
"Hahaha, baiklah. Kalau begitu lanjutkan, Ayah ada di ruang kerja kalau kamu mencari"
Evelyna mengangguk. Duke melenggang pergi, para pekerja bernafas lega. Mereka sudah takut setengah mati tadi.
Bagaimanapun Evelyna adalah permata Keluarga Velion, Duke sangat menjaganya. Mereka takut kalau Duke marah karena putrinya berada di dapur apalagi ikut masak.
Evelyna mendapat luka sedikit saja, nyawa merekalah ancamannya. Memikirkannya saja membuat mereka merinding, apalagi kalau benar terjadi?
"U-uhm Nona, sebaiknya nona istirahat saja biar kami yang melanjutkan" ucap seorang koki yang diangguki rekan kerjanya.
"Tidak, tidak perlu, lagi pula ini akan segera selesai" ujar Evelyna sembari mengaduk adonan kue.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah perjuangan yang cukup lama, akhirnya kue yang mereka buat, sudah jadi. Bahkan Evelyna sudah menghiasinya.
Kue berbentuk tabung yang diberi krim berwarna putih, lelehan coklat yang nampak manis, serta hiasan berbentuk bunga putih, dan ranting pohon yang menempel pada krim.
Seluruh pekerja terkesima dengan hasil karya Evelyna. Nona mereka ini sangat pandai menghias.
Kalau hal ini diketahui oleh dunia luar, pasti Nona muda Velion akan mendapat banyak panggilan untuk menghias suatu tempat.
Entah kenapa salah satu koki disana malah membayangkan, seandainya kaisar tahu bahwa Evelyna bisa menghias sesuatu dengan baik, bisa saja hal itu diketahui oleh kaisar lain. Lalu Evelyna akan mendapat panggilan ke kekaisaran lain dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama, setelah itu Evelyna akan melupakan mereka, setelah itu Evelyna menemukan cintanya di kekaisaran lain, setelah itu Evelyna akan pindah dan mereka tidak bisa melihatnya lagi.
Koki itu menggeleng keras, hal itu dilihat oleh salah satu pelayan. "Hei, ada apa denganmu?" tanya pelayan itu.
koki itupun menceritakan 'ketakutannya' dan di tanggapi oleh pelayan, "kau benar, kalau begitu tidak ada yang boleh tahu selain penghuni kediaman tentang hal ini" Koki mengangguk.
Evelyna pergi keruang kerja ayahnya untuk memintanya mencoba kue buatannya bersama pelayan dan koki.
Koki tadi mengatakan kepada teman temannya tentang rencananya, bahwa tidak ada yang boleh tau tentang kehebatan Evelyna, supaya gadis itu tidak pergi jauh dan melupakan mereka.
Dan yah, hal itu disetujui oleh para pekerja. Sementara di lorong ruang kerja Duke, "Ayaaah" Evelyna membuka pintu ruang kerja ayahnya begitu saja, pengawal yang berjaga tidak berani menghentikannya.
Saat Evelyna masuk keruangan tersebut, ternyata ayahnya tidak sendirian, ada orang lain di sana.
Pria bermanik putih, surainya pun berwarna putih, berpakaian formal dengan lencana berlambang serigala yang sedang melolong.
__ADS_1
"ow" respon pertama Evelyna.
Duke menggeleng pelan, Evelyna berjalan mendekati ayahnya tanpa mempedulikan kehadiran pria itu.
"Ayah, cobalah" Evelyna menyodorkan kue yang awalnya setinggi tiga puluh sentimeter hanya tersisa setengah.
Ia membelah kuenya menjadi dua atas dan bawah, bagian bawahnya ia berikan pada pekerja yang membantunya.
"Maaf atas ketidak sopanan putri saya" ucap Duke.
pria bersurai putih itu mengangguk, "tidak masalah" ujarnya. Netra putihnya menatap kue yang ada di tangan Evelyna, yang sedang di coba oleh Duke.
Evelyna menyadari tatapan itu, "Kau mau?" tanyanya menawarkan.
Pria bersurai putih itu sedikit terkejut. Ia hendak menolak, tapi melihat tatapan tajam Duke di belakang Evelyna membuatnya sedikit ciut.
Pria bersurai putih itu, mengambil sendok yang berada di samping kue. Untungnya Evelyna membawa empat sendok, sehingga tamu ayahnya itu tidak memakai sendok bekas.
Mata putih indahnya sedikit melotot, rasa manis krim dan lembutnya kue menyapa lidahnya.
Evelyna tersenyum senang saat kue nya menjadi rebutan ayahnya dan juga pria yang tak ia kenal.
"Saya memang tidak menyukai makanan manis, tapi bukan berarti saya harus menolak pemberian Nona Muda Velion" tatapan sengit antara dua pria itu membuat atmosfer disekitarnya mendingin.
Evelyna sudah jengah melihat keduanya, dengan cepat ia mengambil kue itu dan membawanya ke luar.
Teriakkan Duke tidak ia hiraukan, "Lynn, jangan di bawa pergia ayah masih mau mencobanya"
"Ayah, ayah sudah memakan separuhnya, kalau sampai ini habis itu bukan mencoba tapi menghabiskan!" ujar Evelyna, sebelah tangannya yang kosong berkacak pinggang.
Bibir tipis Duke melengkung ke bawah, Evelyna memalingkan wajahnya. Ternyata ayahnya bisa menggemaskan juga.
Pria yang disebut Etnold oleh Duke Velion, menyerngit jijik. Apa apaan pak tua itu?!
"Huhh, Ayah berhentilah bersikap seperti itu, lihatlah masih ada tamu disini" ujar Evelyna, Duke membalik tubuhnya.
Netra biru laut nya menatap pria bernetra putih beberapa langkah didepannya. Seketika aura dingin menguat dari tubuhnya saat melihat tatapan mengejek dari Etnold.
__ADS_1
"apa?" tanyanya dingin.
"tidak, aku hanya melihat seorang Duke yang terkenal kejam merengek pada putrinya hanya karena sebuah roti" Ucap Etnold dengan nada mengejek yang kentara.
Evelyna menghela nafasnya, "sudahlah berhenti bertengkar, ayah akan ku buatkan satu porsi roti untuk mu" Duke berbalik menghadap anaknya dengan mata berbinar.
"Baiklah akan ayah tunggu" ucapnya, Evelyna terkekeh ayahnya sangat menggemaskan.
Setelah kepergian putrinya, Duke kembali ke ruang kerjanya dengan aura gelapnya sedangkan Etnold masih dengan wajah mengejeknya.
"Cih, kurasa kerja sama kita cukup sampai disini saja" ujar Duke, Etnold ketar-ketir.
Duke Velion merupakan salah satu sumber penghasilannya yang paling besar, kalau sampai kerjasama nya putus, maka ia bisa menjadi gelandangan dan itu tidak bagus.
"baiklah baiklah, maaf kan aku tuan Duke terhormat" ucap Etnold ogah ogahan.
Duke Velion memutar bola matanya. "Apakah tadi putri bungsu mu?" Duke mengangguk.
"Dia cantik, kurasa anak seorang Duke menjadi Marchioness" Etnold mengusap dagunya.
Duke mengetatkan wajahnya, tatapan matanya tajam menusuk wajah tampan Etnold.
Kalau saja tatapan itu bisa melukai, mungkin wajah Etnold sudah bolong. Etnold terkekeh. "Sepertinya rumor itu benar, kalau Duke Velion yang terkenal bengis, sangat menyayangi putrinya bahkan rela melakukan apapun demi putrinya."
"Keluar" titah Duke dengan dingin, Etnold dibuatnya merinding.
"Baiklah aku akan keluar, tidak perlu menatap seperti itu bisa kan" Etnold berdiri dan melenggang pergi dari kawasan Duchy Velion.
Duke juga pergi dari ruang kerjanya, ia akan menghampiri putrinya yang sedang sibuk di dapur, lagi.
"Hei sayang" ucapnya, Evelyna menolehkan kepalanya.
"Hai ayah, bagaimana tamu nya?"
"Menyebalkan, kalau saja dia bukan manusia mungkin sudah ku tikam jantungnya" Evelyna tertawa kecil.
Senyum Evelyna menular pada Duke, Pria tampan itu tersenyum tipis. Ia merasa Dejavu, dulu saat Delia masih hidup, istri cantiknya itu juga pernah membuatkan kue untuknya, dan sekarang. itu terulang kembali.
__ADS_1
Duke menatap wajah putrinya dengan lembut, Evelyna yang merasa geli, meraup wajah ayahnya, hingga wajah Duke tertempel tepung dengan bentuk telapak tangan putrinya.
Evelyna tertawa, Duke merasa di jahili membalas putrinya.