
Tiba-tiba suara pintu terbuka perlahan. Celine yang sebelumnya sudah merasakan kehadiran seseorang langsung berpura-pura tidur. Posisinya yang membelakangi pintu tidak dapat melihat jelas siapa yang datang. Tapi dari ciri langkah kaki yang terdengar, Celine yakin itu adalah Zhou Ming. Suaminya, yang selalu saja kedatangannya sukses membuat jantung Celine berdegup lebih kencang dari biasanya.
Zhou Ming menutup pintu dengan perlahan. Dilihatnya Celine sudah tidur sambil membelakanginya.
'Dia sudah tidur sungguhan atau berpura-pura tidur? Sungguh istri imutku yang menarik' terbersit senyum di bibir Zhou Ming. Matanya menatap Celine dengan teduh.
'Apa yang sebenarnya dicarinya di dalam kamar ibunya? Apakah dia sudah menemukannya? Mengapa tidak sejak dulu saja dia mencarinya?' Zhou Ming duduk di tepi tempat tidur sambil berpikir.
Matanya tetap menatap dan menyelidiki Celine. Sebagai praktisi ilmu beladiri Zhou Ming dapat mendengar dan melihat dalam kegelapan. Matanya lebih awas daripada orang biasa. Zhou Ming dapat mendengar degup jantung istrinya yang berpacu dengan cepat. Yang menandakan pemiliknya gugup. Zhou Ming juga dapat melihat keringat menetes satu demi satu di dahi Celine.
'Heh ternyata istriku belum tidur' pikirnya sambil tertawa kecil.
Badan Celine semakin kaku mendengar suaminya tertawa kecil.
'Oh tidak, dia menyadari aku berpura-pura tidur. Apa yang sebaiknya kulakukan?' pikir batin Celine panik.
Secara perlahan Zhou Ming membaringkan dirinya di samping Celine. Tangannya meraih tubuh kaku Celine ke dalam pelukannya. Zhou Ming mengecup pelan pucuk kepala Celine.
'Tenang Celine, kamu harus tenang, tarik napas panjang secara perlahan. Pelan-pelan. Tenang' Memotivasi diri sendiri Celine semakin memejamkan matanya.
"Istriku, apa kau sudah tidur? Apa yang sebenarnya kau cari di kamar mendiang ibumu?" Zhou Ming bertanya.
Celine diam saja, 'Aku tidak akan terpancing untuk berbicara. Aku sudah lelah dan mengantuk' tekadnya.
Zhou Ming menghela napas. Mungkin istrinya belum mau terbuka padanya. Zhou Ming akan menunggunya. Pelukannya semakin mengerat. Dan akhirnya mereka berdua tertidur bersama sampai pagi.
Keesokan paginya Celine bangun lebih awal dari biasanya. Pikirannya yang ingin segera membuka hasil penemuannya bersama Yanzhi membuat tidurnya tidak tenang.
Celine membuka matanya perlahan. Dia mendapati benda berat di perutnya. Celine terkejut. Kepalanya menoleh sedikit dan mendapati wajah tampan Zhou Ming di sana. Untung saja dia tidak berteriak. Jika tidak akan heboh seisi kediaman Marquis.
Celine memutar tubuhnya dengan perlahan sekali. Posisinya sekarang berhadapan dengan Zhou Ming. Dapat dilihatnya wajah tampan Zhou Ming. Kulit putih. Alis tebal membentuk angka satu. Bulu mata yang panjang. Hidung mancung. Bibir tipis biasa. Rambut hitamnya yang ikal berombak terurai.
'Wah aku menikahi tokoh 2D yang tampan' Celine tersenyum tanpa sadar. Tangannya mencoba untuk mengelus pipi Zhou Ming. Tangannya tergerak di udara ketika,
"Puas melihat dan mengagumi wajah tampan suamimu hhhmmm?" Tiba-tiba suara rendah dan serak terdengar.
Celine terkejut. Dia segera berpura-pura tidur kembali. Dikatupkannya kedua matanya rapat. Tangannya segera kembali diam di dada Zhou Ming.
Zhou Ming perlahan membuka matanya, menampilkan sorot mata tajam seperti elang. Dia terkekeh pelan melihat polah istrinya.
__ADS_1
"Tidak mau melihat lagi, malah berpura-pura tidur? Bangun istriku, jika tidak aku akan memakanmu sekarang" ancam Zhou Ming.
Ancaman itu sukses membuat Celine membuka matanya. Bibirnya cemberut.
"Aku tidak berpura-pura tidur" jawab Celine ketus.
"Lalu apa yang kamu lakukan sebelumnya, hhmmm?" Tanya Zhou Ming.
"Hanya memandangi wajah tampan suamiku" jawab jujur Celine.
'Heh menarik. Kata-katanya jujur sekali' batin Zhou Ming.
"Jadi, apakah berarti istriku sudah siap memberikan cucu Kaisar?" Goda Zhou Ming sambil menatap Celine dengan jenaka.
Mata Celine melotot. Dengan segera dia berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Pelukan Zhou Ming bagaikan baja. Berusaha sekuat apapun Celine tidak akan bisa membebaskan dirinya. Akhirnya Celine menyerah, mengganti taktik. Negosiasi.
"Suamiku Jenderal Zhou yang agung dan tampan, kita belum begitu akrab. Bisakah anda menunggu beberapa waktu lagi?" Celine berkata dengan pandangan mengiba.
"Mengapa?" Tanya Zhou Ming sambil menatap istrinya jenaka.
"Ibuku sempat berpesan dalam mimpiku. Beliau memberiku sebuah benda yang tidak terlihat jelas dalam mimpi. Agar arwah mendiang ibuku tenang aku harus dapat menemukannya" Jawab tegas Celine.
"Jadi maksudmu semalam kamu dan Yanzhi pergi mengendap-endap ke kamar mendiang ibumu, untuk menemukan sesuatu petunjuk? Dan setelah benda itu ditemukan kita baru dapat melakukannya?" Zhou Ming bertanya sambil berpikir.
"Ahhhh,,,,,kamu tau!" Celine melotot tak percaya. Salah satu tangannya menutupi mulutnya.
'Betapa bodohnya aku. Jelas saja dia tahu segala gerak gerik ku, dia adalah Jenderal Zhou yang Agung' Celine menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya.
__ADS_1
"Baiklah biarkan aku ikut membantu mu mencarinya. Agar lebih cepat ditemukan" putus Zhou Ming kemudian.
"Tidak bisa suamiku, barang itu harus aku sendiri yang menemukannya" larang Celine dengan panik.
'Jika dengan bantuan Zhou Ming pasti akan lebih mudah ditemukan dan pasti dia akan menagih janji hhhhh' batin Celine kacau.
"Dalam mimpiku, mendiang ibuku berkata demikian" kata Celine dengan penuh penekanan.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan menunggumu" kata Zhou Ming sambil mengecup pucuk kepala Celine.
"Baiklah, aku harus ke pengadilan segera. Mana hadiahku pagi ini?" Tanya Zhou Ming kembali.
"Hadiah,,, hadiah apa?" Celine balik bertanya. Dahinya berkerut tanda berpikir.
"Cup" dengan gemas dan gerakan cepat, Zhou Ming mengecup pipi kiri Celine tiba-tiba. Setelahnya dengan gerakan cepat Zhou Ming pergi keluar kamar.
Celine yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Zhou Ming meraba kecupan di pipinya tanpa sadar. Dan setelahnya dia mulai berteriak,
"Aaahhhhhhhh,,,,,"
'Aku dimanfaatkan lagi, aku dianiaya di dunia novel huhuhu' ratapan hati Celine.
"Tok,,,,tok,,,tok,,,,"
Tak lama ketiga pelayannya datang membawakan sarapan, baju ganti dan peralatan 'make up' Celine. Seperti biasa ketiga pelayan tampak seperti menahan senyum melihat Nyonya mereka terbengong di atas kasur dengan raut wajah kesal, putus asa, serba salah dan tak berdaya. Pasti Tuan mereka telah berhasil menggoda Nyonya mereka.
Celine tampak pasrah pada nasibnya. Dia akan berusaha sebaik-baiknya hidup di dunia novel ini. Terutama demi tanaman-tanamannya yang akan segera membawa hasil baginya.
Setelah selesai sarapan dan berganti baju, ketiga pelayan segera undur diri mengerjakan tugas mereka yang lainnya.
Celine segera membuka hasil temuannya semalam. Diambilnya kotak kayu yang disembunyikan nya di bawah kasurnya. Memang tempat yang ceroboh tapi menurut Celine itu adalah tempat yang aman (author menepuk jidat). Tampak kotak kayu kecil di sana. Sekilas kotak itu tidak dapat dibuka. Tapi karena Celine terlalu banyak membaca cerita detektif di zamannya, masalah kecil itu bisa diselesaikannya dengan mudah.
__ADS_1
"Klak"
Bunyi kotak terbuka terdengar pelan. Celine membuka kotak itu dengan perlahan dan hati-hati. Di dalam kotak terdapat kertas-kertas yang sudah mulai menguning. Di atasnya terdapat tulisan yang tampak tak asing bagi Celine. Ternyata kertas itu adalah surat dari Jiu Yin, mendiang ibu dari Han Cya Lin.