven, aku harus pergi!!!!" ucap Hanz panik.
"Dimana teman yang rela bolos demi menemaniku itu ya?"
"Aku tau, aku tau! tapi ini mata pelajaran Mr.John, aku tidak ingin mendapat masalah" ucap Hanz berlari keluar ruangan. Dasar.
Tapi kurasa aku sangat beruntung memiliki teman seperti Hanz, Lion dan...Ray. Kurasa aku harus meminta maaf pada Ray nanti. Ugh aku lelah, biarkan aku tidur sebentar.
...
...
...
Hari sudah sore, aku berjalan menuju gedung jurusan teater seperti biasa. Aku masuk kedalam gedung, dan mereka sedang latihan pertunjukkan, sesaat setelah melihat mereka, aku baru teringat kalau Lily masih sakit dan tidak ada disini.
Tapi aku sudah terlanjur ada disini, jadi kurasa tidak masalah untuk melihat latihan mereka. Aku duduk dikursi yang memang sudah seperti milikku ini, menonton pertunjukkan mereka, meski terasa sedikit berbeda karena yang memerankan tokoh utama bukan Lily, melainkan Lia.
...
...
...
Aku menonton pertunjukkan sembari bermain handphone, begitu aku melihat kembali pertunjukkan, mereka sudah selesai latihan. Aku beranjak dari tempat duduk ku, berniat untuk keluar dari gedung dan pulang.
"Raven" panggilan itu membuatku berhenti. Itu Lia.
"Haha, kau mungkin tidak tau, Lily tidak masuk hari ini karena sakit, jadi aku yang menggantikan posisinya" ujar Lia.
"Aku tau" balasku.
"Oh begitukah, ngomong-ngomong bagaimana menurutmu aktingku tadi?" tanya Lia.
"Tadi itu keren" balasku. Aku tidak bohong, tadi memang keren, yahhhh meski aku hanya menonton bagian awal.
"Haha, baguslah. Kau akan pulang kan? kalau begitu pergilah, maaf menahan mu" ucap Lia.
"Ya, tidak masalah, sampai jumpa" balasku.
__ADS_1
"Sampai jumpa"
Aku keluar dari gedung jurusan teater, dan berjalan menyusuri koridor.