Menjadi Istri Jenderal

Menjadi Istri Jenderal
Bab 34. Tusuk Konde


__ADS_3

Setelah dirasa istrinya cukup kenyang, Zhou Ming meletakkan sumpitnya di atas meja.


"Setelah ini kami pamit undur diri Nenek, Ayah mertua" kata Zhou Ming sambil mengangguk.


"Baiklah, jika itu keinginan Yang Mulia. Jika di masa depan Putra dan Putri Mahkota ingin berkunjung kemari, pintu kediaman kami selalu menyambut kedatangan Yang Mulia" kata Marquis dengan hormat.


Dalam perjalanan menuju gerbang Kediaman Marquis, nenek memberi beberapa nasehat lagi pada Celine. Tentu saja seperti hormat dan patuh ada suami, sayang pada keluarga dll. Nenek meraih dan meremas tangan Celine, seolah menguatkan Celine dalam menempuh rumah tangga barunya. Celine mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Jangan khawatir nenek, Celine ingat semuanya. Jaga kesehatan nenek, ayah juga. Kalian semua juga. Terima kasih atas semuanya" Celine berkata sambil memeluk neneknya.


Pelukan Celine disambut hangat Nenek. Semua yang melihat tampak mengerutkan dahi. Perlakuan Celine terlihat tidak wajar karena tidak ada yang berbuat seperti itu di zaman itu.


"Ekhem,,,," batuk Zhou Ming segera menyadarkan Celine. Dia segera menyadari kesalahannya.


"Putri teringat pada mendiang ibu, jadi aku memelukmu Nenek, maafkan sikap Lin'er" kata Celine halus.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Nenek mengerti. Jaga dirimu baik-baik" pesan nenek.


Celine mengangguk. Kemudian dengan bantuan suaminya Celine naik ke dalam kereta kuda. Barang-barang yang tersisa diangkut ke dalam kereta.


Perjalanan ke kediaman Putra Mahkota kurang lebih selama 4 km (jika berdasarkan perhitungan modern). Celine yang sangat mengantuk langsung tertidur di dalam kereta.


Beberapa saat kemudian Zhou Ming mencoba melihat kondisi Celine. Dia mengarahkan kudanya ke dekat kereta Celine. Dibukanya jendela kereta itu. Terlihat Celine sedang tidur dalam posisi duduk.


'Hehh,,,tidur dalam posisi seperti itupun dia bisa?' sambil tersenyum sedikit dan menaikkan alisnya Zhou Ming menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku istrinya itu. Diapun terbang masuk ke dalam kereta. Meraih Celine dan membaringkannya dalam pangkuannya. Sementara kuda putih kesayangannya diurus Li Ping.


Zhou Ming membelai pipi Celine dengan sayang. Sesaat kemudian terdengar suara lirih Celine.


"Ibu,,,ayah,,,kapan kalian kembali" suara Celine lebih seperti bisikan.


Zhou Ming mengerutkan keningnya.  Dicobanya mendengar lebih jelas lagi kata-kata Celine. Tapi mulut Celine tertutup rapat tidak mengucapkan kata-kata lagi.


Zhou Ming terpaku sambil menatap wajah tidur istrinya. Ternyata apa yang didengarnya beberapa hari yang lalu benar adanya. Tapi mengapa Celine terdengar sedih sekali dalam memanggil kedua orang tuanya? Wajar jika rindu pada mendiang ibunya yang sudah meninggal, tapi bukankah baru saja dia bertemu ayahnya? Marquis? 

__ADS_1


Zhou Ming merenung. Matanya menyipit curiga. Teringat laporan Yanzhi beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa perubahan Han Cya Lin dimulai sejak nona besar kediaman Han itu jatuh dari pohon (baca bab 11). Terlintas di benaknya Han Cya Lin sebelum jatuh dari pohon sangat bodoh, ceroboh dan sombong, tapi setelah jatuh dari pohon Han Cya Lin lebih tenang dan pintar. Seperti dua orang yang berbeda. Dan beberapa malam ini, Han Cya Lin mengatakan tentang hal-hal yang tak dimengerti oleh nya sama sekali. Tampaknya jika kecapaian dia akan mengigau seperti ini.


'Istriku, aku semakin ingin mengetahui segalanya tentang dirimu' batin Zhou Ming sambil mengecup kening istrinya. Celine hanya merubah posisinya sedikit merasakan sentuhan Zhou Ming. Keheningan menyapu malam. Terdengar deru langkah kuda yang bergerak perlahan menembus malam.




Di kediaman Jenderal



Kereta kuda berhenti di depan gerbang. Ketiga pelayan segera turun dari kereta dan berniat membantu Nyonya mereka turun dari kereta. Gerakan ketiganya terhenti saat pintu kereta terbuka dan tampaklah Zhou Ming yang turun perlahan sambil menggendong istrinya.



Zhou Ming segera menuju ke kamarnya. Diletakkannya istrinya perlahan di atas kasur. Pintu kamar dia tutup perlahan. Setelah melepas jubah luarnya dan jubah luar Celine, Zhou Ming membaringkan dirinya di samping tubuh istrinya.




Sambil memeluk dan mencium pucuk kepala istrinya Zhou Ming mulai terbuai ke alam mimpi.



Keesokan harinya. Celine bangun saat matahari sudah cukup tinggi. Dilihatnya Zhou Ming sudah tidak ada di sampingnya. Dan tentu saja baju Celine berantakan seperti biasanya. Ulah suaminya seolah menjadi rutinitas baru bagi celine. Wajahnya memerah. Malu sekali rasanya. Akhirnya dia hanya menghela napas. Mencoba menenangkan diri serta mempersiapkan diri untuk hal yang lebih besar terjadi. Apalagi jika bukan suami yang menagih janji istrinya untuk berhubungan suami istri? Bukankah benda peninggalan mendiang ibu Han Cya Lin sudah ditemukan. 



Celine memegang kepalanya dengan kedua tangan dan menunduk lesu. Yah yang akan terjadi ya terjadilah.


__ADS_1


'Sekarang harus tahu dulu benda seperti apakah itu yang menjadi tanda pengenal ibuku' batin Celine mencoba menguatkan dirinya.



"Tok,,,tok,,,tok,,," terdengar suara pintu diketuk dan datanglah ketiga pelayan Celine untuk membantunya mandi, berdandan dan sarapan.



Setelah selesai makan, mandi dan berdandan, Celine duduk di depan meja rias. Diperhatikannya buntalan warna krem di depannya. Dengan perlahan tangan Celine mulai membuka kain itu. Terlihat kotak berwarna kuning di dalamnya. Celine memperhatikan kotak itu sebelum mencoba membukanya perlahan. Ada semacam mekanisme yang membuat kotak kuning itu tidak dapat dibuka dengan mudah. Celine melihat dan meneliti seluruh kotak. Mengetuk dan memperhatikan setiap perubahan kecilnya. Setelah berkutat dengan kotak itu selama 2 jam, akhirnya Celine dapat membukanya.



Di dalam kotak, ada kain beludru kuning yang membungkus sebuah tusuk konde. Celine mengambil tusuk konde itu. Tusuk konde membentuk bunga biru dan kupu-kupu berwarna perpaduan antara kuning, merah, dan hitam yang cantik. Ada 6 untai mutiara putih kecil menghiasinya. Di ujung tusuk konde ada sebuah manik kecil berwarna kuning yang tidak akan tampak jika tidak diperhatikan dengan seksama. Celine menekan manik itu dan,



"Sraat" bunyi benda tajam terdengar.



Muncul pedang kecil sepanjang telunjuk. Dengan kagum Celine memperhatikan benda itu. Dia mencoba menggunakannya. Sepertinya tusuk konde ini bisa digunakan sebagai senjata juga. Karena itu, tanda pengenal ini dijaga dengan sangat rahasia oleh mendiang ibu Han Cya Lin. Setelah puas Celine menekan manik kuning kecil itu lagi dan,



"Sraat" kali ini benda seperti pisau yang tebal dengan tepi yang agak bergerigi. Celine langsung dapat membayangkan benda kecil ini untuk apa, sebagai pengganti pisau buahnya (wkwkwkwk).



Sedikit senyum muncul di bibir Celine. Dengan menekan manik kuning kecil yang ketiga kali tusuk konde itu kembali ke bentuknya semula. Celine memperhatikan lagi tusuk konde itu dengan seksama. Di salah satu kelopak bunga yang ke 9 terdapat tulisan Jiu Yin. Tulisan itu akan samar-samar terlihat jika diarahkan ke matahari. Ternyata memang peninggalan yang sangat berarti.



Dengan hati senang dan puas Celine mengembalikan lagi tusuk konde itu ke kotaknya, kemudian dia berjalan menuju lemari pakaiannya. Berniat untuk menyimpannya disana.

__ADS_1



;););)


__ADS_2