
Kedekatan pasangan pengantin baru di depannya membuat Choi Pi Nan merasa sedih dan kecewa di dalam hatinya. Tapi di permukaan dia tidak menunjukkannya. Dia tetap tenang.
Sejak awal bertemu Choi Pi Nan sudah merasa tertarik pada nona besar Han. Waktu itu Choi Pi Nan ikut ayah ibunya berdagang ke selatan. Usia Choi Pi Nan 14 tahun. Ketika terjadi perampokan kebetulan mereka bertemu rombongan Nyonya besar Han yang baru saja pulang dari kuil untuk berdoa demi kesembuhan menantunya (ibu Han Cya Lin).
Dan di sanalah mereka bertemu. Han Cya Lin yang berusia 8 tahun tampak bergelayut manja pada ibunya. Ibu Han Cya Lin, Nyonya muda Han sangat cantik tapi terlihat pucat. Ternyata Nyonya muda Han menderita penyakit yang misterius.
Sejak saat itu setiap setahun sekali jika keluarganya berdagang ke selatan, mereka akan singgah dan tinggal sementara di samping kediaman Marquis Han. Dan Choi Pi Nan, Han Cya Lin, Han Lu Yu sering bermain bersama. Han Sheng Yi jarang ikut bermain bersama karena jarang diperbolehkan oleh Han Lu Yu sebab statusnya lebih rendah.
Tak terasa 7 tahun berlalu sejak peristiwa itu. Di saat usianya sudah menginjak 21 tahun awalnya dia akan pergi melamar nona besar Han. Meskipun dia tahu jika ada berkat permaisuri tetapi dia mencoba memberanikan diri untuk melamar. Tapi siapa yang tahu jika Kaisar menganugerahkan dekrit pernikahan yang membuatnya telat selangkah dari Jenderal Zhou???
Dengan pandangan sendu Choi Pi Nan menatap pasangan di depannya.
"Selamat atas pernikahan Putra Mahkota dan Putri Mahkota, semoga bahagia selamanya" Choi Pi Nan mengambil teh hijau dan bersulang menghadap Putra Mahkota.
Zhou Ming mengambil teh hijau dan bersulang dengan tidak melepaskan pelukannya di pinggang Celine.
"Terima kasih atas restu Tuan Choi Pi Nan, doamu kurang, kami berharap segera diberi keturunan juga" balas Zhou Ming sambil tersenyum.
Tubuh Celine yang ada dalam pelukan Zhou Ming semakin tegang. Apa-apaan orang ini. Kata-katanya fulgar sekali. Tanpa terasa pipinya merona.
"Aduh istriku sungguh pemalu. Semua masalah sudah beres mari kita duduk bersama menikmati teh dan bunga" lanjut Zhou Ming sambil menatap Marquis dan nenek yang diam sepanjang waktu.
"Baiklah, karena semua sudah beres mari kita lanjutkan acara minum teh kita" Marquis mengambil alih memimpin acara perjamuan.
Selanjutnya acara minum teh dan makan kue berlangsung meriah. Celine melepaskan diri dari pelukan Zhou Ming, setelah dirasa tangan Zhou Ming melonggar. Dengan cepat Celine langsung menjauh dan pergi ke bagian makanan.
Perutnya lapar sekali sedari tadi, tapi karena drama Zhou Ming yang memaksanya untuk ikut menyaksikan, perut yang melilit terpaksa dia tahan.
Melihat istri kecilnya melarikan diri, Zhou Ming hanya menyesap teh dengan perlahan, sembari melirik kepergian Celine. Yanzhi dan Xixi bergegas mengikuti Celine. Jangan sampai ada yang menindas dan mengganggunya dengan adanya Jenderal di sekitar. Bisa-bisa kepala mereka jadi taruhannya.
__ADS_1
"Yanzhi, bisakah kau masuk ke kamar ibu? Tolong selidiki terlebih dahulu, apakah ada yang menjaga kediaman ibu atau tidak? Kau lihat apakah bisa kesana tanpa ketahuan?" Celine memberi perintah pada Yanzhi sambil berbisik dan bersuara pelan.
Dia harus membuat rencana cadangan karena sepertinya berkunjung ke kamar ibunya tidaklah mudah. Setelah memberi hormat mengiyakan perintah Celine dan memberi peringatan Xixi untuk selalu berhati-hati, Yanzhi pergi.
Melihat Celine hanya ditemani seorang pelayan, yaitu Xixi, Han Sheng Yi merasa kesempatannya sudah tiba. Han Sheng Yi berjalan ke arah Celine. Xixi langsung waspada. Xixi tahu bahwa adik-adik nona besar, ataupun bahkan seluruh wanita di kerajaan ini sangat iri pada posisi Han Cya Lin.
Ketiga pelayan khawatir nyonya mereka akan tertindas dan tidak mampu melawan. Dan mereka berjanji dalam hati akan selalu menjaga Celine baik secara diam-diam ataupun terbuka.
"Salam kepada Yang Mulia Putri Mahkota" Han Sheng Yi menyapa Celine. Gayanya begitu halus. Lemah lembut. Dengan pakaian yang simpel tapi elegan.
"Hamba baik-baik saja Yang Mulia. Hamba dengar bahwa Yang Mulia hidup berbahagia setelah menikah. Hamba turut merasa gembira juga. Semoga Yang Mulia segera mendapatkan keturunan sehingga mengangkat derajat kediaman Marquis kita" kata Han Sheng Yi seolah-olah ikut gembira, padahal dalam hatinya rasa cemburu dan bencinya meningkat drastis hingga siap meletus kapan saja.
Celine yang mendengar doa dan pengharapan adik ketiganya menanggapi dengan tersenyum tanpa berkata-kata. Tak lama kemudian Choi Pi Nan tampak mendekat pada kakak beradik Han. Celine yang sibuk memilih makanan tidak sadar jika Choi Pi Nan mendekati mereka.
"Salam Putri Mahkota, hamba ingin menyampaikan selamat atas pernikahan kalian secara pribadi denganmu. Tidak ada maksud lain" buru-buru Choi Pi Nan menjelaskan begitu dia melihat gelagat Putri Mahkota yang akan segera meninggalkannya.
"Kamu sudah mengatakannya tadi sewaktu aku bersama suamiku" Celine yang sedari tadi makan tiba-tiba merasa mulutnya kering. Dia melihat ke sekitar.
__ADS_1
"Yang Mulia, ini ada teh hijau kesukaanmu. Kulihat kau sedang mencari-cari air untuk diminum" dengan wajah prihatin Han Sheng Yi menyerahkan teh hijau yang sudah diberi obat perangsang kepada Celine.
"Terima kasih adik ketiga" Celine langsung meminum teh itu hingga tandas.
"Nona besar, apakah kau ingat saat kita main bersama? Lukisan kupu-kupu yang saat itu menari bersama mu di padang bunga masih kusimpan rapi. Tidak kah kenangan saat itu berarti untukmu?" Choi Pi Nan berkata dengan penuh antisipasi di sana.
"Maaf Tuan Choi. Setelah jatuh dari pohon, ingatanku sedikit terganggu. Aku melupakan banyak hal. Termasuk kenangan pada saat itu" Celine merasa sedikit bersalah, tapi memang dia tidak ingat kenangan masa lalu bersama pria muda ini.
Tiba-tiba Celine merasa pusing. Celine berpegangan pada pinggiran meja. Xixi yang menemaninya segera menopang tubuh Celine.
"Nyonya,,,nyonya kenapa?" Xixi bertanya dengan panik.
"Yang Mulia, apa yang terjadi pada mu? Apakah kau merasa kurang sehat? Cepat antar Yang Mulia ke kamar tamu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini!" Perintah Han Sheng Yi pada Xixi.
Li Fan penjaga bayangan melihat nona ketiga Han itu mengedipkan mata pada seorang pelayannya. Segera saja pelayan itu mengangguk dan menunjukkan jalan pada Xixi dan Celine.
Celine merasa sangat pusing. Berdirinya mulai tidak stabil. Jalannya mulai sempoyongan. Tapi dia berusaha untuk tetap berpikir jernih. Sekelebat adegan terbayang di kepala Celine. Tapi samar-samar.
__ADS_1
Adegan dalam novel yang menceritakan penjebakan dirinya dalam kamar dengan laki-laki. Sial sungguh dia lupa akan hal ini. Apa yang harus dilakukannya???