
Zhou Ming kembali ke Jamuan Teh dengan ditemani Li Ping. Jika berdasarkan perhitungan waktu modern maka saat ini sudah pukul 10 malam. Acara masih belum berakhir. Li Ping membisikkan sesuatu kepada Zhou Ming. Lalu mundur kembali.
Zhou Ming mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan. Tempat duduknya memang agak jauh dari siapapun, mengingat dia adalah Jenderal Zhou yang kejam. Meskipun tidak ada sekat dan semua orang bisa menyapanya tapi orang-orang itu tidak akan dengan bodohnya mendekat padanya. Pada umumnya mereka hanya akan mengangguk hormat dan sopan.
Han Sheng Yi masih belum kembali ke Jamuan. Mungkin masih terlena di dalam salah satu kamar tamu. Zhou Ming duduk diam sambil menikmati teh hijaunya.
Menjelang acara berakhir, para tamu banyak yang mulai mengundurkan diri. Terlihat seorang laki-laki berpakaian seperti pelayan tergopoh-gopoh menghampiri salah satu rekan bisnis Marquis. Tuan Bo namanya.
Tuan Bo memiliki seorang anak laki-laki yang sudah cukup tua, berumur kurang lebih awal 30tahunan. Tapi jalan pernikahannya tidak mulus. Tidak ada yang mau menikah dengannya karena Bo Tha Zi adalah laki-laki yang banyak omong dan memiliki penampilan yang cukup aneh. Sudah sejak lama Bo Tha Zi menyukai anak-anak Marquis, Han Lu Yu dan Han Sheng Yi (Han Cya Lin tidak disebutkan karena bisa dibunuh langsung oleh Zhou Ming di tempat hehehehe).
Akan tetapi dengan penampilan dan usianya yang cukup tua lamaran itu ditolak Marquis (dihasut oleh selir Yun dan selir Yingtsi). Tentu saja selir Yun dan selir Yingtsi tidak mau menikahkan anak-anak mereka dengan orang yang tidak berguna sedangkan Han Cya Lin menjadi permaisuri Jenderal kerajaan ini.
"Maaf Marquis, putraku hilang. Aku harus segera mencarinya. Takutnya dia membuat kesalahan" kata Tuan Bo. Tangannya membentuk hormat pada Marquis.
"Baiklah, semoga engkau cepat menemukan putramu" kata Marquis. Sejurus kemudian Tuan Bo pergi dengan seluruh pelayannya.
Tiba-tiba seorang pelayan wanita dari kediaman Han Sheng Yi datang berlari-lari. Tingkahnya ini menarik perhatian Marquis. Dengan tenang Marquis mengawasi dan memperhatikan gerak-gerik pelayan itu.
Si pelayan akhirnya berhenti di depan selir Yingtsi. Laporan pelayan itu membuat selir Yingtsi terkejut. Tapi dia berusaha menyembunyikannya. Selir Yingtsi berdiri berniat pergi meninggalkan ruangan. Marquis yang melihat sejak pelayan kediaman Han Sheng Yi berlarian sedari awal menghentikan jalan selir Yingtsi.
"Ada apa?" Tanya Marquis.
"Tidak ada apa-apa, Tuan, hamba hanya ingin ke kamar kecil sebentar" elak selir Yingtsi terlihat seolah berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Katakan, apa yang dilaporkan pelayan itu padamu tadi?!" Marquis murka melihat ketidakjujuran selir Yingtsi.
__ADS_1
Tiba-tiba jenderal Zhou mendekati mereka.
"Mungkin jika si pelayan yang menceritakan akan lebih jelas" kata Zhou Ming perlahan.
Semua pandangan mata mulai tertuju pada pelayan yang berlarian tadi.
"Ham,,,,ham,,,hamba pelayan dari kediaman nona ketiga. Ta,,,,tadi sore hamba melihat no,,,no,,,nona ketiga dan pelayan Can datang kemari, ta,,,ta,,,tadi ada jahitan baju yang harus dilihat sendiri oleh nona ketiga, makanya saya datang kemari mencari no,,,no,,nona ketiga. Ta,,,ta,,tapi saya cari di sekitar ruangan tidak ada. Baru saya melapor pada Nyo,,,Nyo,,,Nyonya" dengan gugup pelayan itu menjawab pertanyaan Sang Jenderal.
"Penjaga, cari nona ketiga, cari di seluruh kediaman" perintah Marquis kemudian terdengar.
Zhou Ming duduk kembali sambil meminum teh hijaunya perlahan. Matanya yang tajam mengawasi seluruh ruangan kembali.
Tampak selir Yingtsi yang berdiri tidak tenang. Marquis yang mondar mandir. Nenek yang duduk dibantu dengan bibi Xun. Beruntung sebagian besar tamu telah pulang. Tapi beberapa tamu yang masih belum pulang tentu saja tidak ingin ketinggalan informasi. Siapa tahu akan ada pertunjukan menarik di kediaman Marquis.
Tak berapa lama, penjaga melaporkan bahwa ada suara-suara aneh terdengar dari dalam salah satu ruang tamu.
Selir Yingtsi berusaha menghalangi dengan berdalih bahwa itu mungkin para tamu yang sedang menginap. Tentu saja Marquis tidak percaya. Apalagi dengan desakan Jenderal Zhou yang ingin semua masalah jelas maka mereka semua segera bergerak ke kamar tamu yang meresahkan itu.
Sesampainya di kamar tamu yang dimaksud, mereka memang mendengar suara-suara aneh. Terdengar seperti suara laki-laki dan perempuan yang dimabuk asmara.
Marquis mengenali suara perempuan yang tidak asing. Karena emosi Marquis mendobrak pintu secara paksa. Di sana tampak siluet tubuh pria dan wanita yang sedang berhubungan layaknya suami istri.
"Han Sheng Yi! Apa yang kamu lakukan?!" Bentak Marquis. Dengan geram Marquis memisahkan pasangan itu.
Tampak Han Sheng Yi yang terkejut dan langsung menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya. Sedangkan sang laki-laki tampak panik juga.
__ADS_1
Han Sheng Yi terlihat panik dan pucat melihat wajah lawan mainnya barusan "Kamu,,,,,kenapa kamu,,,, dimana Jenderal?!!" Dengan segera Han Sheng Yi melihat sekeliling. Han Sheng Yi mulai sadar dari pengaruh dupa yang tadi dibakar oleh Li Ping. Tampak olehnya siluet putra mahkota yang jauh, di ujung orang-orang berkumpul. Tampak tidak sudi melihat tubuhnya.
'Sialan, kupikir itu tadi Putra Mahkota. Ternyata orang tidak berguna. Bagaimana bisa seperti ini?! Semoga ibu dapat menolongku!' batin Han Sheng Yi. Dia mulai panik. Tepatnya berakting panik dan menangis.
'Bodoh,, sungguh bodoh, Sheng Yi!!!! Mengapa kau malah menarik tali dengan laki-laki tak berguna ini? Apakah kau bahkan tidak bisa membedakan dari postur tubuh dan suaranya?' teriak batin selir Yingtsi. Dia berlari menarik selimut menutupi tubuh Han Sheng Yi.
"Oh anakku yang malang" Isak tangis selir Yingtsi mulai terdengar. Yahhhh drama telah dimulai.
"Siapa kau! Berani-beraninya kau dalam kamar tamu rumahku! Bahkan menodai anak gadisku!!!" Marquis mendendang dan memukuli tubuh pemuda itu.
"Sa,,,,sa,,,saya!! Ampun Tuan, saya dijebak!" Teriak laki-laki itu. Tanpa daya dia menerima tendangan dan pukulan dari penjaga kediaman Marquis.
"Siapa dia!?" Marquis bertanya pada penjaga bayangannya.
"Dia adalah Tuan Muda Bo Tha Zi, putra tertua dari kediaman Bo. Tadi dia datang ke perjamuan dengan ayahnya, Tuan Bo". Penjaga bayangan Marquis menjawab pertanyaan Marquis.
"Berani beraninya kau,,,!" Marquis marah sampai tidak bisa berkata apa-apa.
Jenderal Zhou melihat situasi dan mulai berkata "Mungkin ini sudah kehendak langit. Saat Tuan Muda Bo dan Han Sheng Yi sama-sama mabuk dipertemukan hingga akhirnya memadu kasih. Berkah langit harus selalu disyukuri". Akhir kata Zhou Ming sambil menyesap tehnya.
Kata-kata Jenderal Zhou yang berwibawa membuat suasana sunyi dalam sekejap. Para tamu yang berkerumun dan bersaksi juga mulai memikirkan kata-kata Zhou Ming.
Marquis merenung memikirkan kata-kata Zhou Ming ada benarnya juga. Selain itu meskipun putranya tidak berguna tapi Tuan Bo adalah pebisnis yang handal. Marquis menarik nafas panjang.
"Baiklah. Beri pakaian pada Tuan Muda Bo, dan sampaikan pada Tuan Bo, bahwa putranya telah ditemukan, mohon dijemput di kediamanku" kata Marquis.
__ADS_1
Beberapa pengawal mulai pergi melaksanakan perintah Marquis. Nenek yang tampak syok tidak tahu harus berkata apa mulai pergi menuju aula utama menunggu Tuan Bo datang untuk menyelesaikan masalah ini. Bagaimanapun ini menyangkut hubungan dan martabat kedua keluarga.