
Selagi Lou Jie duduk diam merenung di tepi sungai tiba-tiba datanglah seorang gadis. Dia adalah salah satu teman Lou Jie di pengasingan. Namanya Fu Shu. Fu Shu adalah bekas selir Lou Dong yang berhasil melarikan diri. Pada saat semua selir Lou Dong ditangkap (ada yang dibebaskan dan ada yang diambil istri oleh prajurit kerajaan Zhou karena banyak sekali) Fu Shu sedang diluar istana bersama Lou Jie. Jadi dia lolos.
Usia Fu Shu dan Lou Jie hampir sama. Lou Dong membiarkannya mengikuti adiknya karena mereka berdua cocok satu sama lain.
Fu Shu memperhatikan Lou Jie yang diam sendirian di bawah pohon di dekat sungai. Tempat yang kerap didatangi Lou Jie ketika sedang memikirkan sesuatu. Ragu-ragu Fu Shu memdekati Lou Jie. Tapi akhirnya langkah kakinya tetap berjalan ke arah temannya itu.
"Kau teringat keluargamu lagi?" Fu Shu yang duduk tiba-tiba di sebelahnya mengagetkan Lou Jie yang melamun.
"Kau mengagetkanku saja. Hhhh ya aku teringat mereka semua. Bagaimana keadaan mereka jika sekarang mereka masih hidup?" Lou Jie diam kembali. Sorot matanya menyiratkan kesedihan dan dendam.
Fu Shu hanya diam mendengarkan. Lou Jie melanjutkan kembali kata-katanya.
"Bagaimanapun juga mengapa pembunuh itu malah hidup senang? Mengapa dia mendapatkan pujian? Sedangkan kita disini harus menderita dan hidup berpindah-pindah?" Pertanyaan demi pertanyaan selalu hinggap di kepala Lou Jie.
"Tenanglah Jie, katamu kita akan membalas dendam Tuan Lou Dong dan yang mulia raja dan ratu, bukankah persiapan kita sudah hampir selesai? Kapankah kita siap melaksanakannya?" Fu Shu berusaha menenangkan Lou Jie. Fu Shu takut jika kebiasaan buruk Lou Jie timbul kembali.
Sejak kecil Lou Jie akan mencengkeram tangan siapa saja yang berada di dekatnya dengan erat dan tidak akan mau melepaskannya sampai perasaannya tenang. Setiap kali Lou Jie tidak tenang dia akan berperilaku seperti itu. Parahnya, perasaan tenang itu akan dirasakan jika tangan yang dicengkeramnya mengeluarkan darah. Tak terhitung banyaknya bekas luka di tangan Fu Shu akibat perbuatan Lou Jie.
Lou Jie tampak memejamkan matanya dia tahu tindakannya dulu selalu menyakiti Fu Shu. Banyak perubahan yang terjadi sejak mereka tinggal di pengasingan. Kebiasaan buruk Lou Jie itupun sedikit demi sedikit mulai berkurang.
Perlahan-lahan Lou Jie menarik napas panjang berkali-kali hingga pikirannya kembali jernih.
"Entah, aku sudah menanyakan pada kakak Da Fu. Dia selalu berkata ini belum saat yang tepat untuk melaksanakannya. Melawan orang secerdas dan kejam seperti Zhou Ming kita tidak boleh terburu-buru. Bisa-bisa kita yang masuk perangkapnya. Itu yang selalu kakak Da Fu katakan padaku" Lou Jie menghembuskan nafas kasar.
"Mungkin sebaiknya kita tanyakan lagi pada Da Fu" putus Lou Jie akhirnya.
__ADS_1
Membulatkan kembali tekadnya Lou Jie beranjak dari tempat itu diikuti Fu Shu. Mereka berjalan menuju tempat tinggal Da Fu.
Sepanjang perjalanan mereka berjalan dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Terlihat di sebelah kiri, sungai yang sangat jernih. Airnya bersih dan merupakan sumber air minum mereka.
Tak lama mereka telah sampai di kamp pengungsian pasukan hantu. Lou Jie langsung menuju ke salah satu tenda terbesar yang merupakan tempat tinggal Da Fu. Fu Shu pergi ke tenda khusus tempat para perempuan memasak.
Tenda tempat tinggal Lou Jie sendiri beberapa meter dari tenda Da Fu. Ketika akan masuk ke dalam tenda pemimpin pasukan hantu, Lou Jie merasakan beberapa tatapan langsung pada dirinya. Lou Jie merasakan panas di pipinya. Dia sadar bahwa dia menjadi bahan perbincangan di sekitar pasukan hantu. Hal ini dikarenakan baik Da Fu maupun Lou Jie menyiratkan seperti saling menyukai. Mereka memiliki hubungan tersembunyi. Mereka saling suka dan memperhatikan tapi sama-sama tidak berani mengungkapkan perasaan (ehehehe cinta terpendam).
"Kakak Da Fu, ada yang ingin aku tanyakan" Lou Jie memberi tahu dari luar tenda.
"Masuklah" Suara Da Fu terdengar dari dalam tenda.
Lou Jie masuk ke dalam tenda Da Fu. Tampak disana seorang pemuda tampan berusia 21 tahun. Berambut bergelombang bermata tajam.
Semburat merah muncul di pipi Lou Jie. Entah sejak kapan dia memiliki perasaan canggung jika bertemu muka dengan sahabat mendiang kakaknya itu.
"Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu. Fu Shu sudah berani memanggil namaku mengapa kau tidak?" Lou Jie berkata dengan nada kesal. Bibirnya cemberut.
"Baiklah, maafkan aku nona. Ada apa sampai kau berani masuk ke dalam tendaku?" Tanya Da Fu lagi.
"Aku ingin bertanya, kapankah kita mulai melaksanakan rencana kita? Menyusup ke kerajaan Zhou?" Lou Jie bertanya langsung ke intinya.
"Kau sangat tidak sabar. Tunggulah hingga rencana pemberontakan kita sudah siap 99%. Saat ini persiapan kita masih 90%. Kita perlu mempersiapkan rencana cadangan karena jika sewaktu-waktu rencana kita gagal kita dapat langsung berimprovisasi" jelas Da Fu.
"Sampai kapan kita seperti ini terus? Membiarkan musuh bersenang-senang. Aku tidak terima!" Keluh Lou Jie.
__ADS_1
"Sabarlah, tindakan terburu-buru tanpa pikir panjang tidak baik dampaknya bagi kita" bujuk Da Fu.
"Baiklah aku akan menurutimu" Hela napas Lou Jie terdengar.
"Karena sekarang kau sudah tenang, bukankah seharusnya kau melaksanakan tugasmu?" Da Fu berkata sambil sibuk mempelajari kertas-kertas yang ada di depannya.
"Ya baiklah, aku pergi sekarang" Lou Jie beranjak meninggalkan tenda dengan wajah cemberut.
'Padahal aku masih ingin berlama-lama berduaan dengannya, huh dasar tidak peka!' sungut batin Lou Jie.
Ketika Lou Jie pergi, wakil pasukan hantu memasuki tenda. Pria bernama Tan Hwo itu bertanya,
"Mengapa tidak kau beritahu padanya rencana cadangan kita? Rencana pemberontakan yang akan dilaksanakan dan rencana penyusunannya ke dalam kerajaan Zhou?" Jelas Tan Hwo.
"Saat ini belum saatnya membicarakan rencana cadangan kita. Aku masih belum bisa mengutarakan nya padanya tentang rencana itu. Bahwa jika pemberontakan gagal, kemungkinan dia akan ditangkap dan dijadikan selir pemuas nafsu pembunuh kakaknya. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya. Apakah dia mau dan mampu melakukannya atau tidak. Rencana ini beresiko sangat besar. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Zhou Ming jika dia tahu Lou Jie adalah mata-mata" kata-kata Da Fu bagaikan pisau mengiris hati Lou Jie.
Ya, saat wakil komandan pasukan hantu masuk ke dalam tenda Da Fu diam-diam dia mencuri dengar pembicaraan mereka. Tanpa disangka rencana cadangan sesungguhnya benar-benar akan melibatkan dirinya.
Bingung hati dan pikiran Lou Jie. Tapi dia teringat betapa keluarganya sangat memperhatikan kepentingannya. Saatnya membalas kebaikan keluarganya dengan berani mengambil resiko apapun itu. Termasuk bila nyawanya sendiri adalah taruhannya.
Keheningan dal tenda Da Fu terpecahkan oleh suara pintu tenda terbuka.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan melaksanakan rencana itu. Demi dendam keluargaku dan demi rencana kita semua" jawaban yakin Lou Jie.
Da Fu terkejut. Tapi dia hanya mampu menatap Lou Jie dengan sendu.
__ADS_1
"Baiklah kita akan bergerak jika saatnya sudah siap" kata Da Fu akhirnya.
)))))