Menjadi Putri Duke?!

Menjadi Putri Duke?!
chap 18


__ADS_3

Ellen menunduk dalam, ia memainkan jari jarinya. Pertanda kalau ia gugup.


Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri karena tidak membiarkan pekerja itu untuk menyelesaikan bicaranya.


Kini seluruh tatapan tertuju padanya, bukan tatapan memuja melainkan tatapan mencemooh, yang lebih banyak dibanding saat di toko perlengkapan roti.


Ingin rasanya Evelyna tertawa keras. Tapi ia harus melakukannya di kamarnya nanti. Bahaya kalau ia tertawa di hadapan publik.


Astaga, bagaimana ini? Aku sudah memakan kue nya.


Aku sudah makan tiga kue, astaga semoga saja aku tidak sakit perut setelah ini


Ellen menelan ludah. Apalagi tatapan tajam yang dilemparkan Kaisar dan pangeran ketiga, karena ia menghancurkan pesta sakralnya.


Rasanya ia ingin pergi sejauh mungkin. Menghilang dari publik. Ia sedikit mendongakkan kepalanya.


Ia melihat Evelyna sedang menatapnya juga. Giginya bergemelatuk, rasa marah semakin meluap.


"Pergi" Ellen tersentak saat mendengar suara dingin putra mahkota.


Dengan berlinang air mata, Ellen berlari menjauh. Selama pelariannya, bisikan dan tatapan merendahkan ia terima.


Akan kubalas kau! Batinnya.


Setelah keributan itu, Kaisar meminta maaf dan membubarkan acaranya.


Duke dan ketiga anaknya dipanggil untuk menemui Keluarga Kerajaan diruang privat.


"Salam kepada matahari Astlanta" ujar mereka serempak.


Kaisar mengangguk, ia mempersilakan Duke dan anaknya duduk di sofa panjang. Dengan Evelyna yang berada di sisi kiri ayahnya dan sisi kanan kakaknya.


"Jadi ada apa anda memanggil kami kemari?" Duke memulai pembicaraan.


"Ehm... Aku ingin berterimakasih kepada putrimu" tubuh Evelyna kaku.


"Y-ya?" Putra mahkota terkekeh pelan, melihat raut tegang Evelyna membuatnya geli.


"Tidak perlu setegang itu Eve, kita sudah bertemu berkali-kali jadi pasti tidak perlu terlalu formal" Evelyna hanya tersenyum.


"Baiklah langsung ke intinya" Kaisar menghela nafas sejenak.


"Terimakasih, kalau kau tidak mengatakan kalau krim pada kue itu mungkin sudah banyak bangsawan yang sakit perut saat ini" Evelyna diam menunggu Kaisar menyelesaikan bicaranya.


"Karena itu kami berhutang budi kepadamu, aku ingin memberi mu sebuah hadiah. Kau ingin hadiah apa?" Evelyna menggaruk pipinya.


"Uhm... Apapun?"

__ADS_1


"Ya, apapun"


Duke mengusap punggung putrinya. Evelyna terlihat berpikir keras, itu bisa membuat kepalanya sakit. Dan Duke tidak ingin itu terjadi.


"Saya ingin...." Semua orang disana menahan nafasnya.


Apalagi putra mahkota. Wajahnya sedikit pucat, pria itu takut. Takut kalau Evelyna meminta hal itu.


"Membatalkan pertunangan"


DEG


Tapi harapannya tidak terkabul.


"K-kenapa? Apakah ada masalah?" Tanya kaisar.


"Tidak boleh!" Tanpa sadar putra mahkota berteriak, keringat dingin membaluri lehernya.


"Kenapa?" Putra mahkota tersentak, apalagi tatapan itu.... Tatapan muak, kesal dan.... Benci(?)


Perasaan tak nyaman dan gelisah menggerogoti hatinya. Inikah yang dirasakan Evelyna dulu? Rasanya dibenci oleh seseorang yang kita sukai ? Sakit.


Ya, Putra mahkota menyadari kalau ia mulai mencintai gadis itu. Entah sejak kapan tapi diminggu kedua Evelyna tidak mengunjunginya, membuatnya merasa sedih dan kehilangan.


Setiap malam ia terus terbayang senyum dan wajah ceria Evelyna. Tapi ia menghancurkannya, ia mengucapkan kata-kata menyakitkan bahkan tak segan-segan bermain tangan.


Namun, berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, gadis itu tidak menemuinya bahkan mengirim surat saja tidak.


Dia semakin kalut dan gelisah saat mendengar beberapa pria bangsawan mulai mendekati gadisnya.


Back to topic


Keluarga kaisar terkejut, begitupula dengan kedua Tuan muda Velion. Sepertinya putra mahkota belum mengadu kepada Kaisar tentang pembatalan pertunangan yang dilaksanakan di kediaman Velion.


"Sepertinya anda belum mengetahuinya, yang mulia"


Kegelisahan Putra mahkota semakin menjadi saat Duke hendak menyinggung soal pembatalan pertunangannya.


"Tentang apa?" Kaisar memberikan seluruh atensinya kepada Duke Velion.


Dengan licik Duke melirik putra mahkota, "baik, akan saya katakan. Beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya saat tiga hari setelah putri saya terbangun"


Putra mahkota mengepalkan tangannya. Selesai sudah.


"Putri saya mengajukan gugatan pembatalan pertunangan dan itu disetujui oleh kedua belah pihak, maksud saya putra mahkota dan putri saya" Kaisar membelalakkan matanya.


"Sepertinya putra mahkota belum mengatakan hal ini kepada anda, saya memaklumi kalau anda terkejut"

__ADS_1


Selesai sudah. Keturunan Velion hanya akan menikah satu kali, kecuali kalau ada hal terdesak atau terpaksa.


Seperti Duke Velion saat ini, ia bersumpah bahwa mendiang Duchess adalah satu satunya. Maka dari itu, dia tidak menikah lagi meskipun ia tahu bahwa ketiga anaknya membutuhkan sosok ibu.


Itu artinya, kalau Evelyna menikah maka kemungkinan kecil baginya untuk menjadi yang kedua.


Meskipun mereka pernah memiliki hubungan pertunangan, itu tidak akan menjadi sebuah kesempatan. Kini, Evelyna bukanlah gadis yang mau menerimanya meskipun sudah menorehkan banyak luka. Evelyna adalah gadis yang hanya memberikan satu kesempatan.


Dan ia sudah membuat kesempatan itu pergi, menghilang dan tidak akan pernah mendapatkannya lagi.


"Kau yakin dengan permintaan mu?" Permaisuri menatap Evelyna dengan lembut.


Evelyna mengangguk, dan itu membuat hati putra mahkota semakin sakit. Ditambah wajah senang dan yakin Evelyna.


"Sangat yakin!" Antusias Evelyna.


Semua orang terdiam, kecuali dua pria muda yang merasa senang dan tidak berhenti tersenyum.


"Apa alasannya?"


"Tentu saja karena saya muak" tubuh putra mahkota sedikit bergetar.


"Wanita manapun akan lelah kalau hanya dia yang berjuang, apalagi tidak direspon sama sekali. Termasuk saya" permaisuri tersenyum maklum.


"Benar yang dikatakan gadis itu, siapapun akan menyerah kalau sudah lelah." Wahh, sepertinya ibu kekaisaran Astlanta mendukung seorang putri Duke.


Evelyna semakin diliputi rasa senang saat ucapannya disetujui oleh permaisuri.


Kaisar menghela nafas, ia melirik putra sulungnya. Pria yang akan menjadi kaisar selanjutnya itu hanya diam dan menunduk, tapi sebagai seorang ayah dan seorang pria, ia tahu kalau putranya sedang menyesali perbuatannya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan buatkan surat resminya"


Duke mengangguk, Evelyna tersenyum lebar, dan kedua putra Duke merusuhi adik mereka untuk melakukan banyak hal.


"Ayo kita rayakan!"


"Kau bersungguh sungguh? Kalau iya aku akan umumkan hal ini kepada masyarakat dan kau akan mendapatkan banyak permintaan lamaran nantinya" Dua pasang netra itu berbinar terang, mereka tidak memperdulikan kalau ada yang tersinggung.


Setelah mengobrol cukup lama, Duke membawa seluruh buntutnya kembali ke kediaman.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ ...


Hari hari berlalu dengan cepat. Tak terasa sebentar lagi musim dingin akan tiba, saat siangpun akan terasa sejuk meskipun matahari bersinar terik diatas sana.


Saat ini Evelyna sedang ikut bersama ayahnya mengunjungi suatu tempat.


Dibantu oleh Duke, Evelyna menuruni kereta kuda. Gadis itu memakai gaun berlengan panjan yang tidak mengembang, dibalut sebuah jubah tebal yang terasa berat baginya.

__ADS_1


Ugh, berat, bahuku sakit. Apa mungkin aku membuat jaket saja? Itu lebih baik, batinnya.


__ADS_2