
Celine menghela napas pelan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan. Pantas saja banyak yang iri dan menyayangkan mengapa Putra Mahkota sekaligus Jenderal besar mendapat istri seperti ini. Celine memukul-mukul kepalanya pelan.
Celine mendongak mencoba mengamati penampilan Choi Pi Nan. Di sana di tengah ruangan, tampak seorang lelaki berpenampilan halus. Wajahnya seperti 'oppa-oppa' Korea. Tipe yang halus dan pintar. Berbeda jauh dengan Jenderal Zhou yang berwajah tegas, tenang dan kejam.
'Oh kenapa aku jadi membandingkannya dengan si mesum itu' Celine menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hormat pada Putri Mahkota" tiba-tiba sapaan dari mulut itu ditujukan pada Celine.
Celine mendongak dan matanya bertatapan dengan mata pria itu.
Deg…..andai saja belum menikah, Celine pasti mau kabur dengan lelaki tipe begini. Celine menggelengkan kepalanya singkat.
Celine mengangguk menanggapi sapaan dari Choi Pi Nan. Hening selama beberapa saat, karena Celine tidak tau harus berkata apa, dan Choi Pi Nan yang tampak salah tingkah.
Tiba-tiba Han Lu Yu datang, dia menggelayut manja pada Choi Pi Nan. Dia tampak akrab sekali. Sungguh menjijikkan.
"Kakak, apakah kau lupa pada kakak Choi? Dulu kalian sering bermain bersama bahkan berjanji untuk saling menikah" Han Lu Yu seperti sengaja mengingatkan Celine pada kenangan masa lalunya.
Padahal di sana terselip niat membunuh yang tersirat. Jika sampai suaminya, Jenderal Zhou, yang kejam itu tahu dan percaya cerita Han Lu Yu, pasti Celine akan terbunuh seketika. Oh mengapa tengkuknya mulai terasa dingin?
"Adik apa yang kau katakan? Aku tidak akan mengingkari berkat pernikahanku sejak aku masih kecil. Aku tidak akan pernah bicara seperti itu. Kami hanya berteman dan kau tahu pasti itu. Bukankah kau sering bermain bersama kami juga?" Celine menepis kata-kata Han Lu Yu dengan halus.
"Ya kakak, kalian sering bermain berdua, bahkan tanpa mengajakku…." Han Lu Yu mencoba memancing di air keruh.
"Itu tidak benar. Nyonya selalu membawaku kemanapun. Nona kedua jangan bicara ambigu yang bisa membuat orang lain salah paham!" Xixi maju ke depan membela Celine.
Xixi siap menjadi tameng bagi Celine. Xixi takut nona besarnya akan diapa-apakan oleh nona kedua. Jika hal itu sampai terjadi, bagaimana Xixi akan menghadap dan bertanggung jawab ke ibunya (ibu Xixi adalah pelayan ibu Celine). Ibunya berpesan agar Xixi menjaga nona besar Han dengan segenap jiwa raganya (sungguh pelayan-pelayan berdedikasi yang jarang ada di dunia ini).
"Dari mana datangnya pelayan tak tahu diri ini. Kakak, apakah kau bahkan bersembunyi di balik pelayan?" Han Lu Yu melotot sambil maju ke Xixi yang ada di depan Celine.
Celine maju menarik Xixi, agar mundur sejajar bersamanya.
__ADS_1
"Adik, apa yang kau katakan? Memang benar Xixi selalu bersamaku sedari kecil. Bagaimana mungkin kau berkata aku sering bermain hanya berdua dengan Tuan Choi Pi Nan? Perkataanmu sungguh sebuah fitnah bagiku" Celine berkata sambil meneteskan air mata.
'Han Lu Yu sialan, jika sampai serigala besar itu percaya fitnahan ini, hidupku dalam novel akan berakhir sengsaraaa' Celine mengumpat dalam hatinya.
'Dan Choi Pi Nan sialan ini malah diam seolah mengiyakan begitu saja. Baiklah aku akan melawan kalian!' tekad Celine.
"Nenek, ayah, kalian semua tahu aku agak hilang ingatan akibat kejadian itu. Apakah kalian percaya setiap omongan adik? Kata-katanya sungguh fitnah bagiku, jika Jenderal besar tahu dan percaya fitnah ini, khawatir ke depannya kediaman Marquis tidak akan ada lagi,,,,huhuuhuuu,,,," Celine menangis sambil memeluk kaki neneknya.
Jarak nenek dan Celine memang agak dekat. Jadi Celine bisa meraih nenek dan memeluk kakinya dengan gerakan cepat.
Semua terpana mendengar kata-kata Celine. Han Cya Lin yang bodoh sanggup memutar balikkan perkataan yang semula fitnah pada dirinya menjadi fitnah bagi istri Jenderal yang notabene adalah Putra Mahkota dan calon Kaisar kerajaan ini. Bahkan mengancam akan memusnahkan kediaman Han.
Marquis tidak bodoh. Dia segera menanggapi perkataan Celine. Dihampirinya Han Lu Yu dan ditariknya menjauh dari Choi Pi Nan. Lalu ditamparnya Han Lu Yu.
"Plaaakkkk"
Suara tamparan yang keras terdengar di dalam ruangan.
"Apa yang kau lakukan hingga mendidik putri tak berguna sepertinya? Mulutnya sangat kotor. Tampar putri tak berguna ini 20x" Marquis Han murka. pandangan matanya tertuju pada selir Yun.
Bagaimanapun harkat dan martabat keluarga Han tidak boleh hancur di tangannya, setelah susah payah leluhurnya membangun kemuliaan hingga seperti sekarang.
"A…apa…ayah aku tidak terima! Apa yang kukatakan adalah fakta,,,,,,ibu,,,,," Han Lu Yu menangis menghampiri ibunya yang berdiri diam mematung sambil menggertakkan gigi.
"Mohon ampun, Tuan, luka Han Lu Yu belum sembuh sepenuhnya. Mohon anda kurangi hukuman Lu Yu. Dia pasti bicara tanpa berpikir" selir Yun memohon pada Marquis.
"Hukuman dikurangi menjadi 15x, tapi ini terakhir kali dia berkata fitnah seperti itu" Hela napas Marquis terdengar lelah.
"Terima kasih Tuan" selir Yun membawa Han Lu Yu pergi ke halaman untuk melaksanakan hukuman keluarga.
"Ahh….ibu….apa yang anda lakukan. Tidak!!Jangan seperti ini!!!" protes Han Lu Yu tidak terima.
__ADS_1
"Diam kamu!" Jengkel selir Yun mulai menampar anaknya.
Dengan tatapan tak percaya Han Lu Yu menatap ibunya dan terdiam. Dan hukuman keluarga pun dimulai. Selir Yun mulai menampar anaknya sendiri. Itu lebih baik daripada Han Lu Yu ditampar orang lain. Setidaknya selir Yun bisa mengurangi tenaga tamparannya sehingga tidak terlalu sakit atau tidak akan terlalu meninggalkan bekas nantinya. Karena bagaimanapun wajah adalah aset seorang wanita.
Kembali ke aula jamuan teh, Celine yang masih memeluk paha neneknya masih melanjutkan akting menangisnya. Sebenarnya Celine mengantisipasi jika Choi Pi Nan mengajukan pertanyaan padanya.
"Sudah,,,,sudah jangan menangis,,,,semua sudah selesai. Bagaimana jika suamimu tahu kau menangis di kediaman Marquis? Apakah kau ingin seluruh keluarga dihukum?" Nenek membujuk Celine dengan suara lembut.
Marquis menepuk lembut bahu putrinya, bermaksud menenangkan dan menghibur. Perlahan Celine menghentikan akting nangisnya (padahal lagi seru hehehe) dan berdiri di samping ayahnya.
"Maaf, nenek, ayah, tuan Choi. Saya hanya tidak ingin Yang Mulia Jenderal Zhou salah paham padaku…." Sebelum kata-kata Celine selesai terdengar suara dari depan pintu aula.
"Salah paham tentang apa hhmmmm,,,,,istriku?" Tanda tanya menggantung dari suara iblis seperti tusukan tajam langsung di hati Celine.
"Jllleeebbbbb"
Mengapa Jenderal besar ini datang saat waktunya selalu tegang seperti ini? Tidak bisakah dia memilih datang di saat yang damai dan tenang??????
__ADS_1