
Kembali ke kerajaan Zhou
Beberapa hari telah berlalu. Seperti biasa Celine bangun pagi ketika suaminya telah pergi. Dan seperti biasa pula baju dan pakaiannya berantakan akibat ulah suami tercintanya.
Celine hanya menghela nafas. Hari ini adalah hari kesekian kalinya dia merasakan perasaan lemah dan tak berdaya.
Ditepisnya semua perasaan itu. Dicobanya untuk mensyukuri semua apa yang terjadi. Teringat beberapa kebaikan yang ditunjukkan suaminya kepadanya beberapa hari yang lalu.
Flashback
Pagi itu Celine merasakan badannya sakit semua. Selama dua hari berturut-turut mereka melakukan olahraga yang hanya bisa dilakukan pasangan suami istri. Zhou Ming terlihat begitu menikmati momen mereka.
Tampak sekali bila selama ini Zhou Ming memang benar-benar menjaga tubuhnya, hanya untuk semata-mata dipersembahkan kepada Celine istri sahnya.
Meski begitu Celine sempat heran bagaimana Zhou Ming belajar secara cepat.
"Kalau masalah yang berhubungan dengan tubuh, tentunya akan lebih mudah dipelajari jika ada partner belajar bersama, bukankah begitu istriku?" Kata Zhou Ming disertai kecupan nakal di tengah-tengah pertempuran mereka saat Celine mengajukan pertanyaan.
Setelah itu Celine terbangun dengan perasaan aneh saat mengetahui sebuah benda melingkari lehernya. Saat Celine menundukkan kepalanya terlihat di sana sebuah kalung dengan liontin hijau. Seketika Celine mengingat liontin itu sama persis seperti liontin yang ada dalam buku novel ini.
'Jadi asal kalung dengan liontin hijau itu adalah benda pemberian Zhou Ming untuk istrinya' kata Celine dalam hatinya.
__ADS_1
Celine menyentuh dan hendak melepaskannya. Dia ingin melihat lebih dekat liontin giok hijau itu.
"Jika kau melepaskannya, aku akan berpikir kau merindukanku" sebuah suara sukses menghentikannya dalam usaha melepas kalung yang dikenakannya itu.
"Mengapa kau kembali lagi, apa ada yang terjadi di pengadilan?" Tanya Celine.
"Aku sangat merindukanmu. Aku bergegas kembali saat pengadilan pagi selesai. Apa kau tidur nyenyak? Apa kau menyukai liontin giok itu?" Tanya Zhou Ming beruntun.
"Terima kasih Yang Mulia, benda ini sangat indah. Aku sangat menyukainya. Apakah ini anda yang mengukir sendiri?" Tanya Celine dengan tulus.
"Ya benar. Aku mengukirnya sendiri. Bagaimana kau tahu?" Tanya Zhou Ming heran. Dia mendekat dan memeluk Celine dari belakang.
"Ukirannya sangat rumit. Dan aku yakin jika tidak diukir dengan sangat hati-hati, tidak akan ada orang yang bisa melakukannya" jawab Celine.
Zhou Ming melepas kaitan kalung Celine, dan ikat pinggangnya. kedua benda itu diletakkan berdampingan di atas kasur di depan Celine.
"Wah ada pasangannya. Benda yang sangat menakjubkan" Celine melihat lebih jelas kedua benda itu. Kedua matanya berbinar-binar memperhatikan dan mengamati kedua benda itu dengan lebih cermat.
"Anda benar-benar berbakat Yang Mulia, terima kasih. Hamba akan menjaga dan merawatnya dengan hati-hati" Sambil menatap Zhou Ming Celine berucap kagum.
Celine mengecup pipi Zhou Ming dengan sayang.
__ADS_1
"Ekhem,,,, Baiklah" Zhou Ming tampak malu dengan perlakuan Celine. Tapi wajahnya menunjukkan binar kesenangan karena karyanya dihargai. Lama mereka saling bertatapan dengan penuh kasih sayang.
"Beberapa hari yang lalu aku berjumpa dengan adikku, putri Zxyo. Dia berkata bahwa dia ingin mengenalmu. Mungkin dia akan segera berkunjung kemari" Zhou Ming menjelaskan. Tangannya membelai rambut Celine dengan sayang. Disibakkannya rambut Celine ke samping agar dia bisa memasang kembali kalung Phoenix tanda cintanya ke leher istri tercintanya itu. Dikecupnya leher istrinya.
"Apakah ada yang disukai oleh adikmu itu Yang Mulia? Aku akan memperlakukannya dengan baik" Celine mengangguk mendengar pemberitahuan Zhou Ming.
"Kurasa kalian berdua akan cocok. Dia anak yang tidak cukup sulit. Hanya saja karena terlahir di istana dia kurang memiliki teman yang tulus" Zhou Ming memeluk Celine dari belakang. Dia meletakkan kepalanya di bahu Celine.
"Apakah kau merasa tidak enak badan?" Tanya Zhou Ming lagi.
"Kurasa tamu bulananku akan segera tiba Yang Mulia" Celine menjawab.
"Dan?" Sambil mengernyitkan dahi Zhou Ming bertanya.
"Dan artinya Yang Mulia harus menahan diri untuk tidak menyentuh hamba" jawab Celine pelan.
"Sepertinya aku harus berpuasa dalam beberapa hari ini, begitu maksudmu?" Tanya Zhou Ming sambil menghela nafas. Dieratkannya pelukannya terhadap istrinya itu.
"Benar Yang Mulia" jawab Celine lagi. Sambil tersenyum dia menjawab.
"Baiklah. Sekarang aku ingin mengajakmu berjalan ke halaman belakang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu" ajak Zhou Ming sambil melepas pelukannya. Dia menggandeng tangan Celine. Bersama-sama dan sambil bergandengan tangan mereka menuju ke halaman belakang.
__ADS_1
Ketika