Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
chap 8


__ADS_3

Duke terus membujuk putrinya agar keluar dari gulungan selimut. Hampir enam menit Evelyna berada di dalam selimut. Hal itu membuat Duke khawatir.


"Lyn, buka selimutnya sayang. Kamu bisa sesak nafas nanti." Duke menghela nafas.


Hingga tiba-tiba sebuah cara terlintas dibenaknya. Sedikit jahat, tapi selama itu bekerja, ia tidak masalah.


Digulingkannya gundukan itu, hingga tubuh Evelyna terjatuh kesamping, tapi masih di atas kasur.


Heran dengan tak adanya respon apapun, Duke menyibakkan selimut tebal itu. Dan.... Rupanya si cantik kesayangan Duke, tertidur.


Helaan nafas lega keluar dari bibir seksinya. Sepertinya ia terlalu berlebihan, mungkin mulai saat ini ia harus terbiasa dengan sikap baru putrinya.


Duke memperbaiki posisi Evelyna lalu menyelimutinya. Setelah dirasa cukup, Duke beranjak keluar dari kamar putrinya.


Didepan kamar, Duke melihat pelayan tadi dengan dua pelayan lain berdiri. "Apa?" tanya Duke saat tak sengaja bertatapan dengan salah satu pelayan.


Duke tidak bodoh, pelayan itu menyukai dirinya. Terlihat dari tatapan matanya serta reaksinya sesaat setelah bertatapan dengannya.


Duke tidak mempedulikannya, ia melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Enam hari lagi, tersisa enam hari sebelum Eylon sampai di kediaman. Evelyna dibantu oleh beberapa pelayan, menyiapkan acara penyambutan untuk kakak pertamanya.


Dengan tema malam penuh bintang, Evelyna mengatur hiasannya sedemikian rupa, acara di adakan di taman belakang.


Dengan atap kaca sehingga tidak masalah apabila ditengah malam turun hujan. Hiasan acaranya tidak akan hancur.


"Huft. Tinggal sedikit lagi." gumamnya.


Evelyna memutar tubuhnya, mata indahnya menatap para pelayan dan beberapa pengawal yang membantunya menyiapkan pestanya.


"Semuanya! Terimakasih sudah membantuku. Hari sudah mulai gelap, kita lanjutkan lagi besok" ucapnya.


"Baik nona!" sahut mereka serentak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Evelyna berendam di bak mandinya. Kelopak bunga mengambang kesana kemari, menyebarkan aromanya.


Evelyna merilekskan tubuh dan pikirannya. Besok ia hanya perlu menyelesaikan tempat pesta dan mempersiapkan hidangannya.

__ADS_1


Selesai mandi, Evelyna berjalan menuju ruang makan, ia sengaja memilih dress selutut berlengan sampai siku, supaya mudah bergerak.


"Selamat malam ayah" sapa Evelyna.


"malam juga Lyn" ujar Duke Velion.


"jadi, bagaimana perkembangan pestanya?" tanya Duke.


"Sudah hampir selesai, hanya sedikit penyesuaian dan hidangan maka pestanya akan selesai dengan sempurna" Mata biru Evelyna berbinar-binar.


Duke Velion tersenyum dan mengusap Surai Evelyna yang sedikit bertambah panjang.


"Kalau kau lelah, istirahat lah, jangan dipaksakan. Ayah tidak ingin kau jatuh sakit karena kelelahan" Sirat khawatir terlihat di wajah Duke.


Evelyna tersenyum manis, lalu mengangguk. Berbagai jenis makanan mulai di sajikan. Terkadang Evelyna berpikir, siapa yang akan menghabis semua makanan ini kalau ayah dan aku tidak habis?


Evelyna mengendikan bahunya, ia mengambil piring ayahnya dan mengisi piring tersebut sesuai keinginan ayahnya. Begitu pula dengannya.


Makan malam selesai, sebenarnya yang baru saja selesai adalah Evelyna sedangkan Duke hanya duduk dan menemani putrinya. Sesekali ia menyodorkan air minum dan mengusap sudut bibir Evelyna.


Baru beberapa menit yang lalu Evelyna memikirkan kemana makanan makanan itu pergi nanti. Tapi sekarang lihatlah, hampir seluruh piring yang berisi lauk pauk makan malam terkumpul di mejanya, bahkan perut ratanya sedikit membuncit karena terlalu banyak asupan.


Evelyna menegakkan tubuhnya, matanya mendelik melihat sekumpulan piring di mejanya lalu beralih ke perutnya. ia usap perut yang sedikit membesar itu. Matanya bergulir menatap ayahnya dengan berkaca kaca, Duke terkekeh.


"kalau tubuh Lyn menggemuk bahkan hanya sedikit, kakak pasti akan menjahili ku nanti" bibir mungilnya sedikit maju, Duke mencubit kecil pipi putrinya.


Evelyna menatap ayahnya lagi. "Tuh kaaan" Duke gelagapan melihat mata Evelyna yang mulai memerah.


"shhhh shhh, jangan menangis sayang. Baiklah baiklah ayah minta maaf okey?" sebulir air mata menetes dari pelupuk matanya.


"Lyn belom gendut, papa udah nakal! Pipi Lyn dicubit!" Evelyna mengusap air matanya dengan kasar.


Duke menggendong putrinya, sambil mengusap punggung Evelyna. Evelyna menenggelamkan wajahnya di bahu lebar Duke.


Ia sedikit mengangkat wajahnya, hal pertama yang ia lihat adalah pelayan dan pengawal yang menahan senyum. Tangisannya semakin keras. Pelayan dan pengawal ikut panik.


Mereka berusaha menenangkan Si bungsu Velion yang sedang mode manja. Cukup sulit melakukannya, hingga akhirnya tangis Evelyna reda setelah di tawarkan sepotong buah semangka segar oleh koki.


Evelyna mengunyah semangkanya, pipi bulatnya bergerak naik-turun. Membuat Duke merasa gemas dan ingin mencubit pipinya lagi.


Sampai di kamar Evelyna, gadis cantik nan imut itu berbaring di kasurnya setelah menyikat giginya.

__ADS_1


Duke menepuk punggung Evelyna supaya gadis itu merasa nyaman dan terlelap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"pft. Aku yakin tidak sampai tiga hari gadis gila itu akan datang dan membuat kekacauan" Putra mahkota menatap langit malam.


Ingatannya terus memutar ucapan dan sifat serta sikap Evelyna kepadanya kemarin. "Huh, akan lebih bagus lagi kalau gadis itu menghilang" Gumamnya, lalu kaki jenjangnya membawanya ke kasur untuk tidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sinar matahari menusuk kelopak matanya, Seorang pelayan menmbuka Tira kamar lebar lebar.


Seorang gadis melenguh dan 'mengulet'. "Nona, mari bangun. Bukankah hari ini anda berencana mencoba membuat hidangan untuk acara penyambutan?" ujar pelayan.


Seketika Evelyna terduduk. Matanya mengerjap. Evelyna teringat rencananya hari ini, ia melompat dari kasur dan berlari ke kamar mandi.


"Astaga nona! Jangan seperti itu, Anda bisa terjatuh nanti!" pelayan mengingatkan Evelyna.


"Maaf Nia, aku ter buru buru!" jawab Evelyna dari dalam kamar mandi.


Nia menggeleng pelan. Terkadang Nonanya ini bisa membuat seseorang terkejut setengah mati.


Seperti tiga hari yang lalu, pagi pagi Evelyna sudah menghilang, seluruh penghuni kediaman panik dan heboh.


Duke frustasi saat putrinya tidak segera ditemukan. Saat ia berada di taman depan, samar samar ada suara putrinya di sana.


Duke celingak-celinguk seperti orang linglung, kakinya menjelajahi taman yang luas itu. Hingga, "Ayaaaahh" suara itu semakin jelas di telinganya.


Saat kepalanya mendongak, Ketemu! Rupanya Evelyna sedang nongkrong di atas pohon apel.


Duke menyuruh Evelyna turun, awalnya Evelyna tidak mau karena ia masih ingin menikmati apel apel segar yang ada di pohon.


Hap! Duke menangkap tubuh Evelyna yang memilih turun dengan cara melompat. Dan sejak saat itu Hampir seluruh pohon yang di kediaman di tebang.


back to topic


Evelyna memilih memakai dress selutut berlengan pendek berwarna hijau pistachio polos.


Meskipun sedikit tidak sopan, Duke tidak mempermasalahkannya. Asalkan putrinya nyaman.


Sesuai rencana siang ini Evelyna berkeliling ke pasar untuk mencari bahan bahan hidangan yang ia butuhkan.

__ADS_1


Dapur kediaman memang lengkap, tapi ada beberapa barang yang tidak tersedia disana. Ditemani oleh Nia, satu pelayan lain dan empat pengawal, Evelyna berjalan kesana kemari, memasuki sebuah toko ke toko lainnya.


__ADS_2