Menjadi Istri Jenderal

Menjadi Istri Jenderal
Bab 31. Penyelidikan


__ADS_3

"Lalu?" Tanya Zhou Ming.


"Pergerakan yang timbul dimungkinkan diprakarsai oleh loyalitas raja sebelumnya tersebut.  Mereka ingin membangkitkan kembali kerajaan Timur dan menjadikan keturunan langsung kerajaan Timur itu menjadi pemimpin. Sekaligus merebut kerajaan kita Yang Mulia. Itulah hasil penyelidikan sementara Li Huo yang berhasil dilaporkan semalam" jawab Li Ping.


"Karena perbatasan Timur selalu dijaga ketat, Li Huo tidak dapat  menyampaikan laporan kepada anda secara langsung, Yang Mulia. Menulis surat pun takut diketahui musuh. Karena itu hanya dapat mengandalkan utusan khusus (telik sandi kalo di sini ya? Zaman dulu? Ehehehe entahlah) baru dapat melaporkan kemari. Jika situasi sudah sedikit aman Li Huo akan melapor pada Yang Mulia" jawab Li Ping kembali.


Zhou Ming mengangguk. Jadi kerajaan Timur mulai bergejolak lagi. Zhou Ming tidak suka dengan sikap Putra Mahkota kerajaan Timur yang sering mempermainkan wanita. Banyaknya anak terlantar juga merupakan sebab Zhou Ming menganggap kerajaan Timur sudah tidak dapat ditolong lagi. Jadi tindakan Zhou Ming sudah dianggap menolong rakyat kerajaan Timur. Sayang sekali beberapa golongan (terutama golongan yang loyal kepada raja karena ikut menikmati kekayaan dari menindas rakyat) ingin kembali mengalami masa kejayaan sebelumnya, dengan cara menjadikan keturunan raja sebelumnya naik takhta.


"Baik. Awasi terus dan laporkan segala yang terjadi. Suruh Li Huo untuk selalu berhati-hati. Keselamatan dirinya sendiri lebih penting" pesan Zhou Ming untuk bawahannya.


"Baik, Yang Mulia" jawab Li Ping.


"Sekarang kita ke istana" kata Zhou Ming.


"Baik, Yang Mulia" Li Ping segera mengikuti Zhou Ming yang sudah terbang keluar kediamannya menuju istana.


Di istana, pengadilan pagi berlangsung seperti biasanya. Selama Ayahnya menjadi Kaisar, dapat dikatakan semua berjalan dengan baik dan lancar. Dengan bantuan Zhou Ming di depan sebagai panglima perang, tentunya. 


Selepas pengadilan pagi, tanpa sengaja Zhou Ming berpapasan dengan putri Zxyo, adiknya dari selir.


"Salam, Kakak Putra Mahkota" sapa Putri Zxyo. Zhou Ming mengangguk sebagai balasan.


"Mengapa kamu berlarian?" Tanya Zhou Ming.


"Hamba mendengar jika kakak pertama akan lewat jalan ini, jadi Hamba berusaha mengejar kemari" jawab Putri Zxyo.


"Lalu?" Zhou Ming bertanya.


"Kapan kakak ipar akan ke Istana lagi? Aku tidak sempat bertemu lama dengannya. Aku ingin lebih mengenalnya. Siapa tahu kami bisa menjadi teman" Putri Zxyo menjawab dengan antusias. Terdapat sorot polos dan niat baik disana.


Putri Zxyo adalah anak dari selir kelima. Dia adalah satu-satunya putri dari ke 6 orang putra-putri Kaisar. Putri Zxyo adalah putri dari selir Kaisar yang mendapat pencerahan sehingga menjadi biarawati setelah melahirkan Putri Zxyo (namanya author skip biar g terlalu banyak tokoh, bikin pusing). Kepribadiannya yang  cerdas dan lugas menurun dari sang ibu. 


'Sepertinya dia akan cocok dengan Han Cya Lin yang sekarang' pikir Zhou Ming.


"Baiklah kapan-kapan akan kubawa kemari kakak iparmu. Tapi,,, mengapa tidak kau saja yang ke kediamanku menemuinya? Kupikir dia tidak terlalu senang masuk istana" jawab Zhou Ming.


"Wah,,,benar juga kata kakak Putra Mahkota. Ide bagus. Baiklah,,,, dalam beberapa hari aku akan ke kediaman kakak Putra Mahkota" putus Putri Zxyo.


"Baiklah. Aku pergi" kata Zhou Ming.


"Selamat jalan, Yang Mulia" kata putri Zxyo.


Menjelang siang Zhou Ming kembali ke kediamannya. Dia melanjutkan membaca beberapa laporan yang belum selesai dibacanya pagi tadi.


Beberapa waktu kemudian, setelah selesai mengerjakan tugasnya, Zhou Ming menarik laci meja belajarnya. Dari dalam laci diambilnya benda yang masih belum selesai pengerjaannya. Liontin Phoenix dan giok Naga. Dia tersenyum lembut menatap dua benda itu. Rasanya tak sabar memberikan tanda cinta tersebut pada istrinya.


'Aku ingin melihat seperti apa reaksinya nanti' pikir Zhou Ming dalam.


Zhou Ming mulai melanjutkan mengukir kedua benda tersebut dengan sepenuh hati.




Kembali ke kediaman Marquis.

__ADS_1



Celine yang telah membuka kotak perhiasan peninggalan mendiang ibunya memanggil ketiga pelayannya. Disuruhnya ketiga pelayan itu memilih beberapa perhiasan yang mereka sukai.



"Nyonya, ini tidak pantas. Perhiasan ini milik mendiang ibu Nyonya. Kami tidak pantas menerimanya" Xixi terkejut dan langsung menolak dengan segera.



"Ya, Nyonya. Ini tidak baik. Jika Tuan tahu, beliau akan menghukum kami semua" Yanzhi menambahkan.



"Kami dikira pencuri jika orang lain tahu Nyonya" Yunzhi juga menolak.



"Ini milikku sekarang. Ibuku juga pastinya setuju jika aku berbagi dengan kalian. Kalian sudah seperti saudara bagiku. Apa salahnya jika memberi sesama saudara. Lagipula perhiasan ini tidak apa-apanya jika dibandingkan perawatan kalian terhadapku selama ini" bujuk Celine pada ketiga pelayannya.



Celine terharu. Di dunia novel ini, penulis menggambarkan kesetiaan manusia yang jarang ada di dunia nyata. Ketiga pelayan ini adalah contoh pelayan yang bekerja tanpa pamrih dan tidak ada niat apapun kecuali kesetiaan pada tuannya.



Tanpa sadar wajah Celine memerah menahan tangis.




"Jika kalian benar menganggap ku Nyonya kalian, tolong ambillah beberapa perhiasan ini. Ibuku pun berpesan dalam mimpiku agar membaginya dengan orang yang kusayangi" kata Celine lagi.



Ketiga gadis pelayan Han Cya Lin saling berpandangan satu sama lain. Lalu tanpa bisa menolak lagi, ketiga gadis itu akhirnya memilih diantara perhiasan-perhiasan mendiang ibu Han Cya Lin. Atas desakan Celine, masing-masing pelayan memilih dua jenis perhiasan.



"Terima kasih Nyonya" jawab ketiga pelayan.



"Sama-sama. Sisa perhiasan itu bisa kita jual nantinya. Jika sewaktu-waktu kita membutuhkan uang. Xixi, tolong simpankan perhiasan itu untukku" kata Celine.



"Baik Nyonya" Xixi pergi menyimpan kotak perhiasan dalam lemari pakaian Celine.



Celine merenung. Mungkin sebaiknya sekarang dia pergi ke tempat nenek dulu. Bagaimanapun semalam dia meninggalkan jamuan teh dalam keadaan tidak sadar.


__ADS_1


Celine pun mengajak ketiga pelayannya pergi ke kediaman nenek. Tak lupa dia menyuruh Yunzhi membawakan kue kacang kesukaan nenek.



Sesampainya di kediaman nenek, terlihat nenek sedang duduk sambil ditemani bibi Xun.



"Yang Mulia Putri Mahkota, Lin'er cucuku, bagaimana kabarmu? Semalam kata Yang Mulia kamu tidak enak badan, jadi beliau mengantarmu ke kediamanmu dulu" nenek bertanya dengan cemas. Tampak jelas nenek mengkhawatirkan keadaannya.



"Salam nenek, Lin'er sudah tidak apa-apa. Berkat obat dari Yang Mulia dan istirahat yang cukup, Lin'er sekarang bisa berada disini menemui nenek" jawab halus Celine.



"Syukurlah jika begitu. Semalam ada kejadian memalukan bagi kediaman kita. Bersyukur kamu tidak melihatnya" sungut nenek.



"Kejadian apa nenek?" Celine berpura-pura terkejut dan bertanya pada nenek.



"Saudara tiri mu, Sheng Yi melakukan perbuatan yang sangat tercela!! Mungkin ini sudah kehendak langit. Dia dan Bo Tha Zi sama-sama mabuk hingga akhirnya berbuat hal yang sangat memalukan!! Pernikahan mereka diputuskan akan dilaksanakan sebulan lagi. Huh, anak itu!!" Nenek berkata sambil menghentak-hentakkan tongkatnya. 



Terlihat bahwa nenek kesal dan sangat menyayangkan hal semalam terjadi di acara perjamuan teh nya.



"Oh!!! Benarkah ada kejadian seperti itu nenek?! Mengapa adik ketiga sampai berani berbuat seperti itu? Tapi semuanya sudah digariskan. Semoga pernikahan itu akan membawa kebaikan bagi keduanya" doa tulus Celine.



"Yah, anak baik, semoga seperti itu" kata nenek dengan pandangan mata sayang pada Celine.



Setelah berbincang-bincang lagi selama beberapa saat, Celine berpamitan pada nenek. Dia berkata pada nenek, bahwa dia akan pergi ke kediaman mendiang ibunya.



"Ya pergilah, sayang" kata nenek.



Setelah undur diri dari  kediaman nenek Celine dan ketiga pelayannya menuju kediaman mendiang ibu Celine.



"Mari kita pergi ke halaman mendiang ibuku. Ada sesuatu yang harus kukerjakan" ajak Celine pada ketiga pelayannya.


__ADS_1


"Baik, Nyonya " jawab ketiga pelayan.


__ADS_2