Menjadi Istri Jenderal

Menjadi Istri Jenderal
Bab 32. Pohon Persik


__ADS_3

Kediaman Jiu~~~~


Celine kembali menatap papan nama yang terpasang di pintu utama. Di depan pintu gerbang tampak 2 orang penjaga dari kediaman Marquis.


'Berkunjung ke kediaman mendiang ibu saat malam hari dan siang hari jelas jauh berbeda' batin Celine.


"Putri Mahkota ingin memberi hormat pada mendiang ibunya" Xixi berkata pada para penjaga.


Kedua penjaga itu berpandangan dan mengangguk.


"Nyonya besar telah memerintahkan kami untuk membuka pintu kapan saja bagi Putri Mahkota" kata salah satu penjaga pintu.


"Silahkan Putri Mahkota" kata penjaga yang satunya lagi.


"Terima kasih" jawab Celine mengangguk sopan pada kedua penjaga pintu.


"Kreeeettt" suara pintu berderit terbuka, tanda bahwa jarang ada yang datang mengunjungi kediaman.


Celine tertengun. Celine dan ketiga pelayan langsung dihadiahi pemandangan yang sangat mengagumkan. Terlihat di sana pohon persik berjejer rapi. Tampak pohon persik mulai berbunga. Pemandangannya mirip dengan taman bunga sakura.



Beda antara bunga sakura dan bunga persik maupun bunga plum terletak pada tangkai bunga dan kelopaknya. Warnanya sungguh cantik. (Lebih jelasnya cek di google).



Celine melangkah memasuki kediaman mendiang ibu Han Cya Lin bersama ketiga pelayannya.


Celine memandang pohon persik itu dengan kagum. Selama hidupnya tidak pernah melihat taman bunga seperti ini. Baru di dunia novel inilah dia melihat secara langsung. Celine menghela nafas panjang.


'Bersyukur juga masuk ke dunia novel ini. Banyak hal-hal yang tidak pernah kujumpai di dunia nyata, tapi di sini aku bisa melihatnya' batin Celine.


Puas menikmati pemandangan di depan mata, Celine mulai berjalan-jalan di sekitar halaman tersebut. Tindakannya seperti sedang menikmati pemandangan bunga persik yang bermekaran. Dia melangkah, memutari dan menyentuh setiap pohon persik yang dilaluinya. Celine berjalan dari satu sisi ke sisi yang lain.


Pemandangan seorang wanita cantik di bawah pohon persik yang sedang berbunga sungguh indah. Di atas genteng kediaman Jiu, tampak sesosok laki-laki memandangi pemandangan itu. Rambut dan pakaiannya berkibar tertiup angin. 


Laki-laki itu tersenyum. Wajah tampannya begitu teduh. Terlihat dia sangat menyayangi wanita yang dilihatnya.


'Berdasarkan surat mendiang ibu Han Cya Lin, seharusnya tanggal pembuatan menunjukkan 6 tahun lalu, saat itu Han Cya Lin berumur 9 tahun. Jumlah surat ada 3 lembar. Disini ada 9 pohon sakura. Berjajar dan berbaris 3x3. Dimanakah benda itu dikubur?' batin Celine. Keningnya mengernyit beberapa kali. 


'Sepertinya di titik tengah ini. Di bawah pohon persik di tengah-tengah ini. Tapi bagaimana aku menggalinya, pastinya ditanam jauh di bawah pohon persik ini' Celine sesekali berhenti. Lalu diam seperti berpikir. Dia mengulangi tindakannya sebelumnya berulang-ulang.

__ADS_1


Tidak tahan akan perilaku istrinya Zhou Ming pun turun dari atas atap kediaman Jiu.


Celine yang sedang berkonsentrasi tentu saja tidak menyadari kedatangan suaminya. Ketiga pelayan mendapati isyarat dari Tuan mereka, untuk meninggalkan sepasang suami istri itu berdua di halaman kediaman Jiu.


Ketiga pelayan mundur meninggalkan halaman Jiu. Ketiganya tersenyum. Pasangan pengantin baru yang mereka layani sangat manis (hehehe).


Celine mundur beberapa langkah ke belakang.


"Bruuukkk"


Bunyi punggung Celine yang seperti menabrak sesuatu yang keras terdengar. 


Sedetik kemudian dia berteriak, kesal dan jengkel karena mengganggunya berkonsentrasi,


"Addduuuh, apa sih?"


Celine menoleh sewot, dan tertegun, matanya melotot, bibirnya menganga, lucu sekali melihatnya. Zhou Ming hanya mengangkat alis melihat reaksi istrinya,


'Istriku imut sekali' batin Zhou Ming sambil menahan tangannya yang gatal ingin mencubit pipi Celine.


"Eehh,,,kok kamu!!!" Sedetik kemudian Celine langsung memasang pose hormat dan berkata,


"Salam, Yang Mulia" dengan wajah tenang dan 'cool' tanpa rasa bersalah apapun.


Matanya memindai sekitar mencari keberadaan ketiga pelayan. Di 3 titik yang berbeda, di ujung kediaman ketiga pelayan itu berada.


'Mereka di sana ternyata. Apa serigala besar ini yang memberi perintah mereka pergi?' Celine menyipitkan matanya menatap Zhou Ming.


Zhou Ming yang sejak awal memperhatikan ekspresi istrinya merasa sangat tertarik.


'Menarik sekali istriku ini, perubahan ekspresi wajahnya bermacam-macam. Sungguh tidak bosan melihat dan memperhatikan nya' ujung bibir Zhou Ming tertarik sedikit.


Zhou Ming melangkah maju mendekati istrinya.


"Ehh,,,apa,,,apa yang anda lakukan?" Celine mulai mundur perlahan, dan dengan satu gerakan cepat tangan kanan Zhou Ming meraih dagu Celine membuat kedua pipi Celine menggembung lucu.


"Tadi kau memakiku? Di dalam hatimu?" Tanya Zhou Ming tajam.


"Yi,,ydak,, Yeng Meleya. Mee yeeyii mbe meleyken ell yepee te (Tid,,tidak,,Yang Mulia. Mana berani hamba melakukan hal seperti itu)" Celine mengelak halus.


"Hhhmmmm begitukah?" Zhou Ming meraih pinggang Celine dengan tangannya yang bebas.

__ADS_1


Celine panik berusaha membebaskan dirinya.


"Ie,,ie,,mbe yeyii meleyken (Ya,,,ya,,, Hamba tidak berani melakukannya)" Celine menegaskan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lalu apa yang kau lakukan di sini? Apakah barang yang kau cari sudah kau temukan?" Zhou Ming melepaskan tangannya yang memegang dagu Celine perlahan. Dicubitnya pipi yang sedari tadi menggodanya.


"Aww,,, sakit yang mulia,,,hentikan!" Setetes air mata Celine merembes keluar.


'Apa-apaan serigala ini, pipiku bukan bakpau dicubit-cubit segala' pikir Celine bersungut-sungut.


Melihat wajah istrinya yang memerah lucu seperti memakinya kembali, Zhou Ming memeluk Celine dengan kedua tangannya. Dibenamkannya kepala Celine di dadanya. Tidak tahan jika dia melihat istrinya seperti itu. Sungguh wajah yang sangat menggoda.


"Lalu apa yang kau lakukan dengan segala tingkahmu tadi,,,hhmmm? Bolak-balik, jalan mundur, lucu sekali aku melihatnya" kata Zhou Ming dengan lembut.


'Sialan, sedari tadi mengamati rupanya. Mengapa aku tidak sadar? Perbedaan ilmu beladiri yang sangaaat jauh. Hhhh Celine kau tidak akan menang melawannya. Dia adalah kawan sekaligus lawan besarmu huhuhuhu' Celine menangis darah dalam hatinya. Diusap-usapnya pelan pipinya yang lumayan sakit akibat cubitan Zhou Ming tadi.


"Memang benar hamba mencari barang peninggalan mendiang ibu hamba, dan memang benar hamba belum menemukannya" Celine menjawab.


"Apakah masih sakit? Sini kubantu meniupnya" Zhou Ming melihat Celine masih mengusap-usap pipinya semakin gemas.


"Tii,,tiddak,,," sebelum Celine selesai menjawab, tiba-tiba,,,


"Cuup,,,," bibir Zhou Ming mendarat di pipinya. Wajah Celine merah terbakar.


"Sudah tidak sakit lagi kan, istriku?" Tanya Zhou Ming.


Dalam pelukan Zhou Ming yang semakin mengerat, Celine menganggukkan kepalanya perlahan. Wajahnya dibenamkan ke dada Zhou Ming.


'Apa-apaan sih Jenderal Zhou yang agung kenapa membuatku malu sekaliiii??' batin Celine menangis.


"Jadi apa yang kau temukan? Ceritakan padaku?" Tanya Zhou Ming sambil mengecup puncak kepala Celine.


Celine menceritakan penemuannya yang berkaitan dengan pohon persik di depannya dengan perlahan. Zhou Ming mengerutkan kening.


'Isi suratnya tidak diceritakan padaku? Apakah dia masih belum percaya padaku? Baiklah kubantu menemukan barang peninggalan ibunya terlebih dahulu' putus Zhou Ming.


Ditatapnya pohon persik di depannya. Memang pemandangan yang sangat indah, terutama bila ditemani oleh wanita cantik. Pandangan mata Zhou Ming tertuju pada pohon persik yang ada tepat di tengah-tengah.


"Katamu tadi benda itu kemungkinan ada tepat di tengah-tengah formasi ini?" Tanya Zhou Ming. Celine mengangguk mengiyakan.


'Bagaimana cara mengambil benda itu? Jika terkubur bersama dengan akar pohon persik?'

__ADS_1


;););)


__ADS_2