Menjadi Istri Jenderal

Menjadi Istri Jenderal
Bab 37. Terbuka dan Saling Percaya (2)


__ADS_3

Setelah selesai makan dan meletakkan alat makannya, Celine memberanikan diri menatap mata suaminya. Tapi Celine langsung kehilangan kata-kata. Mereka bertatapan cukup lama. Zhou Ming tersenyum lembut.


'Uuuugggh' tidak kuat rasanya ditatap terus seperti ini. Celine menunduk malu.


"Bicaralah" bujuk Zhou Ming sambil mengangkat dagu Celine.


Celine menghela nafas dan mengatur detak jantungnya yang menggila karena senyuman Zhou Ming. Celine mulai bercerita. Awalnya dia bercerita tentang Han Cya Lin lama yang ditindas di masa lampau. Bagaimana dia diperlakukan di kediaman Marquis.


Lalu bagaimana Celine curiga jika penyakit misterius mendiang ibunya disebabkan oleh seseorang. Entah selir Yun atau selir Yingtsi.


Bagaimana Celine menyusun strategi ke kamar mendiang ibu bersama Yanzhi. Saat membicarakan hal ini, Celine menyempatkan diri berterima kasih pada suaminya, karena berkat Yanzhi mereka dapat mengambil petunjuk mengenai benda itu (surat di bawah kasur, baca bab30). Zhou Ming mengangguk mendengar ungkapan terima kasih istrinya.


Celine melanjutkan ceritanya. Dia menceritakan isi surat itu. Asal usul Jiu Yin, mendiang ibu Han Cya Lin. Celine juga menceritakan tentang sepupu mendiang ibunya Jiu Yan dan paman kakeknya yang ingin merebut kekuasaan. Sejak kakek Han Cya Lin pergi berkultivasi maka sejak saat itulah daerah Jiangnan menjadi berantakan.


Perebutan wilayah dan kekuasaan, serta ketidakpuasan akan kepemimpinan Jiu Yin sebagai orang yang ditunjuk master sekte sebelumnya (kakek yang pergi berkultivasi) adalah motifnya. Karena merasa tidak mampu memegang tampuk kepemimpinan sementara serta mencegah lebih banyak orang sekte terbunuh maka Jiu Yin memutuskan pergi berkelana. Surat itu memberikan petunjuk awal yaitu pohon persik. Berdasarkan jumlah surat 3 lembar,tanggal pembuatan surat 6 tahun lalu, yaitu saat Celine umur 9 tahun, Celine dapat menebak jika 9 menunjukkan jumlah pohon persik di kediaman mendiang ibunya. Dan jika ditarik garis persimpangan dari formasi maka akan ketemu titik tengah tempat benda itu berada.


"Dan kau menebak dengan tepat posisi benda itu, hanya saja tidak tahu cara mengambilnya sehingga berputar-putar konyol di tempat bukan?" Tebak Zhou Ming sambil mencubit gemas pipi istrinya.


"Ya, anda benar Yang Mulia" kata Celine sambil menepis tangan Zhou Ming dengan cemberut.


"Biarkan Hamba menyelesaikan dulu cerita Hamba" kata Celine.


"Hhhmmmm, baik lanjutkan" Zhou Ming berkata sambil menarik tangannya.


Pada akhirnya Jiu Yin bertemu dengan permaisuri Ruan (mendiang ibu Zhou Ming) dan bersahabat dengannya. Kemudian mereka berpisah dan menemukan jodoh masing-masing, akan tetapi mereka terus mengingat satu sama lain, sehingga saat permaisuri Ruan mengetahui bahwa Jiu Yin memiliki anak perempuan mereka berdua sangat senang. Akhirnya berkat pernikahan Zhou Ming dan Han Cya Lin diturunkan.


"Jadi mendiang ibu kita bersahabat?" Tanya Zhou Ming sambil menopang dagunya.


"Setahu Hamba seperti itu. Samar-samar Hamba teringat cerita mendiang ibu Hamba, sewaktu Hamba masih kecil. Mendiang Permaisuri Ruan adalah sahabat mendiang ibu Hamba" kata Celine.


"Memang isi surat itu tidak menceritakan secara detail bagaimana hubungan pertemanan mereka. Tapi sepertinya mereka adalah teman baik dalam suka dan duka. Sehingga ingin menjadi saudara selamanya dengan cara mengikat pernikahan anak-anak mereka" Celine menambahkan.


Celine membereskan kembali meja kecil, bekas alat makannya dan Zhou Ming ke atas meja makan. Dia berjalan menuju lemari tempat dia menyimpan tusuk konde yang menjadi tanda pengenal mendiang ibu Han Cya Lin.


Ditunjukkannya benda itu pada Zhou Ming. Zhou Ming meraih benda itu. Dia merasa tertarik. Dia meneliti dan melihat tusuk konde dengan cermat.


Tak perlu waktu lama Zhou Ming dapat menemukan tuas kuning kecil yang letaknya tersembunyi.


'Wah,,,Zhou Ming langsung dapat menemukannya dalam waktu yang sangat singkat? Teliti sekali dia' pikir Celine agak terkejut.


Saat Zhou Ming menekan tuas kecil itu, Celine memperingatkannya sehingga dia tanpa sadar berteriak,


"Hati-hati" sambil menjulurkan tangannya berusaha menjauhkan bagian tajam tusuk konde yang akan muncul. 

__ADS_1


"Hhhmmmm?" Zhou Ming melirik sekilas ke arah Celine.


Tangan Celine yang terulur malah ditangkap dan ditarik oleh tangan Zhou Ming yang bebas sehingga sekarang Celine berada dalam dekapan suaminya.


"Sraattt" pedang tajam kecil pertama muncul.


Zhou Ming menaikkan alisnya dan menekan tuas kedua kalinya.


"Sraatttt" kali ini pedang pendek dengan ujung bergerigi.


Zhou Ming tersenyum. Sungguh peninggalan yang sangat berharga. Dikecupnya pipi kanan Celine.


"Benda yang sangat menarik. Setidaknya dengan adanya benda ini kau bisa mempertahankan dirimu sendiri kelak. Tapi,,,, kenapa kau berteriak? Kau mengkhawatirkanku? Atau kau memang sengaja melemparkan diri padaku?" Zhou Ming kembali mengecup pelipis Celine.


Meski hanya dengan satu tangan kiri suaminya, Celine tidak dapat membebaskan dirinya dari pelukan Zhou Ming.


'Mengapa orang ini kuat sekali huhuhuhu' tangis batin Celine.


"Hamba takut jika senjata itu menumpahkan darah naga. Hamba tidak mampu menanggung resiko sebesar itu Yang Mulia. Jadi Hamba memperingatkan Yang Mulia" kata Celine sambil berusaha membebaskan diri.


'Oh tidak,,,,bukan adegan ini yang kuinginkan. Tolonglah!!!' batin Celine meringis dan menjerit ketakutan.


Dengan tekanan tuas terakhir, tusuk konde itu akhirnya kembali ke bentuknya semula. Zhou Ming menyerahkan tusuk konde itu kembali kepada Celine. Tangan kanan Celine menerima tusuk konde dari suaminya.


"Sraattt"


'Heh, sudah pulih ternyata' batin Zhou Ming menyeringai senang.


Jari-jari tangan kanan Zhou Ming segera merapat dan memukul pergelangan tangan Celine yang membawa tusuk konde. 


"Klontangg" tusuk konde itu terjatuh.


Lalu dengan gerakan cepat kedua tangan Celine disatukan dan dipegang oleh tangan kiri Zhou Ming yang besar.


"Aduh" ringis Celine. Gerakannya terkunci. Kini dia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.


Zhou Ming memegang dagu Celine dan mendongakkannya padanya. 


"Kau berani menyerangku, hmmm istriku?" Kata Zhou Ming tajam sambil tersenyum.


"Tidak,,,tidak,,,itu tidak benar. Itu tadi hanya gerakan refleks Yang Mulia. Sejujurnya Hamba hanya ingin berlatih menggunakan tusuk konde dengan Anda" Celine berusaha menjelaskan dengan bodohnya.


'Jelas saja refleks mempertahankan diri jika situasi tidak menguntungkan akan terjadi. Tadi aku hanya mencoba saja, siapa tahu akan menang jika dia lengah, dan diriku terbebas, tapi ternyata,,,,,kegagalan sungguh menyedihkan, aku harus bersiap  disantap serigala besar ini lagi huhuhuhu' Celine memejamkan matanya.

__ADS_1


Dia takut akan hukuman karena berniat menyerang wajah Putra Mahkota.


"Kemajuanmu sudah cukup pesat, hanya saja perlu sepuluh ribu tahun untuk bisa mengalahkan ku, istriku" Zhou Ming mencium bibir Celine yang sudah menggodanya sedari tadi.


"Ummhhh" Celine membelalak kan matanya. 'Jangan lagiiiiii' batinnya kacau.


"Aku akan mengajarimu menggunakan benda itu nanti. Dan karena kulihat kau sudah pulih, sekarang saatnya melatih kemampuanmu yang lain" kata Zhou Ming sambil melanjutkan mencium Celine lagi.


"Tidak, aku belum pulih ummhhh,,,lepas,,,umhh,,,, Zhou,,,,ummmhhh" teriakan Celine dan percobaan melepaskan dirinya yang sia-sia mulai terdengar.


Zhou Ming membawa Celine ke kasur dan melanjutkan sesi mereka yang tertunda karena makan malam.




Pagi harinya Celine bangun lebih awal. Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Celine menyadari bahwa sosok Zhou Ming masih setia menempel padanya. Celine jadi mengerti bagaimana rasanya menjadi pengantin  baru.



Celine tidak berani bergerak. Celine takut membangunkan naga yang tidur. Tapi pergerakan kecilnya bisa ditangkap dengan mudah oleh suaminya.



"Ada apa istriku?" Zhou Ming mengecup telinga istrinya perlahan.



"Ehmm,,,Yang Mulia,,,tidak berangkat ke pengadilan?" Celine bergerak-gerak gelisah dalam pelukan Zhou Ming.



"Tidak,,,,hari ini aku akan menemani kamu seharian" kata Zhou Ming sambil memulai lagi apa yang sudah berulang kali dilakukannya.



'Oh tidaakk!!! Jangan lagiii!!!!'batin Celine.



Dan yahhh biarkan pasangan pengantin baru melaksanakan tugas dan kewajiban nya.


;););)

__ADS_1


__ADS_2